Jadi Juri Lomba itu....

Jadi Juri Lomba itu....
What, gak salah?



Saya masih tidak percaya dengan apa yang saya baca di WA. Saya terkesima dan terhenyak. Tiba-tiba, saya ditunjuk menjadi juri sebuah perlombaan siswa teladan. Kebetulan, sekolah saya menjadi tuan rumah lomba Bina Kreativitas Siswa tingkat gugus. Yah meski masih berada di tingkat gugus, tapi tetap saja saya masih gimana gitu.

Ini pertama kali saya menjadi sebuah juri dalam acara yang cukup kredibel. Acara yang bukan main-main. Saya belum pernah mendapat kesempatan berharga ini. Apalagi, lomba yang akan saya nilai adalah salah satu mata lomba yang cukup bergengsi. Lomba ini tak hanya menilai siswa dari satu aspek saja, namun dalam beberapa aspek yang bertujuan menggali kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Kalau boleh dibilang, mirip seperti lomba Kakang Mbakyu dan lomba duta wisata sejenisnya.

Mengingat dan memutuskan banyaknya kriteria yang harus saya nilai, maka saya harus banyak belajar masalah penjurian sebuah lomba. Bagaimanapun, seobyektif saya dalam menilai sesuatu pasti ada sisi subyektifnya. Maka dari itu, ketentuan dan kriteria lomba harus saya pelajari seksama.

Nah, lomba siswa teladan ini terdiri dari beberapa penilaian. Pertama, tentunya adalah tes tulis yang memuat beberapa muatan pelajaran. Muatan tersebut antara lain Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, Pengetahuan Umum, PKn, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris. Bobot tes tulis ini paling tinggi, yakni sekitar 50 %.

Menunggu tes tulis itu memang membosankan, ya.


Tes selanjutnya adalah menyanyikan lagu Indoensia Raya. Tes ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar jiwa nasionalisme siswa. Terutama, bagaimana usaha mereka untuk menyanyikan lagu kebangsaannya dengan baik dan benar. Di tengah penjurian menyanyikan lagu ini, ada lho ternyata siswa yang belum hafal lagu Indonesia Raya. Bahkan harus sampai diulang 3 kali. Sungguh, saya cukup gimana gitu.

Tes terakhir yang harus dilalui oleh peserta adalah wawancara. Ada 3 tahap wawancara yang harus dilakukan, yakni dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Tagalog Jawa. Pertanyaan yang dilemparkan ke peserta ya seputar kegiatan sehari-hari dan pengetahuan umum. Nah, diantara sekian peserta yang saya nilai, ada satu peserta yang cukup berkesan di hati saya. Saat itu, saya mencoba mengeksplorasi cita-cita dan usahanya untuk meraih cita-citanya tersebut.

Jawaban yang saya terima ternyata cukup mengagetkan. Kalau diringkas, obrolan kami seperti ini.

Saya : “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”
Peserta : “Saya mau jadi Romo”.
Saya : (Lihat juri sebelah yang dari sekolah Katholik)
Juri sebelah : “Romo itu rohaniawan Katholik Pak, Pastor”.
Saya : : “Oh begitu. Kenapa kamu mau jadi Romo?”
Peserta : “Saya senang lihat Romo mengabarkan kebaikan”.
Saya : “Lalu, apa yang akan kamu lakukan agar cita-citamu tercapai?”
Dia : (diam sejenak) “Saya mau masuk sekolah frater. Saya harus rajin belajar terutama belajar alkitab agar bisa jadi Romo”. 



Sungguh mulia cita-citamu, Nak!


Aduh, saya benar-benar takjub. Anak segitu ada lho keinginan mengabdi untuk banyak orang. Meski saya bukan nasrani, sungguh saya terharu. Di saat mayoritas anak-anak ingin sukses dalam artian lebiah banyak ke materi, dia malah ingin sukses dengan jalannya yang, bagi saya asyik. Semoga tercapai, Nak.

Akhirnya, proses penjurian pun usai. Kami tikm juri harus merekap nila-nilai tadi dan menjumlahkannya. Alhamdulillah, nilai yang saya rekam tak beda jauh dengan juri yang lain. Artinya, saya masih bisa bernafas lega, obyektivitas saya boleh dibilang sudah hampir sesuai prosedur. Apalagi, dua siswa saya meraih juara 1 untuk siswa teladan putra dan putri. Dua medali emas sekaligus. Saya sangat bersyukur mereka bisa maju lagi ke tingkat Kecamatan. Mewakili gugus untuk bertanding pada awal Maret nanti. Dengan peserta yang memiliki cita-cita mulia tadi yang menyabet juara ke-3.

Anak-anak yang mengikuti lomba membatik


Teman-teman peserta dari SD Kristen Petra yang cukup banyak memboyong piala


Suporter dari tim tuan rumah yang harap-harap cemas 


Guru-guru dari SDN Sukoharjo 2 sangat heboh ketika mengetahui siswanya menang


Ada yang menang lomba pantomim



Alhamdulillah, kita menang.


Yang lomba siapa, yang narsis, siapa, hihi

Ah senangnya. Alhamdulillah.

Alun-Alun Kotak VS Alun-Alun Bunder Malang, Ruang Terbuka Rakyat VS Ruang Eksklusif Penguasa

Salah satu keunikan Kota Malang adalah memiliki dua buah alun-alun.



Dua buah alun-alun ini hanya terpisah sekitar 1 km dan dibatasi oleh Sungai Brantas yang mengalir diantara keduanya. Meski hanya terpisah “sepelemparan batu”, namun tahukah anda bahwa kedua ini memiliki posisi yang berbeda dalam sejarah perjalanannya? Kedua tempat yang instagramabel ini, ternyata menjadi tempat eksistensi sesuatu yang disebut ruang terbuka untuk rakyat.  Sedangkan yang lainnya merupakan ruang eksklusif bagi penguasa. Mengapa bisa demikian?

