Bermalam di Villa Uhuk Kota Batu

Ini cerita dua tahun lalu.


Di penghujung tahun yang mengandung gerimis mengundang, tiba-tiba saya dimasukkan ke dalam grup WA teman kampus yang berencana liburan bersama. Namun, karena sebagian besar dari kami sudah mengidap faktor U mendekati usia kepala 3, kami memutuskan untuk tidak bersama-sama melakukan kegiatan ekstrim: Naik Gunung Bromo atau Menjelajah Pulau Sempu lagi. Dari saran rekan yang sudah menjadi ibu-ibu PKK, lebih baik kami memesan sebuah villa di Kota Wisata Batu. Alasannya, selain faktor U, kami ingin lebih mendapat banyak waktu bersama setelah terpisah beberapa tahun. Ecie.

Berhubung menjadi pasivis kelas, maka saya hanya mengikuti beberapa percakapan sambil lalu. Maklum, saat itu saya juga sedang kejar setoran menyelesaikan koreksi UAS beserta analisisnya. Meski, jadwal pembagian rapor diundur akibat aplikasi yang masih belum sempurna.

Entah kenapa, seorang teman dengan entengnya menunjuk saya menjadi petugas survei villa. Lha, kok saya yang jadi repot? Yang punya ide siapa? Alasannya sih, karena saya yang ada di Malang. Padahal jarak tempuh ke Kota Batu dari rumah sekitar setengah jaman. Saya hanya menyanggupi untuk melakukan acara survei pada akhir pekan saja. Itupun saya gak janji benar-benar bisa dapat sesuai yang mereka harapkan mengingat saat itu musim Liburan Natal dan Tahun Baru.

Di suatu minggu, saya pun berangkat ke daerah sekitar kaki Gunung Panderman untuk mencari villa. Sudah saya duga, banyak villa yang sudah dipesan oleh pengunjung dari luar kota. Pesona Kota Batu memang menggila. Dengan tertatih-tatih, saya mencari villa lagi. Mulai dekat Panderman View, daerah Jatim Park, hingga Kusuma Agrowisata. Ada sih villa yang bagus dengan kolam renang super besar. Tapi apa ya iya, mereka mau menginap dengan kocek 5 juta buat semalam saja? Saya tawar, paling-paling cuma turun seribu dua ribu perak. Yang bikin saya semakin hopeless adalah budget rekan-rekan hanya 1,5 juta. Alamak masih miskin ternyata kita orang.Huhuhu.

Hingga di suatu gang, tepatnya di Jalan Abdul Ghani atas, yang hanya beberapa meter dari Museum Angkut saya dipanggil oleh seorang bapak. Rupanya beliau punya radar kalau saya sedang mencari villa. Beliau menawarkan tiga buah villa. Ada yang 6 juta, 3 juta, dan 1,5 juta.  Wah, ada yang sesuai budget. Saya melihat ketiga villa tersebut yang ternyata berdekatan. Lalu saya memberi informasi kepada teman-teman. Mereka pun setuju melakukan reservasi terhadap villa yang paling murah. Hore.

Namanya saja yang paling murah, kalau menurut saya sih ini bukan villa. Lebih tepatnya homestay. Pemandangan terasnya ya seperti rumah penduduk di Batu berupa jalan kampung. Tak ada view yang menarik seperti gunung, sawah, dsb. Tapi yang penting adalah kami bisa berkumpul di tempat yang nyaman. Walaupun berada di dalam kampung, bagi saya fasilitas di dalamnya lumayan. Ada 3 kamar tidur, ruang tengah yang nyaman beserta TV dan DVD untuk karaoke, ruang makan, dan tentunya dapur. Kami juga mendapat air mineral beserta gas elpiji gratis, plus teh, gula, dan kopi. Itu yang penting. Toh, kami hanya 15 orang saja dengan satu kepala patungan 100.000 rupiah.

Penampakan kamar tidur dan mbak-mbak penghuninya
Sambil liat DVD
Nah yang bikin saya gemes adalah teman-teman yang tak ikut survei cukup parno dengan fasilitas yang disediakan pemilik villa alias homestay tadi. Ada yang bertanya apakah ada panci, piring, sendok, hingga wajan. Ya Tuhan, ini kan menginap di villa bukan camping di gunung. Saya sampai sungkan karena terus-menerus menanyakan berbagai hal tersebut kepada Bapak pengelola villa hingga beliau menjawab:
“Tenang saja mas. Semua ada. Sampeyan gak tinggal di hutan kok”.
Ewwww.

Hari H pun tiba. Gegara macet yang tanpa ampun, acara untuk berkumpul pun jadi molor.
Ditambah, ada teman yang baru datang selepas isya. Yah, jadi sedikit dong waktu untuk berkumpul. Tapi tak apa. Kami sudah bertekad menghabiskan malam langka tersebut. Mulai masak dan makan bersama, hingga tukar kado dan menggosip aib dosen-dosen terdahulu pun jadi run down acara.


Masak bersama


Ini chefnya
Astaghfirullah.

Mengingat malam itu Kota Batu dilanda hujan deras dan membahana dengan suhu di bawah 15 derajat celcius, kami terus bercerita hingga menjelang subuh. Padahal, keesokan harinya ada rekan yang bekerja shift malam. Di luar kota pula. Pintar ya Nak. Maklum sih, jarang-jarang kami bisa berkumpul. Di villa pula.

Hasil masakan disponsori sambal botolan yang hampir kadaluarsa
Mari makan.

Habis makan terus karaoke

Terus ngerasani dosen haha


Punckanya acara tukar kado

Berhubung sudah malam maka tidur.... sendiri ya, bukan muhrim hehe
Alhamdulillah paginya cuaca cerah. Mumpung lagi di Batu, sayang dong kalau hanya terus meringkuk kedinginan di villa. Makanya, kami berjalan-jalan di sekitar villa. Mulai melihat Museum Angkut yang belum buka hingga memandang Gunung Panderman dari dekat. Ini adalah jalan-jalan pagi saya pertama kali di Kota Batu. Dengan ketinggian sekitar 1500 m dpl, rasanya beda dengan di sekitar rumah. Segar.

