Oleh-oleh Akang Sunda

Mau oleh-oleh apa?

Peuyeum ?

Batagor ?

Siomay ?

Atau cireng ?



Tanya saya kepada teman kerja wanita mengenai oleh-oleh yang ia inginkan ketika saya pulang dari Bandung. Lalu ia menjawab : 

“Akang Sunda aja yang ganteng”.

Waduh, berat banget itu oleh-olehnya. Carinya di mana coba ?

Lantas, saya bertanya kembali kenapa yang bersangkutan sampai kepingin banget sama si Akang Sunda. Menurut dia  akang sunda eh lelaki Sunda itu ganteng-ganteng. Referensinya adalah para penjual batagor dan bubur ayam yang ada di kota saya. Hmm, mulai SARA nih. Saya yang orang Jawa jadi gimana gitu. Kalah saing euy, haha.

Untuk memenuhi permintaan oleh-oleh akang sunda dari sang teman tadi, saya jadi sedikit banyak mengamati para lelaki (muda tentunya) saat berkunjung ke Bandung ini. Lho, jadi aneh kan? Gara-gara permintaan satu orang malah jadi melakukan hal yang tak penting. Tapi paling tidak bisa diceritakan kepada orang-orang.

Contoh akang-akang Sunda yang saya ambil bukan akang-akang yang dari kalangan menengah ke atas. Saya tak sempat mampir ke pusat-pusat tongkrongan kelas atas seperti kafe lantaran sedang jalan-jalan bersama keluarga. Tempat yang saya tuju adalah pasar, stasiun, dan beberapa pusat olahraga serta obyek wisata.

Bagi saya sih, secara kasat mata, akang-akang sunda itu ya hampir sama dengan mas-mas jowo. Ya iyalah, sama-sama satu rumpun bangsa melayu. Hanya saja, saya sering menemukan akang sunda yang memiliki bentuk mata yang lebih sipit dibandingkan dengan mas-mas jawa. Ini hanya pandangan saya lho, bisa saja salah.

Akang Sunda di Pasar Andir
Tak hanya itu, menurut saya, akang-akang sunda memiliki kulit yang lebih putih dibandingkan mas-mas jawa yang lebih ke sawo matang level cukupan (halah apaan). Maksudnya, kulit mereka lebih putih. Mungkin ini yang membuat teman saya tadi lebih tertarik melihat akang-akang sunda. Cuma, ya namanya lelaki ya suka di luar ruangan ya maka jadinya kulitnya gelap juga. Jadi, tergantung juga sih.

Akang-akang Sunda di Pasar Baru Bandung
Nah, yang saya heran kok saya jarang menemukan akang-akang Sunda yang tubuhnya tambun seperti saya. Iya lho beneran. Kalau di jawa (Timur) aduh kalau sudah pada lulus kuliah dan dapat kerja ya jadinya berubah menjadi gemuk. Saya adalah contoh utamanya. Sebelum lulus kuliah, berat badan saya 50 kg eh sekarang jadi 70 kgan. Begitu pula teman-teman pria saya yang juga pada melar. Kalau reuni kita sering berkelakar sesama teman pria, ”Sudah hamil berapa bulan?” Tapi, yang saya lihat, akang-akang sunda ini tubuhnya masih ramping-ramping gitu. Jarang sekali mereka yang bertubuh gemuk.  Kalaupun ada, itu paling beberapa dan kebanyakan para bapak-bapak usia paruh baya.

Akang-akang Sunda penjaja foto di Kawah Putih Ciwidey
Padahal, saya melihat akang-akang sunda ini suka njajan. Makanya, banyak sekali jajanan dari sunda terutama Bandung yang menjajah ke daerah lain. Kalau mas-mas jawa seperti saya, lebih mending makan nasi yang buanyaaaaak daripada njajan. Apa memang mereka suka njajan tapi porsi makannya sedikit ya.

Nah, tak hanya njajan makanan, mereka sering juga jajan motor. Waduh mahal juga. Maksudnya, saya sering menemukan para akang sunda yang heboh banget masalah motor dan segala tetek bengeknya. Sebenarnya sih, masalah ini juga ada di daerah saya, cuma mereka kok lebih greget gituketika berbicara masalah motor. Ketika saya mencoba mengorek info dan bergabung dengan akang-akang sunda yang sedang jagongan alias duduk-duduk, yang mereka bicarakan adalah masalah motor. Pindah tempat nongkrong juga motor yang dibicarakan.

