Lika-Liku Awal Masuknya Agama Kristen di Indonesia

Sekepal nasi kuning yang berpadu dengan nasi putih dalam komposisi yang sama membuat insting saya untuk segera melahapnya semakin kuat.

GPIB Immanuel Malang, salah satu gereja protestan kuno di Kota Malang. Bersebelahan dengan Masjid Agung Jami' membuat halaman gereja ini dipadati ketika momen Shalat Idul Fitri. Pun, ketika Natal tiba, ratusan kendaraan memenuhi halaman masjid.
Paduan aneka lauk pauk semacam telur dadar, kering tempe, ayam goreng krispi, mie, dan dengan pemanis acar segar membuat tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera menyantapnya. Hidangan yang tersaji di dalam sebuah kotak itu merupakan rezeki yang selalu saya dapat di setiap malam natal. Sekitar 17% dari keseluruhan penduduk di RT saya merupakan penganut Kristen Protestan yang berafiliasi dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Tak heran, nafas-nafas kejawen dalam perayaan natal sangat semarak, seperti pada saat bulan puasa atau Hari Raya Idul Fitri. Itu artinya, saya mendapat limpahan barokah rezeki yang selalu saya dapatkan mengingat jumlah pemeluk agama Kristen Protestan di lingkungan saya, meski minoritas, bisa dibilang cukup signifikan. Alhamdulillah.

Sepanjang saya memakan hantaran natal tersebut, saya selalu merenungi kisah penyebaran agama ini. Sebagai orang non-nasrani, bagi saya kisah penyebaran agama yang menjadi agama terbesar di dunia ini cukup menarik. Tak hanya tersebar di benua Eropa yang menjadi awal mula perkembangannya, Agama Kristen tersebar jauh menjadi mayoritas di benua Amerika, Afrika bagian selatan, tersebar pula ke benua Asia dan Australia hingga ke Indonesia. Lantas, sejak kapan Kristen mulai muncul di Indonesia?

Banyak sejarawan beranggapan, Agama Kristen masuk bersamaan dengan masuknya para pedagang Eropa, baik dari Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Jika kita belajar sejarah di bangku sekolah dulu, kita pasti ingat mengenai semboyan 3G yang didengungkan para pelayar Eropa di tanah baru yakni Gold, Gospel, dan Glory. Diantara semboyan itu, Gospel merupakan seruan untuk menyebarkan ajaran mereka, dalam hal ini kristen di tanah baru. Ribuan misionaris pun turut serta dalam setiap pelayaran. Salah satu misonaris yang terkenal dalam menyebarkan Kristen di Nusantara adalah Fransiscus Xaverius. Zendeling Katolik dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis ini menjadi pelopor penyebaran Katolik di Indonesia, terutama di bagian timur seperti Kepulauan Maluku dan sekitarnya.

Monumen Fransiskus Xaverius di Ambon (sumber)
Kedatangan misionaris ini ke wilayah timur Indonesia merupakan mandat dari Paus Alexander VI. Dalam Perjanjian Tordessilas, dunia di luar Eropa dibagi rata antara Portugis dan Spanyol, dua kekuatan besar kala itu. Sayang, keduanya bertemu di Maluku dan sempat mengalami beberapa kali pertikaian sebelum diselesaikan melalui Perjanjian Saragossa. Keduanya pun tetap bisa meraup rempah-rempah di tanah Maluku. Pada perjalananan selanjutnya, Spanyol lebih memilih bermigrasi ke suatu wilayah di bagian utara Maluku yang kini menjadi negara dengan penduduk mayoritas beragama Katolik, Filipina.

Drama Penyaliban Yesus Kristus di Filipina. Saat ini, Filipina menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik (Sumber)
Portugis pun cukup aman bermain rempah-rempah di Maluku setelah sebelumnya berhasil menaklukkan Kerajaan Islam di Malaka. Ada kisah yang belum banyak diketahui orang yakni jalur pelayaran ke Maluku ternyata dirahasiakan oleh Portugis. Inilah alasan mengapa pada sekitar abad ke-16, dominasi Portugis begitu hebat di wilayah Nusantara. Kalau kita mengingat pelajaran sejarah dulu, ada beberapa raja Kerajaan Islam yang cukup gigih melawan Portugis, salah satunya adalah Pati Unus, yang dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor. Lantas, ke manakah Belanda?

