Melacak Misteri Pusat Kuasa Mpu Sindok di Tembalangan Malang

Jembatan ini tak pernah sepi.
Kawasan Soekarno-Hatta dengan Kampus Universitas Brawijaya di dekatnya
Entah, berapa banyak orang yang melewati ini jembatan tiap harinya. Berapa roda angkutan jalan menggelinding di atas jembatan yang pernah dikabarkan akan ambruk dan sempat dibuat lelucon menjadi arena pertarungan antara Ultraman dengan Monster. Namun sesungguhnya, sebelum jembatan ini dibangun pada 1992, daerah yang sering dikenal dengan nama Soehat (bukan Soetta) tersebut adalah daerah yang cukup angker.

Kala itu, jangankan Mie Kocok, Waroeng Steak and Shake, ataupun Pizza Hut. Warung kecilpun jarang ada di sana. Kawasan yang kini menjadi koloni kaum mahasiswa tersebut adalah kawasan hutan dan perkebunan liar milik warga pada mulanya. Bukan para mahasiswa yang mendominasi petak demi petak, namun hewan liar seperti trenggiling dan musang menjadi penghuni utamanya. Setelah pembangunan jembatan yang menghubungkan dua kampus ternama, Universitas Brawijaya dan Politeknik Negeri Malang rampung, kawasan Soehat menjadi salah satu kawasan terpadat di Kota Malang. Menggeser beberapa kawasan lain yang sudah ramai sebelumnya.

Kawasan Soehat ini sebenarnya masih satu rangkaian dengan beberapa kawasan lain yang mengitarinya. Pada bagian utara yang berpagar Apartemen Mewah dan Kampus UB, terbentang pemukiman cukup luas bernama Tembalangan. Nama Tembalangan sendiri bukanlah merupakan nama resmi dari sistem pemerintahan di Kota Malang. Daerah ini adalah gabungan dari dua kelurahan di Kota Malang, yakni Jatimulyo dan Samaan. Jatimulyo adalah kelurahan yang terletak di Kecamatan Lowokwaru sedangkan Samaan  terletak di Kecamatan Klojen. Meski berbeda kecamatan, dua kelurahan ini menyatu dan tak tampak batasnya. Wilayah Jatimulyo membentang di sebelah barat sedangkan Samaan di sisi timurnya.


Kedua kelurahan ini terletak pada posisi geografis yang istimewa. Berada di tepi aliran Sungai Brantas pada yang mengalir dari barat ke timur dan diapit oleh dua jalan penting, yakni Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan J.A Soeprapto. Meski diapit oleh jalan besar dan terdapat sungai besar, namun Tembalangan memiliki posisi yang relatif datar. Hanya pada daerah yang dekat dengan sungai saja yang memiliki topografi ledok dengan tingkat kecuraman tinggi. Otomatis, setelah pembangunan Jembatan Soehat usai, tanah di kawasan ini melonjak tinggi. Aneka perumahan pun dibangun. Tak ketinggalan, salah satu apartemen terbesar di kota ini juga tak luput ikut serta menjulang tinggi.

Nah, selain memiliki kisah potret perubahan drastis dari daerah pedesaan menjadi perkotaan dalam waktu yang relatif singkat, Tembalangan ternyata memiliki jejak peradaban kuno yang cukup fenomenal. Walaupun kisah ini masih berupa dugaan dan mengandung kontroversi, namun kajian terhadap kisah tersebut layak untuk dicermati.