Pekerja keras yang harus ke Mojokerto dan Gresik dengan segera


Kalau lihat ini pengen semua dijelajahi

Sementara narsis dulu di depam museum angkut.

Yang penting bahagia
Ah sayang kami cuma menginap semalam. Selepas makan pagi dan mandi, kami pun beberes villa. Semoga bisa ke sini lagi kapan-kapan. Buat pembelajaran saja, lain kali lebih baik memesan villa lebih dahulu jauh-jauh hari. Lewat apa? Lewat apa sajalah boleh. Yang penting jangan lewat depan kiri kanan dan......... (teruskan sendiri)

Sekian dan terima kiriman voucher menginap di villa. Hehe.  

Menelisik Kisah Polowijen, Desa Subur Tanah Kelahiran Ken Dedes

Bukan gambar walikota. Bukan pula gambar Tengku Wisnu dan Strudelnya. Apalagi, bukan pula gambar saya.
Patung Ken Dedes, beberapa meter dari pemandian maha spektakuler HAWAI WATERPARK
Namun, sesosok pahatan wanita cantik akan menyambut kita tatkala memasuki salah satu kota yang kini sedang meroket dunia pariwisatanya. Kota bernama Malang ini akan menyambut orang-orang yang mengunjunginya dengan sesosok wanita cantik. Lebih cantik dari Raisya ataupun Isyana. Dia adalah sosok yang bisa disebut sebagai “ibu” bagi masyarakat Malang. Sosok yang begitu dikagumi karena telah melahirkan generasi penguasa sejarah. Tak hanya di Malang, namun juga di nusantara. Ia adalah Ken Dedes, sang Ratu Singosari yang melegenda itu.

Pemilihan Ken Dedes sebagai sosok pembuka pintu gerbang Kota Malang dari arah utara bukanlah kebetulan semata. Jejaknya sudah diketahui banyak orang bahwa ia adalah istri dari Tunggul Ametung, akuwu kerajaan kecil bernama Tumapel dan kemudian direbut dan dipersunting oleh Ken Arok, sosok “penjahat” yang ternyata dipuja banyak warga Malang sebagai “pahlawan”. Namun, banyak yang belum tahu, tak jauh dari patung Ken Dedes yang seakan memberi ucapan selamat datang di Kota Malang ini, ia benar-benar tererkam jejak sejarahnya.

Sang Ratu Singosari itu lahir dan besar di sebuah tempat bernama Polowijen. Saat ini, Polowijen merupakan salah satu kelurahan di ujung utara Kota Malang. Persisnya, di sebelah barat fly over Arjosari yang kini sudah tampak indah dengan cat warna-warninya.

Keindahan Fly Over Arjosari didampingi Sekolah Adiwiyata, SDN Polowijen I di bawahnya
Alkisah, pada zaman dahulu kala, tersebutlah sebuah daerah yang sangat subur bernama Panawijyan. Sekitar abad ke-10 Masehi, desa ini tercatat sebagai sebuah desa yang sangat subur dengan potensi sumber daya alamnya. Sesuai dengan isi Prasasti Kanyuruhan B (bertarikh saka 865/ 945 M) yang dikeluarkan oleh Mpu Sendok, Panawijyan adalah daerah subur dengan banyak bangunan suci. Bangunan suci tersebut menurut ahli sejarah dan arkeologi diperutukkan untuk sang Hyang Kagotran atau sang Hyang Kaswangga. Sayang, hingga kini belum jelas mengenai keberadaan dan detail lengkap bangunan suci tersebut.

Perkampungan di Kelurahan Polowijen dengan latar Gunung Arjuna
Tak hanya bangunan suci, di dalam Prasasti Kanyuruhan B juga disebutkan pembagian sima sawah yang ada di Panawijyan. Namun, yang cukup menarik perhatian adalah tempat ini pernah dijadikan semacam pusat pembelajaran yang disebut sebagai “mandalakadewagurwan”. Artinya, sebenarnya Polowijen sudah menjadi sebuah peradaban yang cukup besar pada saat perpindahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Lagi-lagi, belum jelas agama apa yang dipelajari di dalam tempat pembelajaran tersebut : Hindu ataukah Buddha?

Batu Kenong yang ditemukan di Polowijen. Batu semacam ini juga ditemukan di Ketawanggede dan Tlogomas. Ada semacam pantangan bagi warga kedua desa tersebut untuk melakukan ikatan pernikahan. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas cukup paralel dengan penemuan batu tersebut.
Ada sebuah informasi dari warga sekitar bahwa pernah terdapat peninggalan yang cukup banyak berupa arca-arca batu berlatar agama Hindu. Sayang, untuk kesekian kali, jejak arca-arca tersebut tidak ada sehingga tak diketahui masa dari arca-arca tersebut. Namun, bila berkenaan dengan parahyangan atau guru bhakti yang disebut dalam sima sawah tadi, maka arca tersebut merupakan bagian dari bangunan suci berlatar agama Hindu.

Sejak dulu Polowijen sudah menjadi daerah penting. Hingga kini, daerah ini menjadi pintu gerbang Kota Malang dari arah utara. Tampak Jalan A. Yani Utara, penghubung Malang-Surabaya yang tak pernah sepi.
Dugaan ini memberi dasar bahwa di Panawijen/Panawijyan sempat terjadi perpindahan pada keyakinan warga dari Hindu menjadi Buddha. Hal ini sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Kitab Pararaton. Konon, dikisahkan bahwa di sana telah tinggal sebuah komunitas Mahayana Buddhisme yang dipimpin oleh Mpu Purwa.