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri peryaaan Natal di salah satu Gereja Ortodoks Timur. Kristen Ortodoks (kekristenan Timur) adalah agama mayoritas di Eropa Timur, terutama di bekas pecahan Uni Sovyet. Di Indonesia, Kristen Ortodoks Timur juga mulai berkembang dalam naungan Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) pimpinan Mitra-Arkimandrit Romo Daniel Byantoro. (Sputnik International)
Belanda baru bisa datang ke Nusantara setelah salah seorang pengelana dan pedagang Belanda bernama Jan Huygen van Linshoten membuat buku perjalanannya berjudul Itinerario, atau sering diucapkan para travel blogger sebagai Itinerary. Buku ini menyingkap bagaimana cara menuju Nusantara dari Eropa yang saat itu hanya diketahui Portugis. Berkat buku ini, ekspansi perusahan dagang Belanda ke wilayah nusantara pun mulai dilakukan, salah satunya adalah eksepedisi terkenal yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 1596 di Banten. Meski gagal, Belanda tak menyerah. Berkali-kali ekspedisi dikirim. Hingga akhirnya, setelah mendapat simpati dari penguasa Kerajaan Banten yang akhirnya membabat habis kerajaan itu menjadi tanpa daya, Belanda bisa menancapkan kuku di Nusantara melalui kongsi dagangnya yang kita hafalkan dulu : VOC. Dari kisah ekspedisi Belanda ini ada satu pelajaran penting mengenai bergunanya catatan perjalanan ke sebuah tempat agar tak hilang begitu saja di telan bumi. Itulah alasan mengapa menulis sangat penting, seperti menulis di blog.

Buku Itinerario yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai biang keladi penjajahan Belanda di Indonesia (sumber)
Kejayaan VOC turut menjadikan penyebaran Kristen Protestan di Indonesia semakin berkembang pesat. VOC mendukung penyebar Protestan mengambil alih jemaah Katolik yang ada di kawasan Indonesia Timur, seperti Maluku. Protestan menjadi anak emas VOC dan mengalami masa kejayaan. Sementara, agama Katolik yang lebih dulu mendominasi wilayah Indonesia Timur harus terdesak dan menyisakan wilayah NTT dan Timor Leste sebagai basis utamanya.

Kristen Sudah Ada Sejak Zaman Barus dan Majapahit

Sebagian besar sejarawan memang meyakini bahwa agama Kristen masuk bersamaan dengan masuknya para pedagang Eropa. Hal ini paralel dengan pendapat mengenai teori masuknya agama Islam yang bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Persia, Arab,dan Gujarat. Namun, ada seorang peneliti yang menulis di Majalah Basis pada tahun 1969 bernama J. Bakker SJ berpendapat lain. Ia menyanggah teori masuknya agama Kristen yang mengikuti kedatangan bangsa Eropa dengan semboyan 3G-nya. Bakker berpendapat bahwa sebenarnya Kristen sudah ada di Indonesia sejak abad ke-7.

Perayaan malam Natal di Gereja Koptik Ethiopia yang merupakan salah satu bagian dari Gereja Ortodoks Oriental (Bernews.com)
Yang menarik, anggapan ini ia dasarkan pada sumber Islam, yakni pada sebuah tulisan Syaikh Abu Salih Armini, seorang sejarawan Muslim. Sejarawan Muslim ini menulis sebuah ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is w’al-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu. Esiklopedi ini memuat daftar gereja yang berada di Mesir dan wilayah Timur lainnya. Informasi dalam laman Wikipedia menyebutkan gereja di wilayah ini sering disebut sebagai Gereja Nestorian*) oleh dunia Barat. Sebutan lain bagi gereja ini adalah Gereja Timur Asiria. Abu Salih menyebutkan bahwa pada abad ke-7, di daerah Fansur, yang terkenal dengan tempat asal Kamper sudah ada sekelompok orang Kristen Nestorian. Tak hanya itu, di sana sudah berdiri sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. 

