Refleksi Cermin di Delta Plaza Surabaya

Masih ingat dengan tulisan saya mengenai  pengalaman tak menyenangkan di Delta Plaza Surabaya ?



Jika belum, silahkan dibaca di sini. Selepas saya menemui rekan les piano di Royal Plaza, saya belum memutuskan untuk kembali ke rumah saudara di kawasan Jagir, Wonokromo. Masih ada beberapa jam sebelum bergabung dengan rombongan kembali ke Malang. Daripada bengong, saya kembali berkeliling dari mall ke mall. Hati saya mengatakan, sebaiknya saya kembali mengunjungi Delta Plaza. Ketika saya pergi ke sana dulu, saya tak menemukan sesuatu yang menyenangkan. Ditambah dengan rumor dari teman dan artikel di internet akan adanya kisah horor meninggalnya suster gepeng, menjadikan saya ingin segera pergi dari sana.

Lift yang menjadi awal mula cerita suster gepeng. Saya tak berani masuk. Bukan takut dengan penampakan suster gepeng. Sepertinya lift ini bermasalah.
Kini, saya punya banyak waktu di siang hari. Saya kembali memutuskan untuk menjelajahi mall itu. Masih ada pertanyaan yang menggganjal di dalam diri, mengapa saya tak nyaman di sana dulu. Dugaan awal saya, banyaknya cermin adalah penyebabnya. Apakah itu memang benar adanya?

Saya diantar teman saya tepat di depan Delta Plaza di Jalan Pemuda Surabaya. Kami berpisah di sana. Memasuki pintu utama, ternyata saya tak menemukan aura negatif yang saya rasakan sebelumnya. Lalu lalang pengunjung yang keluar masuk malah menambah semangat saya untuk menjelajahi ruang demi ruang di bekas Rumah Sakit Simpang (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis) ini. Bangunan bekas rumah sakit yang ternyata pernah menjadi tempat berkumpulnya gerilyawan republik pada masa revolusi fisik (1945-1949) ini terasa memberi aura positif bagi saya. Aura itu membuat saya tiba-tiba ingin melakukan ritual makan tahap dua. Maklum, pada pertemuan saya dengan teman di Royal Plaza tadi, saya hanya memakan beberapa potong kentang goreng. Belum makan nasi.

Alhasil, mampirlah saya ke kedai Soto Betawi di lantai dasar. Di sini, saya dibuat bingung karena ada sebuah cermin berukuran besar yang menipu mata saya. Saya kira, kedai itu memiliki luas yang cukup sehingga saya bisa memilih kursi yang cukup jauh dengan pengunjung lain. Niatnya tetep, saya ingin menyendiri lagi. Tapi, begitu saya mendekati cermin besar itu, otak saya kembali sadar. Kedai itu tak sebesar yang saya duga sebelumnya.

Bayangan saya di depan cermin. Apakah anda melihat bayangan lain?
Selepas makan, tibalah saya menjelajahi isi mall ini. Tujuan pertama saya adalah lorong di selatan mall yang dekat dengan kedai Burgers King. Lorong ini berada di luar mall dan menjadi tempat terjebaknya saya ketika terjadi pemadaman listrik pada kujungan sebelumnya. Di sini, lagi-lagi saya menemukan ilusi optik berupa kebingungan letak food court  yang juga ada di dekat lorong itu. Cermin-cermin di foodcourt itu membuat saya bingung di manakah pintu masuk menuju foodcourt yang katanya murah itu. Maunya sih, saya hanya kepingin membeli segelas es teh untuk dibawa jalan-jalan. Tapi, karena saya masih kebingungan, niat itu saya urungkan. Saya kembali memasuki pintu barat mall ini.

Lorong kaca di Food court lantai dasar
Menjelajahi lantai demi lantai kembali saya menemukan cermin-cermin yang terpasang, baik di dinding maupun di tiang-tiang.  Selain cermin yang merupakan cerimin datar, terdapat pula cermin yang merupakan cermin cembung. Akibatnya, pada beberapa bagian saya menemukan bayangan saya yang bersifat maya, tegak, dan sama besar dan di bagian lain bersifat maya, tegak, dan diperkecil. Ketika saya melwati beberapa tempat dengan kombinasi dari dua cermin itu, saya kembali pusing lagi. Apalagi, saya memakai kacamata berlensa cekung yang juga menghasilkan bayangan maya, tegak, dan diperkecil. Sesekali, mata saya dibuat panik dan sering menerka ke manakah langkah kaki saya harus berjalan untuk menuju tenant yang akan saya datangi. Cermin yang terpasang cukup banyak sehingga menghasilkan jumlah bayangan yang banyak pula seperti yang diajarkan di Kelas XI dulu.

Pertanyaannya, mengapa mall ini memasang banyak sekali cermin?

Jawabannya bisa beragam. Dari beberapa sumber yang saya baca, terutama dari literasi ilmu mengenai desain ruangan dan fengshui, adanya cermin yang banyak membuat pencahayaan ruangan menjadi bagus. Jika pencahayaan ruangan bagus, maka orang yang berada di dalamnya juga akan betah. Tak hanya itu, akibat refleksi yang dihasilkan oleh cermin-cermin itu, maka ruangan menjadi terasa lebih luas.

