Mengintip Negara Myanmar Melalui Siaran Myawady

Diantara 10 negara ASEAN, kita tidak terlalu mengenal dekat dengan negara ini.



Selain masih minimnya warga Indonesia yang jalan-jalan atau bekerja di sana, situasi politik yang tertutup membuat Myanmar bak negeri antah berantah. Negeri yang nun jauh di sana dan biasanya baru kita ketahui melalui kasus pembantaian dan konflik yang dialami kaum muslim Rohingnya.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa memperoleh informasi mengenai negeri yang menjadi sejarah perjuangan wanita pendobrak demokrasi, Aung San Suu Kyi. Tanpa jauh-jauh ke sana, kita bisa melihat bagaimana orang-orang Myanmar beraktivitas dan khususnya mencari hiburan. Kehidupan orang-orang Myanmar dan pesona keelokan negeri itu dapat kita lihat melalui siaran jaringan Myawady (MWD TV). Tentunya, anda harus memiliki receiver parabola. Siaran MWD ini merupakan siaran free to air, terdapat dalam satelit Palapa D yang mampu ditangkap di Indonesia.




Siaran MWD ini terdiri dari beberapa channel, antara lain MWD TV, MWD Variety, MWD Music, MWD Movie, dan MWD Documenter. Setiap channel memiliki acara khas masing-masing. MWD TV lebih banyak menghadirkan berita mengenai apa yang terjadi di Myanmar dan negera-negara di sekitarnya, seperti Thailand, Bangladesh, China, dan India. MWD Variety menghadirkan acara-acara hiburan gaya hidup seperti jalan-jalan, makanan, dan talk show mengenai hobi dan semacamnya. Acara MWD Music menghadirkan musik-musik lokal dan musik mancanegara. Sedangkan MWD Movie memutar sinetron khas Myanmar dan drama seri Korea. Untuk MWD Docomentery menampilkan acara pendidikan semacam National Geographic Channel.

Berhubung MWD merupakan TV yang memang diperuntukkan untuk masyarakat Myanmar, jangan harap ada teks dalam siarannya. Semua siaran menggunakan Bahasa Myanmar, yang merupakan rumpun bahasa Sino-Tiobetian dan berhuruf mirip yang digunakan Bahasa Bengali. Jadi, setiap saya melihat acara MWD hanya bisa tebak-tebak buah manggis seperti saat saya melihat jaringan TV ABS-CBN (TV milik Filipina). Meski begitu, kita masih dapat sedikit menangkap apa yang mereka maksudkan dari perilaku di TV.




Ada beberapa hal unik dari acara MWD ini. Pertama, mengenai acara berita yang disampaikan oleh dua orang wanita. Kalau biasanya di TV Indonesia presenter berita membaca running teks di studio, tapi pembaca berita di Myanmar membaca koran mengenai berita yang dimaksud. Saya mengira kegiatan tersebut hanya membaca headline beberapa koran yang sedang terbit seperti yang juga dilakukan presenter berita di Indonesia. Tapi ternyata tidak. Di sepanjang berita presenter tersebut membaca utuh berita dari koran, yang entah koran apa. Dan yang lebih unik lagi, sang rekan yang duduk di sebelahnya mengamatinya dengan seksama dan tidak melakukan apa-apa. Kegiatan “membaca koran-dan mengamati” ini berlangsung sekitar 15 menit. Barulah ada video liputan yang juga berdurasi 15 menit. Jadi, seperti dirapel. Baca dulu sampai habis baru videonya.

Berita yang disajikan menurut saya tak terlalu menarik. Mungkin juga karena Myanmar masih berada dalam junta militer atau demokrasi belum berjalan baik. Berita yang disajikan mengenai kegiatan pembangunan, proses belajar di sekolah, dan kegiatan di pasar-pasar. Tak seperti di Indoesia yang heboh dengan politik. Justru berita politik mengenai Myanmar baru bisa kita dapatkan melalui pemberitaan asing.


