Mencari Air Kedamaian yang Tertuang di Kampung Sayidan

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan
Teman-teman riang menunggu di sayidan



Hafalkah anda dengan lirik lagu tersebut ?

Kalau anda hafal, tandanya masa remaja anda dihabiskan di awal tahun 2000an. Akibat lagu ini, memori otak saya terus mengenang band Shaggydog yang lagu-lagunya sering saya nikmati dalam kaset VCD bajakan. 


Shaggydog is Sayidan. Sayidan is Shaggydog. 

Atau mungkin saya terlalu naif mengatakannya. Tapi, jika merujuk dua kata benda itu, rasanya tak berlebihan jika saling terkait satu sama lain. Keterkaitan itulah yang menggelitik hati saya untuk mengunjungi Sayidan, lebih tepatnya kampung Sayidan secara lebih dekat. Berkali-kali saya ke Jogja, nama Sayidan hanyalah nama yang sekedar lewat. Sebuah jembatan bertuliskan Sayidan akan selalu terlewati ketika akan memasuki kawasan Parkir Taman Pintar/Malioboro. 

Gemerlap lampu yang meghiasi jembatan ini sungguh cantik. Bahkan, bagi saya yang introvert, berjalan-jalan ke Sayidan lebih menarik perhatian dibandingkan berjalan dengan kaki terantuk di Malioboro. Namun, apalah daya saya. Tak ada satu paket wisata pun yang saya ikuti memasukan Kampung Sayidan sebagai destinasi wisata. Hingga tibalah kesempatan itu datang ketika ada banyak waktu untuk menelisik kampung-kampung di Jogja. Saya pun tak menyia-nyiakannya. 

Singkat cerita, saya pun turun dari Bus Trans Jogja trayek 1B di halte Taman Pintar. Langkah kaki saya lalu menuju perempatan Jalan Senopati, berebelok ke arah Jalan Brigjend Katamso. Menyeberang jalan dan mencoba memasuki sebuah gang. Saya yakin, gang ini akan menembus ke arah jembatan Sayidan. Ketika saya memasukinya, saya cukup terkejut. Sebuah spanduk bernada kecaman, kalau bisa saya katakan seperti itu. Tulisan berwarna merah dengan kalimat “Ojo dho dolanan lemah!!!” (Jangan saling bermain tanah!!!). Di sebelahnya terdapat pula keterangan bahwa tanah ini (tanah di sekitar kampung itu) tidak dijual. Tulisan ini dipasang pada bagunan tua yang bertembok kusam. Entah, apa yang sedang terjadi.

Spanduk kecaman di Kampung Sayidan
Melihat sumber berita di beberapa media, rupanya sedang ada kasus sengketa tanah antara ratusan warga dengan beberapa pihak. Meski sudah kasus ini sudah mencuat cukup lama, namun benih-benih perselisihan itu masih tampak. Air kedamaian yang saya bayangkan ketika memasuki kampung ini menjadi sedikit ternoda. Tapi tak apa. Saya masih ingin menjelajahi kampung ini.

Lorong menuju Kampung Sayidan
Aktivitas warga tampak sama seperti kebanyakan kampung pada umumnya. Anak-anak bermain, ibu-ibu menyiram tanaman, dan bapak-bapak sedang duduk-duduk di tepi kampung. Kampung ini cukup padat dan sempit. Dengan topografi ledok dan berakhir di sebuah sungai besar, mengingatkan saya pada Kampung Warna-warni Jodipan Malang. Ya, mereka sangat mirip.

Yang membedakannya, di bagian kampung yang dekat dengan sungai telah dibuat tembok besar. Di sekitar tembok itu, terdapat parameter ketinggian sungai. Tak jauh dari situ, ada sebuah pos badan penanggulangan bencana. Di dalam pos itu, ternyata sedang terjadi aktivitas yang saya yakini adalah pencatatan ketinggian air di sungai tersebut. Pemandangan yang belum saya lihat ketika menjelajahi Kampung Warna-warni Jodipan (KWJ). Padahal, KWJ sering mengalami banjir luapan Sungai Brantas. 

