Kisah Kuto Bedah, Bekas Pusat Kerajaan Singosari

A : Halloo… Brodin..!?
B : Oh, halo Ashar.., da'ramma kabarra?
A : Alhamdulillah sehat. Sakalangkon. Ba'en da'remma keya?
B : Pada saean. Ce' bannya'en ban-gibanna. Da'emma'a reya?
A : Engko' entarra da' romana tang anom reh.
B : O, da'iyya ya.


Perumahan padat penduduk di Kuto Bedah, Kelurahan Kotalama, Kota Malang yang mulai dicat warna biru AREMA
Saya mengunyah sempol, jajanan khas Kota Malang dengan lahap sambil duduk manja di sebuah pos kamling yang tak jauh dari sebuah pasar. Di depan saya, dua orang bercakap-cakap dengan bahasa yang tak saya mengerti. Entah apa yang mereka bicarakan. Saya seperti terasing di tengah kerumunan orang-orang di sekeliling saya. Padahal, saya sedang berada di kota sendiri. Menikmati minggu pagi di sebuah pasar yang sangat ramai. Pasar Kebalen namanya. Setelah menghabiskan sempol, saya sejenak berjalan di sekitar pasar tersebut.

Meski mayoritas orang Malang adalah suku Jawa dengan ciri khas Arek Malang (Arema), namun di pasar ini, orang yang bersuku Jawa dan bertutur kata bahasa Jawa bisa dihitung jari. Penduduk di daerah sekitar pasar tersebut mayoritas adalah suku Madura. Setiap hari, mereka menggerakkan denyut nadi perekonomian bagian tengah timur kota ini. Sebuah daerah yang banyak orang tidak tahu merupakan bekas dari sebuah istana/pusat Kerajaan Singosari. Kuto Bedah, nama daerah itu.

Suatu pagi di Pasar Kebalen
Kuto Bedah adalah sebuah daerah yang sekarang masuk wilayah Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Wilayah ini juga termasuk sebagian wilayah Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, dan daerah timur Kelurahan Jodipan yang sekarang terkenal dengan kampung warna-warninya. Jika ingin mengunjungi daerah ini, maka kita bisa memulai dari Klenteng En Ang Kiong yang terletak di timur Pasar Besar Malang. Di dekat klenteng ini, ada Pasar Kebalen tadi dan mulai tampak pemukiman padat penduduk yang berada di perbukitan tepi sungai.
Ciri khas dari daerah ini adalah letaknya yang berada diantara tiga sungai besar, yakni Sungai Brantas, Sungai Bango, dan Sungai Amprong. Pertemuan tiga sungai itu menyebabkan daerah ini cukup strategis jika digunakan untuk pertahanan sebuah negara. Kuto Bedah dilindungi parit alam berupa aliran sungai tadi dan parit buatan yang menghubungkan sungai-sungai tersebut.

Peta daerah Kuto Bedah dengan tiga sungai yang mengalir di sekitarnya
Menilik strategisnya daerah ini, maka sumber sejarah menyebutkan bahwa Kuto Bedah sebenarnya pernah digunakan untuk pusat pemerintahan Kerajaan Singosari. Tepatnya, pada masa pemerintahan Ken Arok, sang pendiri kerajaan. Ken Arok sendiri memerintah Singosari antara tahun 1182 (saat masih bernama Tumapel) hingga terbunuh oleh Anusapati tahun 1227. Daerah ini terus dijadikan pusat pemerintahan Singosari oleh pengganti Ken Arok, yakni Anusapati dan Tohjaya. Hingga pada masa pemerintahan Wisnuwardhana, tepatnya tahun 1254, ibukota kerajaan dipindahkan ke daerah yang sekarang dikenal dengan Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Bukti bahwa daerah Kutobedah pernah dijadikan pusat pemerintahan terangkum dalam Kakawin Negarakertagama yang berbunyi:
“Suatu daerah di sebelah timur G. Kawi yang subur makmur// Di situlah putra Girindra menjadi seorang pemimpin// Menggairahkan budiman, menaklukkan para penjahat, mendirikan negara, semua rakyat patuh padanya// Ibukota negara bernama Kutharaja, Ranggah Rajasa nama gelarnya” (Peigeaud, 1960 : 45)
Sesungguhnya, jika membaca kakawin tersebut, tak nampak kata Kuto Bedah, di dalamnya. Yang ada adalah Kutharaja. Bahkan nama Tumapel atau Singasari pun tak disebut. Inilah yang masih menjadi misteri dari para peneliti sejarah mengenai lokasi persis keraton/istana raja Singosari ini. Yang jelas, nama Kuto Bedah baru tampak pada peta rupabhumi (candrasengakala) yang terbit pada 1811. Peta ini menggambarkan daerah Kutobedah sebagai ibukota Kerajaan Singosari. Meski, banyak buku-buku terbitan Belanda yang masih memakai Kutharaja/kutorejo untuk menyebut daerah ini. Hingga kini, Kutobedah juga masih dipakai untuk menujuk kawasan padat penduduk di Kelurahan Kotalama tadi.