Kutipan catatan Abu Salih yang berarti : “Fansur: Di sana tedapat banyak gereja dan semuanya adalah dari nasarthirah, dan demikianlah keadaan di situ. Dan dari situ berasalah kapur barus dan bahan itu merecik dari pohon. Dalam kota itu terdapat satu gereja dengan nama: Bunda Perawan Murni Maria”.[Lihat terjemahan Y. Bakker, SJ, Umat Katolik Perintis di Indonesia, dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid I (Arnoldus Ende, Flores, 1974) hlm. 29]
Bakker menggunakan catatan dari Abu Salih untuk mendukung teorinya, namun dengan beberapa koreksi. Pertama, nama “Fansur” yang dimaksudkan merupakan “Pansur”. Daerah ini berada di wilayah Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. Kedua, bukan penganut Kristen Nestorian yang merupakan pendahulu agama Kristen di Fansur tadi melainkan penganut Kristen Universal (saat itu Kristen Katolik masih bersatu dengan Kristen Ortodoks dan Protestan sebelum skisma Timur-Barat 1054 dan reformasi Protestan abad ke-16). Dasar hipotesis ini adalah pada persembahan kepada Bunda Maria tadi. Namun, tak ada informasi lain mengenai jejak Kristen di Indonesia pada abad ke-7 selain catatan Abu Salih ini. Beberapa pendapat juga menyatakan bahwa Agama Kristen masuk lebih dulu daripada Agama Islam yang juga diduga dimulai dari daerah bernama Fansur.  

Salah satu Gereja Nestorian di Siprus Utara (BBC News)
Sayang, bukti yang kuat mengenai pendapat ini masih belum tampak. Ada beberapa hal yang diperdebatkan dalam catatan Abu Salih tadi. Kata “Fansur” yang dimaksud lebih dekat dengan kata “Mansur”, sebuah negara di barat laut India Kuno yang terletak di sekitar sungai Indus. Negara ini sangat terkenal akan komoditas Kamper yang sering dibeli oleh orang Arab. Pendapat ini didukung oleh Adolf Heuken SJ dalam tulisannya berjudul “Christianity in Pre-Colonial Indonesia”. Hauken mengutip catatan AJ Butler MA, seorang ahli literasi yang mengoreksi alih bahasa karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris yang berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Salih, The Armenian. Penerjamahan catatan Abu Salih ini dilakukan oleh  BTA Evettes, seorang sejarawan Inggris yang giat melakukan studi tentang Kristen di tanah Arab, terutama Kristen Koptik. Kurangnya bukti sejarah, terutama bukti arkeologis yang kuat menyebabkan pendapat tentang masuknya agama Kristen pada abad ke-7 masih perlu dikaji ulang.    

Peta kecamatan Barus di Kab. Tapanuli Tengah, Sumut. Barus sendiri masih menjadi misteri bagi para sejarawan karena diduga merupakan pusat kebudayaan pada masa lampau (Wikipedia).
Selain pada masa abad ke-7, ada pendapat lagi yang mengatakan bahwa agama Kristen di Indonesia sudah ada sejak sekitar abad ke-13 hingga abad ke-14 Masehi. Catatan ini berasal dari uskup Nestorian Ebedjesus dari Nibisis (1291-1319). Uskup Ebedjusus menyebut bahwa ada wilayah di Indonesia yang masuk dalam wilayah keuskupannya, yakni daerah bernama Dabbagh. Daerah ini dikenal sebagai wilayah Sumatra atau Jawa. Tiga orang uskup pada tahun 1503 ditasbihkan oleh Elias V untuk melakukan penginjilan di Dabbagh dan ke Sin – Masin (Tiongkok). Tak hanya itu, pada masa Pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggaldewi, salah satu pemimpin Majapahit saat kemunculan Patih Gajah Mada, seorang pendeta dari Florence, Italia bernama J. De Marignolli menemukan orang-orang Kristen saat perjalanan pulang dari Beijing. Saat itu, catatannya berada sekitar tahun 1347. Kemungkinan, orang-orang Kristen tersebut merupakan Kristen lokal.