Akang-akang Sunda yang lagi nongkrong
Kesukaaan akang-akang Sunda terhadap dunia otomotif ini rupanya membawa berkah tersendiri bagi mas-mas Jawa. Betapa tidak, mas-mas Jawa akan merantau ke daerah urban Tatar Parahyangan seperti Bandung dan Bogor untuk membuka usaha di dunia otomotif. Contohnya adalah beberapa kerabat dari Kediri yang cukup sukses membuka usaha jok motor di daerah Bandung. Setelah satu dua berhasil, maka mereka mengajak serta kerabat yang lain untuk turut serta membuka usaha. Dan ternyata usaha mereka lumayan sukses juga. Ketika saya tanya kepada kerabat tersebut mengenai kegemaran akang-akang sunda, memang benar adanya. Akang-akang sunda ini suka sekali gonta-ganti jok motor. Entah sebulan sekali atau dalam jangka waktu tertentu. Mau coba juga ?

Oh ya, satu steorotip yang sering terjadi di masyarakat adalah akang-akang sunda itu pemalas. Tapi, bagi saya sih tidak begitu. Mereka rajin-rajin kok mau usaha apa aja, terutama berjualan makanan dan pakaian. Bahkan beberapa tempat saya menemukan akang-akang Sunda dengan gigih menjual tisu seharga 5000 rupiah. Kalau masalah malas dan rajin itu tergantung kepribadian masing-masing yah.

Akang Sunda di sebuah rumah makan. Saya malah salfok sama itu ayamnya besar-besar bangeeet.

Akang-akang sunda juga cukup ramah. Ketika berjalan melewati saya mereka selalu bilang “Punten” atau “permisi”. Saya kagum lho sama kebiasaan satu ini. Oh, ya satu hal lagi yang menjadi kekaguman saya ketika berinteraksi dengan akang-akang sunda adalah ketika shalat berjamaah. Sebelum bilal mengumandangkan iqamah, mereka kompak berdiri. Saya awalnya menduga itu kebetulan terjadi di satu masjid itu saja. Namun, di masjid yang lain juga demikian. Semoga penilaian saya ini benar adanya.

Akang-akang Sunda juga gemar memelihara dan mengawinkan burung dara. Tampak akang sunda junior sedang membawa sepasang burung dara di daerah Katapang, Soreang.
Jadi, kesimpulannya, memang akang-akang sunda itu bolehlah dijadikan teman atau pendamping bagi kaum wanita nonsunda, terutama jawa. Kembali lagi pada pribadi masing-masing.

Sing apik yo apik, sing elek yo elek.

Bonus gambar. Mas-mas jawa tetap dong imut-imut dan menggemaskan, haha.

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan.

Disclaimer : Artikel ini tidak untuk tujuan apapun, hanya pengamatan asal-asalan dari penulis. Bisa saja salah besar. 
Previous
Next Post »
12 Komentar
avatar

trmaksi banget om infonya sangat bermanfaat sekali.
ohya kalu ada waktu mampir di tempat aq om.

Balas
avatar

Hahahah jawaban yang sm kalo aku balik Bogor pst tmn2 ciwi pd minta oleh2 "akang sunda" atau "aa sunda" -_-

Balas
avatar

saya lebih suka oleh oleh batagor dan syomay....mas

Balas
avatar

habis jalan jalan ke bandung ya,,?

Balas
avatar

Repot-repot sampai keliling fotoin akang-akang segala mas Ikrom.

Dari yang disebutin diatas saya belum makan yang peuyeum. Itu bacanya gimana sik?

Balas
avatar

Wah asyik ya...puluhan taun di Bandung belum pernah ke pasar andir, lewat mah sering hehe..

Balas
avatar

jadi sudah di bawakan belum akan sundanya.

masa sih mas akang sunda pada ga melar badannya.

Tapi mantap juga pengamatannya.

terkadng kita melakukan hal yang aneh untuk seseorang karena orang tersebut sangat berharga bagi kita. betul ga :D

Balas
avatar

mas ikrom coba puterkan rekaman membacanya.

Balas
avatar

Aku maunya tahu sumedang Mas hehehe

Balas
avatar

Dah anehnya, saya malah senang dengar orang ngomong pake bahasa Sunda, gak tau kenapa, padahal ngerti pun enggak.

Balas
avatar

Salam buat Akang Sunda, nya? Hehe. Saya pilih siomay. Mantap.

Balas
avatar

Saya pilih mas-mas jawa aja nggih... salam buat akang sunda....

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!