Karena Kompasiana, Saya Belajar Banyak Hal untuk Kehidupan Saya


Kisah perjalanan saya masuk di dunia Kompasiana sebenarnya dimulai dari keinginan saya memberi komentar untuk mengomentari sebuah artikel. Kalau tak salah, saat itu saat ramainya Pilkada Kota Malang yang mau tak mau saya ikut berpartisipasi di dalamnya. Nah karena pembaca kompasiana
yang akan memberi artikel harus membuat akun terlebih dahulu, maka saya membuat sebuah akun. Hanya untuk berkomentar.
Komentar saya lantas dibalas oleh penulis artikel tersebut. Tak hanya oleh artikel tersebut, tapi juga oleh pembaca lainnya. Kami saling berargumen, berdebat, dan sesekali saling bertukar informasi mengenai keadaan yang terjadi di kota saya. Kebetulan, kalau saya amati, para komentator yang ada di artikel tersebut banyak perantau dari kota saya yang tinggal di mana-mana. Hingga akhirnya terjadilah keriuhan kecil, yang sebatas saling adu argumen menjadi saling bercerita mengenai tempat kelahiran saya. Sayangnya, saya sudah lupa judul artikel tersebut beserta linknya. Tapi yang pasti, saya masih ingat jika artikel tersebut mengupas banyak sekali permasalahan di kota saya yang menjadi nilai jual para peserta pilkada Kota Malang tahun 2013.
Dari saling balas komentar itu, lalu saya mulai melihat situs Kompasiana secara utuh. Ternyata, keriuhan yang saya alami hanyalah sedikit keriuhan diantara keriuhan-keriuhan lainnya. Diantara ribuan balas komentar, saling sindir, dan saling tukar informasi di dalamnya. Saya menemukan Indonesia kecil di dalamnya. Yang tak saya dapatkan di media dan jejaring sosial lainnya.
Beberapa waktu kemudian, saat skripsi saya selesai dan memiliki banyak waktu luang, saya memiliki pemikiran mengapa saya tidak ikut menulis dan membagikan apa yang saya punya. Meskipun saya tahu, dibanding dengan penulis Kompasiana lainnya, saya masih belum ada apa-apanya. Masih cupu, begitu bunyinya.
Satu dua artikel saya kirimkan. Satu dua komentar bermunculan di lapak saya. Dan satu dua permintaan pertemanan mulai muncul di Dashboard saya. Lambat laun, saya mulai menikmati aktivitas tulis-menulis yang sebelumnya belum terlalu saya tekuni. Hanya sebatas mengisi blog pribadi yang sekarang entah ke mana. Yang dibaca satu orang pun belum tentu juga.
Bagaikan candu, lama-lama menulis di Kompasiana menjadi sebuah kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Jika saya tak melakukannya, maka saya bisa sakaw. Terlebih, saya termasuk orang yang cukup ingin tahu banyak tentang sesuatu, yang mungkin, bagi orang lain tak terlalu penting. Keingintahuan saya membuat saya selalu mencari hal-hal baru yang bisa saya amati dan saya bagikan di Kompasiana. Selain itu, rasa ingin tahu saya banyak terjawab dari artikel-artikel yang ada di dalamnya. Di kompasiana ini, saya benar-benar bisa mengaplikasikan sesuatu yang sering disebut Take and Give, selain Sharing and Connectingtentunya.
Di Kompasiana pula, saya menemukan banyak pelajaran hidup yang tak saya dapatkan di tempat lain. Tentunya yang utama kemampuan untuk menyampaikan apa yang saya alami atau apa yang saya pikirkan dalam bentuk tulisan. Bukan takabur, selama satu tahun aktif menulis di Kompasiana, saya merasa cukup mengalami kemajuan dalam teknik menulis. Tulisan-tulisan Kompasianerlah yang membuat saya bisa seperti itu. Jujur, saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan Kompasianer yang turut serta dalam meningkatkan kemampuan saya. Saya banyak belajar dari tulisan-tulisan mereka. Saya mendapat banyak hal yang sebelumnya tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Bagaiamana merangkai kata, memilih diksi, dan berbagai teknik menulis lainnya. Saya belajar dengan membaca dan mencoba menulis dengan bahasa saya sendiri. Dari kebiasaan menulis ini, saya lebih berani menyampaikan pendapat dalam sebuah forum. Berani mengungkapkan gagasan baru, yang tak bisa saya lakukan sebelumnya dengan baik.