Tak hanya itu, ternyata ada juga efek psikologis yang ada akibat penggunaan permukaan reflektif di bangunan mall. Apa itu?

Pertama, ada sebuah teknik atau sugesti psikologi pada otak yang disebut dengan Pacing and Leading. Bagaimana cara kerja teknik ini? Coba perhatikan pada cermin yang dipasang di depan toko baju ini. Di situ saya berdiri di depan sebuah maneken yang mengenakan baju hitam yang cukup bagus. Saat saya melihat potret diri saya di depan cermin, maka di dalam otak saya timbul impuls untuk menjadi sama dengan model di maneken tadi. Timbul keinginan dalam diri saya untuk menenakan baju tersebut karena saya memiliki bayangan akan diri saya yang “kece” jika memakai baju seperti model itu. Maka, terlintaslah pikiran untuk mendapatkan baju itu. Apalagi,di sebelahnya, ada tulisan diskon 50%. Penjual baju sangat pintar menepatkan tulisan itu di depan cermin tiang bangunan mall. Kalau saya khilaf, keluarlah uang atau kartu debit dari dompet saya. Untung, saya masih punya iman. Apa yang bisa anda simpulkan?


Ketika saya melihat bayangan maneken itu di cermin, rasa penasaran untuk mencoba baju yang dipakai maneken itu timbul
Tepat. Disadari atau tidak, penggunaan cermin yang cukup banyak pada mall ini membuat pengunjung terinisiasi untuk melakukan belanja barang setelah mereka menemukan ilusi optik diri mereka yang sempurna akibat melihat refleksi bayangannya di dekat model pakaian.

Tak hanya belanja pakaian, penggunaan cermin juga menambah keinginan pengunjung untuk melakukan pembelian makanan dan minuman di food court yang dipasang cermin. Di lantai 4, tempat food court berada, cermin-cermin juga dipasang pada tiang-tiang bangunan ini. Saat menuju ke sana, saya langsung melihat orang-orang makan dengan lahapnya. Saya tak kuasa melihat itu meski saya sudah makan. Akhirnya, jebolah pertahanan saya. Segelas jus alpukat dan sebungkus jamur crispy masuk ke perut saya.

Teknik yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder pada awal dekade 70an ini memang banyak diadopsi oleh para merketing, terutama pusat perbelanjaan. Tak heran, pusat-pusat perbelanjaan yang dibangun pada dekade 70an hingga 80an banyak menggunakan cermin di dalamnya.

Cermin di FC lantai 4
Kedua, adanya pancaran gelombang hyper-positif saat orang mengunjungi mall yang memiliki banyak cermin. Gelombang itu sebenarnya merupakan sifat dasar dari sebuah cermin itu sendiri. Cermin merupakan benda yang merefleksikan apapun yang ada di depannya, termasuk diri sesorang. Jika diri sesorang itu memiliki aura yang positif, maka cermin akan memantulkan sesuatu yang positif juga. Otak kita akan menjadi mendapat stimulus melakukan hal-hal yang positif. Saya yakin, tujuan orang datang ke mall adalah untuk bersenang-senang, selain ada juga yang bekerja. Ketika ada perasaan senang ada di dalam diri kita dan kita melihat bayangan positif di dalam cermin, maka timbul keinginan kita untuk terus mengeksplorasi tiap jengkal mall. Jika aura itu sangat besar, maka timbulah perbuatan “positif” yang akan mengikutinya? Apa itu? silahkan dijawab sendiri.

Sebaliknya, jika aura negatif ada di dalam diri kita, maka cermin akan merefleksikan sesuatu yang buruk ke dalam diri kita. Itulah alasan mengapa ketika kujungan saya yang pertama dulu, saya tak terlalu menikmati mall itu. Saat itu, saya sedang dikejar waktu untuk bertemu rekan ditambah terjebak dengan kondisi hujan deras membuat hati saya kacau. Akibatnya, saya ingin segera cabut dari Delta Plaza Surabaya.


Aura yang terpancar dan terefleksikan tergantung dari dalam dirimu

Ketiga, adanya efek self-conscious & powerful. Tadi kita sudah membahas adanya rumus pembentukan jumlah bayangan yang dihasilkan oleh lebih dari satu cermin. Saya tak membahas lebih lanjut daripada pusing dengan hafalan rumus fisika. Yang jelas, logikanya, semakin banyak cermin, maka semakin banyak bayangan yang dihasilkan. Semakin positif juga bayangan yang dihasilkan. Maka yang terjadi adalah adanya peningkatan euforia untuk lebih melakukan kegiatan berbelanja di sana. Efek ini akan ditambah dengan pencahayaan dan tata ruang yang heboh. Dan bisa dipastikan, kombinasi dari ketiga efek psikologis tadi membuat rupiah demi rupiah akan mengalir ke dalam toko di mall itu.