Sejarah panjang kedua alun-alun itu dimulai saat masa penjajahan Belanda. Alun-alun Kotak yang  sering disebut Alun-Alun Malang lebih dahulu dibangun pada tahun 1882. Pembangunan alun-alun ini, awalnya tak lepas dari simbol kekuasaan dari kota-kota di Pulau Jawa. Meski begitu, ternyata alun-alun Malang memiliki anomali dibandingkan dengan alun-alun lainnya. Anomali tersebut adalah letak bangunan-bangunan yang mengelilingi alun-alun tersebut. Biasanya, sebuah alun-alun akan dikelilingi oleh pendopo kabupaten yang langsung menghadap ke alun-alun. Namun, alun-alun Malang ini menyalahi aturan tersebut. Kenapa?

Alun-alun Malang di suatu pagi dengan latar Pendopo Kabupaten Malang.


Letak pendopo kabupaten berada di sebelah timur alun-alun dan tidak menghadap tepat ke arahnya. Pendopo tersebut menghadap ke selatan, yakni ke pusat perbelanjaan Gajah Mada Plaza dan Malang Plaza. Anomali inilah yang diyakini sebagai bukti bahwa alun-alun Malang tidak merepresentasikan kekuasaan “bangsawan jawa”, melainkan merupakan representasi dari Pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintah Kolonial membangun berbagai bangunan khas Belanda,seperti rumah residen, Javasche Bank, gereja, dan Sociteit Concordia (tempat para pembesar Belanda berpesta di sekitarnya). Jadi, maksud awal dari pembangunan Alun-alun Malang adalah untuk membentuk sebuah pandangan bahwa pusat kota sudah dikuasai Pemerintah Kolonial. Dengan adanya representasi dari bangunan kolonial tersebut, maka kontrol ekonomi kolonial atas pribumi akan didapat.

Namun, ternyata maksud dari Pemerintah Kolonial ini tak bisa tercapai. Alun-alun Kota Malang yang seharusnya menjadi sebuah cermin kontrol penguasa ternyata dengan mudah dikuasai rakyat. Anggapan ini didasarkan pada sebuah foto lama yang dikoleksi oleh A. Bierens de Haan. Foto hitam putih yang diambil sekira tahun 1900an itu menggambarkan betapa mudahnya Alun-Alun Kota Malang ditaklukan oleh rakyat jelata. Banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan di bawah pohon beringin rindang yang berada di sisi barat dan selatan alun-alun. Para pembeli pun juga terlihat banyak. Duduk dengan asyik menikmati hangatnya sore di Malang yang saat itu sebenarnya masih terkungkung oleh kekuasaan kolonial. Mereka tak peduli dengan para penjajah yang masih bercokol di Bumi Arema. Meski tidak secara fisik, namun mereka melakan perlawanan “kultural”. Menguasai alun-alun yang seharusnya  bisa dilakukan dengan mudah oleh Belanda. Lalu, mengapa bisa terjadi perlawanan kultural semacam itu?

Suatu sore di alun-alun Kota Malang (www.kitlv.nl)

Jawabannya kembali pada anomali tadi. Konsep filosofi dari pembangunan Alun-Alun Malang tidak terlaksana. Tatanan simbolik untuk menguatkan citra kekuasaan tidak bisa dicapai. Meski banyak bangunan kolonial di sekelilingnya, tak satupun bukti menunjukkan eksistensi kolonial Belanda di Alun-alun Malang. Yang ada malah sebaliknya, rakyat jelata begitu mudah menguasai alun-alun.

Rakyat jelata yang bisa bebas di alun-alun Kota Malang. Termasuk, selfie dan menginjak rumput, hihi


Jika orang Belanda bisa berdansa dan nongki-nongki di Gedung Sociteit yang tak jauh dari alun-alun, maka rakyat jelata juga tak mau kalah. Aneka seni lokal sering dipentaskan di alun-alun, semisal seni ludruk. Pementasan ini sering dilakukan di sisi timur laut alun-alun. Hiburan rakyat ini semakin ramai tatkala perlawanan kultural semakin kuat. Bagi warga pribumi yang kebanykan beragama islam, perilaku orang Belanda yang berdansa ria dan mabuk-mabukan di Gedung Sociteit adalah perilaku dosa besar. Untuk menghindari hal tersebut, maka hiburan rakyat adalah satu-satunya cara.

Panggung hiburan yang sering diadakan di Amun-alun Kota Malang

Pemerintah kolonial semakin mengabaikan keberadaan alun-alun Malang. Mereka membangun jalur trem yang membelah alun-alun dari arah barat laut menuju arah tenggara. Jalur trem ini menghubungkan Blimbing dengan Dampit (Malang Selatan). Sebuah halte di bawah pohon beringin menambah keramaian alun-alun Malang dengan segenap aktivitas rakyat jelatanya. Alun-alun Malang semakin tidak diperhatikan pemerintah kolonial setelah Kota Malang lahir pada tahun 1914. Pihak gementee (Pemerintah Kota Hindia Belanda) tidak memasukkan alun-alun Malang sebagai bouwplan (rencana pembangunan) tata kota. 

Spot di bawah kandang burung adalah favorit saya di Alun-alun Kotak. Dahulu, jalir trem yang legendaris melintas di sana.

