Jejak Sekolah Model Barat Pertama di Yogyakarta

Oh, jadi yang dari Maluku totalnya 11 orang ya.


Ponpes Al-Munawir yang hanya berada beberapa meter dari Panggung Krapyak. Jogja juga masih memiliki banyak pondok pesantren hingga sekarang.
Seorang mahasiswa yang kamarnya tepat di sebelah saya mengangguk. Dari 20 anak kos di tempat yang saya tempati, sekitar 15 diantaranya dari luar Jawa. Sebelas orang dari Maluku, dua orang dari Papua, dan sisanya dari Flores, NTT. Dominasi mahasiswa dari luar Jawa bisa jadi disebabkan karena pemilik kos merupakan orang asli Maluku. Mereka merupakan sepasang suami istri yang sudah lama merantau ke Yogyakarta. Setelah sukses di Kota Gudeg ini, lalu mereka membangun sebuah kos-kosan yang menampung mimpi anak-anak perantauan, terutama dari Indonesia Timur guna menimba ilmu. 

“Kok milih Jogja Mas. Apa gak kejauhan?” tanya saya melanjutkan percakapan.
“Enggak tahu ya Mas. Saya tahu dari kakak kelas yang sudah sukses. Rata-rata memang punya keinginan sekolah di sini. Kalau sekolah di kota lain, gak sebagus Jogja sih”.

Saya hanya mengangguk. Alasan itu mungkin sama juga dengan apa yang saya pertanyakan dalam diri saya. Kenapa harus jauh-jauh ke Jogja untuk S2, padahal di Malang kan juga ada? Melihat kembali ke masa lampau, membuat saya penasaran. Sejak kapan mulai tumbuh sekolah-sekolah formal di Kota Jogja ini? 

Sejarah mencatat, keinginan untuk menimba ilmu secara formal atau lazim disebut mengikuti model barat secara masif mulai tampak ketika adanya usaha untuk melakukan kegiatan sertifikasi bagi pejabat di lingkungan Keraton Yogyakarta. Sultan mewajibkan setiap pejabat keraton harus memiliki sertifikat dari sebuah lembaga pendidikan. Maka, didirikanlah sebuah sekolah di pendopo keraton yang bernama Srimanganti pada tahun 1890. Sebenarnya, sekolah di Srimanganti bukanlah sekolah pertama di Yogyakarta. Jauh sebelum itu, pada pertengahan 1832, sekolah dengan model Barat didirikan oleh tentara Belanda. Namun, sekolah tersebut tak berkembang lantaran kurangnya kompetensi guru kala itu.

Seorang siswa SD sedang bercerita mengenai terjadinya Perang Mataram-Pajang dalam rangka HAN 2017 di Grahatama Pustaka. Jika boleh jujur, kemampuan siswa SD di Jogja dalam mendongeng harus diacungi jempol.
Sekolah di lingkungan keraton tersebut pada mulanya hanya berjumlah sekitar 100 murid. Itupun pasti hanya dari kalangan bangsawan yang boleh bersekolah di sana. Seiring berjalannya waktu, sekolah tersebut membuka kesempatan bagi para anak abdi dalem untuk bisa bersekolah di sana. 

Semenjak pendirian sekolah di dalam keraton, mulai muncul sekolah-sekolah bagi kaum partikelir lain di luar keraton. Beberapa diantaranya didirikan di daerah Kalasan, Kejambon, Wonogiri, Bantul, Kreteg, Sleman, dan Godean. Yang unik, pendirian sekolah tersebut disponsori oleh dua pihak, yakni Pemerintah Kolonial dan Kesultanan Yogyakarta. Pemerintah Kolonial membantu pengadaan kayu bangunan dan kapur tulis, sedangkan Kesultanan membantu pendanaan untuk kegiatan operasional lainnya. Dengan adanya pembukaan di sekolah-sekolah baru tersebut, maka jumlah murid di Jogja mulai meningkat sejak tahun 1891. Penambahan gedung pun dilakukan.

