Ngejepret Keindahan Alam Tatar Pasundan dari KA Malabar

Penumpang yang kami hormati, perjalanan anda telah sampai pada Stasiun Cipeundeuy



Bagi anda yang akan mengakhiri perjalanan di Stasiun Cipeundeuy, harap teliti barang bawaan anda kembali sebelum meninggalkan kereta

Tetaplah duduk di tempat anda hingga kereta telah berhenti sempurna.

Terimakasih telah menggunakan jasa layanan PT Kereta Api Indonesia dan sampai jumpa pada perjalanan anda berikutnya.


Penumpang perokok aktif melampiaskan hasratnya sebentar di Stasiun Cipeundeuy
Penjaja makanan di St. Cipeundeuy

Mendengar pengumuman itu, mata saya masih belum bisa terbuka sempurna. Meski hari sudah pagi, tapi rasanya hati ini belum ikhlas untuk membuka mata. Maklum, saya memulai perjalanan dari Yogyakarta menuju Bandung tepat dini hari. Memanggul ransel dengan mata yang sudah sepat.

Meski berat, namun selepas Kereta Api Malabar kembali melanjutkan langkahnya, mata saya tiba-tiba segar kembali. Kereta yang berjalan sangat pelan ini tiba-tiba menyuguhkan atraksi luar biasa. Pemandangan maha indah yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jajaran pegunungan ditemani dengan permadani sawah dan sebaran pemukiman. Kabut tipis juga menyelimuti pemandangan itu.

Kemiringan jalur menuju Stasiun Nagreg ini membuat kereta tak bisa melaju kencang. Di sebelah barat mencapai 15 per mil, atau setiap 1 km jalur kereta api akan naik atau turun setinggi 15 meter. Sedangkan di sebelah timur gradiennya mencapai berkisar 5-15 per mil. Maka dari itu, kereta terasa berat jika melewati daerah ini.

Beratnya tanjakan memberi berkah tersendiri. Kita bisa menikmati keindahan alam di sini dengan duduk manis di dalam kereta api. Tanpa perlu naik turun gunung atau bersusah payah melewati bukit-bukit terjal. Hanya saja, jika ingin melakukan jepretan kita harus benar-benar siap ketika kereta melewati daerah pemandangan indah sebelum tertutup kembali oleh semak belukar.

Pertanyaan lalu muncul, mengapa daerah Nagreg bisa menyimpan keindahan alam seperti itu?

Setelah saya membaca beberapa artikel, ternyata terdapat pegunungan purba yang berderet memanjang dari timur hingga ke wilayah Nagreg. Sesungguhnya Nagreg sendiri adalah sebuah kaldera (bekas kawah gunung api) yang besar. Makanya, ketika saya melihat daerah ini dari ketinggian di atas kereta, tampak cekungan-cekungan. Cekungan tersebut beberapa tampak cukup besar. Cekungan ini juga banyak ditemui ketika kereta apai yang saya naiki melintasi daerah Cicalengka, selepas kereta mengambil penumpang di Stasiun Kiara Condong.

Oh ya, ada juga mitos mengenai stasiun-stasiun di daerah Nagreg ini. Mitos-mitos tersebut berkaitan dengan seringnya kecelakaan kereta yang terjadi di sana. Bahkan warga dan pengelola sempat mengganti nama beberapa stasiun agar kejadian yang tak diinginkan terjadi. Salah satunya adalah Stasiun Malangbong yang diganti menjadi Stasiun Bumiwaluya. Demikian pula, semua kereta yang melewati Stasiun Cipeundeuy tadi harus berhenti dulu. Padahal, stasiun ini bukan stasiun besar. Kalau saya sih hanya berpikir mungkin kereta sedang mengalami persilangan atau akan mengambil ancang-ancang guna melakukan perjalanan tanjakan tajam. Saat menunggu persilangan dengan kereta api lain di Stasiun Cipeundeuy, saya melihat petugas membawa senter sambil melihat bagian bawah rangkaian kereta. Sang petugas sedang mengecek kesiapan kereta agar bisa tampil prima ketika menuju Stasiun Nagreg yang merupakan stasiun dengan ketinggian tertinggi di Indonesia.
Stasiun Bumiwaliya di suatu senja
Apapun itu, daerah yang menjadi bagian dari Jalur kereta api Padalarang-Kasugihan ini adalah spot terbaik bagi para penggila foto kereta api. Tak hanya ketika melewati daerah Nagreg, saat kereta melintasi Cekungan Bandung, jepretan demi jepretan seperti enggan untuk berhenti. Sayang, saya tak membawa kamera saku atau tak bersama teman yang membawa kamera DSLR. Bermodal kamera ponsel Xiaomi Mi4i, inilah beberapa jepretan yang bisa saya ambil. Meski masih belum sempurna, tapi saya bersyukur bisa menikmati dan mengabadikan momen perjalanan menuju Bandung ini.

Jalur yang juga menjadi andalan Daerah Operasi 2 Bandung ini dilewati banyak rangkaian kereta api. Selain Malabar, terdapat juga kereta api Mutiara Timur, Kahuripan, Lodaya, Pasundan, Kutoarjo Selatan, Turangga dan masih banyak lagi. Namun, bagi saya, waktu yang tepat untuk ngejepret Tatar Parahyangan adalah dengan menaiki KA Malabar ini. Rangkaian kereta api yang berangkat dari Malang akan melewati daerah ini sekitar pukul 5 hingga 6 pagi. Pada waktu ini kita bisa berburu pemandangan matahari terbit. Sedangkan, rangkaian dari arah Bandung menuju Malang melewati daerah ini pukul setengah 5 sore hingga pukul setengah 6 sore. Waktu yang sangat tepat untuk melakukan jepretan saat matahari terbenam.
Di kepala saya langsung teringat akan Si Kabayan


Menikmati sawah yang membentang di pagi hari
Sawah-sawah dengan GBLA (Gelora Bandung Lautan Api) di tengahnya
Jalan berliku

Bagian di daerah Nagreg yang membentuk cekungan
Subhanallah
Sawahnya itu lho
Sayang, kamera dan tangannya kurang oke
Jadi pengen punya rumah di sana
Mencoba peruntungan sunset

Kereta memang tak ada duanya

Bagaimana, tertarik mencoba?

Sumber bacaan : (1) (2)
Previous
Next Post »
5 Komentar
avatar

dibalik mitos yang "horror" itu, ternyata nagreg menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa, sugbhanallah

foto yang sawah paling atas, cantik banget mas. ijo & view teraseringnya bagus banget.

Balas
avatar

Betapa itu indahnya pemandangan persawahan, musim tanam telah usai. Sebentar lagi musim panen. HDR, kamera apa itu yang digunakan ?

Balas
avatar

Wah! Sama dong hape kita.
Suasananya kayaknya adem banget ya sampe banyak kabutnya gitu.

Balas
avatar

sha udah pernah lewat sini, emang baguus pemandangannya. apalagi pas ada diatas gituu

Balas
avatar

masya allah, lukisan Rabb, pemandangan tatar pasundan , benar benar cantik ya mas :)

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!