Thomas Karsten, sang arsitek Kota Malang sejak “kemerdekaan” kota ini dari Kabupaten Malang mulai menata ulang pusat pemerintahan baru. Karsten mulai membangun kawasan Alun-alun Bundar dengan bangunan khas eropa yang mengelilinganya. Alun-alun yang baru ini diharapkan tetap menjadi representasi kekuasaan kolonial. Meski citra tersebut akan dibangun, Karsten tak begitu saja melupakan filosofi kearifan lokal. Susunan tapak catur yang berpedoman pada empat arah mata angin tetap digali. Walaupun, tetap saja, pembangunan alun-alun Bunder masih menyisakan keanehan karena berbentuk lingkaran, bukan segiempat.

Berselfie dan narsis di Alun-alun Bundar tidak bisa dilakukan secara sembarangan

Kearifan lokal yang dilakukan Karsten dalam menyusun alun-alun Bundar tidak serta merta membuat bangunan ini bisa menjadi milik rakyat seperti alun-alun kotak. Alun-alun Bundar tetap menjadi simbol hagemoni kekuasaan kolonial atas pribumi. Apalagi, konsep pembangunan alun-alun Bunder juga dikenal dengan istilah J.P. Coen Plien. Sudah kita ketahui bersama bahwa nama J.P. Coen sendiri adalah nama seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda pada awal kekuasaan Belanda di Indonesia. Penamaan ini bermaksud agar hanya kaum Eropalah yang boleh melaksanakan kegiatannya di tempat ini. Salah satunya adalah parade militer Belanda untuk memperingati naiknya Ratu Wilhemina. Tak satupun aktivitas rakyat pribumi bisa dilangsungkan di sana.

Sebuah bus Macito (Malang City Tour) sedang melintas di depan Gedung DPRD Kota Malang, yang mewah dan eksklusif

Selain Gedung Balaikota, di sekitar alun-alun Bunder juga dibangun sekolah elit  dan eksklusif yang hanya dikhususkan untuk kaum bangsawan dan eropa. Bangunan HBS/AMS itu kini masih kokoh berdiri. Menjadi kompleks SMA Tugu (SMA Negeri 1, 3, dan 4 Malang). Bangunan sekolah-sekolah ini juga menghadap ke alun-alun bundar. Adanya sekolah tersebut semakin mencirikan stratifikasi sosial dan rasial di kawasan alun-alun bunder.

Tampak samar-samar gedung SMA Tugu, salah satu kompleks SMA elit di Kota Malang. Beruntung, selepas kemerdekaan, kaum pribumi seperti saya bisa merasakan nikmatnya menuntut ilmu di sana.

Setelah kemerdekaan, rupanya kedua alun-alun itu masih menyimpan fungsi kultural seperti masa penjajahan. Alun-alun Kota Malang (alun-alun kotak) tetap menjadi sarana rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang. Warga Malang bisa menikmati air mancur di tengah alun-alun, duduk-duduk manis di rerumputan, memakan sempol di pinggir alun-alun, atau sekedar selfie untuk memanjakan hati. Tak ada banyak larangan ketika warga menjejakkan kaki di sana. Hanya peraturan untuk tidak membuang sampah sembarangan, larangan merokok, dan  tak membuat keonaran. Meskipun  petugas satpol PP tetap mengawasinya 24 jam, rasa memiliki alun-alun sangat kental.

Berbagai fasilitas dibangun di alun-alun kotak. Warga bisa memanfaatkannya dengan bebas dan gratis.


Berbeda dengan alun-alun kotak, hingga kini alun-alun bundar masih terkesan tertutup untuk dinikmati masyarakat lebih luas. Pagar besi yang menutup tugu membuat tak banyak aktivitas bisa dilakukan di sini. Memang, taman di alun-alun ini sangat bagus. Karena sangat bagusnya itu, maka aktivitas narsis dan sebagainya cukup terbatas untuk dilakukan di sana. Tak hanya itu, tak seperti alun-alun kotak yang sering digunakan warga berkspresi dan membuat panggung hiburan, alun-alun bunder berada pada sisi yang berbeda. Panggung hiburan dan acara seremonial hanya bisa dilakukan oleh pemerintah kota. Jika pemerintah kota berselera untuk membuat pertunjukan wayang, maka pertunjukan wayang pun digelar. Jika pemerintah kota berkenan bershalawat massal, maka shalawat massal akan digelar semalam suntuk.

Dua wanita sedang narsis di taman Alun-alun Bunder. Saya baru sadar, warna dasar tulisan "Balaikota Malang" menunjukkan dari mana sang penguasa kota berasal.


Meski saling beroposisi, kedua alun-alun tetap menajadi komposisi biner yang saling melengkapi sejarah panjang Kota Malang dan kehidupan warganya.     


Sumber :
Basundawan, Purnawan. 2009. Dua Kota Tiga Zaman : Surabaya dan Malang. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. 2013. Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang : Disbupar Kota Malang.
Handianoto dan Soehargo, Paulus H. 1996. Perkembangan Kota dan Arsiterktur Kolonial di Malang. Surabaya-Yogyakarta : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Univ. Kristen Petra dan Penerbit Andi.   

Artis Smule Philpop Dadakan

Aduh, saya sedang dalam tekanan batin tingkat dewa.

Ilustrasi/http://whatsapps4laptop.blogspot.co.id


Bagaimana tidak, ada saja episode laporan BOS yang belum kelar. Nah, agar tak stress, maka saya butuh hiburan. Celakanya, saya sekarang pilih-pilih banget untuk menghibur diri. Bagi seorang jomblo kesepian seperti saya, tak mudah lho mencari hiburan. Diantara sekian banyak hiburan yang ada, pilihan saya jatuh kepada : Smule.

