Menikmati Restorasi Jalan Tunjungan; Menikmati Sisa Guyubnya Orang Surabaya

“Tak enteni ndek Food Courte TP. Awas, ojok sampek kesasar, aku selak kesusu”
("Tak tunggu di Food Courtnya TP (Tunjungan Plaza). Awas, jangan sampai tersesat. Aku sudah keburu”)




Sebuah pesan dari teman lama masuk di WA ketika saya naik Gojek dari Food Junction Grand Pakuwon menuju Tunjungan Plaza. Saya menatap pesan itu dengan rasa bimbang. Memang, saya senang bertemu dengan kawan les keyboard yang sudah hampir beberapa tahun tak bertemu. Tapi, entah kenapa, tempat pertemuan kami adalah salah satu tempat yang tidak terlalu saya suka. Tunjungan Plaza.


Saya pun bergegas menuju TKP pertemuan kami. Dan, entah mengapa, saya kembali berdecak kagum. Plaza terbesar di Surabaya itu seperti sedang menggelar ritual ibadah haji. Penuh sesak. Di tiap lantai, orang –orang sedang “tawaf”. Sibuk menikmati dunianya. Bersuka ria. Tanpa ampun, tanpa sadar bahwa mereka sedang berada di satu tempat. Saya merasa terasing ketika berada di sana. Tak ada sesuatu yang menggairahkan. Hampa. Untunglah, saya segera bertemu rekan saya tanpa tersesat. Prestasi yang cukup luar biasa bagi saya. Tak tersesat di Tunjungan Plaza.

Selepas bernostalgia, saya pun merenung. 
Apakah ini Surabaya yang sesunggunya? Atau hanya memang tempat seperti Tunjungan Plaza membuat orang Surabaya kehilangan guyubnya?

Esok paginya, saya mencoba mencari sisi lain Tunjungan Surabaya. Berbekal uang beberapa lembar ribuan, saya mencoba mematikan koneksi internet dan hanya menggunakan kamera telepon seluler. Saya ingin mencari Surabaya yang tak hanya menonjolkan sisi hedonisnya. Meskipun, saya tahu, tempat yang akan saya tuju adalah pusat ekonomi Surabaya.

Langkah saya mula-mula menuju Jalan Embong Brantas. Ah hujan gerimis sedang turun rupanya. Turunnya gerimis rupanya tak menyurutkan semangat saya. Apalagi, di dekat hotel JW Marriot Surabaya, sekelompok anak sedang asyik bermain bola. Di sisi kanan trotoar, mereka seakan menikmati Surabaya di pagi hari. Tanpa peduli, tempat di sekitar mereka akan berdenyut hedonisme segala rupa.



Saya lalu menyeberang jalan menuju arah Jalan Tunjungan. Di sini, saya melihat ada sebuah warung soto yang cukup banyak pengunjungnya. Tak hanya satu dua, tapi puluhan. Dan banyak dari mereka mamarkir mobilnya di depan warung mungil itu. Saya pun lantas masuk. Ternyata, kursi di tempat makan ini hampir terisi semua. Hingga ada salah seorang rombongan memanggil saya untuk bergabung dengan mereka karena ada satu kursi kosong. Saya pun bergegas duduk. Kami lalu berbincang akrab. Ternyata, mereka adalah mantan penghuni kampung di Jalan Embong Malang ini yang kini menetap di Makassar. Keberadaan mereka hanya ingin sedikit bernostalgia dan mengenang kembali kejayaan Jalan Tunjungan yang terkenal sejak dahulu kala.

Warung Soto yang terkenal itu


Selepas makan, saya kembali melanjutkan jejak langkah saya. Mula-mula, saya menuju persimpangan Jalan Tunjungan dan Jalan Embong Malang. Sejenak, saya menikmati gerimis pagi itu di samping Gedung Monumen Pers. Gedung yang menjadi sejarah lahirnya kantor berita Antara ini masih kokoh berdiri. Meskipun catnya sedikit kusam, tapi bagi saya kekhasan bangunannya masih terjaga. Lalu, saya mencoba membaca kisah masa lalu ketika para penggiat pers mencoba sekuat tenaga menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Meskipun, saya tahu. Usaha pemberitaan yang mereka lakukan dibayang-bayangi oleh intimidasi penjajah. Lalu, saya menerawang dengan berbagai pemberitaan sekarang yang semakin lama semakin memecah bangsa. Ah, entahlah, saya masih ingin menikmati Jalan Tunjungan lagi.

