5 Jalan Pintas (Shortcut) di Kota Malang

Pernah merasakan macetnya Kota Malang ?


Bagi yang sudah pernah ke Kota Malang atau sedang tinggal di Kota Malang, pasti sebal dengan kemacetan di kota ini. Apalagi, kalau perjalanan kita melewati daerah macet di sekitar kampus UB, UM, dan UIN Maliki, plus UMM. Kalau sedang ada kegiatan kampus atau hajatan warga, bisa dipastikan kita akan terjebak macet. Nah, agar tidak terjebak macet di jalan, bagi yang akan dan sedang berada di Kota Malang, ada 5 jalan pintas (shortcut) di Kota Malang yang bisa digunakan.

1. Jembatan Horor Pelor

Penampakan Jembatan Pelor  Bagian 2. Ada dua bagian jembatan ini. Paling horor bagian 2 ini. (sumber)
Jangan mengaku ke Kota Malang kalau belum ke sini. Tak banyak yang tahu, jembatan ini adalah ikon Kota Malang. Ya, hampir semua orang Malang pasti tahu jembatan yang membelah Sungai Brantas ini. Terletak di dua Kelurahan di Kecamatan Klojen, yakni Samaan dan Oro-Oro Dowo, jembatan ini berdiri.

Jika anda sedang berada di sekitar Jalan Jalan Bandung, Jalan Ijen, Jalan DI Panjaitan yang merupakan jalan dari arah barat Kota Malang dan akan menuju daerah timur kota ini seperti Sawojajar, Madyopuro, Tlogowaru, atau bahkan ingin ke Blimbing, maka memotong kompas melalui jembatan ini adalah cara yang cerdik. Daripada anda harus memutar melewati alun-alun atau balaikota yang juga akan terjebak macet.

Jembatan pelor bagian pertama dilihat dari Jl. Tapaksiring
Sayangnya, jembatan ini hanya bisa dilewati oleh motor/kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Hal ini disebabkan jembatan ini merupakan bekas jalan Lori pada zaman Belanda. Dari arah barat, anda dapat memulai perjalanan dari sebuah gang di JL. B.S Riyadi. Di jalan ini banyak gang. Namun, untuk menandainya cukup mudah karena di gang ini banyak sepeda motor yang keluar masuk tanpa henti. Jika dari timur, anda dapat  memulai dari Jl Kaliurang, tepatnya di sebuah masjid bercat biru. Masjid ini juga terletak tepat di perempatan yang menghubungkan Jl Kaliurang dengan TPU Samaan dan derah Jl Gilimanuk.

Pemandangan dari atas jembatan. Udah gak usah diwarna, nanti gak bisa lewat gegara buat selfie.
Jangan takut jika melewati jembatan ini. Meski katanya sering digunakan untuk ritual bunuh diri dan buang jin, namun sensasi ketika melewatinya sangat asyik. Pemandangan pemukiman padat penduduk akan kita saksikan beserta gunung-gunung yang mengitari kota ini menambah keelokan. Dan yang pasti, waktu tempuh kita akan lebih cepat. Namun, hati-hati jika melewati jembatan ini ketika malam hari. Meski ada lampu, namun kondisi cukup gelap. Sangat disarankan mengendarai motor dengan kecepatan yang rendah.

Perkampungan di sekitar Jembatan Pelor dengan topgrafi tanah ledok. Hati-hati jika berkendara di sini karena para pengendara sering memacu motor dengan cukup kencang.
2. Kawasan Militer Ksatrian

Tak perlu sungkan, masuk sajalah, heuheu
Masih ingat dengan tulisan saya bertajuk “Secuil Kisah di Negeri Hijau?” Jika belum, silahkan baca di sini. Di negeri hijau bernama Ksatrian, ada jalan panjang yang bisa digunakan untuk melawan kemacetan, terutama di daerah Rampal dan Klojen. Juga, jika di  Stasiun Kota Malang sedang ada konser, tinju/gulat/, dan demo angkot, jalan ini bisa digunakan. Dari Sawojajar, di perempatan dekat Dodikjur (sebelum Rampal), anda bisa membelokkan kendaraan ke arah selatan. Anda akan menjumpai komplek sekolah milik tentara seperti SMP-SMK Kartika. Di sini anda tinggal lurus dan akan menemui sebuah pos militer yang dijaga oleh tentara selama 24 jam dengan membawa senapan laras panjang.

