Aku Sudah Besar, Ma!

              Saat ini aku sudah duduk di Kelas 5. Aku sudah bukan anak kelas 1 lagi dan bukan anak TK lagi. Aku sudah berani melangkahkan kakiku ke dalam sekolah sendiri. Aku berani menyongsong hari-hariku bersama teman-temanku. Aku berani menyusuri setiap lorong sekolah dan memasuki kelasku. Aku sudah siap menerima segala bentuk tugas yang diberikan guruku. Jika aku melakukan kesalahan, aku siap mendapat hukuman dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.


              Tapi keberanianku sirna ketika aku melihat Mama dan Mama dari teman-temanku terus menungguiku di depan pintu sekolah. Bahkan terkadang aku melihat mama berada di depan kelasku saat pelajaran berlangsung. Saat itu, entah kenapa aku berpikir Mama berat sekali melepasku. Mama seakan cemas dan khawatir jika aku tak mampu melaksanakan kewajibanku sebagai seorang pelajar. Aku berpikir Mama tak siap untuk melihatku tumbuh dewasa dan membahagiakan Mama kelak.

              Jika aku boleh meminta satu hal, tolong Mama memberikan kepercayaan padaku untuk belajar mandiri. Aku hanya ingin Mama mengantarku hingga di luar pagar sekolah. Mencium tangan Mama dan kemudian Mama melepasku dengan hati yang lapang. Lalu Mama bisa melakukan hal lainnya tanpa terlalu khawatir kepadaku.




              Pintaku ini tak hanya untukku. Tapi juga untuk teman-temanku dan guru-guruku. Kulihat mereka kesulitan masuk ke dalam sekolah karena Mama menghalangi jalan mereka. Tak hanya itu, kulihat jalan di sekitar sekolah menjadi macet. Tentunya, polusi udara semakin besar akibat kemacetan ini.


               Maaf Ma jika aku mengatakan hal yang demikian. Meski begitu aku harus mengatakannya karena di sekolah aku diajarkan untuk berpikir kritis demi hal kebaikan bersama. Bapak Ibu Guru mengajariku untuk menghargai fasilitas umum agar kehidupan berjalan lancar.


Semoga Mama mau mengerti akan pintaku ini. 
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih sudah membaca. Biar tercetak sejarah, jangan lupa tulis komentarmu di bawah ini, ya!