Nah, Mpu Purwa inilah yang merupakan ayah dari Ken Dedes. Ia disebut sebagai seorang boddhastapaka yang berarti pendiri patung, pemimpin upacara agama, dan pemimpin penjaga candi yang kini belum diketahui keberadaanya. Maka, peran Mpu Purwa di masyarakat sangatlah besar dan dihormati.

Kisah Mpu Purwa dengan anaknya bernama Ken Dedes ini terkutip petikan paro pertama Pararaton yang berbunyi :
“Kemudian adalah seorang bhujangga pemeluk agama Buddha (bhujangga boddhastapaka), menganut aliran Mahayana, bertugas di ksatrenya orang Panawijen, bernama Pu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu itu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik molek bernama Ken Dedes. Dikabarkan bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya. Termasyhur di sebelah timur Gunung Kawi sampai Tumapel.”

Dari petikan Pararaton tersebut, tanpa diviralkan di Instagram, Ken Dedes sudah terkenal akan kecantikannya. Tanpa dihebohkan dengan vlog di Youtube, Ken Dedes sudah eksis dan menjadi primadona seantero bagian timur Pulau Jawa. Laki-laki mana yang tak kepincut dengan Ken Dedes. Cantik, baik tingkah lakunya, anak pembesar pula. Laki-laki mana juga yang tak kuasa melihat seorang bidadari yang begitu anggun.

Dan akhirnya, memori yang lebih mengerikan dari patah hati nasional sejatinya sudah terjadi di abad ke-13. Suatu hari, seorang akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung singgah di rumah Ken Dedes untuk menemui sang ayah dan bermaksud meminangnya. Saat itu, Mpu Purwa sedang pergi ke hutan. Oleh Ken Dedes, sang akuwu disuruh menunggu hingga ayahnya tiba. Sayang, Tunggul Ametung tak tahan melihat kecantikan Ken Dedes. Ia lantas membawa pulang paksa Ken Dedes untuk dinikahi.

Diorama pelarian Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di salah satu bagian Museum Mpu Purwa
Mengetahui putri tunggalnya dibawa lari, Mpu Purwa sangat marah. Ayah mana yang tak kuasa putri tercintanya begitu saja dibawa orang. Ia juga tak habis pikir, mengapa orang-orang di desanya tak bisa mencegah tindakan Tunggul Ametung. Akhirnya ia mengutuk sang pria yang lancang membawa putrinya beserta penduduk Desa Panawijen yang mendiamkannya. Kutukan itu berbunyi :
“Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk dan diambil istrinya. Demikian pula orang-orang di Panawijen ini. Moga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini (beji). Dosanya : mereka tak mau memberi tahu bahwa anakku dilarikan dengan paksaan.”
Diorama yang mengisahkan Mpu Purwa mengutuk masayarakat Polowijen yang tak akan lagi memiliki sumber air berlimpah akibat ulah mereka yang membiarkan kezaliman terjadi.
Kutukan-kutukan tersebut akhirnya terbukti. Kutukan pertama dibuktikan dengan terbunuhnya Tunggul Ametung oleh Ken Arok yang menggunakan keris Mpu Gandring (walau kisah ini masih mengandung kontroversi). Kisah acara bunuh-bunuhan ini berlangsung hingga beberapa keturunan. Kutukan kedua, meski belum ada sumber yang mengatakan sumber air di desa tersebut kering, namun ada sebuah mitos menegnai larangan mengambil barang apa saja di Kali Mewek. Kali yang berarti tangisan Ken Dedes saat dibawa lari Tunggul Ametung ini berada di bagian barat Polowijen dan hingga kini masih dipercaya akan kekeramatannya secara turun-temurun. Kali tersebut masih dianggap angker oleh penduduk sekitar.

Tak hanya dilintasi jalan raya, Polowijen juga dibelah jalur rel KA yang menghubungkan Malang dengan Surabaya. Rel KA ini melewati Kali Mewek yang berdekatan dengan perumahan elit, Riverside.
Meski mendapat kutukan, Panawijen masih menyimpan peninggalan lain berupa sendang (sumber air) bernama Sendang Dedes. Tak hanya itu, beberapa kali warga juga menemukan saluran bawah tanah dari Sendang Dedes menuju persawahan di lembah Kali Mewek. Konon, saluran ini digunakan untuk pengairan sawah yang disebut dengan suwak.

Tak hanya berupa cerita asal Ken Dedes, Polowijen juga menjadi tanah kelahiran Tari Topeng Malangan yang melegenda. Di Polowijen terdapat makam Mbah Reni, seorang maestro Tari Topeng Malang dan anaknya yang bernama Mbok Bundari. Maka dari itu, Polowijen telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Malang sebagai Kampung Budaya sejak 2 April 2017 kemarin. Fly over Arjosari yang memagari Polowijen di sisi timur kini telah berbalut aneka gambar topeng yang memiliki karakter khas masing-masing.

Karakter topeng pada tiang Flyover Arjosari
Jangan tanya sawah, kini Polowijen sudah penuh dengan rumah

Tal hanya rumah, ruko dan aneka tempat usaha memenuhi Polowijen di 2017 ini
Polowijen pun berkembang menjadi gerbang kemajuan Kota Malang. Sayang, konflik perebutan kecantikan Polowijen masih berlangsung hingga kini. Bukan perebutan kecentikan Ken Dedes ataupun kesuburan daerahnya karena daerah ini sudah menjadi pemukiman dan kawasan ekonomi yang strategis. Konflik antara transportasi konvensional dan transportasi online-lah yang menjadi akar konflik di sekitar Polowijen ini meski warganya baik-baik saja. Konflik itu terus berlangsung memperebutkan ribuan penumpang yang masuk ke Kota Malang.

Fly over Arjosari dan daerah sekitarnya yang sering menjadi arena rebutan penumpang.
Itulah sedikit kisah Polowijen, desa subur tempat lahirnya Ken Dedes. Pembuka gerbang Kota Malang.

