Haru Biru Perpisahan SD di Kaki Gunung

Mari kita laksanakan wajib belajar

Putra-putri tunas bangsa harapan negara

Wajib blajar cerdaskan kehidupan bangsa

Tuk menuju masyarakat adil sejahtera





Suara nyanyian lagu Wajib Belajar menggema di halaman sekolah. Ya, itulah semangat siswa-siswi kelas 6 sebuah sekolah dasar yang baru saja dilepas. Beberapa saat lalu saya berkesempatan untuk menjadi bagian acara sebuah sekolah yang terletak di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Sekolah ini berada tepat di kaki gunung, tepatnya di sebelah selatan Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. SDN Jogomulyan 1, nama sekolah tersebut kali ini berhasil meluluskan siswa-siswinya.

Bukan perkara mudah untuk mencapai lokasi sekolah ini. Perlu waktu sekitar 2,5 jam dari pusat Kota Malang, tempat tinggal saya. Apalagi, dari Kota Kecamatan Tirtoyudo, masih perlu waktu 30 menit untuk sampai di lokasi acara. Suasana segar dipadu dengan indahnya pemandangan menjadi obat tersendiri untuk mengatasi rasa kejenuhan dalam perjalanan. Sesekali, mobil pengangkut hasil bumi penduduk sekitar saya temui. Daerah ini memang dikenal sebagai penghasil kopi, pisang, dan kelapa yang cukup terkenal, tidak hanya di daerah Malang Raya namun juga di berbagai kota di Indonesia.


Jalan menuju desa


Suasana Desa Jogomulyan




Hidup di daerah terpencil bukan menjadi alasan untuk tidak memajukan pendidikan. Itulah yang bisa ditangkap dari pesan acara Pelepasan Siswa Kelas 6 kali ini. Pihak sekolah bekerja sama dengan perangkat desa serta masyarakat setempat bahu-membahu menyukseskan acara ini. Tahun ini pihak sekolah sengaja mengadakan acara perpisahan cukup meriah. Selain sebagai apresiasi kepada siswa Kelas 6 yang telah lulus dengan nilai memuaskan, acara ini juga dilakukan untuk mendorong masyarakat agar peduli terhadap pendidikan, terutama dalam meyukseskan program wajib belajar.

Suasana latihan paduan suara

Sejak beberapa hari sebelumnya, mereka telah mempersiapkan diri. Mulai dari latihan menyanyi, menari, hingga merias wajah. Untuk merias wajah karena lokasi tempat tinggal yang cukup jauh dari sekolah, para siswi tak segan menginap di rumag guru mereka, yang tak jauh dari sekolah. Acara menginap di rumah sang guru juga dijadikan ajang untuk mengenang masa lalu, meniti masa depan, dan menjalin keakraban bersama.



Banyak pihak yang turut hadir, antara lain Kepala Desa, Perangkat Desa, wali murid, serta beberapa tokoh masyarakat. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menekankan agar siswa-siswi meneruskan pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi. Pesan Kepala Sekolah ini memang terdengar angin lalu, terutama bagi kita yang tinggal di kota. Tapi, bagi masyarakat di sana, meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah perkara mudah. Hanya ada satu SMP yang ada di daerah tersebut. Untuk pendidikan setingkat SMA/SMK, hanya ada satu buah SMK swasta di Kota Kecamatan. Jika siswa ingin meneruskan ke sekolah lain, maka harus meneruskan ke Kecamatan Dampit atau Turen yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tersebut. Maka dari itu, beberapa tahun yang lalu, banyak lulusan SD ini tidak meneruskan sekolahnya. Selain alasan lokasi dan biaya, alasan lain seperti menikah, mengelola ladang, dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia menjadikan pendidikan hanya maksimal sebatas SMP. Padahal, daerah ini masih perlu putra-putri terbaik untuk memajukan daerahnya, terutama di bidang pertanian.


Setelah berbagai sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi pelepasan siswa. Siswa-siswi kelas 6 naik ke panggung dan menyanyikan lagu-lagu bertema pendidikan seperti Hymne Guru, Terimakasihku, Syukur, Wajib belajar, dan Auld Lang Syne. Suasana haru langsung menyelimuti mereka. Tak pelak, isak tangis langsung pecah saat tembang-tembang tersebut dinyanyikan, terutama saat tembang Auld Lang Syne. Ada pertemuan pasti ada pula perpisahan. Di balik rasa haru itu, terselip tekad yang kuat untuk terus menuntut ilmu. Hingga mereka bisa berguna bagi nusa dan bangsa, terutama bagi desa mereka.



Pidato perwakilan siswa Kelas VI




Acara pun ditutup dengan makan bersama.Yang unik, konsumsi untuk acara makan bersama semua berasal dari wali murid. Setiap siswa diharapkan membawa pithik ingkung (satu ekor ayam untuh) dan masakan lainnya yang ditempatkan di dalam baskom. Wali murid merasa sangat senang anaknya bisa lulus dan tampil di acara perpisahan sehingga sebagai rasa syukur rela memasakkan masakan untuk anaknya. Acara perpisahan ini pun bak selamatan nikahan yang meriah.





Itulah sekilas menganai acara perpisahan sebuah sekolah dasar di kaki gunung. Semoga mereka sukses dalam pendidikannya, juga bagi seluruh anak Indonesia. Sekian, salam.
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!