Beruntung sekali saya hidup di zaman sekarang. Apa-apa ada. Jadi, saya bisa berkaraoke dengan asyik tanpa mengeluarkan kocek yang dalam. Tak seperti tempat karaoke, kita hanya butuh 12.000 tiap bulan untuk bisa bernyanyi aneka lagu semau kita. Kita bisa berkolaborasi dengan orang lain yang belum kita kenal. Dengan aneka suara tentunya.

Nah, kalau anda membaca postingan saya sebelumnya, saat ini saya sedang menggandrungi lagu-lagu Philpop. Artinya, ketika saya mencoba menyanyi di aplikasi Smule, yang saya nyanyikan adalah lagu-lagu Philpop. Kenapa saya suka Philpop? Balik lagi kepada alasan saya menggandrungi Filipina dan aneka isinya, hehe.

Saat saya mencari lagu-lagu Philpop di Smule, saya tak terlalu kesulitan. Selain minat menyanyi orang-orang Filipina yang cukup tinggi, rupanya mereka juga gencar mengunggah lagu-lagu Philpop terbaru. Baik yang merupakan versi asli (original), atau versi covernya. Semisal, versi akustiknya. Tak hanya rajin mengunggah, mereka juga punya beberapa “Perkumpulan Smule”. Perkumpulan semacam ini juga temukan perkumpulan ini pada para smuler Indonesia.

Namun, yang membuat asyik, tak jarang mereka melakukan audisi untuk mencari bibit-bibit baru dalam dunia tarik suara. Ternyata, setelah saya telusuri lebih dalam, banyak diantara mereka mencari bibit-bibit baru untuk dijadikan artis cover lagu-lagu tertentu di youtube. Oh, ada juga toh semacam itu. Saya baru ngeh karena setelah melihat cover lagu Philpop di youtube, yang nyanyi kok kebanyakan pernah duet dengan saya. Ceile.

Di balik itu, menyanyikan lagu Philpop yang berbahasa Tagalog sama artinya juga dengan menyelami bahasa tersebut. Bahasa yang bagi sebagian besar orang di sekitar saya aneh dan tak penting untuk dipelajari. Bahasa yang bagi banyak orang juga terdengar seperti logat ngapak basa Banyumasan. Akhirnya, saya harus memiliki mental kuat untuk bisa menyanyikan lagu-lagu berbahasa Tagalog tersebut di tengah penutur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Nah, menyanyikan lagu Philpop di Smule itu juga bisa dijadikan alternatif belajar bahasa Tagalog. Kesulitan utama saya belajar bahasa ini adalah penggunaan konektor antar kata. Jadi, dalam bahasa Tagalog, dikenal dengan adanya konektor (kata hubung) yang menghubungkan antar kata. Contohnya adalah ng, ang, mga, sa, mo, dll. Nah, saya masih belum paham betul kapan konektor-konektor tersebut digunakan. Ketika membaca buku Tagalog Lesson for Beginner, saya masih sering kesulitan menentukan kapan konektor-konektor itu dipakai. Nah, setelah bersmule ria, sedikit-sedikit saya paham penggunaan konektor tersebut. Apalagi, jika arti dari lagu tersebut adalah pujian terhadap seorang wanita. Duh, mana tahan?

Kesulitan lain adalah pemenggalan kata. Dalam bahasa Tagalog sendiri, pola kalimat yang digunakan sering menggunakan pola P-S-O (Predikat-Subyek-Obyek). Masalahnya, sering sekali, predikat yang digunakan terpenggal dan bagian akhirnya bergabung dengan konektor yang menghubungkannya dengan subyek. Bingung kan?

Gampangnya, kadang antara bacaan dan pengucapannya tidak sama. Meskipun, kalau didengarkan seksama, ya masih mirip. Contohnya pada kalimat:
Sayang din naman ang porma
Cara baca yang tepat ternyata adalah : sayang di nama nang porma
Huruf n pada kata “naman” bergabung dengan konektor ang yang menhubungkannya dengan kata “porma”. Nah ini yang membuat saya semakin tertantang menyanyikan lagu-lagu Philpop.

Asyiknya lagi, karena beberapa waktu lalu ada sinetron Filipina yang booming di Indonesia, maka banyak smuler dari Indonesia yang menyanyikan lagu Philpop. Lucunya, karena ya masih sama-sama belajar dengan saya, kadang pemenggalan-pemenggalan seperti di atas kacau balau. Belum lagi, banyak smuler yang membaca konektor “ng” yang seharusnya dibaca “nang” jadi neng. Konektor “mga” yang seharusnya dibaca “manga” jadi moga. Maka, ketika ada smuler wanita Indonesia yang menyanyikan lagu Philpop dengan kalimat semisal “Ang araw ng mga puso ...... kita”, saya dengarnya ya neng dan moga terus kita. Iya neng, semoga kita berjodoh ya, hihi. Hal terakhir yang gokil saat menyanyikan lagu-lagu Philpop adalah suara medok saya yang tak bisa hilang. Yah , namanya saja orang Jawa. Padahal, ketika saya beryanyi, rasanya gak medok-medok amat. Tapi, begitu mendengar rekaman suara saya, yang harusnya ngapak jadinya medok total. Tak apalah, namanya juga lagi belajar kan?


Oke terimakasih terimakasih :)


Anyway, nyanyi lagu Philpop itu asyik. Para smuler Pinoy yang kebanyakan juga TKF (Tenaga Kerja Filipina) itu suaranya asyik-asyik. Bikin merinding. Tak hanya itu, mereka juga mengapresiasi  suara medok saya dan kadang juga heran, kok mau-maunya orang Indonesia menyanyikan lagu-lagu Philpop. Yah, namanya juga hiburan kan?