Sumber : 
Luar jaringan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. 2013. Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang : Disbupar Kota Malang.
Dalam jaringan
(1) (2) (3) (4) 

Memori Mesin Sigaret

Baru pukul sepuluh. 



Saya turun dari kereta dan masih terpaku di pelataran Stasiun Surabaya Kota. Sebuah kesalahan baru saya buat. Kalau sudah tahu janjian jam 12an, harusnya saya naik bus saja. Kalau begini jadinya, saya hanya memiliki dua pilihan : menunggu di stasiun ini sampai bosan atau pergi ke suatu tempat dengan perjuangan maha berat. Menerjang panasnya Surabaya Utara.

Di tengah kegamangan, taman di depan Stasiun menjadi alternatif bagi saya untuk sekedar mencari jawaban. Tempat duduk beton yang masih kosong menjadi incaran mata ini. Saya duduk dan memainkan gadget sebentar untuk memastikan rekan saya memenuhi janjinya. Tak lama, seorang tukang becak menawarkan jasanya dengan bahasa jawa beraksen Madura kental yang segera saya tolak halus. Semenit dua menit saya masih bisa bertahan. Hingga menit kelima, saya akhirnya menyerah. Panas Cak!

Saya berencana mencari kedudukan yang lebih elok bagi tubuh saya. Namun, sesosok wanita tiba-tiba menghampiri saya. Membawa ransel besar dengan rambut cepaknya yang sepanjang Polwan, ia berjalan cepat dari arah stasiun. Saya kira ia akan duduk di tempat saya tadi dan bergegas pergi. Namun, ia malah menyapa saya,“Lho, mau ke mana, Mas?”

Saya kaget. “Eh. Mau cari ademan, Mbak. Saya gak kuat.”

Iya menggeleng. “Lah, hanya sepanas ini tak kuat?”

Saya hanya tersenyum. “Habis, saya dari daerah kutub sih.”

“Hahaha. Lebai kamu Mas. Dari Malang aja kayak cacing kepanasan.”

Eh kok dia tahu?

“Kaget ya?” Dia meneruskan kata-katanya sebelum saya sempat menanyakan keheranan saya. Saya hanya mengangguk.

“Kamu satu gerbong dengan aku. Kamu naik dari Kotalama kan?”

Eh iya. Kok saya mendapat pukulan telak lagi. Dan kembali, saya hanya bisa diam sambil tetap berdiri mematung.

“Saya dari Blitar. Ini mau menyeberang ke Makassar. Tapi masih nanti malam. Kamu sendiri?”
Saya lalu menceritakan terdamparnya saya ke Stasiun ini dan kegemaran saya bluskan ke Surabaya. Kesukaan saya akan candi, hingga kegilaan saya pada museum.

“Mainmu kurang jauh!”

Jleb.

Saya merasa inferior ketika ia merencanakan travelingnya yang sudah di depan mata. Sang jelita Celebes kini jadi targetnya. Mendaki  Gunung Lokon, berpetualang di Ramang-Ramang dan menyelam di Wakatobi. “Lantas, sekarang kau mau ke mana?” tanyanya.

Saya hanya menggeleng sambil mengingat kawasan Surabaya Bawah yang belum saya jelajahi. Tapi, melihat panasnya Ujung Galuh, saya lebih baik memilih opsi lain.

“Kalau kamu gak keberatan, aku mau ikut sama kamu barang sejam dua jam.”

Glek. Saya tecekat. Wanita ini cukup agresif. Atau saya memang yang terlalu pasif. Tapi, sejak ditinggal mantan nikah, saya memang masih belum berminat.

“Oke. Kita ke House of Sampoerna!”

Saya mantap. Lagi-lagi, entah pikiran apa yang merasuki saya sehingga dengan gampangnya memilih tempat itu. Gambling.

“Kukira tempatnya tak jauh. Jalan kaki saja yuk!” ajaknya.

Gila. Saya salah perhitungan ternyata. Ah sudahlah. Biar kurus ini badan.
Panasnya Surabaya ternyata bisa juga dilawan kalau ada niatan dan teman jalan.  Kami mengobrol tentang berbagai hal. Tak disangka, saya yang sulit akrab dengan orang baru mendadak bisa cair mengimbangi celotehannya mengenai gunung-gunung yang sudah ia taklukkan. Saya tak mau kalah. Dengan gayeng menceritakan aneka candi yang berhasil saya kuasai.

Setelah berpeluh sekitar 20 menitan, kami sampai di sebuah bagunan tua namun masih sangat kokoh. Bak kuil Yunani, bangunan ini ditopang oleh empat pilar berbentuk rokok dengan angka 234. Khas angka merk rokok ini.


“Sampai kan?”

Saya tak menjawab. Sudah penat rasanya kaki ini. Peluh tak tertahankan lagi membasahi baju saya. Surabaya, terutama bagian utara benar-benar tak main-main. Tanpa cas cis cus, saya kini mendahuluinya untuk segera masuk. Seorang petugas keamanan mempersilahkan kami memasuki ruangan tanpa biaya.

“Sudah benar-benar gak kuat panas ini orang!”

Ia mengeluh dan menyusul ketika saya melihat beberapa foto keluarga yang saya duga adalah pendiri pabrik rokok ini.


“Oh jadi dia dari Tiongkok. Lalu ke Penang ikut ayahnya. Di sana kondisinya gak baik dan akhirnya dengan sisa uangnya berlayar ke Surabaya. Di sini menetap dan dengan susah payah mendirikan pabrik ini setelah menjual rokok dan ganti-ganti kerja dulu.”

Saya tak memperdulikan keluhannya tadi.

“Eh lihat. Ada sepeda!” ia lalu menujuk kedua sepeda yang berjajar di sebelah foto pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee beserta sang istri.


“Iya. Kok pas dua gitu ya. Naik ini keliling-keliling asyik deh.”

