Inilah 5 Problem Kegiatan Ekstrakulikuler di Sekolah yang Perlu Dipahami Orang Tua

Tuntutan zaman yang semakin maju dan berkembang menjadikan edukasi sebagai kunci kemajuan bangsa.

Drum band, salah satu ekstrakulikuler yang hampir ada di tiap sekolah.
Tentu, kita masih ingat kisah Kaisar Jepang Hirohito ketika bersusah payah mengumpulkan para guru yang masih tersisa setelah Jepang hancur pada Perang Dunia II. Melalui pendidikanlah sebuah bangsa akan ditentukan kemajuannya. Melalui pendidikan pula sebuah negara bisa bersaing dengan negara lain di segala lini kehidupan. Kemajuan pendidikan di sebuah negara salah satunya ditentukan oleh kualitas sebuah sekolah. Sayang, negara kita adalah salah satu negara dengan kualitas sekolah yang tidak cukup merata.

Dengan tidak meratanya kualitas sekolah, maka pilihan sekolah pun beragam. Inilah yang menjadi problematika tersendiri bagi orang tua yang akan menyekolahkan anaknya. Ada banyak orang tua yang cenderung mengejar nilai akademis sang anak demi memuaskan hasrat menjadi yang pertama di kelas. Ada yang memilih kepraktisan dengan menyekolahkan anak di dekat lingkungan sekitar walaupun kualitas sekolah tersebut kerap dipertanyakan. Namun, tak jarang pula ada orang tua yang ingin menjadikan anak seimbang dalam hal prestasi akademik maupun nonakademik sesuai kemampuannya ditambah pendidikan agama yang lengkap.

Sekolah yang memiliki siswa dengan kualitas yang bagus memang cukup diminati. Sekolah seperti ini selain memiliki perangkat kurikulum yang mantap, guru yang kompeten, kepala sekolah yang memiliki leadership dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang baik, tentu memiliki kegiatan ekstrakulikuler yang variatif dan berkembang. Bagaimanapun, kegiatan ekstrakulikuler adalah salah kegiatan siswa yang menjadi wadah mereka dalam berkreasi atau menyalurkan bakat serta minatnya di luar jam belajarnya.

Dengan adanya ekstrakulikuler, siswa diharapkan dapat mengatur waktu antara kegiatan belajar dan ekskul. Bila kemampuan ini dilatih sejak dini, maka pada saat dewasa nanti siswa akan menjadi pribadi yang mampu mengatur kehidupannya dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Menjadi pribadi yang tangguh dan berkualitas yang akan menjadi kunci kemajuan bangsa di kemudian hari. Inilah alasan mengapa ekstrakulikuler disebut sebagai wadah pembinaan karakter bagi siswa.


Pramuka, menjadi eksktrakulikuler wajib yang dapat membentuk karakter siswa.
Sayangnya, tidak semua sekolah dapat melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler dengan baik. Walaupun hampir semua sekolah telah memiliki ekstrakulikuler wajib seperti pramuka, masih saja terdapat kendala yang menyebabkan kegiatan ekstrakulikuler menjadi kurang maksimal. Ada beberapa problem terkait kegiatan ekstrakulikuler di sekolah yang harus dipahami oleh orang tua.

Problem pertama adalah kurangnya dana yang dimiliki pihak sekolah dalam membiayai kegiatan ekskul. Sekolah swasta yang disokong pembiayaan oleh wali murid maupun pihak yayasan tentu tak akan kesulitan dalam masalah pendanaan ini. Namun bagi sekolah negeri atau bahkan beberapa sekolah swasta, masalah pembiayaan ini adalah hal klasik. Sumber utama pembiayaan dari dana BOS membuat ekstrakulikuler di sekolah negeri harus menyesuaikan dengan anggaran dana yang terbatas. Terbatasnya anggaran membuat sekolah hanya akan mengadakan ekstrakulikuler yang dianggap potensial dan tentu tak menguras banyak dana. Fasilitas untuk kegiatan ektrakulikuler pun tak bisa tersedia dengan layak. Akibatnya, banyak potensi dari anak-anak yang tak tersalurkan dengan baik.