Topografi ledok yang snagat khas dengan Kali Code membelah kampung ini
Saya baru ingat, ini kan Kali Code. Salah satu sungai tempat mengalirnya lahar Gunung Merapi ketika erupsi. Alirah lahar akan siap menghantam kawasan yang dilewati Kali Code. Dan, kampung Sayidan adalah salah satunya. Lagi-lagi, air kedamaian itu sedikit keruh lagi meski saya melihat aliran sungai masih aman-aman saja.
Aliran Kali Code yang siap-siap membawa lahar dingin Gunung Merapi
Sambil terus berjalan, saya mencari pintu keluar menuju jalan raya. Saya sempat melewati jembatan Sayidan dari bawah. Suara bising kendaraan sangat terasa. Entah, berapa desibel yang harus didengarkan penduduk Kampung Sayidan ini setiap harinya. Padahal, yang saya tahu, ada yang disebut ambang batas toleransi pendengaran manusia.  

Saya berjalan semakin jauh, hingga menemukan sebuah tanda panah yang mengarah ke sebuah lorong gelap. Antara yakin dan tidak, saya memasuki lorong itu. Bau anyir dan pengap menghujam penciuman saya. Lagu Shaggy Dog kembali berputar di kepala saya.

Jangan kau takut pada gelap malam
Bulan dan bintang semuanya teman
Tembok tua, tikus-tikus liar
Iringi langkah kita menembus malam

Lorong penghubung antara Kampung Sayidan dengan dunia luar
Ah, benar-benar. Puluhan jempol untuk band satu ini. Penggambaran yang sangat tepat. Saya semakin merasakan sensasi itu. Sebuah kampung kumuh namun penuh dinamika. Keluar dari lorong itu saya bertemu dengan para penjual minuman dan bahan kerajinan yang saya yakini mereka selesai atau lepas istirahat dari aktivitasnya di Malioboro. Di belakang saya muncul lagi beberapa orang dengan barang dagangan yang sama yang saya yakini pula mereka akan berjualan juga di Malioboro. Saya pun  naik dan tiba di sisi seberang jembatan Sayidan. 

Bergeser sedikit dari Maliobor, tak ada salahnya menikmati kuliner sambil menikmati eksotisme Kampung Sayidan
Melihat kampung ini dari atas, saya bisa merasakan lagi air kedamaian itu. Sangat terasa. Bergabung dengan aliran Kali Code, hingga menuju pantai selatan. Menguap kembali dan jatuh di lereng Gunung Merapi sebelum mengaliri kampung ini lagi. Saya bisa merasakan aliran itu begitu damai, meski melewati kampung kumuh namun tetap tenang. Walau sangat dekat dengan kawasan hiburan tanpa ampun bernama Malioboro, air kedamaian itu terus bergerak dinamis.

Sumber Tulisan :
Previous
Next Post »
9 Komentar
avatar

Waktu masih kuliah sering sekali menyanyikan lagu ini sama teman-teman kalau lagi ngumpul. Ternyata ini toh yang namanya kampung Sayidan.

Balas
avatar

bukan penggemar shaggy dog, jadi kalau pas denger itu lagu paling cuma agak hapal bagian reffnya doang. dan tak kira, dulu sayidan itu nama orang haha, ee baru tau kalau sayidan nama kampung pas jaman kuliah dan sering bolak-balik solo ke purworejo lewat jembatan itu mas.

kalau harus mendengar kebisingan kendaraan tiap hari, bagi kita yang belum biasa pasti risih dan terganggu sekali, tapi sepertinya kalau sudah jadi warga kampung sayidan selama bertahun-tahun bakal terbiasa mas hehe

Balas
avatar

Benar mas mereka sudah terbiasa, klo aku coba tidur di sana yah bakal g bisa tidur haha

Balas
avatar

Warga kampung Sayidan sudah menyatu dan menikmati kebisingan bagai syair kehidupan yang harus terus berjalan
tampaknya

Balas
avatar

bw saja dulu mas, salam kenal dari saya, maaf belum sempat baca, baca sekilas dulu...perkenalan dulu..he..he...

Balas
avatar

Baru tahu saya kampung sayidan... thanks ya infonya.. keren..

Balas
avatar

Endi oleh-olehe...

Aku kok ora dikei....

Balas
avatar

Ternyata ini ya, yang namanya Sayidan. Bagus nggak tuh kalau dikunjungi malam hari?

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!