Akhirnya, saya bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa awal masuknya Agama Kristen di Indonesia juga masih misteri. Sama gelapnya dengan masuknya agama Hindu-Buddha dan Islam yang masih timbul aneka hipotesis. Berbagai pendapat telah terpaparkan. Yang pasti, dengan populasi sekitar 10% dari total penduduk Indonesia, umat Kristiani adalah bagian dari bangsa Indonesia. Poin penting ini terkandung dalam pesan J. Leimena, salah satu negarawan Kristiani yang dimiliki bangsa Indonesia yang berbunyi :



Pesan Om Jo ini membuat saya semakin lahap memakan hantaran nasi kuning hantaran Hari Raya Natal. Dalam toleransi yang saya anut, suka cita natal yang saya rasakan adalah menghormati ketika tetangga saya bahagia merayakan Natal. Dan, menikmati nasi kuning ini adalah salah satu caranya.


Mari makan!

Sumber :
Luar jaringan
Majalah Historia, Nomor 8 Th. I
Dalam jaringan
(1) (2)

*)Kristen Nestorian (Nestorianisme) merupakan sebutan bagi pengikut Nestorius, salah satu mantan petinggi di Gereja Konstantinopel. Nestorius diekskomunikasi oleh Gereja Universal selepas Konsili Efesus (431 M) karena perbedaan ajaran tentang pribadi Yesus. Untuk info lebih lanjut bisa dibaca pada literasi lain yang relevan. Terimakasih.


Previous
Next Post »
16 Komentar
avatar

Di tempat saya berbaur mas Ikrom
tetangga saya ada protestan, katolik
kalo natal ya seperti lebaran,,, pun bgitu kalo waktu hri raya idul fitri mereka semua berkunjung .. meski tidak saling mngucapkan krna untuk saling mnjaga
tapi sillaturahmi selalu terjalin..
dan ini bentuk kerukunan bahwa kita INDONESIA tnpa mengkotak kotakan suku, Ras dan agama.
soal kepercayaan itu masing masing.. dan tidak saling mengganggu.

Balas
avatar

Teman ku pun ada yang beragamakan kristen protestan mas ikrom, meski berbeda agama ketika memasuki hari besar masing-masing kami tetap saling menghormati tanpa saling mengucapkan.
karena mereka pun mengerti alasan ku untuk tidak saling mengucapkan.

Balas
avatar

Yaa!! Apapun Agamanya tentu punya nilai sejarah masing-masing .. Yang terpenting agama itu pun diakui dan disyahkan oleh negara..😊😊

Balas
avatar

muamalah dengan kristen tidak ada masalah, tapi kalau sudah masalah aqidah ya lain lagi

Balas
avatar

Terima kasih atas sharing dan informasinya, mas Ikrom. Semoga pluralisme dan toleransi di Jawa (dan Indonesia umumnya) tetap terjalin mesra.

Salam kenal, aku blogger dari Jogja yang kini tinggal di Bandung. Sangat menarik mengetahui fakta bahwa ternyata Portugis dulunya merahasiakan jalur menuju Indonesia dari kolonial lainnya. Andai Portugis menjadi penjajah utama kita, bisa jadi Indonesia saat ini setara dengan Brazil :D

Menarik juga mengetahui teori Kristen sudah ada di Indonesia sebelum kedatangan penjajah.

Balas
avatar

Tetangga jauh saya juga sering memberi nasi hantaran seperti yang sampean bilang. Saat itu saya baru tau bahwa mereka juga 'selametan'. Btw kalo saya belum pernah lewat depan gereja Immanuel pas Natalan sih. Pastinya ruame ya. Saya lewat pas hari2 biasa aja.

Balas
avatar

Jadi tahu sejarahnya neh. Makasih sharingnya

Balas
avatar

Bikin kaget judul nya mas... kirain......

Balas
avatar

benar mas selama masih hidup berdampingan dengan nyaman
maka hati akan senang

Balas
avatar

iya saling menghormati sangat penting mas

Balas
avatar

salam kenal juga mas
wah kalau dijajah siapapun ya gek enak mas hehe
iya menarik memang aneka teori teori itu

Balas
avatar

rejeki ya mbak
kalau natalan rame mbak smape ke masjid di sebelahnya

Balas
avatar

kaget?
kok saya bingung dengan komen mas he

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!