Kompleks militer
Lagi-lagi, jangan takut. Memang dulu saya ragu kalau melewati daerah ini. Ternyata tak ada yang melarang. Hanya waktu-waktu tertentu saja jalan ini benar-benar ditutup. Selama anda tidak berbuat aneh-aneh dan tak membawa bom, anda hanya akan dipandang dengan tatapan tajam. Setelah melewati pos tersebut, anda hanya perlu belok kanan di dekat SDN Ksatrian 1. Lalu, anda dengan indahnya akan berada di Kampung Tridi dan Kampung Warna-Warni Jodipan. Asyik bukan?

Jangan kaget jika anda tiba-tiba sampai di sini. Bersiap untuk berselfie di Kampung Warna-warni


3. Jalan Soekarno Hatta Indah



Jalan ini berada di dekat perempatan Suhat dan Perum Permata Jingga. Saya sering melewati jalan ini jika akan menuju kawasan Suhat/Blimbing dari arah selatan.  Daripada saya menunggu macet di jembatan Suhat yang katanya mau roboh, saya lebih memilih jalan pintas ini.

Polisi cepek yang berada di persimpangan jalan ini
Dimulai dari perempatan Kalpataru, arahkan kendaraan anda ke Pesma Al Hikam dan SMAN 7 Malang, ikuti saja jalan ke arah Bukirsari. Anda akan menjumpai perempatan dengan cukup unik. Medaki dan terjal dengan polisi cepek di tengahnya. Si polisi cepek akan mengarahkan anda menuju ke jalan yang diinginkan. Dari sini, kita bisa terus ke arah Blimbing, atau belok ke arah Suhat, tanpa melewati jembatan Suhat yang macet itu.

4. Jalan Kerto-Kertoan//Watugong



Nah bagi yang suka kuliner di sekitar Suhat atau Dinoyo dan Sumbersari, melewati jalan kerto-kertoan adalah cara cerdik. Sumber kemacetan di kawasan ini ada 2 tempat, yakni di pertigaan Sardo dan pertigaan Dinoyo.Jika sedang musim ospek atau wisuda, Jalan di sekitar sini juga pasti  macet.

Dimulai dari McD watugong, jika anda dari arah Suhat, maka perjalanan bisa ditempuh menuju perkampungan di belakang UB. Perkampungan ini sendiri masuk wilayah Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru. Untuk keluar, anda tinggal pilih jalan mana yang akan anda ambil. Ada Kertosentono, Kerto Leksono, dll. Keluar dari jalan ini anda akan berada di daerah Sumbersari yang langsung menuju kawasan Matos.

5. Perumahan Maha Elit Ijen Nirwana


Jalan ini adalah jalan pintas paling  cepat, paling asyik, dan paling oke. Jalan yang dimaksud berada di dalam komplek Perumahan Ijen Nirwana, yang seperti Kota Meikarta, heuheu. Perumahan elit yang di awal pembangunannya mengandung pro kontra karena menggunakan masih menggunakan tanah negara ini membentang  tepat di jantung Kota Malang. Dulunya, daerah ini adalah hutan kota.

Sejak SMP, saya sering berjalan kaki melewati perumahan ini dari rumah di daerah Mergan ke sekolah yang terletak beberapa meter dari Perpustakaan Umum Kota Malang di Jalan Ijen. Hingga sekarang, saya masih menggunakannya jika akan pulang dari arah Jalan Ijen ataupun MOG.

Dari perempatan Ijen, arahkan kendaraan anda ke Gapura Ijen Nirwana. Anda akan menemui Masjid Quba yang sangat besar. Terus saja menuju pintu gerbang perumahan. Di sana anda akan disambut oleh beberapa pengawal kerajaan. Tak perlu sungkan. Mintalah kartu tanda masuk untuk bisa masuk. Kartu ini akan diminta kembali ketika anda keluar dari kota eksklusif tersebut. Tahu-tahu, anda akan berada di Jl. Raya Langsep, dekat Pasar Mergan. Tanpa melewati perempatan Dieng dan Jalan Kawi Selatan yang macet itu.