Salah satu sisi Gedung Monumen Pers
Jejak langkah saya lalu terhenti di sebuah hotel yang beberapa bulan lalu kisahnya telah saya ceritakan kepada murid-murid saya. Ya, apalagi kalau bukan Hotel Majapahit, alias Hotel Yamato, alias Hotel Oranye. Kisah heroik arek-arek Suroboyo yang merobek warna biru bende Belanda dan sehingga berkibarlah sang saka merah putih kembali saya tapaki. Peristiwa yang terjadi 19 September 1945 silam ini tergambar jelas pada bangunan hotel yang masih memertahankan langgam arsitektur Art Nouveau pada interiornya ini. Saya kembali merasakan guyubnya orang Surabaya yang tak memandang bulu dari mana ia berasal yang penting bendera Belanda tak lagi berkibar.

Hotel Majapahit dengan kisah yang heroik itu


Kembali kaki saya berjalan setapak demi setapak. Perjalanan saya terhenti ketika ada sepasang suami istri yang menyapa saya. Mereka dengan ramah memberikan senyuman khasnya. Untuk membalas sapaan mereka, saya sejenak bertanya.
“Badhe ten pundi, Pak, Bu?” (mau ke mana Pak, Ibu?)
“Iki lho mas. Mek mlaku-mlaku sediluk. Mumpung prei” (Ini lho., Mas. Cuma jalan-jalan sebentar), kata sang Bapak. Saya pun tersenyum dan pamit diri. Meskipun remeh, tapi sungguh, saya sangat bahagia mendapat sapaan itu.

Lagi-lagi, saya berhenti sejanak. Kali ini, saya mendapati sebuah bangunan bergaya eropa bertuliskan Anno 1912. Ah tulisan ini lagi. Bangunan milik Rabbobank ini juga masih terihat cantik. Meskipun ada sebuah mesin ATM di salah satu sudut bangunannya, tapi perpaduan antara dua bangunan lintas generasi itu terlihat ciamik.

Gedung Rabbobank dan pasutri yang saya temui

Menikmati Geudng rabbobank dari dekat

Baik, satu jepretan sudah cukup. Saya lalu memutuskan menyeberang jalan ketika melihat pelican crossing di bagian tengah Jalan Tunjungan. Keputusan saya ini ternyata cukup tepat. Hujan kembali turun dengan cukup deras. Di sisi lain Jalan Tunjungan yang baru saya seberangi banyak pertokoan yang memiliki atap penutup bagi pejalan kaki. Saya bisa berteduh sambil tetap melanjutkan perjalanan.

Perjalanan saya berakhir di sudut persimpangan Jalan Tunjungan dan Jalan Genteng. Ada sebuah bangunan besar dengan kubah cantik menghiasi bagian atasnya. Ah inikah Gedung Siola itu? Ternyata dugaan saya tepat. Gedung yang menjadi saksi kejayaan Jalan Tunjungan ini tetap berdiri kokoh. Dengan cat putih yang masih terlihat baru, gedung ini menjadi batas akhir Jalan Tunjungan. Sebuah monumen seorang pejuang mengepalkan tangan terlihat gagah. Di sinilah, para pejuang Surabaya menjadikan basis perlawanan terhadap sekutu. Tempat ini menjadi benteng terakhir arek-arek Suroboyo.