Tidak semua sekolah bisa memenuhi fasilitas untuk kegiatan ekstrakulikuler yang lengkap
Problem kedua dengan terbatasnya dana, maka kegiatan yang seyogyanya dapat meningkatkan potensi anak melalui ekskul menjadi terhambat. Salah satunya adalah kegiatan lomba. Dalam satu kali lomba, tentu sang anak membutuhkan biaya yang besar. Sebagai contoh, jika anak ingin mengikuti lomba drum band, maka harus ada biaya untuk membeli atau menyewa kostum, biaya konsumsi selama latihan, honor pelatih, dan sebagainya. Tak semua sekolah bisa merangkul orang tua yang rela untuk menyumbangkan dana demi putra-putrinya. Ditambah dengan aturan yang ketat dalam penarikan dana kepada orang tua, kegiatan yang mengasah kemampuan semacam ini tidak bisa berjalan lancar.

Dari mengikuti eksktrakulikuler, anak bisa mengikuti lomba yang bisa meningkatkan keberanian, pengalaman, dan potensi mereka.
Ketiga, tak jarang sekolah yang mengadakan ekskul belum memiliki program eksktrakulikuler yang jelas. Padahal, di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS), sekolah harus memaparkan ekskul apa saja yang ada di sekolah kepada orang tua dan komite sekolah. Bagimana peraturannya, kapan jadwal latihannya, hingga apa saja kegiatan dan target yang akan dicapai selama satu tahun berjalan. Setelah satu tahun berjalan pun, sekolah harus mengevaluasi kegiatan-kegiatan ekskul yang telah dilakukan. Apakah anak-anak telah mampu mengembangkan dirinya atau tidak dari kegiatan ekskul tersebut. Bila kegiatan monitoring dan evaluasi ini tak berjalan maksimal, kegiatan ekskul di sekolah hanya akan sekedar menjadi pemanis belaka.

Problem keempat adalah banyak guru eksktrakulikuler yang mengajar di banyak sekolah. Bagi guru ekskul yang mampu mengatur waktunya dengan baik tentu tak masalah. Guru seperti ini malah dapat direkomendasikan menjadi pengajar ekskul yang diharapkan mampu meningkatkan potensi siswa. Sayangnya, cukup banyak guru ekskul yang harus berjibaku menyusun jadwal ekskul dari satu sekolah ke sekolah lain. Implikasinya adalah ketika mengajar, sang guru tersebut tidak bisa maksimal. Belum lagi, tak jarang pula anak-anak harus menunggu lama kedatangan guru tersebut. Tentu, kegiatan ekstrakulikuler semacam ini tidaklah optimal.

Terakhir, yang seringkali terjadi adalah jadwal kegiatan ekskul berdekatan dengan kegiatan bimbingan belajar atau les tambahan siswa. Banyak orang tua yang rela memampatkan kegiatan les dan ekskul dalam satu hari penuh di banyak tempat. Kondisi ini jelas tak akan membuat anak mampu mengasah potensinya secara maksimal karena faktor kelelahan. Keadaan semakin diperparah dengan adanya kemacetan di jalan raya yang akan menambah rasa bosan dan capek bagi sang anak. Bukan prestasi gemilang yang didapat, malah peningkatan frekuensi sakit yang akan melanda. Jika dibiarkan, tentu hal ini tidaklah baik.

Dari beberapa problem ini, orang tua pasti mengharapkan dapat memberi tambahan bidang akademik dan nonakademik kepada sang anak dengan efektif dan efisien. Untuk itulah, ada salah satu solusi yang tepat yakni melalui EduCenter. Dengan konsep “One Stop Education of Excellence”, Edu Center memberikan solusi bagi orang tua yang ingin memberikan tambahan akademik maupun nonakademik. Lembaga ini merupakan intergrasi dari pusat belajar dan kursus.

Ada banyak pilihan kegiatan ekskul maupun tambahan pelajaran yang terdapat di EduCenter. Mulai dari kegiatan seni, memasak, matematika, sains, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, hingga tari balet. Fasilitas yang disedikan pun cukup lengkap. Para pengajar yang ada juga dari profesional di bidangnya. Terdapat pula kegiatan pendidikan untuk siswa prasekolah. Aneka kegiatan tersebut terintegrasi dalam satu tempat sehingga sangat memudahkan orangtua bila dibandingkan memberi tambahan anak di beberapa tempat. Apalagi, jika orang tua memiliki beberapa anak, tentu konsep satu atap seperti ini akan juga sangat membantu.

Sebagai gambaran, jika sang anak pulang sekolah pukul 1 siang, maka ia bisa langsung menuju #eduCenter. Di sana, ia bisa sekaligus makan siang bersama teman-teman baru yang akan menambah kemampuan anak untuk bersosialisasi. Lalu, ia bisa mengikuti kursus bahasa Inggris pada jam berikutnya, dilanjutkan kursus matematika, dan diakhiri kursus piano. Semuanya berada dalam satu tempat. Sang anak akan lebih cepat sampai pulang ke rumah dan dapat sejenak bercengkrama dengan ayah dan ibu. Tak hanya itu, waktu anak untuk bermain tidak akan hilang.

