Pantai di Malang Selatan Bagus, Cuma.................(Bagian 5-Habis)

Dulu, sebagai warga Malang dan mungkin kebanyakan orang, saya hanya mengenal 3 pantai yang ada di Malang : Balekambang, Sendang Biru, dan Ngliyep



Kalau mau ke pantai, ya cuma ke situ-situ saja. Ditambah lagi satu pantai yakni Kondang Merak yang pernah saya inapi ketika SMA. Padahal, kalau saya iseng dan kepo buka atlas Provinsi Jawa Timur, wilayah Kabupaten Malang itu luasnya minta ampun. Setelah agak pinter bisa mengakses Wikipedia, saya baru tau kalau Kabupaten Malang itu adalah kabupaten dengan wilayah nomer dua terluas di Jawa Timur dan memiliki panjang garis pantai sebesar 77 km. Melintasi 6 kecamatan, yakni Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Ampelgading.

Dengan panjang garis pantai sepanjang itu, maka seharusnya wilayah ini memiliki pantai yang banyak juga. Tak hanya itu-itu saja. Memang, saya sering mendengar ada pantai A, pantai B, dst., Tapi, dari kabar-kabar yang saya dengar, akses untuk menuju ke sana sangatlah sulit. Butuh perjuangan ekstra menaiki dan menuruni bukit. Menerjang jalan berliku dan berbatu. Belum lagi kalau hujan, rasanya gak bakal mungkin ke sana.

Hingga tibalah, saat ada sebuah proyek maha besar bernama pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS). Proyek yang membentang antara Kabupaten Pacitan hingga Kabupaten Banyuwangi sepanjang 600 kilometer. Yang asyik, wilayah Kabupaten Malang masuk di dalamnya. Jadi, mau gak mau, suka gak suka, wilayah ini terkena imbas pembangunan tersebut. Yah namanya kena imbas pembangunan untuk masa depan, ya rugi dong kalau ditolak. Makanya, sejak tahun 2002, proyek ini sudah mulai dikerjakan. Dalam masa pengerjaannya, banyak kendala yang harus dihadapi, terutama masalah klasik : pembebasan lahan.

Alasan itulah yang menyebabkan hingga sekarang, proyek JLS ini belum juga rampung. Di Malang Selatan sendiri, proyek yang sudah bisa dinikmati adalah jalur dari Pantai Sendang Biru hingga Pantai Balekambang. Jalur ini membuka banyak pantai yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Padahal, sejak dahulu kala, saya tak punya kepikiran untuk menjelajah pantai-pantai tersebut. Masih dengan alasan klasik : jalan sulit.



Nah, selepas perjalanan terakhir ke Pulau Sempu tahun 2012, saya seperti turis asing saat menjelajahi JLS tersebut. Saya bisa berkata : Wow, keren. Iya keren lho, saya gak kepikiran kalau pantai-pantai yang mustahil saya kunjungi, kini bisa dengan lebih mudah dan asyik untuk didatangi. Kini banyak wisatawan yang mulai berdatangan dan saya bisa mengatakan kepada teman-teman, orang-orang, dan masyarakat luas : Ayo ke Pantai Malang, ayo ke sini, kalian gak bakal rugi!

JLS yang mulus
Saya menjadi semangat untuk mengenalkan lebih jauh lagi potensi wisata di sini. Saya tahu, saya bukan duta wisata yang bisa show off dadah-dadah sambil berselempang dan berkata panjang lebar di setiap even. Meski begitu, saya tak bisa terus melihat saudara saya dari Malang selatan yang miskin dan tertinggal. Merantau di wilayah kota dan terseok-seok untuk mencari sesuap nasi. Menjadi penjual bakso, pangsit mie, jadi juru parkir, dan sebagainya. Apalagi, beberapa desa di sana dikenal sebagai desa pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terbesar di Jawa Timur. Beberapa diantara mereka mungkin pernah kita saksikan kematian tragisnya di layar kaca. Ibu saya yang pernah bekerja 15 tahun sebagai guru di Kecamatan Tirtoyudo menyaksikan sendiri bagimana tertinggalnya wilayah itu. Miris kan?

Pantai-pantai indah itu ada di pinggir jalan

Dengan pembangunan  JLS ini, kini perekonomian Malang Selatan mulai menggeliat. Ribuan foto instagramabel berlatar belakang pantai-pantai Malang Selatan di diunggah. Ribuan masyarakat berduyun-duyun ke sana. Sepeda motor, mobil, mikrolet, minibus, dan bus mulai memdati jalur tersebut. Hanya sayang, menurut saya, kawasan wisata ini masih perlu banyak pembenahan.

Pembenahan tersebut antara lain yang pertama, akses beberapa pantai sangat sulit. Memang, beberapa pantai berada tepat di tepi jalan raya. Namun, masih banyak pantai yang membutuhkan perjuangan ekstra untuk menempuhnya. Jalan yang harus dilalui masih bergelombang dan berlumpur saat hujan tiba.

Sebuah truk pengangkut batu di Pantai Ngudel sedang mengangkut batu hasi pengerukan bukit untuk pembangunan jalan

Kedua, akses menuju JLS dari wilayah kota yang juga perlu perhatian. Selama ini, ada dua jalur utama yang bisa dilwati, yakni melalui Kecamatan Bantur dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Jalur melalui Bantur yang menuju Pantai Balekambang adalah jalur yang lebih mudah, namun sempit dan sering terjadi kemacetan karena tak sanggup menampung aneka kendaraan, terutama bus-bus pariwisata berukuran besar. Jalur Sumbermanjing Wetan relatif sepi namun jalan tersebut banyak yang rusak dan berbahaya karena melintasi beberapa bukit terjal. Sering sekali terjadi kecelakaan di jalur tersebut.

