Mengenang Kenyamanan Pasokan Listrik Kolonial dari NV. ANIEM

Hari-hari belakangan ini, laman Twitter saya dihiasi aneka keluhan, aduan, hingga umpatan dan sumpah serapah dari para pelanggan listrik.


Penyebabnya apalagi kalau bukan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di kota saya. Pemadaman tersebut hampir terjadi secara serentak dalam satu kota. Namun, yang membuat banyak pelanggan listrik mencak-mencak adalah waktu pemadaman yang sering terjadi bersamaan dengan pertandingan langsung big match Arema melawan salah satu tim Liga 1 Gojek-Traveloka. Bisa dipastikan, penduduk seisi kota menjadi ribut. Ramai dan mencari cara bagaimana mereka bisa menonton pertandingan langsung tersebut di tengah keadaan kota yang gelap gulita.


Melihat keadaan itu, saya jadi merenung. Ketika hari ini banyak pelanggan listrik yang mengeluh akibat aneka pemadaman tersebut, sesungguhnya bangsa kita sedang menyumpahi sejarah bangsa yang tidak becus mengelola salah satu warisan berharga kolonial: listrik. Warisan yang kita ambil alih bersama warisan lain seperti PT KAI, Pertamina, Bank Indonesia, dan PTPN. Warisan ini menjadi milik bangsa Indonesia dengan kisah berbeda-beda dalam perjalanan prosesnya.

Sejarah listrik di Indonesia bermula pada 1897 dengan berdirinya perusahaan listrik pertama bernama Nederlandsche Indische Electriciteit Maatchappij (NIEM) yang berkantor pusat di Gambir, Jakarta. Setelah kemunculan perusahaan listrik pertama tersebut, munculah beberapa perusahaan listrik swasta, antara lain Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatchappij (ANIEM) dan Bandoengsche Electriciteit Maatschappij (BEM). Pada waktu itu, tiap perusahaan listrik berhak mengelola sumber listrik mereka dan mendistribusikannya ke pelanggan masing-masing.

Kemunculan perusahaan-perusahaan listrik tersebut tak lepas dari gairah liberalisasi ekonomi yang dimulai sejak diberlakukannya Undang-Undang Agraria Tahun 1870. Undang-undang ini membuka keran seluas-luasnya kepada pemodal swasta asing untuk menginvestasikan modalnya di Indonesia. Investasi banyak yang terpusat pada bidang perkebunan, perdagangan, dan industri. Dengan kenaikan jumlah investasi tersebut, maka kebutuhan akan kecepatan aktivitas yang menunjang investasi juga ikut meningkat. Salah satunya adalah listrik.

Diantara perusahaan-perusahaan listrik pada awal kemunculan di zaman kolonial, ANIEM merupakan perusahaan yang paling besar. Pangsa pasar ANIEM hampir mencapai 40% pasokan listrik nasional. Wilayah pemasaran utama perusahaan ini antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan. Di tiga wilayah itu, ANIEM memasok kebutuhan industri dan rumah tangga.

Luasnya cakupan pemasaran ANIEM membuat perusahaan ini menerapkan kebijakan desentralisasi produk dan pemasaran dengan membentuk anak perusahaan. Kebijakan tersebut membuat listrik bisa diproduksi mandiri oleh anak perusahaan yang secara langsung menangani proses produksi di berbagai wilayah. Dengan demikian, kinerja perusahaan menjadi menjadi efektif, terutama dari segi produksi dan pemasaran.

Anak perusahaan ANIEM tersebut memiliki sifat setengah otonom. Meski masih berada dalam kontrol ANIEM, mereka berhak untuk memproduksi tenaga listrik, mengalirkan ke pelanggan, dan melakukan pemeliharaan jaringan. Tak hanya itu, mereka juga diberi wewenang untuk melakukan kewajiban kepada pemegang saham, terutama dalam hal pembagian deviden.

Beberapa anak perusahaan ANIEM memiliki pembangkit listrik di wilayahnya masing-masing. Diantaranya adalah NV. Electriciteits Maatschappij Banyumas (EMB) yang memiliki pembangkit di Ketenger dan digerakkan oleh aliran Sungai Banjaran, Baturaden. Pembangkit ini menghasilkan listrik sebesar 30 kV. Ada juga NV. Solosche Electriciteits Maatschappij (SEM) yang memiliki pembangkit di Jelok dan digerakkan oleh aliran air Sungai Tuntang, Salatiga. Kantor pusat perusahaan ANIEM sendiri yang berada di Surabaya memiliki pembangkit di Ngagel, Semampir, dan Tanjung Perak.