Okay, please join singing po ung masyadong marunong :D

Bersyukur Atas Karunia Ikatan Hidrogen

Bersyukur Atas Karunia Ikatan Hidrogen
Air merupakan salah satu Sumber daya alam penting di muka bumi ini. 

Sumber : hwstatic.com

Tanpa adanya air, mustahil makhluk hidup mampu bertahan hidup di bumi ini. Makhluk hidup membutuhkan air untuk berbagai keperluan hidupnya. Terlebih lagi bagi manusia, air merupakan senyawa penting yang menyusun tubuh manusia.

Membicarakan air, pernahkah kita berpikir mengapa pada temperatur  kamar (temperatur kita mampu hidup dengan normal) air berwujud cair? Mengapa kita sulit sekali mempertahankan wujud padat air seperti es batu pada temperatur kamar? Mengapa pula kita sulit untuk membuat air berwujud gas pada temperatur kamar?

Sifat air semacam itu, yang memiliki titik lebur  0°C dan titik didih 100°C pada tekanan 1 atm ternyata disebabkan adanya sifat khusus pada air. Apa sifat khusus tersebut? Jawabannya adalah adanya ikatan hidrogen yang terjadi antar molekul air.


Es yang Segera Mencair pada Temperatur Kamar (semuaartikeladadisini.blogspot.com)

Apakah ikatan hidrogen itu? 

Ikatan hidrogen merupakan salah satu gaya antar molekul, yakni gaya dipol-dipol yang paling kuat. Gaya antar molekul sendiri adalah gaya tarik-menarik antara molekul-molekul yang saling berinteraksi. gaya ini terdiri dari tiga jenis gaya, yakni gaya London, gaya dipol-dipol induksian, dan gaya dipol-dipol. Ikatan hidrogen merupakan salah satu jenis gaya dipol-dipol, yakni gaya antar molekul yang terjadi pada molekul-molekul polar. Molekul polar sendiri adalah molekul yang memiliki momen dipol.

Energi yang dimiliki oleh ikatan hidrogen adalah antara 4 sampai 45 kJ/mol. Jika diamati, energi ini jauh lebih lemah daripada ikatan ionik maupun ikatan kovalen yang besarnya antara 400 hingga 500 kJ/mol. Inilah salah satu alasan yang menyebabkan mengapa air pada temperatur kamar tidak berwujud padat.  Meskipun ikatan hidrogen pada air tidak sebesar ikatan ionik (seperti pada garam dapur) dan ikatan kovalen (seperti pada batang karbon), namun ikatan ini sangat penting bagi kehidupan manusia.



Mengapa penting ?


Jika kita andaikan bahwa tidak ada ikatan hidrogen, terutama pada air maka pada tekanan 1 atm, air akan mendidih pada temperatur  -100°C. Bisa dibayangkan sulitnya kehidupan kita. Kita mustahil untuk minum, mandi, apalagi membuat es krim. Seluruh air di lautan akan menjadi uap air. Dan, tak akan mungkin adanya kehidupan di bumi.


Tidak hanya terdapat pada air, ikatan hidrogen berperan penting pada protein yang menyusun tubuh makhluk hidup. Protein sendiri merupakan kumpulan residu-residu asam amino yang terikat oleh ikatan peptida. Selanjutnya, protein akan membentuk struktur 3 dimensi yang menyebabkan strukturnya menjadi kompak dan fungsinya dapat terlaksana dengan baik. Bisa dibayangkan pula jika tidak ada ikatan hidrogen maka niscaya tak akan ada protein yang mampu berfungsi dengan baik sehingga tak akan ada kehidupan yang berlangsung.


Sebuah keteraturan yang hanya bisa diatur sedemikian rupa oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Alangkah egonya kita hanya bisa mengeluh. Mestinya kita malu dengan sikap kita. Mari kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia yang diberikan kepada kita berupa ikatan hidrogen. Seyogyanya kita selalu berdoa sebelum melakukan kegiatan seperti makan, minum, dan sebagainya sebagai rasa syukur kita atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.


Sumber Tulisan: Effendy. 2008. Teori VSEPR, Kepolaran, dan Gaya Antar Molekul. Malang: Bayumedia.

Kisah Perseteruan Masyumi dan PKI; Kisah Dua Gajah Politik yang Hilang Ditelan Bumi

Saya baru tahu kalau kota kelahiran saya pernah dijadikan arena pertempuran politik superpanas yang mirip dengan apa yang terjadi sekarang di Jakarta.


Propaganda Masyumi dan PKI menjelang Pemilu 1955. Sumber rappler.com

Sudah lama, sih, sekitar tahun 1950an. Zamannya mbah kakung masih kinyis-kinyisnya merajut cinta dengan mbah putri. Kalau mendengar tahun segitu, pasti di benak saya adalah pertarungan maha gokil yang sering saya baca. Apalagi, kalau bukan perseteruan dua musuh bebuyutan dalam panggung politik Indonesia : Masyumi dan PKI. Dua partai politik yang sama-sama getol memperjuangkan ideologinya masing-masing untuk menjadi ideologi yang paling berpengaruh di Indonesia. Dua partai yang kini sudah tinggal kenangan. Meskipun, sisa-sisa peninggalan mereka, katanya, masih ada.

28 April 1954. Saya tidak yakin, anda yang membaca postingan ini sudah lahir. Satu tahun tepat sebelum pemilu pertama 1955 digelar. Meski masih akan setahun, kondisi politik tanah air sudah memanas. Saat itu, akan digelar rapat umum Partai Komunis Indonesia (PKI) di kota saya, Malang. Sebuah perhelatan besar akan digelar di alun-alun Kota Malang. Meski acara ini digelar oleh PKI, namun massa Masyumi juga datang.