Ketiga, masih minimnya fasilitas bagi wisatawan seperti keberadaan pom bensin. Fasilitas pom bensin ini paling dekat adalah di sekita kota kecamatan. Padahal, jaraj JLS ke kota kecamatan cukup jauh. Ada memang beberapa penjual bensin di tepi jalan, tapi itu tak terlalu banyak. Fasilitas penginapan juga masih jarang.

Keempat, belum adanya integrasi untuk menunjang wisatawan mengunjungi beberapa pantai tersebut. Artinya, wsiatawan harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa menikmati pantai-pantai tersebut. Satu pantai dipatok pintu masuk sebesar 10.000 per orang. Belum lagi biaya parkir sebesar 5000. Jadi, kalau ada yang minat seperti saya mengunjungi pantai-pantai tersebut, maka kocek yang harus saya keluarkan harus banyak. Mungkin, pengelola pantai-pantai tersebut bisa memberikan alternatif seperti tiket terusan. Cara ini mungkin bisa menjadi upaya untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi.

Kelima, dengan bertambahnya kunjungan wisatawan, maka potensi untuk menghasilkan sampah juga semakin banyak. Kalau sudah begini, pantai yang bersih dan indah akan tercemar. Nah, upaya meminimalisir sampah seperti yang dilakukan pengelola Pantai Clungup-Gatra mungkin bisa diterapkan di semua pantai. Gak asyik kan kalau banyak sampah di mana-mana?

Keenam, ini yang juga sering menjadi kesulitan, yakni letak pantai selatan yang jauh dari Kota Malang membuat banyak wisatawan cukup kesulitan menuju pantai-pantai tersebut jika mereka tak membawa kendaraan pribadi. Tak ada angkutan umum untuk menuju ke sana. Dari Kota Kecamatan Bantur, maka harus naik ojek untuk bisa sampai ke pantai. Harganya? Yah say tak bisa menjamin.

Pemkab Malang sebenarnya pernah menyediakan dua bus gratis dari Kota Kepanjen untuk menyusuri pantai-pantai tersebut. Entah busa tersebut masih ada atau tidak karena saya belum menghubungi pihak terkait. Nah, saya rekomendasikan sambil promosi, ada jasa ojek wisata dari Kota Malang untuk menyusuri pantai-pantai tersebut. Layanan ini bisa kita nikmati selama 24 jam. Jadi, kalau ada yang ingin menginap dan sedang jalan-jalan sendirian, bisa dijadikan alternatif. Harganya murah hanya 135 ribu, tapi belum termasuk bensin dan tiket masuk. Bensin yang dibutuhkan yah paling-paling sekitar 25 ribu. Bisa dicoba lho.

Sponsor sponsor....


Oke, inilah bagian akhir dari catatan saya mengenai Pantai di Malang Selatan. Karena keterbatasan saya, tak bisa semua pantai saya tulis. Semoga bermnafaat bagi anda yang ingin berwisata ke Malang.

Ayo nang Malang rek, gak rugi awakmu rene. Sumpah!
Previous
Next Post »
14 Komentar
avatar

kalau mau ke tempat yang indah harus pake perjuangan doooong... >.<

eh hayuks kalau mau ke jember, bisa ketemuan, kita meet up ya ntar >.<

Balas
avatar

Malang emang ngengenin, banyak tempat wisatanya dan makanannya juga enak enak. aku jadi kangen Malang euy!

Balas
avatar

pemandangan pantainya elok tenaaan *matalope

Balas
avatar

Ya kalau masalah sampah itu ada dimana-mana, apalagi daerah wisata
untuk mengatasi ini butuh kesadaran setiap individu dan kerjasama pihak terkait, seoerti menyediakan tempat sampah
tapi kembali lagi mungkin ada biaya tambhan untuk kebersihan hehe

Balas
avatar

wih, keren nih pantainya... foto pantainya bikin pengen main ke sana, hehe itu ada orang2 di belakang yg di bawah pohon sepertinya seger bgt xD

eh, btw itu jasa ojeknya 135rb itu untuk sepuasnya kah?

Balas
avatar

Pemandangan yang joss sekali broo....

Balas
avatar

Saya juga bermaksud menjelajahi pantai dan kuliner ,malang nanti pas pulang dari Jerman. Dan kabar tentang JLS ini amat sangat mencerahkan. Karena dulu waktu ke Sendang biru, bajul mati, sempu, jalannya,,,alamakkk :D

Balas
avatar

iya sepakat mbak, tapi kasian juga kalo liat emak2 gitu hehe
hayuuuk nnati aku liat dulu ya klo jadi (maklum artis sibuk hehe)

Balas
avatar

ayo mas ngalup trus ladub dulin,.....

Balas
avatar

nah itu mbak, makanya harus usaha berkesinambungan...

Balas
avatar

segeeer mas, enak deh ayo ke sini
iya mas 24 jam, asyik kan? monggo diorder...

Balas
avatar

wah ayo mbak, ndang ngalupppp

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!