Sensasi Traveling Bareng Ibu-Ibu PKK dan Pengajian

“Semoga saya bisa ke Bali lagi ya. Tapi gak sama ibu-ibu PKK”

Horeee. Lokasi : G. Bromo
Itulah komentar standar saya ketika meninggalkan jejak di blog-blog yang saya yakini sedang mengikuti semacam lomba. Yang jelas, memang saya kepingin ke Bali lagi. Tapi tak bersama rombongan ibu-ibu seperti kunjungan saya sebelumnya.

Tak menikmati ?

Tidak juga. Malah, kunjungan pertama eh kedua ke Bali semenjak saya SD cukup berkesan. Bisa bereksplorasi menikmati alam dan berfoto bersama. Cuma ya itu. Namanya juga bersama ibu-ibu, pasti destinasi utamanya adalah belanja. Maka, waktu untuk menikmati alam Bali tak sampai setengahnya jika bisa dihitung secara kasar.

Menariknya, entah memang saya ditakdirkan sering bersama para ibu-ibu atau memang pengapesan saya, seringkali saya melakukan traveling bersama mereka. Kebetulan, ibu saya adalah pengurus PKK plus merangkap pengurus jamaah jemuah legi dan Dasawisma. Setiap waktu tertentu, perkumpulan-perkumpulan tersebut mengadakan acara traveling bersama. Mereka bertamasya menikmati alam atau sekedar ziarah ke makam wali dan pahlawan.

Ziarah wali. Sunan Drajat Lamongan
Alasan keikutsertaan saya adalah karena permintaan ibu yang meminta saya sebagai “lelaki” di rombongan. Jaga-jaga kalau terjadi apa-apa. Tujuan lainnya, apalagi kalau bukan sebagai juru potret yang akan mengabadikan perjalanan traveling paling berkesan selama hidup mereka.

Iya, saya bisa berkata perjalanan traveling ibu-ibu tersebut adalah perjalanan paling berkesan. Setiap ada kesempatan jalan-jalan, bagi para ibu-ibu tersebut adalah sebuah momen yang sangat langka. Apalagi, kondisi sosial ekonomi tempat tinggal saya yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan, membuat traveling adalah sesuatu yang jarang mereka lakukan. Boro-boro jalan-jalan, buat makan aja susah.

Berpose di depan masjid bawah tanah Tuban
Meski begitu, bukan berarti mereka tak bisa menikmati hidup. Makanya, di tiap perkumpulan, selalu ada iuran tabungan untuk jalan-jalan. Setelah dirasa tabungan sudah cukup, pengurus perkumpulan akan mulai merencanakan acara jalan-jalan. Tak jauh-jauh sih, paling ke wilayah Malang saja. Atau, ziarah ke wali limo yang tak keluar dari Provinsi Jatim.

Ada satu cerita yang menurut saya berkesan. Suatu ketika, kami akan berjalan-jalan ke cangar, sebuah pemandian air panas di Kota Batu Jawa Timur. Pemandian ini menjadi destinasi wisata favorit bagi ibu-ibu untuk sekedar menghangatkan pikiran. Biasanya, tiap orang akan dikenakan biaya 50.000. Biaya itu belum termasuk makan, hanya mendapat snack dan air mineral.


Kompleks makam Sunan Drajat Lamongan

Pada saat itu, ada seorang ibu yang selalu menanyakan kapan acara itu dilaksanakan. Oleh ibu saya, beliau disarankan sabar dulu karena menunggu peserta lain deal. Singkat cerita, hari H pun tiba. Sang ibu tersebut sangat antusias. Beliau sudah bercerita ke tetangganya dan dengan gegap gempita membawa aneka masakan yang sudah ia masak. Bahkan, beliau sempat bergadang untuk membuat botok (pepes) tahu yang akan dimakan keesokan harinya.

Cangar
Ketika di tempat wisata, beliau bagai anak yang tak pernah jalan-jalan. Saya sampai heran. Kebetulan sang suami sudah meninggal. Maka dari itu, beliau hidup sendirian. Saya sampai diminta memfotonya dengan berbagai pose. Tak cukup sampai di situ, beliau bahkan rela membeli foto jadi di tukang foto. Ternyata, beliau memang jarang atau mungkin tak pernah jalan-jalan. Anak-anaknya, yang sudah mapan juga tak pernah mengajaknya untuk sekedar pergi ke alun-alun. Hari-harinya disibukkan dengan menjahit pakaian untuk mengisi hari tuanya. Beberapa saat kemudian, sekitar 3 minggu setelah acara jalan-jalan tadi, beliau sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Jadi, itu adalah jalan-jalan terakhirnya.
Siapa tau selphy terakhir ya. Lokasi : Tanah Lot, Bali
Saat jalan-jalan bersama ibu-ibu, tantangan terbesar sesungguhnya adalah memastikan ibu-ibu tersebut tidak tersesat dan terpisah dari rombongan. Mengingat rata-rata peserta rombongan sudah berumur, jadi suka disorientasi. Memang, banyak peserta yang sudah membawa smartphone. Tapi apa ya iya mereka bisa menggunakan GPS dan aplikasi smartphone selain kamera dan WA. Belum lagi, jika para rombongan berada diantara rimbunnya toko oleh-oleh. Alamat, acara cari-mencari bisa berlangsung sejam lebih.