Bagian Tembalangan dengan kondisi curam di sekitar aliran sungai
Jejak pertama berupa penemuan sebuah punden tugu yang ditemukan di belakang SMAK Cor Jesu. Sekolah ini merupakan sekolah lama yang berada di Jalan JA Soeprapto yang sering disebut dengan Celaket. Bersama SMAK Frateran, sekolah ini juga menjadi cagar budaya di Kota Malang. Keduanya berada di Kelurahan Samaan. Punden yang sering disebut Mbah Tugu ini diidentifikasi sebagai Menhir yang ditemukan pada proses penggalian tanah di belakang SMAK Cor Jesu. Selain tugu batu, ditemukan pula lumpang batu dan monolith, benda yang menyerupai rumah dari batu andesit, batu lempeng, serta sisa punden berundak. Sisa punden berundak inilah yang masih tampak jelas dari pola pemukiman di sekitar penemuan benda bersejarah tersebut yang mengikuti kontur punden. Kontur cukup kontras dengan daerah sekitarnya yang datar. 
SMAK Frateran yang berada tak jauh dari aliran Sungai Brantas dan di depan RSSA Malang
 
SMAK Cor Jesu, tempat penemuan aneka peninggalan sejarah. Letaknya berdekatan dengan SMAK Frateran
Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa peninggalan tersebut berasal dari zaman prasejarah. Tak diketemukannya tulisan menjadi dasar dari teori tersebut. Kalau memang betul demikian, warga Malang patutlah berbangga karena jejak peradaban manusia purba pernah ada di wilayah ini sebelum daerah lain muncul. Teori ini juga menyatakan bahwa masa prasejarah tersebut merupakan peninggalan masa bercocok tanam. Jika benar demikian, maka daerah ini sangat subur pada masanya karena selain cukup datar, wilayahnya dekat dengan sungai yang dapat menyuplai kebutuhan pengairan dalam jumlah cukup.

Teori selanjutnya adalah bukti-bukti yang ditemukan tersebut berasal pada zaman Hindu-Buddha, lebih tepatnya pada masa akhir Majapahit. Teori ini didasakan pada penemuan lembaran emas bertuliskan nama-nama Dewa Hindu yang semuanya direlokasi ke Museum Nasional Jakarta. Meski masih belum jelas mengenai awal mula keberaadaan benda-benda tersebut secara jelas, wilayah di sekitar itu diyakini merupakan bekas persawahan yang subur.

Salah satu artefak yang berada di JL JA Soeprapto I E. Gambar diambil, dari http://japungnusantara.org karena penulis tak mendapat akses melihat langsung
Jejak kedua berasal dari sebuah Prasasti bernama Turryan. Prasasti ini ditemukan di sebuah desa di Turen, Kabupaten Malang. Telah dialihaksarakan oleh arkeolog J.C de Caspains pada 1988, prasasti ini menceritakan mengenai strata tingkatan kepangakatan dalam sebuah kerajaan, permintahan tanah pardikan untuk mendirikan tanah suci, serta cerita mengenai pusat Kerajaan Mataram. Kisah perpindahan Kerajaan Matarm ini erat kaitannya dengan peristiwa letusan Gunung Merapi yang meluluhtantakan istana Mataram di sekitar Yogyakarta. Meskipun kisah ini juga masih menjadi misteri, namun ada sebuah pertanyaan besar mengenai eksistensi ibukota kerajaan tersebut. 

Pertanyaan itu adalah di manakah letak Ibukota kerajaan yang dipindahkan oleh Mpu Sendok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur?


Prasasti Turryan yang berada di ukuh Watugodeg, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang (Sumber : kekunaan.blogspot.co.id)
Pertanyaan tersebut masih menjadi perdebatan diantara para sejarawan dan para ahli arkeologi. Banyak pendapat mengemukakan bahwa pusat pemerintahan kerajaan pindahan itu berada di Desa Tembelang, Jombang. Salah satu pendapat tersebut muncul dari sejarawan Prof. Buchori yang mengindikasikan bahwa daerah Jombang adalah pusat dari kuasa Mpu Sindok. Dasar dari pendapat tersebut adalah petikan kalimat “Sri maharaja makadatwan I tamwlang” dalam Prasasti Turryan. Arti dari petikan kalimat itu adalah Sri Maharaja berkeraton di Tamwalang. Nama Tamwalang diyakini adalah Tembelang, Jombang. 