Minat untuk menimba ilmu di Kota Gudeg terus bertambah secara signifikan tampak pada kurun 1898-1905 atau pada penghabisan abad ke-19. Dengan kenaikan jumlah murid yang semakin tinggi, pemerintah kemudian membuak Tweede Klasse Scholen di Mergoyasan, Jetis, Ngabean, Pakualaman, dan Gading. Selain itu, di daerah Wates pun juga didirikan sebagai sekolah pertama model tersebut di luar ibukota.

Perlahan tapi pasti, sekolah demi sekolah didirikan. Tak hanya di ibukota, namun juga di Gunung Kidul, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Mengingat masih menjadi permulaan, sekolah-sekolah tersebut hanya mengajarkan calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Setelah bergulirnya waktu, didirikanlah sekolah untuk latihan calon guru yang bernama “sekolah extern”. Lulusan dari sekolah tersebut diharapkan mampu untuk mendidik kembali para murid baru yang akan menimba ilmu. Guru-guru pada waktu itu digaji sekitar fl 15,00. Sedangkan bagi calon guru yang belum mendapat sertifikat digaji separuhnya.

Gedung SMP Negeri 5 yang berada di bundaran Stadion Kridosono. Gedung ini termasuk cagar budaya yang dilindungi.
Lambat laun, anak dari kalangan priyayi rendahan seperti abdi dalem mulai banyak yang bersekolah. Meskipun, tak semua dari anak-anak tersebut dapat bersekolah. Hal ini disebabkan karena selain masih kurangnya jumlah sekolah, para orang tua belum menyadari pentingnya manfaat pendidikan dan lebih memilih menyuruh anaknya untuk membantu mereka bekerja di rumah atau kebun.

Kegiatan pembelajaran model barat semakin berkembang ketika digulirkannya program pemberantasan buta huruf. Program ini membuat banyak sekolah ABC didirikan, yang tentunya menyasar para bangsawan dan abdi dalem. Para lulusan sekolah ABC ini akan mendapat sebuah ijazah dengan nomor induk. Persepsi masyarakat terhadap pendidikan pun mulai bertambah. Mereka mulai beranggapan, dengan bersekolah, setidaknya status sosial mereka di masyarakat bisa naik dibandingkan tak bersekolah.

Tak hanya dari pemerintah kolonial dan kesultanan, pihak swasta juga membuka sekolah-sekolah yang berciri khas masing-masing. Maka, di era 1920-1930 mulai muncul sekolah-sekolah yang berlatar belakang agama tertentu, semisal sekolah Muhammadiyah, sekolah kristen, dan sekolah Katholik. 

Lorong menuju SD Muhammadiyah Kauman. Sekolah terakreditasi A ini berada dekat dengan Masjid Kauman, Keraton Jogja dan tepat di depan kompleks makam Nyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Sepuluh tahun setelah Muhammadiyah berdiri dengan sekolah-sekolahnya, lahirlah organisasi pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta. Taman Siswa muncul sebagai reaksi dari model pengajaran barat. Dasar penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa didasarkan pada kebudayaan sendiri dan kebudayaan asing yang berguna bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Pada tahun 1924, Taman Siswa baru tercatat dalam data statistik pengjaran di Yogyakarta dengan jumlah murid 38 orang dan 17 guru.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah juga mencetak mental para siswanya. Melalui kegiatan Milad Tapak Suci di Alun-Alun Utara ini, mereka bersiap untuk menjadi genarasi emas Indonesia.
Meskipun banyak sekolah yang sudah berdiri, hanya sekolah yang didirikan pemerintah saja yang banyak diminati oleh masyarakat di Yogyakarta. Hal ini karena kurikulum di sekolah – sekolah pemerintah dianggap lebih sesuai dalam perkembangan zaman. Meskipun jumlah sekolah yang didirikan pemerintah saat itu berjumlah 278 buah, tetap saja jumlah tersebut tidak mencukupi untuk menampung jumlah murid yang tidak mendapat tempat. Maka hal inilah yang dimanfaatkan golongan Mason,salah satu paham yang banyak bergerak di bidang sosial untuk membentuk lembaga yang bernama Neutrale Onderwijs Stichting. 