Meskipun eksul wajib di sekolah tetaplah harus diikuti, tak ada salahnya memberikan fasilitas anak untuk kegiatan akademik maupun nonakademiknya. Jika dukungan kedua kegiatan tersebut beriringan dalam proses yang panjang dan kontinyu, edukasi sebagai kunci kemajuan bangsa tak hanya akan menjadi slogan semata namun akan menjadi sebuah kenyataan. Dan, konsep “One Stop Education of Excellence” dari EduCenter adalah salah satu terobosan untuk meraih kenyataan tersebut.

63 comments:

  1. Sebagai orang tua, saya merasa banget kalau program ekstra dari sekolah itu kurang. Jadi ketika anak memilih kegiatan ekstra yang ditawarkan sekolah, harapannya agar bakat dan minat anak tersalurkan. Namun seringkali fasilitas dari sekolah kurang. Gurunya kurang atau karena kelebihan murid (alasannya seperti itu). Sehingga anak-anak tidak maksimal di ekstra tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah benar mbak memang harapan kepada sekolah tak berbanding lurus dengan fasilitas akhirnya anak-anak kurang maksimal

      Delete
  2. Kadang ya kasihan, anak kelelahan. Karena sekarang sekolah saja matapelajarannya sudah begitu padatnya. Pulangnya jam tiga. Terus dilanjut ekskul. Betapa letihnya anak itu kan?
    Kalau ditempat saya, pengajar ekskul diambil dari tenaga luar, atau honorer. Jadi bukan guru disekolah itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mas, apalagi kalau tempatnya berlainan
      anak akan semakin bosan di jalan
      rata2 ekskul memang guru honor mas

      Delete
  3. Syukur sih, dulu pas sekolah, pas ikut ekstrakurikuler selalu ada kegiatan yang difasilitasi atau didukung sama sekolah. Meski akunya sendiri yang kurang suka kegiatan di luar. Tapi kalau organisasi sekolah, aku masih aktif.

    Sekarang menyesal. Pengen aktif di eskul tari. Huhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau gak ikut ekskul kadang menyesalnya pas dewasa ya mbak
      jadi ingin ikut lagi, tapi sudah terlambat

      Delete
  4. Mas, pengalaman anakku waktu ikut ekskul futsal di sekolah, yang ikut puluhan orang, gurunya cuma satu, bola sepak juga satu..jadilah dia cuma duduk saja sepanjang jam latihan. Dia enggak mau lagi. Syukurlah ekskul silat yang peminatnya kurang, enggak banyak peserta, jadi lumayan juga dapat ilmunya. Tapi ya cuma satu ekskul jadinya enggak bisa lainnya. Syukurlah kalau ada Educenter seperti ini. Bisa terbantu para orang tua untuk mengembangkan bakat dan minta putra-putrinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah itu sangat tidak efektif sekali
      apalagi kalau gurunya juga merangkap mengajar di sekolah lain
      belum kalau anak-anak menunggu lama
      benar, konsep satu atap seperti ini adalah salah satu solusi yang tepat agar anak-anak bisa mengembangakan bakatnya namun tak mengganggu kegiatan akademik.

      Delete
  5. Saya dulu sekolah PGAN, di antara ekstra yang wajib dikuti oleh seluruh siswa adalah PRAMUKA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang pun di semua sekolah pramuka jadi ekskul wajib mas
      namun untuk ekskul pilihan sudah seyogyanya sekolah memfasilitasi

      Delete
  6. Saya dulu ikut beberapa ekstrakurikuler, tapi juga ikut les
    jadi bner2 padet memang.

    memang soal fasilitas kegiatan ekskul kurang memadai
    sangat penting memang ekskul ini
    kan tidak selamanya anak pintar di akademis
    ada yg pintar di musik, gambar, olahraga
    kalo misal tiap skolah punya fasilitas untuk menampungnya, insyaAllah anak lebih semangat untuk sekolah.
    tidak merasa tertekan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali mas,
      ekskul memang penting
      sayang banyak sekolah belum memfasilitasi dan akhirnya mengikuti tambahan di banyak tempat

      Delete
  7. dulu aku lebih senang ikut ekskul daripada belajar di kelas, alhamdulillah ekskulnya bener-bener bisa mengantarkan kami menang lomba. Sekarang aku pun mendukung anak-anak untuk ikut ekskul, biar gak bete dan mumet