Datangnya massa Masyumi disebabkan oleh provokasi dari PKI berupa sebuah spanduk bertuliskan “Kutuk Teror Perampok Masjumi-BKOI”. Spanduk ini adalah spanduk yang merespon demonstrasi Masyumi-BKOI di Jakarta pada 28 Februari 1954. Demonstrasi ini menyebabkan tewasnya salah satu perwira TNI Kapten Supartha Widjaja. Menyikapi demonstrasi ini, kedua partai ini bagai apa yang terjadi sekarang seperti saat dua kubu menyikapi aksi 411, 212, dan 112. PKI menganggap demonstrasi itu merupakan teror menjelang pemilu 1955. Namun, Masyumi menganggap spanduk itu fitnah. Meski saat itu belum ada medsos semacam FB dan sejenisnya, toh kedua partai bisa menggerakkan kadernya untuk menyikapi kejadian itu dengan posisi yang berbeda.

Suasana semakin panas ketika DN Aidit, Ketua CC PKI menyatakan bahwa memilih Masyumi itu haram dan memilih PKI itu halal. Meski tak mengutip ayat Al-Quran, tapi kontan saja, pernyataan Aidit itu membuat massa Masyumi semakin marah. Mereka meneriakkan kejadian Madiun 1948 adalah ulah PKI yang ingin menjadikan NKRI sebagai negara komunis. Massa Masyumi yang semakin marah lalu mencoba maju ke depan mendekati Aidit. Menuntut Aidit meminta maaf. Aidit pun meminta maaf dan menyatakan hanya ingin mengabarkan bahwa PKI bukan partai anti-agama. Pertemuan yang berakhir ricuh itu diakhiri dengan aksi perampasan semua atribut kampanye PKI.

Nah, yang bagi saya menarik, lagi-lagi adalah sikap kedua partai itu dalam menyikapi aksi tersebut. Kedua partai memiliki media massa masing-masing yang mencoba untuk menggiring opini publik. Harian Rakyat, media massa PKI mengabarkan bahwa kejadian itu sebagai percobaan pembunuhan terhadap Aidit, seperti yang diberitakan harian tersebut pada 31 Mei 1954. Namun, media massa milik Masyumi, Abadi,  mengabarkan sebaliknya. Kader Masyumi yang dipimpin oleh Ketua Masyumi Cabang Surabaya Hasan Aidid berupaya melindungi kemarahan massa.

PKI menjadi pemenang Pemilu Daerah 1957 di Kota Malang dengan meraih 12 kursi. Alm. Mbah Kakung sering bercerita betapa digdayanya PKI di Kota Malang.
Sumber : www.pemilu.asia  

Pertikaian dua partai ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal kemerdekaan. Saat orang-orang kiri mulai masuk ke pemerintahan. Apalagi, dengan naiknya Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri tahun 1948. Masyumi menganggap Amir lebih kiri dari Sutan Sjahrir. Pemeberontakan PKI tahun 1948 menyebabkan banyak anggota Masyumi, dari guru hingga kyai menjadi korban. Sejak saat itu, kebencian Masyumi terhadap PKI semakin tak terhankan. Perlombaan memperebutkan pengaruh ideologis semakin terbuka lebar.

Membaca sejarah dua partai itu bagi saya seperti menyelami apa yang terjadi sekarang. Kedua partai tak segan untuk saling serang. Saling memberi opini dan saling menunjukkan siapa yang paling benar. Kedua partai akan mencoba sekuat tenaga meraih simpati.

Masyumi berjaya di Jawa Barat. Hasil pemilu DPRP 1957 menujukkan Jawa Barat menjadi lumbung suara Masyumi.
Sumber Gambar : www.pemilu.asia

Kisah paling berkesan bagi saya adalah perebutan pengaruh dua partai itu di Kota Surabaya. Pemilihan Kepala Daerah pada 1958 merupakan front terbuka PKI dan Masyumi untuk meraih dukungan. Saat itu, tak seperti sekarang, pemilihan kepala daerah dilakukan oleh anggota DPRD. Pada DPRD Kota Surabaya hasil pemilu daerah 1957, Masyumi memperoleh 2 kursi, sedangkan PKI mendapat 17 kursi. Jumlah kursi yang jauh lebih banyak ini membuat PKI seperti berada di atas angin. Maka, Masyumipun terus membuat propaganda agar partai-partai lain mendukung calon yang diusungnya. Di kalangan masyarakat luas, kedua partai juga saling mencoba menggiring opini masyarakat. Namun, Masyumi gagal. Pemilihan Walikota 1958 itu dimenangkan oleh PKI yang mengusung Raden Satrio Sastrodiredjo. R. Satrio tampil sebagai Walikota Surabaya pertama yang berasal dari PKI.

Hasil Pemilu Daerah 1957 untuk Kota Besar Surabaya. Sumber : www.pemilu.asia


Moerachman dan Dr. Satrio, dua Walikota Surabaya yang berasal dari PKI. Sumber Gambar : Wikipedia.

PKI menyambut kemenangan itu dengan gempita. PKI mengatakan bahwa kemenangan itu adalah kemenangan kaum buruh Surabaya, yang merupakan mayoritas warga kota. Sebaliknya, Masyumi menganggap kemenangan itu adalah petaka di sebuah kota besar seperti Surabaya. Hagemoni PKI semakin berkibar dengan naiknya Moerachman, salah satu kader PKI sebagai Walikota Surabaya menggantikan R. Satrio Sastrodiredjo.