Salah satu gang masuk di Kuto Bedah yang menuruni bukit. Siapkan tenaga ekstra untuk kembali ke jalan besar
Bukti arkeologis Kuto Bedah merupakan pusat Kerajaan Singosari adalah adanya parit buatan dengan panjang galian 785 m dan lebar 12 meter. Ada dua buah parit yang menghubungkan Sungai Brantas di sisi barat dengan Kali Bango di sisi timur. Parit di sisi bagian utara sekarang digunakan untuk akses jalan menuju Kali Bango sekarang digunakan untuk akses jalan menuju Kali Bango dan tempat pembuangan sampah. Sedangkan parit yang mengarah ke Kali Brantas kini sudah dipadati pemukiman penduduk.

Buangan limbah domestik yang mengalir menuju Sungai Brantas. RTRW Pemkot Malang sedang mengusahakan salah satu kelurahan terkumuh di Kota Malang ini menjadi lebih baik
Di dasar parit ditemukan bata-bata kuno yang ukurannya sama dengan bata-bata di Situs Singosari. Raffles, Gubernur Inggris yang sangat peduli dengan sejarah Pulau Jawa menemukan bahwa bata-bata kuno tersebut adalah bekas reruntuhan benteng. Parit-parit tersebut adalah “barrier” guna menghalangi pergerakan musuh. Bisa jadi, fungsinya mirip dengan apa yang pernah saya baca ketika Rasulullah membuat parit untuk melindungi Kota Madinah pada Perang Khandaq.

Seorang pedagang sedang m,elintas di atas jembatan Sungai Brantas dan sedang menuju Pasar Kebalen
Bata-bata kuno juga ditemukan di tepi jalan kampung menuju Kali Bango. Sebagian diantaranya dimanfaatkan warga untuk komponen bahan bangunan rumah mereka. Itulah sebabnya jika kita datang ke perkampungan ini, kita serasa berada di sebuah tempat yang mirip dengan bekas candi, seperti Candi Borobudur. Naik dan turun. 
 
Rumah di Kuto Bedah yang menggunakan pondasi  bekas bata kuno.
Selain peninggalan berupa bata-bata dan parit, banyak peninggalan sejarah di lingkungan Kuto Bedah ini. Diantaranya adalah arca Boddhisattwa, sebuah arca indra, enam arca Brahma, dua puluh satu arca Mahayogi, dua puluh empat arca Ganesha, lima belas arca raksasa, dua raca naga, dua raca singa, dan beberapa arca berbentuk hewan lainnya. Sayang, arca-arca tersebut banyak yang sudah raib.

Berhubung sejak 1254 Kutobedah tak lagi menjadi pusat kerajaan, maka daerah ini perlahan mulai surut. Tak lagi penting. Baru pada masa Pemerintahan Kadipaten Malang, yakni pada masa Adipati Rangga Tohjowo (sekitar 1600 Masehi), daerah ini kembali menjadi pusat pemerintahan.