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah keren mbak
      memenag itulah nilai lebihnya ekskkul meski pelajaran tetap juga harus diperhatikan

      Delete
  8. Semestinya kegiatan ekstakurikuler sesuai minat dan bakat masing-masing murid,ya ... dipilah mana yang suka melukis, menyanyi, dll.
    Ngga kudu wajib ikut jenis ekskul yg ditentuin sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya, tidak semua sekolah dapat memfasilitasi ekskul pilihan ini
      akhirnya orang tua mengikutkan aneka kursus di banyak tempat dan membuat anak semakin bosan

      Delete
  9. Point yang terakhir itu bener bnget mas. Anakku krn dah kelas 5, udah nggak ikut ekskul..karena mesti ikut bimbel. Kalopun nggak bentrok jadwalnya, kasian aku... Soalnya balik sekolah udah jam 2 siang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah bener mbak
      udah capek kan ya anaknya
      akhirnya kurang maksimal

      Delete
  10. Kalau di tempat kami, orang tua sebagian ada yang protes kalau anaknya ikut ekskul. Katanya pulangnya jadi sore..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayang banget
      tapi kalau kesorean atau bahkan kemaleman memang kasian mbak

      Delete
  11. Problemnya pasti banyak, seenggaknya memang eskul itu butuh biaya, fasilitas yang lengkap di eskul pasti butuh biaya, apalagi kan itu tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi anak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mas, problem biaya memang yang utama sehingga ekskul di sekolah belum maksimal

      Delete
  12. Zaman dulu aku SMP ikut ekskul drum band. Dulu meskipun lelah karena ekskul, tapi masih bisa dikompromikan dengan mata pelajaran yang memang belum serumit sekarang. Zaman sekarang ekskul anakku yg di mts aja kan ambil sore hari setelah pelajaran selesai plus di Sabtu pagi yaitu PMR dan KKR. Ya mudah2an menambah wawasan dan ilmu juga belajar bersosialisasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia, sosialisasi
      kadang kemampuan seperti ini tak didapat jika tak mengikuti ekskul ya mbak

      Delete
  13. Saya mah gak ikut ekstrakurikuler, cuma les doang supaya gak tertinggal dengan teman lainnya.

    ReplyDelete
  14. Yaa!! Meski Ekskul yang telah diberikan oleh sekolah dari sang guru banyak menambah wawasan serta pengetahuan bagi siswa....Masih banyak orang tua yang enggan anak2nya ikut Ekskul...

    Bahkan ada pula siswa yang males juga untuk ekskul. Padahal faktanya sudah jelas yaa! Sob..😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah benar mas sayang banget kalo males2an ekskul

      Delete
  15. Di lihat dari sisi positifnya, seorang siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler akan lebih cekatan dan memiliki keterampilan. Serta benar juga memupuk keberaniannya utk tampil dinhadapan publik

    ReplyDelete
    Replies
    1. keterampilan dan keberanian
      sepakat sekali mbak untuk poin ini

      Delete
  16. Inget dulu smp ikutan pramuka, emang bener pramuka bisa membangun karakter. Disana saya belajar berbagi, bersusah-susah, solideritas dll

    ReplyDelete
  17. klo di daerah kampung, di daerah saya.
    kebanyakan orang tua memilih kepraktisan dengan menyekolahkan anak di dekat lingkungan sekitar walaupun kualitas sekolah tersebut kerap dipertanyakan.

    itu sih problematikanya.

    ReplyDelete
  18. Masalah dana di kegiatan ekstrakurikuler itu bener banget mas. Jaman sekolah saya sendiri mengalaminya. Apalagi kalau pas mendekati hari H lomba, wah pihak sekolah sering agak susah kalau dimintai pendanaan macam ini. Ya solusi terakhir kita sebagai anak ekskul kadang mencoba buat patungan untuk menutupi biaya kekurangan.

