Happy Holi(Wednes)day!

Saya masih belum percaya kalau hari ini libur!



Apalagi liburnya hari ini bebarengan dengan dua momen spesial. Hari Raya Nyepi dan Gerhana Matahari Total. Sebuah hari yang tak akan pernah terulang lagi. Tapi, selain dua momen itu, satu hal yang membuat saya bahagia adalah hari ini hari Rabu.


Kenapa saya begitu bahagia? Karena pada hari Rabu saya diliputi berbagai perasaan. Antara malas, sedih, dan bahagia. Lho kok bisa?

Pertama, hari Rabu adalah hari ketika saya mengajar marathon selama kurang lebih 6 jam di pagi hari (07.00-13.00) dan 5 jam di sore hingga malam (16.00-21.00). 11 jam gitu. Hampir setengah hidup dalam sehari. Nah ketika saya memulai pagi hari di hari Rabu rasanya kok ya berat gitu di ongkos. Mana kadang ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan. Jadinya, Rabu adalah hari teramat berat bagi saya.

Kedua. Kok ya saya sering sekali mendapat hal-hal yang tidak menyenangkan di hari Rabu. Beberapa peristiwa bersejarah yang kelam sering sekali terjadi di hari Rabu. Mulai ban bocor, lupa bawa jas hujan pas hujan deras, anak-anak bertengkar, hingga ada saja pekerjaan yang salah di sini dan di sana. Pokoknya Rabu adalah hari yang menyeramkan dan membuat apes.

Ketiga. Berkenaan dengan beratnya penderitaan saya di hari Rabu, otomatis saya perlu energi lebih untuk menjalaninya. Nah di sini saya biasanya kok refleks memasukkan apa yang ada di depan ke dalam tubuh saya. Puncak nggragas saya adalah terjadi di hari Rabu.  Ibarat kata, kalau saya kupu-kupu, tahapan metamorfosis berupa ulat terjadi di hari Rabu. Pernah lho saya sarapan di rumah sebelum berangkat. Istirahat pertama minta tolong anak-anak beli gorengan di kantin. Istirahat kedua nyicipin bekal makan siang teman-teman guru. Pulang beli nasi di warung. Jeda ngajar les selepas magrip makan “sedikit” sayur buatan emak. Eh mau bobok masih makan lagi. Inilah alasan paling tepat jika ada yang menanyakan mengapa saya gendutan.

Keempat, meski hari Rabu teramat susah untuk dijalani, saya juga merasa gembira. Mengapa?
Karena besoknya adalah hari Kamis saat saya mengajar “hanya” hingga pukul 11 siang. Ditambah lagi, saya tak banyak mengajar saat sore harinya. Dan besoknya lagi hari jumat, saat anak-anak ada pelajaran olahraga yang sangat berharga. Dan besok besoknya lagi adalah sabtu saat saya bisa hip hip hura. Rasa gembira saya akan saya rasakan ketika murid les saya yang terakhir pulang. Jam 21.00 tepat. Di situlah saya merasakan betapa bahagianya dunia ini.

Hari Rabu bagi saya adalah hari paling spesial. Hari itu saya bisa merasakan berbagai hal secara cepat dan tak terduga. Ibarat mendaki gunung, hari Rabu adalah saat saya berada di puncak tertinggi sebuah gunung yang telah saya daki. Kalau pada mekanisme reaksi yang pernah saya pelajari saat kuliah, hari Rabu adalah saat saya berada di puncak grafik energi aktivasi, yang harus dilalui sebuah reaktan untuk bisa bereksi. Jadi intinya hari Rabu adalah puncak hidup saya dalam seminggu.

Nah, bagaimana kalau hari Rabu adalah hari libur?
Tentunya saya sangat teramat gembira. Ibaratnya saya tak perlu capek-capek naik ke atas gunung. Saya langsung naik heli dan sampai di puncak sebuah gunung. Tapi, karena saya tak perlu bercapek ria, rasa bahagia saya melewati hari Rabu tak seindah saat saya menjalani hari Rabu dengan rutinitas yang menggila. Bukan begitu?

Namun, saya tetap mensyukuri liburnya hari Rabu kali ini. Nikmati sebaik-baiknya karena momen ini langka dan patut dilestarikan.

Happy Silent Day
Happy Nyepi Day
Happy Solar Eclipse Day
Happy Wednesday &

HAPPY HOLIDAY
Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

Hahaha, selamat libur, Mas :-P

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!