It’s All About “Candi”

Lho ya, ke candi lagi


Teman saya menggumam ketika saya mengunggah foto liburan. Di saat orang lain mengunggah foto liburan ke pantai, gunung, tempat makan, dsb, saya malah mengunggah foto sebuah candi yang entah berada di mana.

Mau bagaimana lagi. Candi sudah menjadi obyek utama saya ketika liburan. Maka dari itu, pada tulisan kali ini, saya akan sedikit berbagi mengenai masalah-masalah percandian yang sudah saya jelajahi sepanjang hidup saya.

Mengapa suka sekali candi ?

Pertanyaan klasik yang harus terus saya jawab meski saya tak tahu pasti jawabannya apa. Bagi saya, candi itu unik. Bangunan ini sering membuat saya terpana. Meski saya seorang muslim dan juga sangat mengagumi masjid, tapi saya selalu punya pertanyaan yang tidak bisa saya jawab ketika membicarakan candi. Kok bisa ya, orang zaman dahulu membangun candi yang punya keunikan masing-masing. Apalagi, rata-rata candi yang ada di Indonesia dibangun sebelum abad ke-15 Masehi. Zaman segitu mana ada teknologi canggih. Inilah alasan utama saya suka ke ke candi.

Alasan lain, saya tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Biasanya, saya hanya membayar dengan menulis di buku tamu dan sedikit senyuman kepada penjaga candi. Kalau tak, saya hanya membayar parkir sebesar 2000 rupiah. Hanya beberapa candi saja yang terdapat tiket masuk maksimal 25 ribu.
 
Candi apa yang paling jauh yang pernah dikunjungi ?

Jika ditarik garis lurus dari rumah saya, Candi Borobudur dan Candi Mendutlah yang paling jauh. Saya belum pernah mengunjungi candi lain lebih jauh dari dua candi itu.
Candi Mendut, sementara ini candi terjauh yang saya kunjungi
Candi apa yang paling dekat yang pernah dikunjungi ?

Candi Badut adalah candi yang paling dekat dengan rumah saya. Jaraknya hanya sekitar 2,5 km dari rumah. Untuk mencapainya, saya hanya perlu melewati dua buah lampu merah. Candi ini adalah satu-satunya candi yang berada di teritorial Kota Malang. Tepatnya, di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Tak jauh dari Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (UB).

Kata ibu saya, dulu beliau sering sekali berjalan kaki dari rumah ke candi ini. Kalau saya? Naik motor aja deh.

Candi Badut dengan latar belakang Gunung Arjuno. Candi ini yang paling dekat dengan rumah
Candi apa yang paling sering dikunjungi?

Meski Candi Badut paling dekat, namun Candi Singosarilah yang sering saya kunjungi. Candi ini sering saya kunjungi karena saya memiliki saudara yang rumahnya tak jauh dari candi. Jadi, sekalian mampir. Candi ini juga memiliki akses paling mudah karena hanya beberapa meter dari Pasar Singosari. Hampir tiap bulan, saya menyempatkan diri ke sini.

Candi Singosari, candi yang paling sering saya kunjungi
Candi apa yang tidak ingin dikunjungi lagi?

Meski saya suka candi, ada beberapa candi yang ternyata saya tak ingin mengunjungi lagi. Candi yang pertama adalah Candi Kidal. Candi ini berada di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Masih satu rangkaian peninggalan Kerajaan Singosari. Alasan saya tak mau lagi ke sini adalah ada peternakan ayam di sekitar candi ini. Bau ayam dan kotorannya sangat menyengat. Malangnya, saya tak suka bau ayam dan segala rupanya. Padahal, candi ini memiliki taman terbaik karena cukup luas dan simetris. 

