Sleman Sembada : Nikmat Candimu Melimpah Ruah Di Mana-mana (Bagian 2)



Perjalanan saya masih berlanjut mengunjungi candi-candi di Sleman, DIY.




Candi Banyunibo

Puas menikmati Situs Ratu Boko, saya siap menjalani trip berikutnya. Abang ojek lalu mengembalikan posisi kami ke perempatan jalan yang terdapat papan petunjuk tempat candi berada. Beliau lalu menuju ke Candi Banyunibo. Sekira 600an meter dari perempatan tadi, sebuah candi sudah saya lihat. Berada di tengah perkebunan penduduk, candi ini tampak sepi. Saya lalu turun bergegas ke pos jaga. Ternyata tidak ada siapa-siapa. Saya lalu menuju bagian utama candi tersebut. Saya rasa, bentuk candi ini mirip dengan Candi Badut di Malang. Hanya saja, karena candi ini bercorak Buddha maka di bagian atas candi terdapat stupa. Di sekeliling candi juga terdapat ceceran arca dan bekas bangunan candi yang sudah tak utuh lagi. Diantara candi-candi lain yang saya kunjungi, candi Banyunibo terkesan wingit. Saya melihat jalan beraspal berakhir pada candi itu. Selepas itu hamparan kebun warga di sekitarnya terbentang luas.

 
Papan Nama Candi Banyunibo di kawasan Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman
Lagi dan lagi, saya hanya bisa melihat dengan ya begitulah. Betapa candi sebagus ini tak ada yang mengunjungi. Keberadaannya terkesan terabaikan. Jika saja ada usaha untuk menarik wisatawan dari situs Ratu Boko tadi maka hal itu akan membuat candi ini lebih bisa digali lebih dalam keindahannya oleh banyak orang. Sayang.
Penampakan Candi Banyunibo

Gak afdol kalau gak foto

Candi Ijo

Abang ojek lalu membawa saya ke Candi Ijo. Beliau bilang perjalanan kali ini cukup ekstrim. Saya pun semakin berpegang mesra pada abang ojek, haha. Dari Candi Banyunibo abang ojek kembali mengembalikan posisi motornya ke perempatan jalan desa. Lalu berbelok ke arah kiri menuju Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Mulanya jalan masih lurus. Lama-lama saya melihat tanjakan beserta tikungan tajam (pasangan yang amat serasi) di depan kami. Tanjakan yang kami lalui semakin tajam. Motor abang ojek sesekali terlihat kepayahan saat menaiki tanjakan. Perkampungan penduduk mulai jarang terlihat. Saya mulai worry, jangan-jangan tempatnya berada di puncak gunung dan tak ada orang. Tapi dari arah berlawanan masih ada saja kendaraan berseliweran. Bahkan ada truk pengangkut batuan yang turun dari atas. Truk itu membawa hasil tambang batuan di sebuah tebing, yakni tebing breksi. Tebing ini mulai in karena dari atas bisa melihat candi-candi yang tersebar di sekitarnya berlatar belakang Gunung Merapi. Karena saya dikejar waktu saya hanya berfoto sebentar di sana. Lain waktu bolehlah saya coba naik.

Wisata Tebing Breksi


Akhirnya setelah berjalan jauh dan melihat perjuangan abang ojek yang cukup ekstra, dari bawah terlihat kumpulan candi dia atas bukit. Wow, dan wow dan wow lagi. Ini apa lagi coba? Saya langsung berpikir : Gedung Songo?

Ya, Candi Gedung Songo yang bagi saya seperti ritual naik haji kalau ke sana seakan terus terngiang di otak saya. Bagaikan sang putri yang akan saya sunting kelak (halah apaan??). Tapi sungguh saya sangat takjub dengan candi-candi yang berada di atas bukit. Apalagi banyak.

Oke tanpa lama-lama saya beregegas ke pos jaga dan membayar retribusi sebesar 2000 rupiah. Snagat murah untuk ukuran candi maha indah. Saya lalu menaiki tangga menuju halaman utama. Setelah di puncak saya benar-benar speechless. Jika di Ratu Boko tadi saya sudah ternganga, kali ini saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Udah deh, ini terlalu indah dan eksotik. Saya bisa melihat apapun dari sini. Saya bisa lihat Bandara Adisucipto, saat ada pesawat yang mulai take off. Saya  bisa melihat kompleks Candi Prambanan. Saya bisa melihat Kota Yogya dari sini. Dan saya bisa melihat indahnya cakrawala siang itu. Bercampur dengan hembusan angin.