Beberapa siswa les penulis sedang berpose di depan sekolahnya, SMA Negeri 11 Yogyakarta. Bisa bersekolah dan menimba ilmu di Kota Jogja adalah sebuah kebanggaan.
Lembaga inilah yang nantinya akan mendirikan sekolah – sekolah netral (tidak berpijak pada agama). Sekolah netral mendapat perhatian dari masyarakat Yogyakarta karena Bahasa Belanda dijadikan salah satu mata pelajaran dan bahasa pengantar di sekolah ini.Sesuai dengan namanya, sekolah netral tidak memberikan pelajaran agama tertentu kepada murid – muridnya. Dalam menerima siswa, mereka  memperbolehkan siswa berasal dari agama apapun. Tujuan pengajaran hanya untuk memberikan ilmu pengetahuan.

Beberapa siswa dari sebuah SMA Katholik sedang berpose di depan Museum Biologi UGM Jogja. Beberapa SMA Katholik di Jogja menempati papan atas dalam dunia SMA di Indonesia dan sudah eksis sejak dahulu kala. SMAK Kolose De Britto adalah salah satunya.
Walaupun sekolah-sekolah pionir di Jogja menggunakan tradisi pengajaran barat, namun mereka tidak mengabaikan pendidikan yang bersifat Indonesia. Sistem model pengajaran barat dirasa penting untuk mengikuti perkembangan zaman. Dengan mengikuti arus tersebut, maka pendidikan model ini sangat berharga bagi rakyat Indonesia, terutama dalam pergerakan melawan penjajah.

Sumber : 
Luar Jaringan
Suryomihardjo, A. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe : Sejarah Sosial 1880-1830. Depok : Komunitas Bambu.
Dalam Jaringan 
(1)
Previous
Next Post »
13 Komentar
avatar

Suka dengan tulisan mas ikrom, menyajikan cerita sejarah yang menarik untuk disimak....

Balas
avatar

melihat sekolah sekarang bagaimana saya jadi kepikiran kenapa kita harus berseragam, sepatu, disiplin, formal, banyak tugas, sistem nilai, sepertinya karena berawal dari meniru sistem model barat..dan sebagai mantan pelajar, saya masih merasa bahwa model sekolah yang seperti itu kurang efektif buat orang-orang Indonesia..justru malah membuat tertekan.

Balas
avatar

Nah aku baru tahu kalau yang pengajaran barat ini mas. Tulisan yang keren

Balas
avatar

Makanya yogya kan dikasih julukan kota pelajar, di tempatku sendiri di Pangandaran sudah berdiri sebuah sekolah Multikultural, semua agama bisa sekolah disitu,didirkan oleh para pemuda, awalnya sih ditentang oleh banyak masyarakat tapi sekarang sudah bisa berjalan dengan baik...

Balas
avatar

Aku selalu pengen tinggal di jogja. Asik kayaknya. Ngangenin banget kota ini. Dah gitu, masyarakatnya ramah banget, gak kayak di jakarta rata-rata pada jutek. Nyebelin. Tapi sekolah ini bagus juga yah... Mayan nih buat rekomendasi nanti kalo aku dah punya anak...

Balas
avatar

Oh seperti itu ternyata cerita sejarah kota pendidikan Jogja. Tapi yang saya tanyakan adopsi model barat yang mana yang dikembangkan oleh sekolah-sekolah tersebut karena model barat banyak sekali jenisnya. Contohnya model belanda, jerman dan finand saja sudah berbeda, apalagi amerika ? :D..Mungkin Belanda ya :D

Balas
avatar

heheehe spakat
cuma ya mau gimana lagi

Balas
avatar

wah iya semoga keinginannya terkabul mbak

Balas
avatar

berhubung kita dijajah belanda ya model belanda mbak
bahasanya kan bahasa belanda
secara umum ya disebut model barat karena sekolah belanda, menurut literasi yg saya baca saat itu masih bisa disamakan dengan model jerman, inggris, meski ada pula bedanya dan pengaruhnya antara satu model dengan model lainnya
kalau sekarang ya beda antara model2 itu

Balas
avatar

lorongnya keliatan banget kalau itu sekolah udah lama yaa

paparan sejarah di tiap postingan mas ikrom ini selalu bikin sha takjub :)

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!