Semakin masuk ke perkampungan, jalan semakin sempit dan menurun
Ada cerita unik lain mengenai Kuto Bedah yang berasal dari tradisi lisan. Cerita ini diceritakan turun temurun yang bernama Babad Malang. Dalam babad ini diceritakan, akhirnya daerah Malang bisa ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram Islam. Cita-cita Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram yang ingin menyatukan Jawa terhalang oleh geografis daerah ini dan gigihnya masyarakat Malang yang tak sudi menjadi bagian dari Kerajaan Mataram dan menjadi daerah Mataraman. Namun, akhirnya Kerajaan Mataram mampu menjebol benteng pertahanan daerah Malang tepat di pusat pemerintahannya. Makanya, daerah ini disebut Kuto Bedah (kota yang dibelah/diobrak-abrik).

Seorang ibu  yang menggendong anaknya sedang meniti jembatan gantung yang berdiri di atas Sungai Brantas. Jika tak punya nyali, jangan coba-coba menaiki kendaraan bermotor di sini.
Meski akhirnya menjadi bagian dari Mataram, hingga kini daerah Malang tak berhasil dikuasai Mataram dari sisi “sosial-budaya” secara penuh. Terbukti, Malang adalah Kawasan Arek yang memiliki kebudayaan sangat berbeda dengan daerah Mataraman, baik dari bahasa, adat-istiadat, dan keseniannya. Serbuan migrasi orang-orang Madura secara bertahap dengan jumlah signifikan ke kawasan ini juga akhirnya membuat Kuto Bedah menjadi sebuah daerah yang unik di Kota Malang. Menjadi sejumput daerah mayoritas berbahasa Madura, di tengah mayoritas penutur bahasa Jawa Arekan.
Baca Juga : Kawasan Arek, Orangnya Kasar-kasar?

Atiku rasane loro
Nyawang kowe rabi ro wong liyo
Nangis getih eluhku, remuk ajur rosoku
Kowe tego ninggal aku

Petikan lagu hits dari Nella Kharisma yang terdengar dari sebuah acara hajatan dekat Pasar Kebalen membuyarkan lamunan saya akan kisah Kuto Bedah ini. Meski masyarakat di daerah ini bercakap-cakap dalam bahasa Madura, namun mereka tetap memutar lagu-lagu berbahasa Jawa untuk acara hajatan yang mereka gelar. Mereka juga bisa berbicara menggunakan bahasa Jawa Timuran (Arekan) dengan logat Madura kental.

Ah, andai saja daerah Kuto Bedah ini masih menyimpan sisa peninggalannnya, bukan tak mungkin akan menjadi sebuah situs terkenal yang sangat apik. Segagah Machu Picchu, atau kalau tidak seindah Istana Ratu Boko. Berdiri diantara aliran sungai dan parit, membelah bukit, dan berada di tengah modernitas Kota Malang yang semakin melesat ke depan. Sayang, jejak itu kini tak tampak lagi.   

Sumber Tulisan :
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. 2013. Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang.
Previous
Next Post »
15 Komentar
avatar

Asik ya, berati ini ga jauh dari klenteng ang kiong?

Balas
avatar

Itu percakapan yang diawal tulisan walaupun nggak ngerti, tapi bisa hafal ya mas haha -_-
Wah ternyata Kuto Bedah menyimpan banyak cerita sejarah ya mas. Kira-kira nama Kuto Bedah itu artinya apa ya mas? Hehe :D

Balas
avatar

apa kampung ini bakal di cat warna warni ya? kampung seperti ini kudu dilirik sama disparnya biar bisa jadi potensi pariwisata.

Balas
avatar

Aku coba terjemahkan lagunya :
"Sakit hatiku, melihatmu menikah dengan org lain, sedih nangis darah, hancur rasaku, kau tega tinggalkan aku"
salah ya?

Balas
avatar

Wah banyak cerita sejarahnya ternyata :)

Balas
avatar

menarik membaca soal Malang
saya sendiri lama tinggal di Malang tapi belum pernah mampir ke perkampungan ini

Balas
avatar

reka ulang mas hehe
iyu sudah ada di bacaan kota yng terbelah

Balas
avatar

coba mampir ada banyak kuliner enak

Balas
avatar

Keren ulasannya mas, ini menarik buat dikunjungi

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!