Gedung Siola, di sinilah keramaian Jalan Tunjungan dimulai


Selain kisah heroik Arek-arek Suroboyo, Gedung Siola juga menjadi saksi bisu keguyuban Orang Surabaya, terutama kegiatan ekonomi di daerah Tunjungan ini. Gedung yang semula milik pemodal asing berkebangsaan Inggris bernama Robert Laidlaw ini menjadi titik awal Jalan Tunjungan sebagai pusat ekonomi. Jauh sebelum hedonisme Tunjungan Plaza merengkuh keguyuban orang Surabaya, Gedung Siola menjadi titik kumpul pembeli dan penjual yang sangat hidup dengan aktivitas tawar menawar. Ramainya pedagang kaki lima kala itu di sekitar gedung ini membuat Jalan Tunjungan semakin ramai dan terkenal. Sayang, Mall demi Mall yang kini berdiri membuat gedung itu menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1998. Tak ada lagi aktivitas ekonomi yang begitu guyub.







Akhirnya, perjalanan saya harus saya sudahi. Proyek restorasi Jalan Tunjungan oleh Pemerintah Kota Surabaya pada akhir 2015 silam, bagi saya cukup sukses. Saya bisa melihat dengan langsung sisa keguyuban orang Surabaya yang sering diceritakan almarhum kakek saya. Semoga, sisa keguyuban ini masih terus bertahan di tengah arus hedonisme warga kota yang merajalela.
Previous
Next Post »
16 Komentar
avatar

Asyik ya bisa main-main nyusuri jalan kota.

Balas
avatar

iya mas, main-main di jalan kota memang mengasyikkan :)

Balas
avatar

Bangunan dan jalan yang mempunyai nilai sejarah memang harus dilestarikan, salah satunya dengan direstorasi. saya salut dengan Surabaya, masih banyak bangunan lama yang terpelihara.

Balas
avatar

benar mas, surabaya sudah mulai sadar bangunan ebrsejarahnya harus dijaga. Semoga Malang bisa mengikuti jejaknya ya

Balas
avatar

pernah kesana kak tp pas malam hari

Balas
avatar

wah saya malah belum pernah pas malam hari, katanya ada wisata kuliner di sana mbak

Balas
avatar

Tunjungan berubah makin manja, eh soto itu pernah ngetop pada jaman nya tapi kayak nya mulai sepi yaaa ??? kapan lalu aku makan disana sepi

Balas
avatar

manja banget mas haha
ramenya kayaknya pagi mas, saat orang2 butuh kehangatan dan lapar 😂😂

Balas
avatar

Hotel majapahit itu favoritku mas, sukak bgt sama ini hotel. Bener2 aromanya masih londo banget. Ini sepanjang jalan situ udah direstorasi, soalnya pas si mas dtg beberapa bulan yg lalu ngomel2 krn nggak rapi, skrg udah cantikan dan dia muji2 gara2 udah direstorasi.

Ah jadi kangen dan pnsran gmn rasanya hidup di jaman bebebrapa puluh taun lalu hoho

Balas
avatar

iya saya juga fav banget apalagi ceritanya heroik banget mbal
hehehe iya, saya jg pangling, awal 2016 dulu masih jelek banget, msh kayak kumuh gitu sekarang kinclong deh

yang pasti asyik mbak, soalnya di sana, kata mbah saya, guyub sekali.

Balas
avatar

Kayaknya emg iya sih, soale aku pernah nginep dirumah neneknya tmenku daerah sana dan itu emang guyub bener

Balas
avatar

Pemerintah Surabaya sukses ya merestorasi berbagai tempat di seputar Tunjungan ini. Bagus2 deh bangunannya. Surabaya kudu guyub nih menjaga kecantikan kotanya.

Balas
avatar

iya ini yang diharapkan, biar surabaya yg asyik bisa kembali mbak

Balas
avatar

Sering sekali lewat sini. Tapi biasa saja.
Dan setelah baca tulisan pak Ikrom ini, kenapa suasananya jadi syahdu ya hehe.
Pernah ikut car free day di jalan tunjungan, rehat di daerah hotel Majapahit itu. Tidak sadar bahwa hotel itulah Bung Tomo meletup semangatnya.

Surabaya memang bukan Malang yang menawan pemandangan alamnya, tapi dia eksotis dengan caranya sendiri. Surabaya dan sisa peradabannya :)

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!