Yang unik lagi saat melihat penyanyi Myanmar tampil membawakan lagu-lagu andalannya. Bersyukurlah kita karena disadari atau tidak, di dalam kawasan Asia Tenggara, industri hiburan kita bolehlah dibilang lumayan. Di Myanmar, acara musik yang ditampilkan cukup sederhana. Tata panggung yang mirip zaman era 70-80an (yang sering kita saksikan pada zaman Koes Ploes dkk) masih digunakan di sana. Pemain band hanya mengenakan kaos seadanya. Beberapa diantara penyanyi bahkan masih menggunakan mik dengan kabel yang super panjang. Namun, hal itu tak mengurangi semangat mereka dalam menghibur rakyat Myanmar. Suara penyanyinya lumayan. Mereka ada yang menyanyikan lagu bergenre pop, blues, dan ada pula yang menampilkan lagu-lagu tradisional Myanmar. Berbicara masalah penyanyi wanita, saya cukup mengapresiasi karena baju yang mereka kenakan cukup bagus dan sopan. Rata-rata berlengan pendek dengan rok yang berada di bawah lutut. Belum pernah saya menemukan penyanyi wanita yang memakai tank top. Coba anda bandingkan dengan penampilan penyanyi wanita di Indonesia.


Acara musik sendiri terdiri dari dua jenis. Pertama, acara yang menampilkan lagu-lagu lokal. Biasanya tanpa pembawa acara. Jadi mereka langsung memutar video-video yang telah direkam sebelumnya. Kedua, acara musik dengan pembawa acara. Biasanya acara ini memutar lagu-lagu luar seperti lagu barat dan lagu-lagu K-POP. Acara musik ini dipandu oleh seorang host yang juga membuka line telepon untuk pemirsa. Mereka bisa berkirim salam atau request lagu. Yah seperti pada acara musik di radio. Kalau saja acara musik di Indonesia seperti ini maka saya akan menontonnya, daripada terlalu banyak drama dan guyonan tak jelas. Ini kan acara musik, bukan begitu?



Nah yang unik dan yang paling unik adalah sinetron Myanmar. Tidak seperti sinetron di Indonesia yang berdurasi sekitar 1,5 jam dan ada jeda iklan yang cukup panjang, sinetron di sana tak ada jeda iklan sama sekali. Marathon hampir 1,5 jam. Iklan baru diputar selepas sinetron tayang, yang biasanya diambil dari Thailand. Saya sempat mengira itu adalah FTV yang sekali tayang selesai, tapi ternyata tidak. Masih berlanjut. Saya sempat berpikir apakah ibu-ibu penggila sinetron di sana tak bosan dan capek. Jika dibandingkan, channel siaran TV berlangganan seperti FOX, AXN, atau Star World, mereka masih memutar iklan meski hanya sebentar. Yah inilah Myanmar.

Untuk cerita yang diangkat sebenarnya standar saja. Masalah percintaan dan konflik di dalamnya. Hanya saja, untuk sinetron yang bersetting di pedesaan, unsur klenik masih saja tampak. Seperti sinetron-sinetron di Filipina yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Satu hal yang menarik, sinetron yang berlokasi di pedesaan menampilkan pemeran yang mengenakan baju daerah. FYI, wanita di sana lebih senang mengenakan sarung dibanding rok atau celana. Untuk cerita yang berlokasi di perkotaan, kehidupan anak-anak muda yang lebih ditonjolkan. Dari sinetron-sinetron Myanmar ini, saya memperoleh sedikit gambaran bahwa mereka cukup terbuka. Tidak seperti bayangan saya bahwa orang-orang Myanmar akan sama tertutupnya dengan orang Korea Utara. Dasar pemikirannya karena saya belum pernah menemui orang-orang Myanmar di jejaring sosial. Tidak seperti negeri tetangganya, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Mereka nongkrong, jalan-jalan, memiliki laptop dan berinternet, serta melakukan aktivitas juga dilakukan oleh orang-orang Indonesia. Saya hanya menduga bahwa oke lah secara politik mereka tak terlalu bebas tapi mereka “boleh normal” oleh pemerintahnya. Atau dugaan saya mungkin juga salah karena yang saya saksikan hanya di sebagian wilayah saja, siapa tahu daerah-daerah lain tidak seperti yang saya lihat.

Myanmar, negeri di ujung barat laut ASEAN yang memiliki sejuta pesona sekaligus misteri.
Previous
Next Post »
4 Komentar
avatar

Buset, sinetron 1,5 jam nonstop? Kaya sekali yah produsernya, hahaha

Balas
avatar

Seneng dong nonton TV nggak ada iklannya. terus siapa yang bayar TV itu yah

Balas
avatar

bangeeeet tapi sih klo tak liat bintang iklannnya ya yg di sinetron itu
jadi, mereka yang kayaknya yg lebih kaya haha

Balas
avatar

TV nya punya pemerintah semua mas

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!