“Asyik. Tapi gak keliling Surabaya pas panas-panas gini,” ia malah meledek saya.

Saya tertawa. Kembali menatap tulisan mengenai sepeda tadi, saya cukup salut dengan pendiri Sampoerna ini. Dengan kondisi keterbatasan saat bekerja di sebuah rerstoran, ia dibayar dengan gaji rendah dan tidur di atas meja di restoran itu. Karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik, ia akhirnya resign dari pekerjaan tersebut. Sang pemilik restoran bermurah hati memberikan pesangon yang ia gunakan untuk membeli salah satu dari dua sepeda tersebut. Sepeda itu akan digunakan untuk berjualan batu bara di Surabaya.


“Wah, ada tembakau juga!”

“Iya. Baunya menyengat banget!”

Saya mendekati karung berisi aneka macam tembakau. Ternyata, setelah memiliki cukup uang,  Liem Seeng Tee  membeli perusahaan rokok yang mau bangkrut. Tak disangka, campuran tembakau  yang ia gunakan disukai banyak orang. Bisnisnya pun berkembang. Pabrik rokoknya semakin besar hingga sekarang.


 "Ternyata membuat racikan rokok itu sulit ya.”

Dengan enteng ia berkata sambil terkikik, ”Maka, hargailah orang yang merokok.”

Glek. “Ya gak gitu juga kali, Neng”, sergah saya spontan.

Puas memandangi tembakau dan tempat pengolahan tembakau, kami bergegas ke ruang tengah untuk melihat koleksi baju drum band, mesin pengepakan rokok, hingga tempat korek api bekas dan sisa bungkus rokok.

“Ah, ini yang tak buat mainan dulu pas SD dulu!” saya menunjuk bungkus rokok di balik kaca. Memori saya kembali ke masa-masa tahun 90an. Berbekal sandal jepit, saya menggasak lipatan bungkus rokok yang dijejer di tengah lapangan.


“Mainanmu eksotik ya,” ia meledek.

Saya hanya tersenyum. Rupanya, ia lebih memilih mengekor saya karena saya memotret jengkal demi jengkal bagian museum. Sesuatu yang tak ia lalukan.

“Aku lebih suka memotret alam. Apalagi gunung!” ia bersemangat.

“Gunung aku juga suka. Apalagi kalau ada candinya,” saya tak kalah semangat.

“Kenapa sih harus ada candinya?”

Saya hanya menaikan bahu. Bergegas ke ruangan selanjutnya. Rupanya, ada tempat narsis berupa warung kecil yang lengkap dengan aneka camilan dan rokok Dji Sam Soe.

“Gak mau ikut narsis?” tanya saya ketika ia menatap nanar dua wanita yang tanpa ampun dengan gaya heboh berfoto di warung tersebut.


“Kau sajalah. Aku tak minat. Eh masih ada yang belum kita masuki. Di atas sana!”

Ia menujuk sebuah tangga. Kali ini tingkahnya yang seperti anak kecil. Dengan lincah, ia naik ke lantai dua sambil menggendong ransel besarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menaiki tangga tersebut. Kira-kira, ada apa saja di lantai 2 ini.

Namun, tatapan dua pramuniaga yang tajam membuyarkan rasa penasaran saya. Ternyata, di lantai 2 ini hanya berisikan toko suvenir khas angka 234 dan 9. Yang menarik perhatian saya justru bekas mesin linting rokok yang begitu banyak. Yah semua ada masanya.

“Turun, yuk!” ia tiba-tiba menggandeng tangan saya sebelum saya mengekplorasi ruangan itu lebih jauh.

"Kenapa?"

Ia tak menjawab dan terus menarik saya agar segera turun. Lagi-lagi, sang pramuniaga kembali menatap tajam dua orang di depannya yang nampak kontras. Sang wanita berbaju kasual dan akan naik gunung. Sementara sang pria malah memakai kemeja batik dengan sepatu pantofel. Ini di mana coba nyambungnya?

Saya mengikutinya turun. Lalu kami memutuskan keluar dari bangunan museum tersebut. Duduk sebentar di depan sebuah kafe yang tampak menyuguhkan sisi artistik bangunan gaya ekletisismenya.


“Mau masuk?”

 Ia hanya menggeleng. Tiba-tiba, sejak turun dari lantai 2 dan keluar dari museum, entah kenapa wajahnya berubah murung.

“Kenapa Neng? Belum puas mainnya?”

Ia masih menggeleng. Tanpa saya minta, ia berbicara dulu. Bercerita tentang seseorang yang sangat terobsesi padanya. Gayung bersambut, ia juga menaruh hati pada pria berseragam yang berdinas di sebuah instansi cukup berkelas.

“Sudah cetak undangan”, katanya lirih.

“Lalu?” 

Ia menggeleng. Saya menghela nafas. Menebak apa yang terjadi.

“Iya, hargai orang yang merokok. Mereka butuh eksistensi juga”. Ia melanjutkan.

Saya mengangguk.

”Hargai yang makan coklat juga”.

Bagai silap mata, ia tiba-tiba saja terkekeh mendengar perkataan saya tadi. Perubahan yang sangat drastis. Tangannya meraih sesuatu dalam tasnya. Sebuah batang coklat mendarat di kepala eh tangan saya.

Saya menggenggam tangannya dan mengucapkan terima kasih.

“Aku harusnya yang makasih. Kamu unik ya.”

Tak bisa berkata apa-apa, saya hanya mengangguk.

“Masih ada mimpi kan ke Filipin kan?” tanyanya tiba-tiba.

“Pasti lah. Tak ada negara lain yang ingin saya kunjungi.”

“Oke, sampai ketemu di Gunung Apo, Mindanao,” tukasnya singkat.