Dua partai itu terus bertikai hingga penghujung 1950an. Dukungan beberapa petinggi Masyumi dalam pemberontakan PRRI-Permesta membuat Bung Karno semakin mantap untuk membubarkan Masyumi. Di awal 1960, Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui Keppres No. 200/1960.  Meski ada upaya menghidupkan Masyumi, Pemerintah Orde Baru menutup upaya itu. Parmusi dan PSII, dua partai yang diidentikkan dengan Masyumi, tak bisa meraih suara banyak pada pemilu 1971. Kedua partai itu lalu bergabung dengan NU menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara, PKI masih bisa bernafas lebih panjang lima tahun. Selama lima tahun kemudian, PKI mendominasi politik Indonesia. Ada anggapan jika Pemilu dilaksanakan pada waktu itu, PKI akan menjadi pemenang. Namun, peristiwa 30 September 1965 mengubah segalanya. PKI, tak hanya dibubarkan seperti Masyumi, namun anggotanya dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan menjijikkan. Sampah masyarakat yang harus dibasmi ke akar-akarnya.

Dua partai besar yang berseteru itu kini tinggal kenangan. Penerawangan ke masa lalupun saya akhiri. Melihat apa yang akan terjadi setelah tanggal 15 Februari nanti. Apakah kekuatan-kekuatan besar itu masih tetap ada? Atau akan juga lenyap menuju sunyi seperti PKI dan Masyumi ?

Hasil Pemilu Derah 1957 untuk Jakarta Raya. Jakarta, juga menjadi front terbuka perseteruan PKI dan Masyumi.
Sumber : www.pemilu.asia 

Entahlah, mungkin  lagi anggapan saya salah besar, toh manusia tempatnya salah. Tapi, tak ada salahnya belajar sejarah kan? Karena dari sejarah pertikaian Masyumi dan PKI ini, saya kembali memaknai peribahasa yang pernah saya pelajari :

Kalah jadi abu, menang jadi arang.

Meski kedua partai ini terus berseteru hingga akhir hayatnya, tapi saya sungguh salut dengan kisah kedekatan kedua tokoh ini di luar acara politik. M. Natsir, pemimpin Masyumi sering minum kopi bersama dengan DN Aidit sambil berbincang hangat mengenai keluarganya masing-masing. Bahkan, Ketua CC PKI itu tak segan untuk membawakan segelas kopi untuk Natsir. Biasanya, seusai rapat, Pak Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit. Padahal, saat rapat.Pak Natsir sering berkata ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi. Dan, hingga akhir rapat parlemen yang mereka lakukan, tak satupun kursi yang terlempar ke kepala Aidit. Malah, keduanya seperti sahabat karib.

 Ah, itulah Indonesia.

Catatan :
1) BKOI adalah Badan Koordinasi Organisasi Islam.
2) Catatan sejarah mengenai sepak terjang Raden Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman amat sangat minim. Bagi pembaca yang memiliki kisah dua orang tersebut, bisa kiranya untuk dibagi,
3) Tulisan ini tidak mewakili pandangan politik saya menjelang Pilkada serentak 15 Februari 2017.
4) Cerita seru tentang 2 partai ini bisa dibaca di Majalah Historia. Majalah ini saya rekomendasikan untuk belajar sejarah dengan cukup berimbang.

Sumber :
Majalah Historia Nomor 16 Tahun 2013
Majalah Historia Nomor 26 Tahun 2015
Seri Buku Tempo.  2011. Natsir, Politik Santun diantara Dua Rezim. Jakarta : KPG.
Basundawan, Purnawan. 2009. Dua Kota Tiga Zaman : Surabaya dan Malang. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Mas Dandy oh Mas Dandy

Sebenarnya saya sungkan nulis ini, tapi daripada jadi tompel eh bisul mending saya tulis saja. 


Taeyang Big Bang. Gambar diambil dari https://0.soompi.io

Suatu hari, saya mengurus dokumen di Kantor Kecamatan. Setelah pengurusan dokumen selesai, saya tiba-tiba ingin sekali ke belakang. Maunya saya tahan untuk beberapa menit ke depan dan berencana melaksanakannya di rumah. Namun, saya tak mau menyetir dengan kondisi “tak stabil” seperti itu, berbahaya, kata Pak Polisi. Lalu saya menuju toilet satu-satunya di Kantor Kecamatan itu.

Apesnya saya, di dalam toilet itu ada orang. Saya menunggu di depan toilet sambil berlinang air mata menahan keinginan saya. Lama sekali. Saya menempelkan telinga ke pintu. Sepertinya tak ada aktivitas air yang mengalir. Tapi, saya yakin ada orang karena pintunya terkunci. Mungkin ada seorang wanita yang sedang membenarkan hijabnya. Saya pun maklum. Namun, si gerangan di dalam tak kunjung keluar juga. Akhirnya saya pun mengetuk pintunya. Dan…. Jreng jreng jreng…..

Munculah seorang pria muda dengan rambut Mohawk seperti Taeyang  Big Bang. Dengan semerbak harum parfum lelaki yang  menyeruak hingga ke seluruh pelosok tanah air dan membasahi setiap relung di jiwa. Singkat kata : lebay. Saya melongo dan segera masuk. Tak peduli lagi dengan mas tadi. Yang penting keinginan saya segera terpenuhi. Alhamdulillah, akhirnya tuntas juga. Saat saya membuka pintu, Masnya tadi masih di depan pintu. Lah, mau ngapain lagi? Dengan melempar senyum dia masuk kembali, namun tak mengunci pintunya. Dia menaik-naikkan rambutnya lagi. Lha perasaan tadi sudah setinggi Burj Khalifa (gedung tertinggi di dunia milik Dubai)? Apa masih kurang? Saya melihat dengan tatapan nanar, lalu beranjak pergi.