Papan Candi Ijo

Cantiknyaaaaaaaaaaaa

Subhanallah............
Jangan lupakan selfieee

Saya pun merentangkan tangan. Membayangkan seperti di adegan film Titanic. Dan mulai bernyanyi My Heart Will Go On. Tapi tiba-tiba saya sadar. Ke mana pasangan saya? Haha adegan romantis itu pun hilang. Hiks, tak apalah. Lalu saya mengganti posisi dengan duduk bersila. Dan lagunya saya ganti. Lagu Pemandangan ciptaan AT Mahmud yang sering dinyanyikan murid-murid saya. Tak apalah, dengan ini saya juga maish bisa menikmati keindahan Tuhan ini.

Memandang alam dari atas bukit,
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai nampak berliku
sawah hijau terbentang
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan

Lama saya berada di situ. Saya merasa kecil sekali. Merenungi banyak hal yang sudah saya lakukan. Saat saya masih belum bisa membantu banyak orang, saat masih banyak kesalahan yang saya perbuat. Duh jadi mewek. Saya juga menghilangkan berbagai hal mengganjal pikiran saya selama ini. Saya ingin benar-benar menyegarkan pikiran.

Lamunan saya dikejutkan oleh seorang mas yang minta dirinya difoto. Ternyata mas itu seperti saya. Dia dari Jakarta dan tergila-gila dengan candi. Bahkan dia rela ditinggal teman-temannya ke pantai dan gunung untuk ber-My Trip My Adventure. Jadi, dia memilih trip sendiri saat pagi hari dengan motor sewaan. Dia sudah dapat 17 candi selama 2 hari di Jogja dan Klaten. Wow, sungkem. Kami lalu sharing kontak WA dan sepakat ke suatu candi nun jauh di sana suatu hari nanti. Saya sangat senang bertemu masnya ini karena saya masih menemukan spesies langka nan patut dilestarikan macam saya yang tergila-gila dengan candi.

Difotoin masnya yang juga suka candi.


Oke saya lalu mengamati candi ini lebih detail. Arsitektur maha dahsyat ini dibangun sekira tahun 906 Masehi. Ada tiga candi utama dan tiga candi kecil di depannya. Diduga, candi-candi itu mewakili pemujaan terhadap Trimurti. Relief di tubuh candi banyak macamnya. Ada relief burung bayan dan apsara. Sama halnya dengan candi Hindu lainnya, di bagian dalam candi terdapat Lingga Yoni, simbol Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Atap candi bertingkat-tingkat tiga undakan, terbentuk dari susunan segi empat yang makin ke atas makin mengecil. Di setiap sisi terdapat deretan tiga ratna di masing-masing tingkat. Sebuah ratna berukuran lebih besar terdapat di puncak atap. Selain kompleks candi ini, ternyata ada kompleks candi lain yang masih dalam pemugaran di bawahnya. Oke, saya tunggu selesainya pemugaran itu dan saya akan kembali lagi ke sini suatu saat nanti.

Candi yang masih dipugar


Setelah puas, saya pun turun. Abang ojek masih setia menunggu saya. Beliau lalu memacu kendaraan ke arah candi Barong. Namun, rupanya beliau belum paham arah jalannya. Jalan yang kali lalui semakin terjal menuruni bukit. Jalanan semakin rusak dan batuan besar harus kami lalui. Di sekieliling sesekali ada rumah penduduk yang amat sederhana berupa rumah kayu yang mulai koyak. Rata-rata seperti itu. Suatu ketika di persimpangan jalan kami menemukan seorang mbah yang masih kuat memanggul ssebuah karung yang saya rasa itu batu (ya Allah pingin nangis). Kami bertanya di mana letak Candi Barong. Si mbah menunjuk jalan yang benar dan berkata masih jauh. Abang ojek lalu memcu motornya. Jalan lebih terjal lagi. Abang ojek mulai terlihat kepayahan dalam mengendalikan motor. Motorpun seakan tak kuat lagi meneruskan perjalanan. Saat ada seorang pemuda yang lewat dan kami bertanya lagi, sang pemuda berkata masih jauh dan jalannya cukup berbahaya. Karena saya tak kuasa melihat penderitaan abang ojek, saya memutuskan putar balik saja. Tak apalah.



Si Mbah dan batuannya. Jadi kepingin ikutan acara Jika Aku Menjadi...........

Kalau dipikir lagi, melihat kedaan masyarakat di situ sebenarnya bisa dikembangakn wisata candi ini lebih maju lagi. Apalagi pemandangan yang disajikan juga benar-benar menakjubkan. Tapi kembali lagi kepada pihak yang terkait. Abang ojek lalu menuruni bukit untuk kembali ke jalan raya. Kami akan ke Candi Plaosan. Bagaimana kisahnya? Tunggu di cerita selanjutnya.



Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!