Ia meninggalkan saya yang masih terbengong dan belum yakin peristiwa singkat yang baru saya alami. Berjalan cepat menuju rimbunnya tembok Penjara Kalisosok, sinar mentari sang Ujung Galuh memayunginya hingga sosoknya tak lagi nampak di mata saya.

Kini hanya tampak pemandangan orang-orang yang beraduh-aduh kapan bus wisata yang mengelilingi Surabaya Bawah akan berangkat.


Saya lagi-lagi tersenyum mengingat kejadian yang baru saya alami. Tapi, sebuah pesan WA membuyarkan bayangan indah saya.

“Aku wis ndek ITC kepet. Cepetan, C*k!”


*) Ujung Galuh adalah pelabuhan Kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal Kota Surabaya. Konon, Raden Wijaya mengusir tentara Mongol di daerah ini.

Jejak Sekolah Model Barat Pertama di Yogyakarta

Oh, jadi yang dari Maluku totalnya 11 orang ya.


Ponpes Al-Munawir yang hanya berada beberapa meter dari Panggung Krapyak. Jogja juga masih memiliki banyak pondok pesantren hingga sekarang.
Seorang mahasiswa yang kamarnya tepat di sebelah saya mengangguk. Dari 20 anak kos di tempat yang saya tempati, sekitar 15 diantaranya dari luar Jawa. Sebelas orang dari Maluku, dua orang dari Papua, dan sisanya dari Flores, NTT. Dominasi mahasiswa dari luar Jawa bisa jadi disebabkan karena pemilik kos merupakan orang asli Maluku. Mereka merupakan sepasang suami istri yang sudah lama merantau ke Yogyakarta. Setelah sukses di Kota Gudeg ini, lalu mereka membangun sebuah kos-kosan yang menampung mimpi anak-anak perantauan, terutama dari Indonesia Timur guna menimba ilmu. 

“Kok milih Jogja Mas. Apa gak kejauhan?” tanya saya melanjutkan percakapan.
“Enggak tahu ya Mas. Saya tahu dari kakak kelas yang sudah sukses. Rata-rata memang punya keinginan sekolah di sini. Kalau sekolah di kota lain, gak sebagus Jogja sih”.

Saya hanya mengangguk. Alasan itu mungkin sama juga dengan apa yang saya pertanyakan dalam diri saya. Kenapa harus jauh-jauh ke Jogja untuk S2, padahal di Malang kan juga ada? Melihat kembali ke masa lampau, membuat saya penasaran. Sejak kapan mulai tumbuh sekolah-sekolah formal di Kota Jogja ini? 

Sejarah mencatat, keinginan untuk menimba ilmu secara formal atau lazim disebut mengikuti model barat secara masif mulai tampak ketika adanya usaha untuk melakukan kegiatan sertifikasi bagi pejabat di lingkungan Keraton Yogyakarta. Sultan mewajibkan setiap pejabat keraton harus memiliki sertifikat dari sebuah lembaga pendidikan. Maka, didirikanlah sebuah sekolah di pendopo keraton yang bernama Srimanganti pada tahun 1890. Sebenarnya, sekolah di Srimanganti bukanlah sekolah pertama di Yogyakarta. Jauh sebelum itu, pada pertengahan 1832, sekolah dengan model Barat didirikan oleh tentara Belanda. Namun, sekolah tersebut tak berkembang lantaran kurangnya kompetensi guru kala itu.

Seorang siswa SD sedang bercerita mengenai terjadinya Perang Mataram-Pajang dalam rangka HAN 2017 di Grahatama Pustaka. Jika boleh jujur, kemampuan siswa SD di Jogja dalam mendongeng harus diacungi jempol.
Sekolah di lingkungan keraton tersebut pada mulanya hanya berjumlah sekitar 100 murid. Itupun pasti hanya dari kalangan bangsawan yang boleh bersekolah di sana. Seiring berjalannya waktu, sekolah tersebut membuka kesempatan bagi para anak abdi dalem untuk bisa bersekolah di sana. 

Semenjak pendirian sekolah di dalam keraton, mulai muncul sekolah-sekolah bagi kaum partikelir lain di luar keraton. Beberapa diantaranya didirikan di daerah Kalasan, Kejambon, Wonogiri, Bantul, Kreteg, Sleman, dan Godean. Yang unik, pendirian sekolah tersebut disponsori oleh dua pihak, yakni Pemerintah Kolonial dan Kesultanan Yogyakarta. Pemerintah Kolonial membantu pengadaan kayu bangunan dan kapur tulis, sedangkan Kesultanan membantu pendanaan untuk kegiatan operasional lainnya. Dengan adanya pembukaan di sekolah-sekolah baru tersebut, maka jumlah murid di Jogja mulai meningkat sejak tahun 1891. Penambahan gedung pun dilakukan.

Minat untuk menimba ilmu di Kota Gudeg terus bertambah secara signifikan tampak pada kurun 1898-1905 atau pada penghabisan abad ke-19. Dengan kenaikan jumlah murid yang semakin tinggi, pemerintah kemudian membuak Tweede Klasse Scholen di Mergoyasan, Jetis, Ngabean, Pakualaman, dan Gading. Selain itu, di daerah Wates pun juga didirikan sebagai sekolah pertama model tersebut di luar ibukota.

Perlahan tapi pasti, sekolah demi sekolah didirikan. Tak hanya di ibukota, namun juga di Gunung Kidul, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Mengingat masih menjadi permulaan, sekolah-sekolah tersebut hanya mengajarkan calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Setelah bergulirnya waktu, didirikanlah sekolah untuk latihan calon guru yang bernama “sekolah extern”. Lulusan dari sekolah tersebut diharapkan mampu untuk mendidik kembali para murid baru yang akan menimba ilmu. Guru-guru pada waktu itu digaji sekitar fl 15,00. Sedangkan bagi calon guru yang belum mendapat sertifikat digaji separuhnya.