Pada hari lain, saya berniat memotong rambut yang sudah hampir sebahu karena sudah ada yang sewot. Saya tak memiliki langganan, jadinya saya asal menepikan motor di sebuah pangkas rambut pria. Rupanya, pangkas rambut ini berbeda dari pangkas rambut pria kebanyakan. Di sini selain menyediakan servis potong rambut, juga ada servis lain seperti keramas,  cuci muka (facial), pijat muka, smoothing, catok, rebonding, dan servis-servis lainnya. Lah, saya berpikir, kalau pria diservis seperti itu apa gak rugi ya, kan paling-paling rambutnya paling panjang sebahu. Sambil antre, saya mengamati keadaan sekitar yang ramai oleh pelanggan. Ada seorang pria dengan kekasihnya yang akan potong rambut. Sang pria “berkonsultasi” dulu kepada pacarnya mau dipotong model apa. Pacarnya sibuk memilih-milih model rambut di katalog. Mereka galau, bagaikan akan menuju singgasana pelaminan. Akhirnya, pria tadi sepakat akan dipotong model spike tapi sedikit diberi “ornamen” di bagian belakangnya. Tapi, di sela-sela sesi potong rambut, si Mbak tadi terus memprotes tukang cukurnya. Kurang pendeklah, terlalu chubbylah. Ini sebenarnya yang mau potong rambut siapa sih? Saya lagi-lagi melongo dan berharap semoga adegan sinetron kejar tayang ini segera berakhir.

Pada hari lain lagi (semoga gak bosan dengan cerita saya ya), saya berniat mejeng beserta teman-teman geng pria. Kami sepakat hang out ke Mall. Saya berangkat bersama seorang teman. Saat di parkiran, saya menyelonong saja menuju pintu masuk. Saya kira teman tadi sudah di belakang saya. Tapi ternyata tidak. Setelah cukup lama menunggu di pintu masuk, dia tak jua muncul. Saya kembali lagi ke parkiran dan menemukannya masih di sana. Apa yang dia perbuat? Dia kembali menata puing-puing rambut mohawknya yang awalnya setinggi gedung WTC namun terkena hantaman pesawat 911 alias helm. Dia berkaca di depan kaca spionnya yang membentuk bayangan maya, tegak, dan diperkecil. Ya salam. Di Mall itu pula saya menyaksikan betapa ramainya wastafel toilet pria. Segala aktivitas aneka rupa, mulai dari cuci muka, membenarkan “tower” rambut, senyam-senyum berkaca, menyemperotkan parfum, hingga sekedar selfie saya temukan. Ya Tuhan ampunilah saya.

Tiga ilustrasi tadi cukup menggambarkan betapa kaum pria saat ini sangat gemar bersolek. Secara pribadi sebagai pria, saya cukup risih melihatnya. Prinsip saya begini. Sebagai seorang lelaki, memang kita harus tetap tampil menawan. Menawan di sini dalam artian masih patut untuk dilihat. Bisa diartikan banyak hal. \Rapi, kece,  atau bersihan. Tak bagus juga sih kalau tampil ala kadarnya, atau jorok. Tapi, benar-benar menjaga penampilan yang berlebihan adalah sesuatu yang memiriskan hati.

Bukan kodrat kita sebagai kaum pria untuk bersolek berlebihan. Biarlah itu sudah kodrat kaum wanita yang memang begitu takdirnya. Seorang teman fitness saya bahkan  mengkritik “pesolek pria” yang menyemprotkan parfum satu botol sebelum fitness. Jadinya, bau parfum bercampur dengan bau keringat dan itu cukup mengganggu ketertiban umum di sekitarnya. Kata teman saya tadi yang juga berprofesi sebagai model, macho itu bukan hanya dari penampilan yang “lakik” tapi juga dari berbagai aspek. Sama seperti Miss Universe, ada 3B, beauty, behaviour, and brain. Buat apa keren, cakep, ganteng, tapi tak bisa membedakan tulisan “pull” dan “push” seperti pada iklan budaya gemar membaca. Buat apa tampil bak artis Korea  yang “unyu-unyu” tapi kalau lagi sebel sama cewek misuh-misuh di depan cewek tersebut.

Jadi pria itu sebenarnya sebuah anugerah luar biasa lho. Kita diberi banyak  “kelonggaran”  yang tak diberikan Tuhan pada wanita. Kelonggaran ini sepantasnya kita gunakan untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih penting dan manfaat. Ingat iklan obat menstruasi dengan tagline “Untung cuma kita” ? iklan ini sebenarnya menyiratkan sebenarnya kaum pria harus bersyukur lho memiliki anugerah ini. Rasa syukur ini bisa dilakukan dengan banyak hal. Menjaga tubuh yang sewajarnya, terus belajar mengenai kehidupan, terus berpikir positif untuk bisa tahan banting dalam kondisi sesulit apapun, dan yang paling penting memuliakan kaum wanita.

Semua memang terserah anda, wahai para pria. Tapi, yang terpenting jangan sampai kegemaran “berdandan” anda mengganggu orang-orang di sekitar anda. Terutama bagi pihak yang amat sangat ingin menunaikan hajatnya. Sekian. Mohon maaf jika ada kesalahan. Salam. Selamat berakhir pekan.


Tulisan ini pertama kali diunggah di Kompasiana, menyalin artikel diperbolehkan dengan menautkan sumber. Kalau sudah membaca, jangan lupa komentarnya, ya.