Dalam kurun 1935-1941, perusahaan ini mengalami kenaikan penjualan yang cukup besar. Periode ini merupakan masa setelah krisis besar dunia yang dikenal dengan malaise. Kenaikan penjualan listrik yang dicapai ANIEM disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, anak perusahaan ANIEM telah melakukan produksi cukup stabil, terutama yang telah memiliki pembangkit listrik sendiri. Jarang sekali terjadi byar pet atau pemadaman bergilir. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan untuk ukuran waktu itu. Kestabilan anak perusaan ini membuat ANIEM cukup mendapat kepercayaan masyarakat luas.

Tabel Jumlah Daya Listrik yang Terjual Selama 1935-1941 (kWH)
Tahun
Rumah Tangga
Industri
Total
1935
na
na
93.178.506
1936
na
na
99.423.812
1937
na
na
109.731.540
1938
74.300.000
35.400.000
109.700.000
1939
77.200.000
39.300.000
116.500.000
1940
81.420.000
45.810.000
127.230.000
1941
85.990.000
55.976.000
141.966.000
Sumber : Verslag NV. ANIEM. Boekjar 1936-1941


Kedua, propaganda yang cukup gencar dilakukan perusahaan ini untuk menjaring pelanggan rumah tangga yang merupakan pangsa pasar terbesarnya. ANIEM memberikan slogan bahwa listrik menyediakan penerangan yang lebih baik dibandingkan lampu minyak atau gas. Propaganda ini semakin sukses ketika terjadi penetrasi besar iklan perusahaan barang-barang elektronik di surat kabar. Secara tak langsung, citra modern dari iklan barang elektronik ikut mengerek pola pikir masyarakat untuk beralih kepada energi listrik. Ketika mereka ingin menggunakan barang elektronik tersebut, maka mau tak mau mereka harus menggunakan listrik.

Salah satu iklan jadull Philipps

Ketiga, ANIEM sendiri membentuk semacam Biro Penasehat Penerangan yang bertujuan menarik minat masyarakat untuk berlangganan listrik. Biro ini mengingatkan kita pada Pertamina saat melakukan konversi penggunaan minyak tanah ke gas elpiji secara besar-besaran. ANIEM juga menawarkan listrik untuk pemakaian di kantor, lapangan tenis, dan objek-objek lain. Jalan-jalan di kota yang menjadi wilayah penjualan ANIEM diberi fasilitas listrik. Kota-kota tersebut pun menjadi hidup.
Jalan-jalan kota yang difasilitasi ANIEM menjadi terang.
Keempat, pembayaran rekening listrik ANIEM sangat mudah. Setiap minggu, petugas ANIEM akan datang ke perumahan dan perkampungan warga sehingga pembayaran rekening listrik bisa lebih mudah meski saat itu belum ada istilah transaksi non tunai. Kemudahan ini sebenarnya juga sudah dilakukan oleh PLN yang membuka loket pembayaran listrik dan pembelian token listrik di berbagai pelosok. 

Sisa struk rekening ANIEM, Oktober 1934. Meski belum ada transaksi non tunai, pembayaran rekening listrik cukup mudah saat itu. (Sumber)
Nah kelima, yang tak akan mungkin dilakukan sampai kiamat kubro oleh PLN adalah penurunan tarif dasar listrik. Hal ini pernah dilakukan ANIEM pada 1 Februari 1939 dengan penurunan sebesar 5%. Yang unik dan membuat shock adalah alasan penurunan tarif tersebut karena dunia sedang berperang untuk kedua kalinya sehingga mereka melakukannya untuk mengurangi beban pelanggan.

Kenaikan jumlah pelanggan tersebut tentunya berefek pada kenaikan kinerja keuangan ANIEM yang cukup baik. Kenaikan laba secara stimultan terus dicatatkan oleh perusahaan ini sebelum diambil alih oleh Pemerintah Pendudukan Jepang pada 1942. Lonjakan pendapatan terbesar terjadi pada tahun 1937. Pada tahun tersebut, laba yang diperoleh cukup tinggi karena terjadi penurunan anggaran untuk pembelian mesin baru dan peningkatan jumlah pelanggan listrik di beberapa daerah terutama untuk rumah tangga dan industri.

Pendapatan NV. ANIEM untuk Beberapa Tahun
Tahun
Pendapatan
Kotor
Laba
1936
ƒ4.564.660,18
ƒ1.660.830,00
1937
ƒ4.668.821,34
ƒ2.021.850,00
1938
ƒ5.012.100,70
ƒ2.321.383,33
1939
ƒ5.540.226,88
ƒ2.639.175,00
1940
ƒ5.447.883,43
ƒ1.244.182,50
Sumber : Verslag NV. ANIEM. Boekjar 1917,1937-1941


