Saat Kopyahku seperti Kippah

Tidak hanya kaum muslimah yang kadang-kadang memiliki tren hijab, kaum muslim juga sering mengalami tren penutup kepala (peci/kopyah/sorban).






Meskipun rambut bukan merupakan aurat bagi seorang muslim (pria), namun menutup kepala dengan sesuatu saat ibadah, terutama shalat adalah sebuah anjuran. Fungsi penutup kepala ini sebenarnya adalah sebagai penjaga sujud saat shalat agar tetap mengikuti syariat yang telah ditentukan agama. Saat sujud, ada 7 bagian tubuh yang harus menyebtuh lantai. Salah satunya adalah kening. Bagi seorang pria, terutama yang berambut panjang, penutup kepala digunakan untuk menjaga agar rambut tidak menutupi kening. Jika rambut menutupi kening, maka shalat seorang muslim tersebut diragukan kesahihannya. Inilah fungsi penting dari penutup kepala.

Sebenarnya banyak sekali model penutup kepala. Kalau biasanya digunakan para wali dan kyai seperti sorban itu tidak pernah saya gunakan. Bukan apa-apa sih, saya rasa ilmu agama saya belum mumpuni untuk memakai sorban, hehe. Dari kecil saya selalu memakai model kopyah/peci model nasional. Yang berwarna hitam dan sering digunakan dalam acara non-keagamaan. Kopyah model ini memang bersifat nasional. Semua Presiden RI (kecuali Megawati tentunya) menggunakan kopyah ini pada acara resmi kenegaraan. Selain itu, kopyah model ini juga sering digunakan sebagai seragam sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Jadilah kopyah model ini selalu saya kenakan sejak kecil.

Namun menginjak masa remaja, saya jadi kurang suka menggunakan model kopyah ini. Selain kadang-kadang kekecilan atau kebesaran, kopyah model ini membuat gerah, terutama jika digunakan dalam waktu lama seperti saat sholat jumat. Saya sering sekali merasa tak nyaman saat mendengarkan khutbah, terutama kalau rambut saya mulai panjang. Acara garuk-garuk kepala dan keringat yang keluar menjadi acara yang senantiasa terjadi. Ujung-ujungnya, menggaggu ibadah saya. Tak hanya itu, model kopyah ini harus sering dicuci. Kalau tidak baunya minta ampun.

Lalu saya beralih ke model kopyah yang biasa dipakai Ustad Solmed. Saya suka model koyah itu karena tidak cepat membuat gerah. Selain itu, pilihan warna yang banyak dan bisa disesuaikan dengan baju takwa juga menjadi nilai plus. Namun kopyah model ini kadang-kadang juga cepat kotor. Apalagi kalau warnanya putih. Lagi-lagi harus sering mencucinya.

Ada lagi model kopyah seperti penutup kepala orang Tionghoa. Model ini dipopulerkan oleh Alm. Ustad Jeffry Al-Bukhori. Modelnya cukup unik karena ada sesuatu di bagian atasnya, hehe. Pilihan warnanya pun beragam. Saya juga sempat mencoba. Tapi karena bentuk kepala saya yang cukup aneh, sering kopyah yang saya pakai jatuh saat sujud. Mencari ukuran yang terlalu kecil malah tidak muat di kepala.




Nah model kopyah terakhir yang saya kenakan adalah model kopyah dari rajutan kain tipis yang biasa digunakan Ustad Yusuf Mansyur. Saya cukup nyaman menggunakan kopyah model ini. Saya punya dua, satu saya dapat ketika membeli di Sunan Ampel dan satunya diberi teman saya yang baru naik haji. Model kopyah ini menurut saya sangat ibadah-able. Mampu menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran kepala yang memakainya. Selain itu, dapat dilipat hingga ukuran kecil untuk dimasukkan ke saku kalau tak berkenan memakainya. Saat mengendarai sepeda motor, kopyah model ini juga bisa digunakan bersama helm. Jadi tidak ada alasan melanggar lalu lintas saat berkendara dengan kopyah. Hingga saat ini, kopyah model ini selalu saya kenakan untuk beribadah.




Namun menggunakan kopyah model ini juga tanpa masalah. Jika diamati seksama, model kopyah ini mirip dengan Kippah, penutup kepala pria Yahudi. Bedanya, kalau kopyah ini menutupi seluruh bagian kepala, tapi kalau kippah hanya nempel di bagian belakang kepala. Saat saya memakai model kopyah ini, banyak yang menganggap saya menggunakan simbol Yahudi. Salah satunya teman Facebook saya yang dari India. Kebetulan dia juga muslim. Suatu waktu, saya memasang foto profil menggunakan kopyah yang seperti Kippah tadi. Mungkin di sana hanya pria Yahudi yang memakai penutup kepala model seperti itu. Jadinya, saya ditanya apa saya menjadi seorang yahudi. Langsung saya jawab “Of course, not! Many Indonesians moeslem wear it”. Saya lalu menjelaskan kepadanya, kalau model penutup kepala muslim Indonesia itu beragam. Salah satunya ya yang seperti Kippah tadi.


Kejadian paling tidak enak saat saya mengikuti pengajian akbar di alun-alun. Karena rumah saya dekat dengan TKP, jadinya saya jalan kaki, seperti kebanyakan jamaah. Pengajian itu dimulai saat dhuha (pagi hari) dan selesai setelah dhuhur. Saat pulang, saya berjalan beriringan dengan jamaah lainnya. Saat di perjalanan, seorang bapak menegur saya, “Mas, sampeyan seperti orang Yahudi yang tersesat di tengah kerumunan orang muslim”. Saya heran dan bertanya, “Memangnya kenapa, Pak?” orang itu hanya menunjuk kepala saya. Ternyata kippah eh kopyah saya sudah berantakan. Hanya nempel di bagian belakang. Rambut saya menyembul keluar. Kalau dilihat memang saya seperti seorang Yahudi sendirian diantara ratusan muslim di jalan. Dengan segera saya membetulkan kopyah saya.


Dari situ saya mulai menyadari, kopyah tidak hanya sebagai penutup kepala dan menjaga sujud saat sholat, tapi juga sebagai simbol agama. Kalau menurut saya sih, sepanjang tidak ada niatan untuk menggunakan simbol agama lain dalam beribadah, ya sah-sah saja. Ibadah kan urusan kita dengan sang pencipta (pribadi masing-masing). Daripada menggunakan kopyah yang tak nyaman malah mengagganggu kekhusyukan ibadah, lebih baik menggunakan kopyah yang mirip dengan kippah. Hanya saja mungkin penggunaannya harus benar, tidak seperti saat saya tadi, hehe. Oh iya, saya penasaran kenapa pria Yahudi enak banget memakai kippah dan tidak takut jatuh. Ternyata, mereka menggunakan jepit rambut yang fungsinya sebagai penahan seperti pada sanggul. Ada-ada saja ya ide orang Yahudi itu.



Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!