    Mantep ini...satu tempat bisa buat tempat les pelajaran sama les bakat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas apalagi kalau mau ada even ya mesti harus nunggu lama padahal udah buat proposal
      iya mas bisa dicoba ini salah satu solusi dalam satu atap

      Delete
  19. Kl di sekolah sekitar rumahku pd pulangnya sore, karena sekolah skrh byk yg meneralkan TPQ, hanya satu dua sekolah sih yg menerapkan ekstra.. Hhh

    ReplyDelete
  20. baru tahu tentang educenter ini kang :) anakku maish TK eskulnya juga masih di jam sekolah ga tau nanti pas SD makasi infonya tentang ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. bijak-bijak- memilih ekskul dan jadwalnya mbak
      terimakasih embali, semoga bermanfaat :)

      Delete
  21. benar sich, banyak dari para orang tua si anak, sangat minim mengerti apa itu kegiatan ekstrakulikuler, jadi kadang mereka melarang anaknya untuk ikut

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, apalagi kalau tahu pulangnya sore ya mas

      Delete
  22. Di daerahku malah jarang yg ngadain ekskul begini mas ikrom,, hanya beberapa sekolah fav.saja,itu pun hanya kegiatan pramuka, mungkin memang kendala di dana ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. pramuka memang wajib mbak
      benar dana masalah utamanya

      Delete
  23. aku nyesel dulu ga ikut ekskul apa-apa...terlalu serius akademik, dan ternyata---mmmmm mengalami jenuh juga..
    tapi dipikir-pikir ga begitu nyesel juga ding..toh ilmu bisa dipelajari dari mana aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas sepakat belajar bisa dari mana saja...

      Delete
  24. Aku dulu SD negeri, tpi bersyukur guru2 nya berjuang memberikan konsep2 ekskul utk membentuk jiwa leadership, teamwork dan kepercayaan diri anak2nya dg sgala keterbatasan yg ada,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah beruntung sekali
      kalau dulu sekolah negeri masih bisa bergerak mas
      kalau sekarang susah karena terbatas dana BOS dan terbentur aturan penarikan dana
      cuma beberapa sekolah negeri saja yang bisa all out masalah ekskul ini

      Delete
  25. di sekolah eksklnya hanay tertentu saja , shg kaya dua anakku gak pernah ikut ekskul krn gak sesuai dg minatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia jadi repot ya bu
      maunya ada bakat lain jadi tak tersalurkan

      Delete
  26. Intinya efisiensi waktu ya, benar juga itu. Dengan ikut kegiatan eskul yang efektif dan efisien jadi anak punya banyak waktu lebih untuk bermain dengan teman-teman dan orang tua di rumah

    ReplyDelete
  27. dana sih memang di saya juga dulu jadi hambatan.. mungkin harus ada ekskul pencari dana. :).
    dulu sih saya untuk dana cari sponsor dr luar sekolah ke perushaan perushaan. biasanya mereka ada dana csr. mereka suka ngasih aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini yang harus jadi tantangan bagi KS terutama

      Delete
  28. bahkan biasanya mereka memberikan pelatihan atau membentuk ekskul ke sekolah sekolah. coba aja cari bagian csr nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas bisanya ada
      tapi tidak semua..

      Delete
  29. Setuju Kang, memang yang dulu saya alami juga begitu. Ekstrakulikuler sepertinya hanya sekedar syarat meramaikan wacana pengembangan bakat siswa semata. Terutama negeri, berasa banget semua keperluan yang ujungnya berdana menjadi kendala, ujungnya kegiatan diadakan seadanya atau bahkan ditiadakan.

    ReplyDelete
  30. sha waktu sma ikut eskul angklung, bahkan sampe tampil depan sby :)
    sekarang nurun ke ade sha, dari smp dia ikut marching band. Sekarang sma, dia yang jadi tutor anak2 smp :)

    ReplyDelete
  31. Aku juga sering ikut eskul itu, apalagi yang drum band idola ku banget

    ReplyDelete
  32. semoga dari problem di atas, sekolah-sekolah dapat segera meminimalisasinya mas hehe.

    ReplyDelete
  33. Seneng banget ya kalau sekolah punya banyak ekskul. Bukan cuma banyak, tapi variatif (bukan bidang olahraga atau outdoor semua).

    ReplyDelete
  34. Pas zaman sekolah saya nggak pernah ikut les. Wahaha. Nggak tau kenapa, pulang sekolah males buat belajar dengan kaku lagi. Mending belajar sendiri dengan santai.

    Tapi saya termasuk ikut ekskulnya agak kebanyakan pada zaman SMP. Dalam seminggu saya mesti tiga kali ekskul. Ujung-ujungnya kena tipus dan berakhir menjadi satu ekskul saja dan lama-lama berhenti ekskul. :(

    ReplyDelete
  35. Selama si anaknya yang pingin, pastinya kegiatan non akademik baik di sekolah mau di luar sekolah akan ada banyak manfaatnya. Murid saya pun ada yang eskulnya ngambil yang di luar sekolah.

    ReplyDelete

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.