Kartunya jangan sampai hilang. Hilang akan didenda 50.000.
Nah, itulah 5 jalan pintas yang bisa anda lewati jika sedang berkunjung ke Kota Malang. Masih ada banyak jalan pintas lagi. Tunggu episode selanjutnya ya.  
Previous
Next Post »
34 Komentar
avatar

belum pernah ke malang sih, jadi tidak terlalu ngerti jalan-jalan yang ada di malang.

tapi boleh lah, bisa lihat2, ohw kayak gini toh jalan yang ada di malang

Balas
avatar

Namanya jembatan Pelor ya? Pernah lewat sini sama tukang ojek. Waktu itu dari terminal menuju UM, dan karena tergesa-gesa tukang ojeknya menawarkan lewat jalan ini. Awalnya agak ragu karena jalan yang dilewati masuk-masuk gang kecil, udah banyak pikiran negatif, nyatanya bisa kembali ke jalan besar, hehehe.

Balas
avatar

Itu jembatannya dinamakan Jembatan Horor Pelor karena sering jadi tempat ritual bunuh diri dan buang jin ya mas? Waah memang beneran horor ya -_-

Saya belum pernah ke Malang mas, tapi semoga informasi dari mas ikrom bisa membantu saya menghindari kemacetan jika suatu saat saya pergi ke kota Malang :)

Balas
avatar

Sip mas.., mana tahu saya nanti main ke kota Malang bisa leawat jalan pintas agar cepat sampe, xixixi... maksaih sahringnya...

Balas
avatar

Kalau ke Malang, meski sudah jalan Subuh dari Kediri teteup...terjebak macet. Akhirnya, rencana awal ke tiga atau empat tujuan, jadi didiskon satu atau dua.
Tapi, sayang jalan pintasnya nggak bisa mobil ya, Mas..secara kami perginya selalu rombongan dari Kediri hihihi...Terus itu yang jembatan pelor sesuai bener sama namanya pelor horor hiii:D

Balas
avatar

walah saya hanya bisa bilang amazing, sangat banyak jalan potongannya, sayamah suka puyeng cari jalan didaerah orang, lagian belum pernah ke malang kang. mantaplah sukses yah.

Balas
avatar

Wah jadi ingin Ke Malang
Sepertinya disana senang..

Balas
avatar

Saya belom pernah ke Malang, tapi jembatan horor pelornya kok kayak manggil2 buat didatangi.. xD

karena belom pernah ke sana, jadi gak begitu mengerti ttg jalan pintasnya, tapi boleh dijadikan buat guide misal ke sana entar.. :-bd

Balas
avatar

salah satu kota yang pengen sha kunjungi nih :)

Balas
avatar

Saya pernah ke Malang. Tapi gak macet-macet amat waktu itu. Haha. Masih lebih nyebelin kota sendiri kalau lagi macet.

Balas
avatar

Malang ini mirip bandung yah, jalanannya pun nama-namanya sama :))

Balas
avatar

wah bisa jadi rekomendasi banget nih kalo ke malang,,,

salam dari bandung mas

Balas
avatar

wah malang juga sudah macet ya, khas kota2 maju

Balas
avatar

wah catet nih kalau jalan jalan ke malang

Balas
avatar

wah ini..iso mblusuk2 klo pas naik motor ya mas hehe

Balas
avatar

Jembatan horor itu, ga hororkan ya kalau malam. Jalan pintasnya banyak ya. Kalai kata suami yg sering ke Malang serasa pulang ke kampung halaman.

Balas
avatar

Jembatan itu selalu bikin deg-degan kalo lewat situ. Ngeri lihat bawahnya. Kalo daerah watu gong emang jalan favorit kalo mau ke suhat dari arah ITN. Cuma ya kadang macet juga kalo pas ada mobil dari 2 arah berlawanan karena jalannya cenderung sempit :D

Balas
avatar

ini gangnya memenag smepit banget mbak
gak meyakinkan

Balas
avatar

yuk ke Malang mas coba lewat pelor

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!