Pendapat ini disanggah oleh beberapa sejarawan. Salah satunya adalah sejarawan Dwi Cahyono. Informasi tambahan mengenai paparan dari Prof. Buchori tadi menyebutkan bahwa Mpu Sindok membangun ibu kota baru di daerah yang penguasanya tunduk pada Mataram, yakni daerah yang berwatak Kanuruhan. Nah kata Kanuruhan inilah yang menjadi dasar bahwa sebenarnya bukan di daerah Jombanglah ibukota baru itu dibangun karena daerah yang berwatak Kanuruhan tidak berada di sana dan belum ada jejak penguasa daerah tersebut yang telah tunduk kepada Mataram.

Daerah yang disebut Kanuruhan dan telah tunduk kepada Mataram sebenarnya berada di Malang. Lantas, di manakah pusat peradaban yang dimaksud?

 
Di sinilah nama Tembalangan muncul. Daerah yang kini penuh dengan kos-kosan, fotokopian, kafe, dan tempat mangkal ojek online tersebut diyakini menjadi pusat kerajaan pindahan Mpu Sindok sebelum direlokasi ke tempat lain. Ada beberapa alasan yang mendasari dugaan itu.

Pertama, nama Tembalangan sendiri jika dipecah berdasarkan asal katanya menjadi “Tembalang” dan “an” yang berarti tempat bernama “Tembalang”. Konsonan “b” sering bertukar dengan “w” dalam perjalanan penyebutannya oleh warga sekitar sehingga kata “Tembalang” berubah menjadi “Temwalang”. Dengan modifikasi beberapa huruf, kata “Temwalang” akan menjadi “Tamwlang” yang terekam pada Prasasti Turryan.

