Tragedi Banjarmasin 1997


           Setelah menulis nostalgia kampanye 90an (baca di sini), saya sempat berpikir apakah kampanye Pemilu 1997 memang baik-baik saja. Karena sepengetahuan saya sebagai anak kecil pada waktu itu, meski para pendukung peserta pemilu 1997 saling mengejek, tapi tak terjadi kekerasan di kota saya. Rupanya saya salah. Setelah mencari di mesin pencari dengan kata kunci “Kampanye Pemilu 1997” saya menemukan beberapa judul tulisan “Kerusuhan Banjarmasin” dan “Jumat Kelabu”. Ada apa di Banjarmasin? Ada apa dengan hari jumat?
Mengapa Banjarmasin rusuh? Mengapa hari jumat menjadi hari kelabu? Menelusuri lebih dalam berita tersebut, akhirnya saya menemukan jawabannya. Saya baru tahu bahwa pada hari Jumat tanggal 23 Mei 1997 telah terjadi kerusuhan besar yang menelan ratusan korban jiwa di Banjarmasin. Kerusuhan ini sebenarnya dipicu adanya kegiatan kampanye salah satu peserta pemilu 1997.

            Hari itu adalah hari kampanye bagi Golkar. Sejak pagi persiapan kampanye telah dilakukan. Puncak acara kampanye dijadwalkan setelah shalat jumat. Menurut saksi mata peristiwa itu, suasana panas dimulai saat shalat jumat akan usai. Tepatnya saat imam berdoa. Beberapa massa pendukung Golkar melewati masjid Noor, yang jamaahnya  masih belum selesai shalat jumat dengan sepeda motor yang meraung-raung. Kegiatan itu memicu kemarahan massa yang diduga pendukung PPP. Di sekitar masjid tersebut merupakan basis massa PPP. Usai shalat jumat, massa yang jumlahnya banyak menyerbu Kantor DPD Golkar Kalsel. Di sana masih banyak berkumpul satgas Golkar. Bentrokan pun tak dapat dihindarkan. Beberapa mobil terbakar. Satgas Golkar yang ada di sana berupaya menyelamatkan diri karena kalah jumlah. Setelah itu, massa bergerak menuju Lapangan Kamboja, tempat kampanye Golkar akan diadakan. Sepanjang perjalanan mereka mencopoti dan membakar atribut Golkar. Yang mengherankan, jumlah mereka semakin bertambah. Sesampainya di sana mereka merusak dan merobohkan panggung kampanye. Setelah itu mereka semakin beringas. Beberapa fasilitas umum di Kota Banjarmasin menjadi sasaran. Puluhan gedung dan kendaraan dirusak dan dibakar. Tidak hanya itu, aksi penjarahan juga dilakukan massa di beberapa tempat. Yang miris, tempat ibadah pun mejadi amuk massa. Kerusuhan berlangsung hingga dini hari. Jumat itu Banjarmasin benar-benar membara. Jumat yang kelabu. Jumlah korban yang jatuh masih simpang siur. Ada yang menyebutkan 123 tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Ada juga yang menyebutkan 302 hingga 320 orang tewas. Berapapun korban yang jatuh sungguh sangat banyak dan memilukan. 
  
               Banyak korban sia-sia akibat kampanye Pemilu. Mayat-mayat Korban Kesrusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin Peristiwa ini disebut-sebut sebagai kerusuhan kampanye paling memilukan di Indonesia. Meski beberapa waktu ini kita disuguhkan dengan banyak kasus kerusuhan pemilukada yang terjadi, tapi jumat kelabu Banjarmasin adalah yang paling besar. Sebenarnya, apa yang melatarbelakangi peristiwa ini? Dikutip dari wawancara Harian Tempo dengan Asmara Nababan, anggota Komnas HAM pada 9 Juni 1997, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Pertama, adanya faktor laten yakni faktor permusuhan antar pendukung peserta pemilu. Seperti yang pernah saya ceritakan dulu, pada kampanye Pemilu 1997 pendukung parpol cukup sadis dalam berkampanye. Sadisnya ini kemungkinan sudah terkumpul akibat rasa permusuhan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Saat ada gesekan sedikit, terutama yang berbau SARA, maka kerusuhan tak dapat dielakkan. Kedua, adanya rasa iri antara satu peserta pemilu dengan peserta lain. Kita tahu pada masa orde baru Golkar menjadi anak emas. Tah heran, dua peserta pemilu lain, PPP dan PDI tidak senang dengan hal ini. ini juga menjadi faktor pemicu kerusuhan. Ketiga, adanya oknum pihak ketiga yang menunggangi untuk kepentingan tertentu. Tahun 1997 merupakan tahun sulit bagi bangsa Indonesia yang mulai dilanda krisis multidimensi. Pada masa itu tak jarang beberapa oknum tak bertanggung jawab memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu. Semua masih gelap. Tapi dari peristiwa ini banyak pelajaran yang dapat kita petik agar kejadian serupa tak terulang. Apalagi sebentar lagi kita melihat hiruk-pikuk kampanye Pemilu 2014. 

           Dari peristiwa ini, kita harus memiliki kedewasaan dalam berpolitik. Mendukung salah satu peserta pemilu sah-sah saja. Tapi kita tak boleh menjadikan dukungan itu sebagai dukungan buta. Dukungan yang menjadikan kita hanya terpaku pada pemenangan partai yang kita dukung, tanpa memperhatikan kepentingan bersama. Masa-masa kampanye pemilu juga merupakan masa paling rentan terhadap usaha pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan. Karena itu kita harus pintar, tak mudah terpancing emosi. Jika kita perhatikan ada saja isu-isu yang bisa memperkeruh suasana. Sudahlah, mari kita bijaki dengan arif. Selain itu, pihak-pihak penyelenggara pemilu dan pengadil sengketa pemilu juga menjadi ujung tombak agar kejadian seperti ini tak terulang. Netralitas mereka sangat diperlukan. Jika lembaga-lembaga ini mampu menjaga netralitasnya, kejadian seperti ini tak akan terulang. Tidak adanya atribut pemerintah pada saat kampanye juga penting. Peristiwa jumat kelabu juga dipicu hadirnya salah satu menteri untuk kampanye. Kita tahu saat ini banyak menteri yang berasal dari parpol. Hal ini rawan untuk terjadi pembawaan jabatan mereka saat kampanye. Perlu sikap untuk tidak menggunakan jabatan demi kepentingan parpol. Jumat itu mamang kelabu. Semoga kejadian ini tak terulang lagi di masa mendatang. Mari kita berkampanye dengan baik, mengikuti pemilu dengan luber jurdil, dan menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan dapat memajukan bangsa dan Negara. Semoga kita bisa mengambil hikmah di balik suatu peristiwa.
Tulisan ini pertaman kali diposting di Kompasiana : 7 Februari 2014
Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

inilah alasan sampai saat ini Banjarmasin kurang diminati investor broh, ane orang Banjarmasin.. setelah kejadian ini perkembangan kota Banjarmasin sangat lambat ketinggalan sama kota tetangganya.

Balas
avatar

wah baru tau nice info
temen saya di banjarbaru juga katanya lebih enak di sana

Balas

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!