Alasan lain, untuk mengunjungi candi ini, jalan yang harus saya lalui cukup nanggung. Ada jalan pintas namun kondisinya rusak, sepi, dan merupakan daerah rawan begal. Jalan lainnya, saya harus memutar berpuluh kilometer sebelum mencapai ke candi ini.
Candi Kidal
Candi lainnya yang tidak ingin saya kunjungi lagi adalah Candi Borobudur. Alasannya, candi ini terlalu ramai bagi saya yang yang tak suka keramaian. Ketika saya mengunjunginya, saya tak bisa mengeksplorasi lebih banyak. Mau lihat relief ada orang narsis. Mau bergerak susah karena banyaknya pengunjung. Mungkin waktu kunjungan saya tidak pas karena selalu berbarengan dengan libur sekolah. Kalau ada waktu, bolehlah menjejaki candi ini lagi. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. Makanya, ketika saya ke Magelang/Jogja, saya tidak memasukan Candi Borobudur ke dalam daftar kunjungan.
Candi Borobudur yang super ramai
Daerah mana saja yang banyak Candinya?
Sleman adalah daerah yang paling banyak candinya. Makanya, saya pernah menulis artikel berjudul “Sleman Sembada, Nikmat Candimu Meruah di Mana-mana”. Kalau ke Jogja, rugi kalau tak menapaki candi-candi di Sleman. Bukan hanya Candi Prambanan saja, tapi Sleman punya aneka rupa candi dan situs purbakala. Yang saya suka, jarak antara satu candi ke candi lain sangat dekat. Bahkan, beberapa diantaranya tinggal meyeberang jalan. 

Favorit saya
Ini juga favorit
Candi apa yang paling bagus untuk berfoto?
 
Semua candi memiliki kekhasan masing-masing. Punya spot foto yang unik. Tapi, saya paling suka Candi Ijo di Sleman. Candi di atas bukit ini paling asyik. Kita bisa lihat sunset di sana, plus pemandangan Kota Jogja dari atas. 


Suka juga foto di sini
Candi apa yang paling “wingit”?
 
Kata orang, kita harus menjaga sikap ketika berada di candi. Iya, saya setuju karena ini adalah tempat suci agama Hindu dan Buddha. Tapi, kalau berbicara masalah mistik, bisa dibilang percaya dan tidak. Namun, bagi saya, Candi Banyunibo di Sleman adalah yang paling sepi. Candi ini berada di ujung sebuah jalan sebelum berakhir dengan hutan belantara. Ketika saya di sanapun, tak ada petugas jaga. Tak ada pengunjung. Apalagi orang jualan. Gak tau ya kalau sekarang. 

Candi Banyunibo
Candi apa yang paling berkesan?
 
Perjalanan ke Candi Bangkal adalah perjalanan paling epik, paling melelahkan, dan paling berkesan. (Bisa dibaca di sini). Candi ini baru bisa saya temukan setelah lelah berjalan mencari hampir sejam. Berada di tengah sawah, tak banyak penduduk sekitar tahu, dan tak ada petunjuk jalan. 

Perjalanan ke Candi Barong juga berkesan. Abang ojek yang mengantar saya sampai terengah-engah karena sulitnya medan. Padahal, medan yang harus kami lalui ada yang lebih mudah. Tapi, dari perjalanan ini, saya menemukan potret kemiskinan di DIY secara langsung.

Candi Barong
Pelajaran apa yang bisa diambil dari kunjungan ke candi-candi?
 
Banyak sekali. Selain belajar sejarah masa lalu, kadang saya juga bangga karena bangsa kita bisa lho membangun banyak candi seperti ini. Tak hanya itu, saya bisa belajar keunikan candi-candi, terutama perbedaan mendasar candi Jawa Timuran yang memiliki tubuh ramping dan candi Jawa Tengahan yang memiliki tubuh gemuk.

Saya juga sering mendapat hubungan asyik antara kehidupan masa lampau dengan kehidupan sekarang di daerah sekitar candi. Dari sini, saya merasa keterikatan ruang dan waktu itu kadang bisa secara jelas terjadi. Hanya saja, kita sering tidak menyadarinya.