Gedung SMP Negeri 5 yang berada di bundaran Stadion Kridosono. Gedung ini termasuk cagar budaya yang dilindungi.
Lambat laun, anak dari kalangan priyayi rendahan seperti abdi dalem mulai banyak yang bersekolah. Meskipun, tak semua dari anak-anak tersebut dapat bersekolah. Hal ini disebabkan karena selain masih kurangnya jumlah sekolah, para orang tua belum menyadari pentingnya manfaat pendidikan dan lebih memilih menyuruh anaknya untuk membantu mereka bekerja di rumah atau kebun.

Kegiatan pembelajaran model barat semakin berkembang ketika digulirkannya program pemberantasan buta huruf. Program ini membuat banyak sekolah ABC didirikan, yang tentunya menyasar para bangsawan dan abdi dalem. Para lulusan sekolah ABC ini akan mendapat sebuah ijazah dengan nomor induk. Persepsi masyarakat terhadap pendidikan pun mulai bertambah. Mereka mulai beranggapan, dengan bersekolah, setidaknya status sosial mereka di masyarakat bisa naik dibandingkan tak bersekolah.

Tak hanya dari pemerintah kolonial dan kesultanan, pihak swasta juga membuka sekolah-sekolah yang berciri khas masing-masing. Maka, di era 1920-1930 mulai muncul sekolah-sekolah yang berlatar belakang agama tertentu, semisal sekolah Muhammadiyah, sekolah kristen, dan sekolah Katholik. 

Lorong menuju SD Muhammadiyah Kauman. Sekolah terakreditasi A ini berada dekat dengan Masjid Kauman, Keraton Jogja dan tepat di depan kompleks makam Nyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Sepuluh tahun setelah Muhammadiyah berdiri dengan sekolah-sekolahnya, lahirlah organisasi pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta. Taman Siswa muncul sebagai reaksi dari model pengajaran barat. Dasar penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa didasarkan pada kebudayaan sendiri dan kebudayaan asing yang berguna bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Pada tahun 1924, Taman Siswa baru tercatat dalam data statistik pengjaran di Yogyakarta dengan jumlah murid 38 orang dan 17 guru.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah juga mencetak mental para siswanya. Melalui kegiatan Milad Tapak Suci di Alun-Alun Utara ini, mereka bersiap untuk menjadi genarasi emas Indonesia.
Meskipun banyak sekolah yang sudah berdiri, hanya sekolah yang didirikan pemerintah saja yang banyak diminati oleh masyarakat di Yogyakarta. Hal ini karena kurikulum di sekolah – sekolah pemerintah dianggap lebih sesuai dalam perkembangan zaman. Meskipun jumlah sekolah yang didirikan pemerintah saat itu berjumlah 278 buah, tetap saja jumlah tersebut tidak mencukupi untuk menampung jumlah murid yang tidak mendapat tempat. Maka hal inilah yang dimanfaatkan golongan Mason,salah satu paham yang banyak bergerak di bidang sosial untuk membentuk lembaga yang bernama Neutrale Onderwijs Stichting. 

Beberapa siswa les penulis sedang berpose di depan sekolahnya, SMA Negeri 11 Yogyakarta. Bisa bersekolah dan menimba ilmu di Kota Jogja adalah sebuah kebanggaan.
Lembaga inilah yang nantinya akan mendirikan sekolah – sekolah netral (tidak berpijak pada agama). Sekolah netral mendapat perhatian dari masyarakat Yogyakarta karena Bahasa Belanda dijadikan salah satu mata pelajaran dan bahasa pengantar di sekolah ini.Sesuai dengan namanya, sekolah netral tidak memberikan pelajaran agama tertentu kepada murid – muridnya. Dalam menerima siswa, mereka  memperbolehkan siswa berasal dari agama apapun. Tujuan pengajaran hanya untuk memberikan ilmu pengetahuan.

Beberapa siswa dari sebuah SMA Katholik sedang berpose di depan Museum Biologi UGM Jogja. Beberapa SMA Katholik di Jogja menempati papan atas dalam dunia SMA di Indonesia dan sudah eksis sejak dahulu kala. SMAK Kolose De Britto adalah salah satunya.
Walaupun sekolah-sekolah pionir di Jogja menggunakan tradisi pengajaran barat, namun mereka tidak mengabaikan pendidikan yang bersifat Indonesia. Sistem model pengajaran barat dirasa penting untuk mengikuti perkembangan zaman. Dengan mengikuti arus tersebut, maka pendidikan model ini sangat berharga bagi rakyat Indonesia, terutama dalam pergerakan melawan penjajah.

Sumber : 
Luar Jaringan
Suryomihardjo, A. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe : Sejarah Sosial 1880-1830. Depok : Komunitas Bambu.
Dalam Jaringan 
(1)

Berselfie Manja di Kampung Tridi Ksatrian Malang

Lha saya dapat musibah.


Kampung 3D
Kebetulan, saya habis jatuh dari motor sehingga tangan kanan saya sedikit “begitulah”. Mungkin saya disuruh istrirahat sama Tuhan. Tapi, mengingat saya tipe orang pecicilan dan tak bisa diam di rumah, maka dengan dalih melemaskan otot, saya berjalan-jalan ke sebuah tempat wisata di Kota Malang yang juga sedang hits. Kampung Tridi namanya.

Kampung ini berada di seberang Kampung Warna-Warni Jodipan yang sudah eksis sebelumnya.  Jika dari arah Stasiun Malang (Kotabaru), maka kita hanya perlu berjalan sedikit ke arah SPBU Jalan Trunojoyo. Di dekat jembatan kereta api, kampung ini sudah nampak.  Kampung Tridi merupakan pengembangan dari kampung tematik yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Malang. Lantas, apa bedanya Kampung Warna-Warni dengan Kampung Tridi? 