Semakin banyak cermin semakin banyak bayangan dan energi positif yang dihasilkan

 
Semakin besar pula keinginan untuk berbelanja


Keempat, mengingat Delta Plaza ini merupakan mall yang cukup lama, maka ia harus bisa bersaing dengan mall-mall baru. Persaingan ini tidak mudah. Saya jadi teringat Mitra Plaza II Malang yang ambruk akibat kalah bersaing meski letaknya cukup strategis. Untuk menyiasatinya, maka dipasanglah banyak cermin-cermin di banyak sudut ruangan mall. Meski “tua”, Delta Plaza masih diminati para penggila mall. Belum lagi, embel-embel “murah” masih melekat padanya.Meski sempat terpuruk akibat gencarnya pembangunan mall-mall baru, Delta Plaza Surabaya masih menjadi jujugan belanja warga Surabaya dan sekitarnya dengan seribu cermin di dalamnya. Apalagi, Mall yang dibuka pada 1988 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto ini menempati lahan bekas bangunan tua. Untuk menghilangkan kesan angker itu, dipasanglah banyak cermin di dalamnya.

Meski sudah "tua", Delta Plaza tetap berjaya, menjadi jujugan warga Surabaya

Apalagi, bioskop yang katanya bersemayam banyak hantu di dalamnya tetap menjadi primadona
Itulah sekilas kisah menyusuri cermin-cermin di Delta Plaza Surabaya. Kita tunggu saja, apakah mall ini akan tetap eksis atau akan hilang menjadi legenda seperti kisah misteri suster gepeng yang menyertainya.

Sumber bacaan : (1) (2) 
Previous
Next Post »
22 Komentar
avatar

Mungkin mallnya mau di kenal sebagai mall serinu cermin... hahha

Kalo diliat dri foto, mallnya bagus yah. Dripada mall di tmpat saya tinggal. Yakin pasti pengen buru2 keluar. Heheh

Balas
avatar

Kelihatannya luas, pas masuk kecil. Itu efek cermin. Gue juga pernah ketipu yang begitu. Ternyata ada psikologinya segala ya, pemasangan cermin di mal gitu. Ehehe. :D

Kayaknya dosen Pemasaran gue dulu juga pernah jelasin sejenis ini deh. Rumah-rumah makan pakai etalase atau kaca bening yang kelihatan dari luar. Ya, supaya menggoda selera orang yang pada lewat gitu. Contohnya restoran cepat saji kayak Mekdi dan Kaepci juga, kan. Ehe.

Balas
avatar

Ruangan menjadi terasa lebih luas, itu yang sebenarnya tujuan dalam memasang cermin. Dulu saya juga heran ,saat kerja di showroom motor , dindingnya dipasang cermin.
Pastinya juga, ruangan akan tampak cerah dan bersih.

Balas
avatar

Wow! Harus benar-benar ganteng ni kalau mampir ke sini, di mana-mana bisa berkaca hehehe

Balas
avatar

Kacakaca gini biasa dipake untuk spot foto" nih.. apalagi ini dimall..

Balas
avatar

Salah satu fungsinya mungkin untuk menjadikan ruangan agar kelihatan cerah mas

Balas
avatar

Dengan banyaknya cermin di segala sudut ruangan pengunjung akan mudah bergaya dan berselvi kali ya..?

Balas
avatar

wahhhh semoga mallnya semakin ramai dikunjungi banyak orang ya mbaaa,, ditambah lagi tempat buat nonton bioskop hhe

Balas
avatar

cermin memang disarankan untuk digunakan pada ruangan yang kecil agar terkesan mampu merubah nuansa ruang juga kemudian ruang menjadi terasa menjadi luas...efek cermin emang nggilani ya mang

Balas
avatar

mall 1000 cermin , boleh2 mas hehe

Balas
avatar

nah! bener kan mataku gak salah
iya bener mas, di restoran juga, tpi efek yg paling gede ya di toko baju dan toko sepatu

Balas
avatar

iya d showroom juga mas, harus dipasang cermin

Balas
avatar

yang jelek dilarang masuk haha

Balas
avatar

klo cerminnya cembuk jadinya jelek

Balas
avatar

iya amiiin btw saya mas lho...
hayooo

Balas
avatar

Iya... Baru-baru ini saya juga baca atau dengar, Mall-Mall yang sepi pengunjung karena kalah saing, tapi itu di daerah pinggiran Jabodetabek. Ternyata di Sidoarjo juga ada yang hampir sepi dan bertahan dengan strategi Psikologi Komunikasi Massa. Mantap ini

Balas
avatar

Delta plaza itu yg dket monkasel itu bukan? Suasanannya emg agak beda dg mall lainnya. Pernah singgah disini, cuma jalan2. Tp agak gmn gitu

Balas
avatar

waww, klo begitu aku mesti hati-hati dengan cermin di pusat perbelanjaan, kuatkan iman....kekep erat dompett

Balas
avatar

Iya betul itu hanya efek cermin saja, jadi musti berhati-hati kalau masuk lokasi seperti itu ma,,

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!