Candi Jawa Tengahan (kiri) dan Jawa Timuran (kanan)
Jika ada kesempatan, candi apa yang ingin dikunjungi ?
 
Banyak. Namun, target saya yang utama adalah Candi Gedung Songo di Ungaran. Saya ingin sekali merasakan sensasinya. Kompleks Candi Dieng juga belum saya tapaki. Ratusan ceceran candi dan arca di jalur pendakian Gunung Penanggungan juga ingin saya sapa. Kalau tak, peninggalan candi Kerajaan Sriwijaya juga ingin saya lalui. Semoga saja ada kesempatan.

Candi utama target jalan-jalan saya. (http://infojalanjalan.com)
Apa harapan untuk candi-candi ke depannya?
 
Satu hal utama, harapan saya adalah peninggalan candi dan sejarah lainnya tidak terlupakan. Semakin banyak orang yang peduli terhadap pelestariannya. Saya sering  miris ketika ada teman bertanya letak suatu candi yang sebenarnya dekat dengan mereka. Saya tidak berharap candi menjadi tujuan utama wisata. Namun, jika banyak yang tidak peduli, maka sangat disayangkan candi akan semakin termakan usia dan terabaikan.
Previous
Next Post »
10 Komentar
avatar

Loh,,,aku malah juga suka berkunjung ke candi2,,,pantai bikin item wkkk,,dan candi sarat dengan unsur budaya dan sejarah,,, aku juga kurang suka candi borobudur,,,ramai banget bener kata kamu :) aaah jadi pengen ke candi singosari lagi :(

Balas
avatar

Salam sebagai sesama pemerhati situs purbakala. :D

Saya masih punya PR keliling candi di Malang. Baru Candi Singosari yang sudah. Candi Badut sama Candi Kidal belum.

Balas
avatar

belum berkesempatan berkunjung ke candi lagi,karena trauma ketika ke candi borobudur membludak pegunjung kayak orang demo,mungkin alasan itu yang membuat usang jarang mengunjungi candi.padahal dengan mengunjungi candi bisa mengetahui sejarah peradaban rakyat indonesia jaman dahulu

Balas
avatar

Kl ke borobudur jgn diatas jam 7 pagi haha, para selfish queens udah pada mulai beraksi. Kmrn aku ksna, nguber sunrise sama suami sama temennya, kita berempat pada asik muterin liat sambil mikir, sambil mau ambil poto candinya ehhh tetiba para selfish menyerang 😂😂

Udah pernah ke candi selogriyo mas? Menuju kesananya asoi bgt dah. Padal candinya kecil dan ga begitu buagus bgt sih, tp lokasinya keren

Balas
avatar

pertanyaan yg muncul hampir sama mas. sering terheran-heran sama proses pembangunan candi yang menurut saya sangat rumit dan detail itu.

di malang banyak candi juga ternyata, baru tahu hehe. tapi kayaknya ngga begitu jadi objek wisata andalan ya mas? yang sering muncul di iklan-iklan / poster kebanyakan wisata alam di malang setauku

Balas
avatar

Aku suka pantai.. Gak suka gunung. Tapi suka candi dan museum juga. Tapi sayangnya partner travel aku gak suka wisata sejarah. Gak asik kalau sendirian. Gak ada kawan diskusi. hiks..

Btw, aku juga udah gak mau ke candi borobudur. Ruameeee banget

theamazingjasmi.com

Balas
avatar

Wah saluttt, jarang-jarang lho orang suka wisata candi apalagi anak muda.
kalo aku kok ga kapok ya ke Borobudur he3 sebab belum ajak anak-anakku ke sana.

Balas
avatar

Wah pengalamannya banyak sekali....candi sojiwan jangan lupa dikunjungi mas kalo ke jogja...eh masuk klaten dink...

Balas
avatar

list candinya bisa dibuat referensi nih untuk dikunjungi. Saya juga suka ke candi untuk belajar sejarahnya. Keren banget nih tulisannya mas.
Saya bookmark dulu deh

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!