Meski sama-sama dengan tema cat warna-warni, namun kampung tridi ini lebih menjual sisi artistik  aneka miural yang bisa dijadikan tempat mengambil gambar. Mural-mural ini digambar khusus oleh para seniman Kota Malang sehingga jika dipotret memiliki efek 3 dimensi. Makanya, kampung ini disebut sebagai Kampung Tridi.


Sebenarnya, Kampung Tridi ini memiliki keunggulan dibandingkan Kampung Warna-Warni dari sisi topografi. Meski sama-sama bertopografi ledok, masih ada bagian kampung yang cukup datar. Bagian ini bisa digunakan untuk parkir kendaraan bermotor sehingga tak perlu parkir jauh seperti di Kampung Warna-Warni. Bagian ini pula yang membuat aneka spot foto mural 3D tergambar apik di kampung ini.
Duduk manja
Dengan tiket masuk 2.500 saja, kita akan disambut oleh mural bergambar kingkong bermain gadget. Mural ini menandakan bahwa inilah saatnya pengunjung eksis. Ya, siapkan gadget anda dengan baterai penuh. Tak bawa tongsis? Tenang, banyak penjual tongsis kok yang menyediakan aneka rupa tongsis sesuai kebutuhan.

Main gadget dulu
Tempat untuk narsis sendiri sebenarnya ada 2 macam. Yang pertama tentunya mural bergambar tadi. Tempat narsis selanjutnya berupa spot-spot foto yang dapat digunakan pengunjung untuk memotret pemandangan Kampung Warna-Warni, Kampung Tridi, dan Jembatan Bluk Gludhuk di sekitarnya. Spot-spot ini banyak berupa spot di atas pohin sehingga bisa melihat pemandangan dari atas. Tapi yang bagi saya asyik adalah suasana semacam musim semi dari rangkaian dedauan yang berwarna-warni di jalan masuk kampung ini.

Cantiknyaaa

Sudah siap tongsis?
Sama seperti Kampung Warna-Warni, kita juga bisa melihat suasana kehidupan masyarakat kampung ini. Beberapa mural bagus bahkan memang ada di teras depan rumah warga. Jika ingin berfoto, maka sebaiknya kita minta izin dahulu. Pemilik rumah akan dengan senang mempersilahkan  kita untuk mengambil gambar.

Mau pose terbang?
Tak hanya rumah warga, mural-mural juga tergambar di pos ronda, telepon umum, hingga tebing yang memisahkan perkampungan ini dengan rel kereta ini. Jika sedang beruntung, kita bisa merasakan sensasi kereta api lewat dari dekat sambil memotretnya. Gambar-gambar mural juga tercetak dalam tangga untuk menuju rumah-rumah penduduk di bagian bawah yang berbatasan langsung dengan Sungai Brantas.

Pernah kenal?
Secara garis besar, mural-mural ini terbagi menjadi beberapa jenis. Ada mural bergambar binatang, aneka tokoh kartun, kesenian khas Jawa Timur, dan tentunya Arema Singo Edan. Namun, diantara gambar-gambar mural tersebut, yang menarik perhatian saya adalah mural artistik bergambar wajah seorang wanita dan mural bergambar Tembok Besar China. Berasa hidup.

Kebudayaan Jawa Timur

Ada Naruto
Ini juara!
Ini juga!
Perjalanan menjelajahi Kampung Tridi juga membutuhkan tenaga ekstra karena semakin ke dalam jalan semakin menurun hingga berakhir ke Sungai Brantas. Siapkan dahulu air mineral dan cemilan yang cukup.  Jika masih lapar, penduduk di sana memanfaatkan banyaknya wisatawan dengan menjual camilan khas Kota Malang, Sempol. Kalau belum cukup, kita bisa makan bakso dan mie pangsit di beberapa warung yang dibuka di sana.

Naik turun
Lapar?
Oh ya, rencananya akan ada jembatan kaca yang akan menghubungkan Kampung Tridi dengan Kampung Warna-Warni dan melintang tepat di atas Sungai Brantas. Jembatan berwarna kuning ini akan menjadi sarana bagi anak masa kini yang mengekspresikan kehebohannya. Bukan isapan jempol pihak pengelola membangun jembatan ini. Menurut data penduduk sekitar, banyak anak-anak masa kini yang tanpa memperdulikan keselamatannya menaiki rel kereta api demi mendapatkan spot foto yang aduhai. Padahal, melintasi area rel kereta api adalah perbuatan melanggar Undang-undang. Apalagi jika rel kereta api tersebut berada di atas jembatan. Sayang, jembatan ini masih dalam tahap pengerjaan. Nantinya, hanya 50 orang saja yang diperbolehkan naik untuk menjaga keselamatan pengunjung kampung ini.

Ini jembatan kacanya
Kalau ini jembatan Buk Gludhuk
Keberadaan Kampung Tridi ini semakin mengeksiskan Kota Malang diantara gegap gempita industri pariwisata nasional. Menurut data Disbudpar Kota Malang, pada tahun 2016 kemarin, jumlah wisatawan yang mengunjungi Kota Malang mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.  Jika jumlah wisatawan domestik yang datang ke Kota Malang pada 2015 berjumlah 3.290.067, maka pada tahun 2016 meningkat sebesar 17% menjadi 3.987.074. Jumlah wisatawan mancanegara pun naik sebesar 13% dari 8.265 wisatawan pada 2015 menjadi 9.535 wisatawan pada 2016.

Sumber : Disbudpar Kota Malang
Meski begitu, perbaikan sarana pendukung seperti parkir dan transportasi umum juga sangat dibutuhkan. Ditambah lagi, Kota Malang masih mendapat predikat tempat transit bagi wisatawan yang akan menuju Kota Batu atau Kabupaten Malang menjadikannya belum dilirik banyak pihak. Semoga, dengan adanya kampung tematik seperti ini, semakin banyak wisatawan yang datang dan akan menambah PAD Kota Malang serta meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Kota Malang.

ecieeee
Jadi, jangan lupa berkunjung ke Kampung Tridi ya.