Memang, saya menyadari, tidak semua tulisan di Kompasiana bisa saya ambil menjadi pembelajaran. Terutama, jika saya menemukan tulisan yang cenderung tendensius, menyerang pribadi, atau berbagai tulisan negatif lainnya. Dari sini, saya juga menemukan pelajaran bahwa sebagai manusia, kita akan menemukan berbagai karakter manusia. Di kompasiana ini, saya menemukan berbagai karakter di dalamnya. Tinggal dikembalikan lagi kepada saya, akan memilih tulisan yang mana yang dapat saya jadikan pelajaran. Begitu pula saat saya akan melakukan hubungan pertemanan. Teman seperti apakah yang bisa saya jadikan sahabat saya. Berbicara masalah pertemanan, tentu tak hanya teman maya yang saya dapatkan, teman nyata pun saya dapat. Beberapa diantaranya bahkan terus menjalin komunikasi hingga saat ini. Dan beberapa diantaranya pula, saya pernah bertemu secara langsung.
Tak hanya belajar dalam tulisan, saya juga belajar banyak hal dalam berkomentar. Kadang saya berpikir, saat saya berkomentar, kok rasanya lebih sulit ya daripada membuat tulisan. Saya sering merasa takut kalau komentar saya menyinggung penulis atau pihak lain. Takut kalau komentar saya out of the box yang kebangetan. Maka dari itu, saya selalu belajar menjadi reader yang baik, mencerna setiap kalimat di dalamnya. Tak hanya asal berkomentar. Di sini, saya juga belajar dalam kehidupan nyata untuk tak hanya asal menanggapi sesuatu, terutama perkataan seseorang. Kita harus meresapi dengan baik dan memberi tanggapan dengan bijak. Jujur, bagi saya, ini cukup sulit. Saya salut dengan beberapa Kompasianer yang komentarnya cukup santun, tapi tetap membahas jauh lebih dalam.
Tentunya, yang membuat saya tak akan pernah melupakan jasa Kompasiana adalah dijadikannya tulisan saya dalam sebuah buku. Meskipun buku tersebut berisi tulisan dari Kompasianer lain, tapi saya tetap senang. Paling tidak, saya bisa ikut andil di dalamnya. Meskipun pula buku tersebut menuai kontroversi karena membahas salah satu capres yang maju dalam Pilpres 2014 silam, tapi saya tetap bangga. Paling tidak, saya berusaha untuk seobyektif mungkin karena masalah yang saya bahas adalah masalah yang mungkin tak terlalu dipikirkan oleh sang capres jika kelak menjadi capres, padahal masalah tersebut sangatlah penting. Saya berusaha belajar mengambil dan mengolah data, lalu menambahkan pemikiran saya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Tentunya, hal ini tak akan dapat saya lakukan jika saya tak belajar di Kompasiana.
Selepas buku tersebut, saya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan yang bertema Kimia, bidang yang saya tekuni dalam sebuah buku. Saya rangkai dan saya edit lalu saya publikasikan dalam sebuah penerbit sendiri (self published), yakni nulisbuku.com. Bukan profit atau popularitas yang saya cari, tapi lebih kepada usaha dokumentasi agar tulisan-tulisan saya tidak tercecer begitu saja. Semoga, usaha saya untuk membukukan kembali tulisan-tulisan lain bisa segera saya selesaikan.
Meskipun saat ini saya jarang sekali menulis akibat dunia kerja saya yang tak bisa ditinggalkan, tapi saya terus berusaha semampu saya untuk tetap menekuni dunia tulis-menulis. Sebagai Guru Sekolah Dasar, saya terus menularkan virus untuk menulis kepada anak didik saya. Apalagi, dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, anak dididik untuk bisa berpikir lebih kritis, mengolah informasi yang mereka dapat dalam bentuk tulisan.
Karena Kompasiana, saya bisa menemukan banyak hal yang belum saya temukan sebelumnya. Karena Kompasiana pula, saya bisa berbagi apa yang saya punya, yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!