Wisata Derma, Enaknya Diapakan?


Hari minggu lalu saya berkesempatan mengikuti kegiatan ziarah ke makam 3 wali bersama rombongan ibu-ibu pengajian.
Tujuan pertama saya adalah makam Sunan Drajat yang berada di Paciran Lamongan. Makam Sunan Drajat ini boleh dibilang cukup strategis karena berdekatan dengan obyek wisata lainnya seperti Wisata Bahari Lamongan dan Gua Maharani. Untuk mengenai informasi yang ada di dalam kompleks makam Sunan Drajat, Anda bisa menggali dari sumber lain. Mengenai sejarah, lokasi, dan fasilitas yang ada di dalamnya.
Yang menjadi perhatian saya adalah tumbuh suburnya wisata derma di dalam kompleks makam Sunan Drajat. Lalu, apa yang menjadi masalah?
Sebagian dari Anda mungkin sudah mengerti maksudnya. Ya, tepat sekali. Banyaknya pengemis yang beroperasi di dalam kompleks makam. Tidak hanya satu dua tapi berjumlah puluhan. Tak hanya didominasi oleh kaum lansia. Pengemis usia muda dan anak-anak pun tak mau kalah.
Yang menjadi unik adalah praktik mengemis sepertinya sudah mafhum dan dilegalkan di dalam kompleks makam ini. Setelah Anda turun dari kendaraan dan berjalan ke arah pintu masuk, Anda akan disambut oleh seseorang yang bertugas menukarkan koin untuk diberikan kepada pengemis. Persis seperti penukaran uang koin dalam permainan di pusat perbelanjaan. Penjaja penukaran koin akan menawarkan koinnya seharga 5.000 rupiah. Pengunjung yang menukarkan koin akan mendapat 9 keping uang logam pecahan 500 rupiah. Artinya, setiap satu kali penukaran uang, sang penjaja akan mendapat keuntungan sebesar 500 rupiah.

Semakin masuk area makam, deretan pengemis akan segera Anda temui. Anda tinggal pilih yang mana. Yang membuat saya heran, ada beberapa anak laki-laki seusia SMP kompak menyanyikan koor dengan nada sedih meminta-minta kepada pengunjung yang datang. Di belakang anak-anak tersebut lalu terdapat beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang juga melakukan hal yang sama. Mengemis.


Hingga pintu masuk makam utama, masih ada beberapa gadis yang juga melakukan hal yang sama. Merintih dan meminta belas kasihan para pengunjung. Mengais iba agar keinginannya tersampaikan. Padahal saya membaca di pintu masuk makam utama larangan kepada pengemis untuk tidak melakukan aktivitasnya.


Setelah melakukan kegiatan ziarah, saya pun menuju pintu keluar. Belum jauh dari makam Sunan Drajat, deretan ibu-ibu bercaping terlihat sambil duduk-duduk. Kalau saya melihat di area pintu masuk tadi, kemungkinan besar mereka akan mengemis. Dan, dugaan saya pun tepat.


Sambil duduk-duduk di sebuah bangunan di sebelah makam Sunan Drajat, saya mengamati aktivitas mereka. Sebelum ada pengunjung, mereka hanya duduk-duduk santai sambil sesekali menyapu dedaunan dan sampah lainnya. Tapi, begitu rombongan pengunjung datang, aktivitas pun dimulai. Sambil menengadahkan tempat yang telah mereka persiapkan, rupiah demi rupiah pun mereka kumpulkan. Menuju pintu keluar yang melewati area penjaja oleh-oleh, kerumunan pengemis semakin banyak. Bahkan ada beberapa pengemis yang meninggalkan wadahnya begitu saja.



Memang, cukup sulit jika membenahi masalah ini. Tapi, saya memiliki sedikit pemikiran. Andai saja mereka semua diberdayakan oleh pengelola makam. Misalkan menjadi tenaga kebersihan sukarela yang bertugas membersihkan komplek makam, baik di dalam maupun di luar. Saya melihat masih banyak sampah berserakan yang sepertinya salah satunya disebabkan oleh kurangnya tenaga kebersihan. Nantinya mereka akan mendapat uang dari pengunjung yang sukarela memberikan uang di kotak-kotak yang telah disediakan. Tentunya, ditambah dari pengelola makam atau pihak terkait.


Atau juga mereka bisa diberdayakan sebagai tour guide yang bertugas memandu para peziarah. Mereka akan diberi pelatihan dan pembinaan dari pihak terkait. Tidak hanya memandu jalan, tapi juga memberi tahu mengenai kisah wali yang bersangkutan, arti bangunan di dalam kompleks makam, dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi pengunjung. Pemikiran ini didasarkan dari pengamatan saya bahwa sebagian besar pengunjung hanya melakukan aktivitas ziarah dan berbelanja. Jarang sekali ada yang ingin mengenal lebih lanjut siapa sebenarnya sosok wali yang makamnya mereka ziarahi. Padahal, menurut saya, jika kita ziarah ke suatu tokoh wali, bukan hanya sekedar ziarah yang kita lakukan namun juga hikmah di balik sang tokoh tersebut. kita juga bisa mengetahui berbagai hal yang tak akan kita dapatkan dengan hanya membaca buku. Mungkin hal ini juga cukup sulit. Tapi, jika pihak pengelola serius melakukannya, maka para pengemis akan bisa diberdayakan dengan maksimal.
Bagaimanapun juga, keberadaan pengemis dalam jumlah banyak sungguh menganggu pengunjung. Salah satu alasan pengunjung enggan pergi ke sebuah tempat wisata adalah adanya pengemis. Semoga saja masalah ini bisa menjadi perhatian bagi pihak terkait. Mental mengemis bangsa ini harus dihilangkan, terutama di tempat-tempat wisata yang akan merugikan dunia pariwisata kita. Semoga berkenan, mohon maaf jika ada kesalahan. Salam.
Previous
Next Post »
2 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!