Kisah manis ANIEM sebagai perusahaan pemasok listrik yang sarat prestasi harus berakhir pada 1942. Jepang mengambil alih perusahaan ini dalam sebuah lembaga bernama Djawa Denki Djigo Kosja. Saat perang revolusi fisik, pihak Belanda kembali mencoba mengambil alih ANIEM kembali. Namun, perang yang berkepanjangan membuat ANIEM porak-poranda. Tak banyak hal yang bisa dilakukan untuk sekedar membangun kembali bisnis pasokan listrik ini. Jejak terakhir ANIEM adalah saat terjadi nasionalisasi perusahaan ini pada 1 November 1954. ANIEM dan segudang permasalahannya pun melebur dengan perusahaan listrik lain dan mengawali sejarah baru bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ketika proses nasionalisasi ANIEM, masalah muncul seperti kerusakan pembangkit, jumlah karyawan yang menipis, hingga masalah finansial.
Seandainya sejarah bisa terulang, tentu bangsa Indonesia akan berharap dilayani oleh sistem kelistrikan yang amat efektif seperti tinggalan kolonial Belanda ini. Paling tidak, tak ada lagi byar pet dan harga listrik yang murah serta pasokan listrik yang merata dari Sabang hingga Merauke. Kita tunggu saja, apakah sejarah ini akan terulang atau mustahil bisa terjadi.

Sumber :
Basundawan, Purnawan. 2009. Dua Kota Tiga Zaman : Surabaya dan Malang. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Previous
Next Post »
17 Komentar
avatar

Masya Allah, baru tahu sejarahnya...

Balas
avatar

Saya baru tau sejarah PLN dari baca podtingan mas ikrom ini
di kampung saya baru bisa menikmati listrik 24 jam itu sejak 2008. Tapi tidak itu juga tidak sepenuhnya, dayanya masih kecil lampu pun tidak terlau terang menyala.
Sampai sekarang pun meski sudah banyak perubahan dan lebih baik, namnya listrik padam sudah hal biasa, kalau sudah padam tidak ingat waktu lagi, dari 4-6 jam perhari.
Yang bnyak mengeluh adalah industri kecil rumaha, sperti percetakan, tukang jahit. semua yang membutuhkan listrik

semoga kedepannya semua wilayah indonesia mampu di terangi

Balas
avatar

ternyata gitu.... tetep aja listrik tu peninggalan penjajah yak.... mau seberapa buruknya penjajah merampas harta2 kita, tetep aja ada hal positif yang bs diambil. wkwkwkwk... orang zaman dulu tuh pahalanya gede. udah mau jagain dan perjuangin negara kita. kalo enggak paling kita udah jadi orang setengah bule ya.... ahahahah


dapet ilmu baru lagi ttg listrik. btw itu foto taman di tengah jalan ijen gak si. sekitar perpustakaan? ada kursi2 gt di tengah.. kok asyik sekali.. tapi panas ya

Balas
avatar

hahaha, ampun ampuun. ternyata begitu ya sejarah PLN di INdonesia. Kita kalau ada pemadaman langsung teriak-teriak kek kena apa.

Sekarang kita udah hidup di zaman enak, tinggal menikmatinya aja. Tugas kita adalah menjaga dan merawat agar listrik tetap nyaman di negeri kita.

Balas
avatar

wuaduh, kumplit sekali infonya. terus terang selama ini tidak pernah memperhatikan soal sejarah PT PLN. Menarik juga mengetahui kisahnya di masa lalu. Proses nasionalisasi perusahaan Belanda di zaman Soekarno memang memiliki banyak dampak. Salah duanya adalah nama-nama asing harus di Indonesiakan, sampai musik-musik berbau bule tidak diperbolehkan

Balas
avatar

perusahaan ANIEM, perjalanan yang penuh lika-liku. Berani menurunkan daya tarif listrik.
Kapan kini PLN berani menurunkan daya tarifnya?
jangan hanya mengejar keuntungan belaka :)

Balas
avatar

Ternyata ini gardu listrik ya mas hahahaha tak kira pos penjagaan waktu zaman belanda ....ternyata...itu toh ...abis di bondowoso banyak gedung seperti ini

Balas
avatar

saya sangat malu, bagaimana tidak, sebagai pengguna listrik 24 jam saya baru tahu sejarah asal muasal nya PLN mas...mulai sekarang saya sangat bertrimakasi sama PLN

Balas
avatar

di kota saya juga sering byar pet kok mas
iya semoga ya bisa begitu

Balas
avatar

benar mas
penjajah jug meninggalkan warisan baik
harus dijaga
iya bener ini rame sekarang klo sore mpe malem

Balas
avatar

sepakat harus kita jaga dengan baik dan menggunakan listrik dengan hemat

Balas
avatar

iya proses nasionalisasi memang berliku dan pelik
dan harus berbau indonesia

Balas
avatar

iya ini sejarahnya dan gardunya mas
makanya harus hemat listrik ya hehe

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!