Harap sabar, ini ujian ya. Lokasi : Borobudur
Masalah oleh-oleh, kadang saya juga geleng-geleng kepala. Sebelum berangkat, banyak ibu-ibu yang mengeluh karena tak punya uang.  Bagi mereka, yang penting bisa jalan-jalan dan kumpul dengan ibu-ibu lainnya. Bisa bercerita dan berkeluh kesah seputar kehidupan di tengah perjalanan. Tapi, begitu memasuki belantara hutan toko oleh-oleh, segudang barang akan mereka bawa. Bahkan, sering sampai tak muat untuk dimasukkan ke dalam kendaraan. Yah namanya aji mumpung. Kapan lagi?

Sesekali, saya juga dibuat senyum-senyum sendiri ketika melihat celetuk mereka mengenai hal-hal baru. Salah satunya adalah jika kendaraan melewati Gerbang Tol Otomatis (GTO). Ada seorang ibu yang berceletuk, "Wah sekarang enak ya, masuk tol bisa pakai KTP".

Hakdezig.

Tapi, yang bikin saya seneng kalau jalan sama ibu-ibu adalah pas acara buka bekal makanan. Alamak, itu asyik banget. Bak Uncle Muhtu dalam Upin Ipin, segala macam makanan ada. Sambal goreng ada, menjes ada, nasi kuning ada, lalapan ada, semua ada. Betul betul betul?

Saat acara makan bersama, saya juga sering mendapat jackpot seporsi nasi kuning lengkap. Kalau tak, beberapa potong pepes tongkol juga saya terima. Malah, dari ibu yang akhirnya meninggal tadi, saya mendapat sekotak nasi berisi lalapan dan botok. Katanya, anaknya suka banget masakan itu. Cuma sayang, ia jarang sekali berkunjung. Glek.

Penting eksis. :Lokasi :Pemancingan Dempok, Malang
Dari pengalaman ini, saya sadar bahwa sebenarnya traveling itu ya kebutuhan dasar banyak orang. Siapa sih yang mau tinggal terus di rumah atau bekerja terus. Saya juga semakin sadar, meski jalan-jalan sendiri atau jalan-jalan bersama teman memang menyenangkan, namun selagi ada ibu atau orang tua, apa salahnya jalan-jalan bersama mereka. Bukan begitu?
Previous
Next Post »
18 Komentar
avatar

wakakaka... pake KTP. dikira lagi mau masuk ke kantor pemerintahan pake ktp segala.. wkwkwkkw

Balas
avatar

Setuju, aku aja kalau di rumah paling sering ajak ibuku jalan-jalan. Karena seru dan menyenangkan ya, Mas.. Sekarang udah lama gak jalan-jalan bareng, jadi kangen baca tulisan ini..he

Aku tertarik di kolam itu, pengen beremdem jadinya, Mas..hehe

Balas
avatar

Nasib jadi lelaki seorang diri dalam rombongan ya begitu mas, jadi tukang potret hahaha -_- Dinikmati aja mas, hidup jadi lebih berwarna kalau jalan sama ibu-ibu hahaha :))

Balas
avatar

wah, pemberdayaan oleh ibu-ibu yah, bang. alias dimanfaatkan jadi tukang foto dan make sure nga ada yang tersesat.

tolong beri hadiah Nobel buat ibu yang nyeletuk masuk tol pake KTP. rock!

Balas
avatar

hihihii lucu dan berkesan ih ceritanya
kalo traveling sama buibu bikin gemash-gemash gimanaaaa gituuu

wiiih, berarti traveling Ibu itu adalah yang terakhir ya sebelum beliau meninggal dan saat traveling itu bahagianya setengah mati. Mungkin itu salah satu mimpinya ya. Alhamdulillah terwujud

Balas
avatar

ohya, boleh nih kalau diajak ke Jember
di Jember, ada komunitas tanoker. ya kegiatannya ada kegiatan untuk anak-anak, main egrang, tari egrang dan banyak macamnya lah. nah, selain itu Tanoker juga punya sekolah bok ebok dan pak bapak. ada edukasi seru di sana, seperti pemberdayaan makanan sehat, kerajinan tangan.
boleh deh ke sana
ntar langsung aja cek ke ig @tanoker.id

Balas
avatar

Hahaha... iya juga ya urusan oleh2. Pas berangkat ngaku g punya uang, begitu di toko oleh2 ngeborong. ^_^

Balas
avatar

Salfaok ni sampe ngakak lah ke tol pake KTP duh emak-emak jaman now :D semoga aku tetap update yah jangan sampe bikin ngakak begitu :p

Balas
avatar

iya mas, jalan2 sama keluarga emang enak.
ayo mas enak banget loh

Balas
avatar

iya mbak, berkesan sekali ibu itu

Balas
avatar

oh saya noted mbak
bisa jadi alternatif
trims masukannya

Balas
avatar

jangan sape ya mbak, 2017 gitu heuehu

Balas
avatar

Waaah liat postingan ini jadi inget Mama yang suka banget jelong-jelong sama geng Srikandi nya... Wkwkwk

Balas
avatar

Ngakak bacanya.... Aku belum pernah ikut jalan-jalan ibu-ibu dasawisma. Padahal sudah beberapa kali dasawisma mengadakan jalan2, di kota-kota dekat sini. Masih mikir dulu, jalan-jalan apa belanja? Kekepin dompet.

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!