Kampung Tembalangan dengan pagar Apartemen mewah. Meski ekspansi properti yang cukup masif  pada masa kini, namun sesungguhnya tinggal di kampung adalah karunia Tuhan yang luar biasa. Interaksi sosial yang guyub tak akan bisa tergantikan oleh berapa besar materi dan kemawahan yang ditawarkan.
Kedua, kata Tamwlang yang merujuk pada pusat perpindahan kerajaan oleh Mpu Sindok hanya tercantum pada Prasasti Turryan. Prasasti ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terdapat di Turen, Kabupaten Malang yang juga masih ada di Malang. Lantas, kenapa Tamwlang harus merujuk pada Jombang? Padahal, yang memberitakan Tamwlang sebagai pusat keraton Mpu Sindok adalah prasasti di Malang. Jarak dari Turen ke Jombang pun cukup jauh.
Di Tembalangan banyak ditemui jembatan seperti ini yang menghubungkan masyarakat sekitar dengan dunia luar. Untuk melewati jembatan-jembatan ini dengan motor, kebanyakan para pelintas harus turun dari kendaraan.
Walikota Malang, H. Moch. Anton meresmikan Jembatan Kiai A. Fattah yang menghubungkan daerah Tembalangan dengan Betek. Jembatan yang menelan biaya 1,6 Miliyar ini dibangun secara swadaya masyarakat Tembalangan dan sekitarnya. Foto : Media Center Pemerintah Kota Malang.
Ketiga, selain prasasti Turryan, ada tujuh prasasti lain yang ditemukan di Malang yang berisi simpati dan dukungan penduduk sekitar terhadap eksistensi Mpu Sindok. Tujuh prasasti tersebut antara lain Prasasti Linggasuntan (929 M), Prasasti Gulung-Gulung (929), Prasasti Himad (930), Prasasti Jru-Jru (930), Prasasti Kanuruhan A dan B (943 M), serta Prasasti Muncang (944 M). Adanya tujuh prasasti yang ditemukan di Malang menjadi dasar daerah ini cukup penting pada kurun 929 hingga 944 M. Artinya bisa jadi, pusat pemerintahan Mpu Sindok pada kurun waktu itu berada di Malang sebelum dipindahkan ke daerah lain seperti Jombang.
TPU Samaan, salah satu pemakaman umum penting di Kota Malang yang menjadi peristirahatan terakhir beberapa pahlawan .
Keempat, Tembalangan berada di utara Sungai Brantas serta tak jauh dari Karangbesuki dan Dinoyo. Hal ini menguatkan dugaan bahwa Tembalangan pernah dijadikan sebuah pusat kerajaan. Dugaan ini didasarkan pada jejak sejarah kedua daerah tersebut sebagai pusat Kerajaan Kanjuruhan. Kerajaan ini sempat eksis antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Nah, pada sekitar abad ke 9 hingga ke-10 Masehi, kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno akibat ekspansi yang dilakukan oleh Raja Balitung. Dengan adanya ekspansi ini, penduduk di sekitar daerah tersebut telah membentuk sistem sosial yang patuh terhadap Mataram di Jawa Tengah. Selagi guncangan hebat yang diyakini letusan Gunung Merapi telah menghancurkan keraton Mataram dan menyebabkan para punggawa istana pindah, penduduk daerah ini dengan terbuka menerima Mpu Sindok dan kerabatnya. Bisa dikata, Mpu Sindok telah memiliki basis politik dan telah melakukan check sound seperti yang dilakukan oleh para Calon Gubernur Jawa Timur 2018-2023.
Pasar Tawang Mangu, pusat ekonomi warga Tembalangan dan sekitarnya
Kelima, kondisi geografis Tembalangan dan Malang pada umumnya yang berada di lingkungan gunung serta diiris oleh aliran sungai adalah pilihan tepat untuk melakukan taktik terugval basis (kota pertahanan terakhir) sebuah kerajaan. Selain dilanda bencana alam dan aneka pageblug lain di Jawa Tengah, masalah yang menghantui Mpu Sindok adalah konstelasi politik dengan Kerajaan Sriwijaya. Keduanya bersaing ketat untuk mendapat pengaruh bagian barat nusantara. Maka, menyadari kondisi kerajaannya yang masih kacau balau, sang raja harus memiliki strategi bertahan dulu di tempat yang bisa diandalkan untuk pertahanan total. Setelah dirasa kerajaannya kuat kembali, barulah ia memindahkan pusat kerajaannya ke tempat strategis. Pemilihan daerah Malang sebagai basis terakhir pertahanan juga pernah dilakukan oleh Trunojoyo, Suropati, hingga para pejuang revolusi fisik 1945-1949.
Beberapa kali Malang pernah digunakan sebagai benteng terakhir pertahanan perang. Tampak perkampungan di Tembalangan yang terlindung oleh kondisi geografis.
Kelima alasan tersebut memang cukup masuk akal menjadikan Tembalangan sebagai pusat kerajaan pindahan yang diyakini bernama Kerajaan Medang. Namun, jejak arkeologis yang mendukung dugaan-dugaan tersebut tak ada yang tersisa. Kondisi Tembalangan yang kini rapat oleh pemukiman menjadi salah satu faktornya. Satu-satunya peninggalan yang bisa dijadikan patokan adalah adanya saluran bawah tanah (arung) yang diyakini merupakan saluran purba di sekitar Tembalangan. Sayang, banyak arung yang telah disumbat karena sering menjadi sarang musang. Selain itu, kisah Kerajaan Medang yang disebut kelanjutan Kerajaan Mataram Kuno pun juga banyak diselimuti mitologi. Kisah Roro Jonggrang dan Prabu Dewatacengkar adalah contohnya. Jejak pralaya atau peristiwa yang menghancurkan perdaban Mataram di Jawa Tengah belum dilakukan upaya penelitian dan ekskavasi dalam skala luas untuk mengetahui seberapa besar peristiwa itu terjadi dan bagaimana proses kepindahan ibukota kerajaan tersebut.
Arung yang ditemukan banyak yang telah tertutup karena digunakan sarang musang
Kisah pusat kuasa Mpu Sindok di Tembalangan memang masih gelap. Namun kini Tembalangan dan Jalan Soekarno-Hatta menjadi basis anak-anak muda kota ini. Tawa anak-anak muda ketika malam tiba selalu bergemuruh di sana. Menikmati dinginnya Malang, mereka terlarut dalam alunan nada para pengamen jalanan dan hentakan musik dari audio cafe. Tapi, banyak dari mereka tak sadar bahwa mereka sedang berada di tanah penting yang kisahnya semakin terlupa karena dimakan usia dan tak banyak orang menyadarinya.


