Sleman Sembada : Nikmat Candimu Melimpah Ruah Di Mana-mana (Bagian 3-habis)






Abang ojek memacu motornya menuju pusat Kota Kecamatan Prambanan. Membelah persawahan, menuruni bukit dan menerjang jembatan di atas Kali Opak yang membelah daerah Prambanan. Hembusan angin kencang menambah nikmat perjalanan saya. Sesekali saya berjumpa dengan mbah-mbah yang akan naik ke atas. Senyum ramahnya yang membuat saya selalu terpesona dengan daerah istimewa ini, yang tak saya temukan di tempat saya tinggal.


Memasuki Kota Kecamatan Prambanan Sleman, jalanan mulai ramai. Deretan bus berjajar menuju wisata Candi Prambanan. Kami lalu melintasi tapal batas antara DIY dan Jawa Tengah, yang memisahkan Prambanan Sleman dengan Prambanan Klaten. Cukup unik, dua tempat yang terlihat menyatu dan memiliki kekhasan berupa banyaknya situs sejarah ini seakan dipisahkan oleh dua negara berbeda. Memasuki Prambanan Klaten mulai tampak penginapan berjajar. Maklum saja, pintu masuk Candi Prambanan berada di Prambanan Klaten, meski candinya berada di Prambanan Sleman.

Candi Plaosan Lor

Saya memutuskan pergi ke Candi Plaosan Lor dulu sebelum ke Candi Prambanan karena saya berpikir jika ke Candi Prambanan maka akan membutuhkan waktu lama. Abang ojek lalu memacu motornya menuju Candi Plaosan Lor. Di dekat pintu masuk Candi Prambanan sudah terpampang arah ke candi Plaosan Lor, sekitar 1 kilometer. Beberapa saat kemudian saya sudah melihat candi maha agung di persimpangan jalan. Ya, inilah Candi Plaosan.

Saya langsung menuju pos jaga untuk mengisi buku tamu. Petugas jaga menanyakan asal saya dan alasan saya tidak mengajak teman saya. Saya menjawab bahwa saya menggunakan jasa ojek untuk mengelilingi candi di Sleman dan Klaten agar cepat. Petugas itupun maklum dan menyilakan saya masuk.





Ternyata, candi ini terdiri dari dua komplek yakni Induk Utara dan Induk Selatan. Candi Induk Utara menggambarkan sosok wanita sedangkan Candi Induk Selatan menggambarkan sosok pria. Oh sungguh bermakna sekali. Nah yang membuat unik, arsitektur candi ini adalah perpaduan corak Hindu dan Buddha. Sayangnya, masih banyak ceceran arca dan bangunan candi di sekelilingnya. Andai saja candi ini bisa utuh pasti akan lebih indah lagi. Menurut penuturan abang ojek yang ternyata orang asli Prambanan Klaten, candi ini sering sekali mengalami musibah. Entah dari erupsi Gunung Merapi atau gempa yang melanda Jogja. Kata beliau penduduk sekitar juga turut membantu membersihkan dan memperbaiki candi ini saat rusak parah. Salut deh.







Lagi-lagi, pengunjung yang memasuki candi ini tak terlalu banyak. Padahal dari Candi Prambanan hanya sekejap saja. Pendatang kebanyakan dari kalangan muda-mudi yang melakukan selfie, baik dengan teman maupun pasangan.




Candi Prambanan


Tujuan saya terkahir adalah Kompleks Candi Prambanan. Di sini saya berpisah dengan abang ojek. Saya meminta harga ojek ternyata sebesar 105.000. Mahal gak ya? Buat saya sih murah-murah saja, apalagi tariff ojek menggunakan argo dan abangnya telaten menunggu saya dan sesekali menjadi tour guide saya. Terimakasih ya mas.

Baru masuk tempat parkir, saya sudah dikepung lautan manusia. Memaski pintu loket, keriuhan semakin terasa ditambah sebagian kericuhan. Banyak pengunjung tak tahu bahwa ada 2 macam tiket, yakni masuk candi saja dan tiket terusan ke Candi Boko. Dan sebagian besar dari mereka menganggap ke Candi Boko hanya membuang waktu saja. Saya hanya bisa tertawa dalam hati.




Saya membeli teiket seharga 30.000 dan masuk loket. Wow ramenya. Tua muda, lakl-laki pempuan tumpek blek. Nah kalau tadi saya sibuk memfoto candi sekarang karena saya sudah 6 kali ke sini jadi saya akan mengamati sekitar. Ada yangs edang selfie, ada yang sedang kipas-kipas, dan ada yang bingung mau ke mana. Iya beneran ada yang bingung mau ke mana dulu.
















Semakin dekat dengan candi kehebohan massa semakin besar. Histeria massa untuk mengabadikan momen demi momen semakin membahana. Mereka seakan tak merasa kepanasan dengan sinar matahari yang menyengat. Jepretan demi jepretan, tawa demi tawa terdengar di telinga. Itulah Indonesia yang kata teman hostel saya dari Singapura, mukanya (maaf) cukup murah. Mukanya lho ya kalau orangnya ya mahalnya tak bisa diukurlah.

Candi Siwa, Brahma, dan Wisnu. Candi Nandi, Angsa, dan Garuda. Saya masuki satu per satu. Tapi saya tak terlalu excited. Entah karena sudah sering ke sini atau melihat kehebohan tadi saya jadi hilang semangat. Saya memutuskan lebih cepat mengakhiri di Candi Prambanan dan memutuskan ke candi di sekitarnya.

Karena sudah penat, saya memutuskan ikut kereta wisata mengelilingi kompleks candi. dengan harga 7500 rupiah, saya pun naik. Tujuan pertama adalah ke Candi Lumbung. Lalu ke Candi Bubrah yang sedang direnovasi. Tujuan terakhir adalah ke Candi Sewu. Nah ini yang jadi favorit saya. Kalau dulu Roro Jonggrang meminta 1000 candi untuk dijadikan istri, kalau sekarang mungkin minta 1000 tempat selfie instagramabel agar bisa dipersunting istri. Halah.



Oke itulah jalan-jalan saya ke Candi. Saya akhiri dengan jalan kaki cukup jauh menuju halte bis Trans Jogja Prambanan. Sebenarnya trip candi-candi tak cukup sehari, tapi karena saya tak punya waktu banyak cukuplah bagi saya. Sekali lagi saya ingin berpesan, ke candilah dan nikmati pesona di dalamnya.


Sekian, salam.
Previous
Next Post »