Sumber :
Luar jaringan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. 2013. Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang.
Subiyanto, Ibnu. 2016. Melacak Mitos Merapi : Peka Membaca Bencana, Kritis Terhadap Kearifan Lokal. Yogyakarta : JB Publisher.
Dalam jaringan
(1) (2)
 
Catatan :
*) Orang Malang memberikan akronim Soehat untuk Soekarno-Hatta, bukan Soetta seperti kebanyakan orang.
*) Jika mengunjungi Malang, belum lengkap jika tak melakukan Free Walking Tour ke sepanjang Jalan JA Soeprapto. Banyak peninggalan sejarah masih terawat dan bisa diakhiri dengan kuliner di Jalan Kaliurang dan Pasar Tawang Mangu.
Previous
Next Post »
20 Komentar
avatar

Begitu pentingnya sejarah
Meski kadang bru sebatas cerita rakyat
Namun saat kita tau sejarah awal dari kota yg kita tinggali kadang asa rasa bangga tersendiri
Cerita-cerita seperti ini semakin hari semakin tergerus dimakan oleh zaman yg semakin modern, d kalahkan dgn cerita2 dari luar
Sukses terus mas ikrom, mengangkat sejarah yg mulai dilupakan menambah pgetahuan..

Balas
avatar

keknya gak habis2 ya eksplor malang. ada aja.. seru banget sih. aku juga lagi eksplor situbondo... masih banyak pr yang blm ditulis...

Balas
avatar

Free walking tour di sepanjang JA Soeprapto...noted!
Terima kasih ceritanya Mas...saya sering dengar sejarah kota Malang dari Bapak saya waktu kecil. Karena beliau dulu kecilnya di sana:)

Balas
avatar

mas Ikrom memang bener" top,...dalam mengexplore malang. Masih menjadi misteri ya, dimana letak Ibu kota kerajaan barunya mpu Sindok, peninggalannya di DIY dan Jateng masih banyak dijumpai sampai sekarang

Balas
avatar

Gak pernah terpikir kalau dulu kawasan tersebut angker, sekarang seiring dengan perkembangan jaman, dan perubahan gaya hidup manusi, tampat2 banyak yang sudah berubah, kadang benci dengan perubahan hahaha

Balas
avatar

mas ikrom, sering2 posting soal malang, saya jadi mimpiin malang terus ini saking pinginnya kesana.. hahaha

Balas
avatar

Wadidaw ngeri juga ya. kalau kelihatannya daerah suhat situ rame, ternyata angker :(. Dulu pernah ngopi di Kopja, entah sekarang masih ada atau enggak

Balas
avatar

Berarti malang emang lebar banget dan enggak abis2 yaaa kalo di explore...
Padahal udah sebulan di malang tetep aja masih ada yang kurang.

Ikrom dapet aja sih lagian.

Balas
avatar

Kalo lewat tempat yang angker2 ngeri. Btw, Malang adalah salah satu destinasi wisata favorit nih, walau baru sekali kesana tapi sangat berkesan dan pengen kesana lagi...

Balas
avatar

menarik sekali ini mas penelusuran sejarah di Malang, walaupaun saya belum pernah ke Malang T.T

Balas
avatar

iya mas meski masih misteri tapi sayang juga ya klo dilupakan

Balas
avatar

boleh mbak
ngirit, sehat dan banyak hal yang bisa didapat

Balas
avatar

walah ini masih secuil kisah mas
banyak yang belum tereksplor

Balas
avatar

iya mas perubahan iotu cepat sekali

Balas
avatar

masih ada, malah sekarang ada ceker setannya juara

Balas
avatar

ke Malang aja lagi mbak ben
ayo maen...

Balas
avatar

coba maen ke Malang mas
gak nyesel kok

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!