Bukber Oh Bukber



Dibandingkan buka bersama, bagi saya lebih asyik sahur bersama


Tebak saya yang mana?
Seperti kenangan saya saat SMP dulu. Sehabis shalat tahajud bersama dengan mata yang masih kriyep-kriyep dan belum penuh 100%, acara dimulai dengan sahur bersama. Itu terjadi saat kegiatan pondok Romadhon. Kegiatan sahur bersama ini rasanya tak mungkin dijalani saat ini. Sahur dengan keluarga saja kadang tak bisa dijalani karena suatu hal, misal karena bekerja. 

Maka dari itu, pasti acara yang bisa dilakukan adalah bukber alias buka bersama. Beberapa menyebutnya dengan buber. Terserahlah, yang penting intinya sama. Melakukan buka dengan teman, keluarga, atau kenalan lama di suatu tempat. Biasanya di sebuah restoran atau warung, bisa juga rumah seorang teman. Sejak awal puasa, jadwal bukber akan terus ada layaknya jadwal kampanye pilkada. Bukber bersama teman TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, rekan kerja, teman main, atau komunitas pertemanan yang kita ikut di dalamnya. Aktivitas bukber ini menyebabkan restoran dan warung menjadi super ramai menjelang waktu berbuka. Bahkan beberapa diantaranya harus memesan dahulu agar tak kehabisan tempat. Acara bukber ini memang baik, selain menjalin silatrurrahmi, juga bisa dijadikan ajang ngabuburit. 

Namun, ada satu hal yang membuat acara bukber ini bisa mengurangi nilai ibadah puasa. Selain adanya kemungkinan untuk saling menggunjing, banyak peserta bukber yang lupa waktu sehingga tidak menjalani aktivitas ibadah Ramadhan, seperti shalat tarawih. Kadang dengan alasan masih ingin bernostalgia, rutinitas ibadah tersebut menjadi ditinggalkan. Sayang kan, padahal Ramadhan tahun depan belum tentu lho kita bisa menemuinya. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar acara bukber bisa tetap berjalan namun tak mengganggu ibadah Ramadhan. 

Pertama, alangkah baiknya kegiatan ini dimulai selepas ashar. Masalah tempat dapat dilakukan di mana saja, asal masih layak untuk bukber. Jika acara dimulai selepas ashar, maka kegiatan kangen-kangenan yang menjadi magnet bukber dapat dilakukan dahulu. Nanti selepas maghrib dan berbuka peserta bukber bisa langsung pulang dan menjalankan ibadah tarawih dan tadarrus Al-Quran, atau lihat Film Korea (lho???). Intinya, selepas buka kita sudah siap dengan aktivitas ibadah. 

Kedua, acara bukber dilakukan di rumah sesorang peserta. Tentunya sang tuan rumah harus berkenan. Selain menghemat biaya, tak ada batasan waktu yang mengikat, artinya tak perlu terburu-buru. Jika acara bukber terpaksa dilanjut hingga isya, maka lebih baik lagi dilakukan shalat tarawih dan tadarrus bersama. Rasanya akan lebih nikmat dan seru. 

Jangan Lupa Ibadah
Ketiga, daripada aktivitas bukber dilakukan dengan menggunjing orang lain lebih baik melakukan kegiatan keagamaan tadi. Atau kalau mau bercerita, seminimal mungkin menghindari gunjingan-gunjingan. Meski sulit, tapi ingatlah menggunjing orang akan mengurangi pahala puasa. 

Keempat, lebih baik lagi kita mengadakan bukber sekaligus beramal. Pahala amal saat bulan Ramdhan kata Pak Ustad akan berlipat ganda kan? Bisa kita lakukan ke panti asuhan atau ke tempat-tempat yang masih banyak orang memerlukan. Selain menjalin silaturrahmi, kita juga bisa berbagi dengan sesama. Ya sudah gitu aja, semoga acara bukber anda lancar dan tetap dapat barokahnya. Mohon maaf jika ada kesalahan. Selamat berpuasa. Wassalamualaikum wr. wb.

Ketika Senam Jumat Pagi tak Lagi Seragam

Putar ke kiri e...
Nona manis putarlah ke kiri
ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e.. 



Irama musik itu sontak membuat anak-anak segera melangkahkan kakinya ke arah kiri. Terus kiri sambil tertawa seolah mereka ingin terus –menerus berjalan ke kiri. Mendorong temannya yang berada di ujung kiri. Mereka sangat menikmati gerakan senam yang berasal dari NTT ini. Senam pun berlanjut dengan senam pinguin yang memiliki gerakan yang unik, seperti gerakan pinguin yang sedang berjalan. Anak-anak kembali riuh rendah oleh suara musik yang berasal dari Amerika Latin tersebut.


Setiap jumat, sebelum pelajaran dimulai, siswa-siswi di sekolah saya melakukan senam Gemufamire dan senam pinguin tadi. Senam ini menggantikan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) yang telah eksis sebelumnya. Sekolah saya sendiri hanya menggunakan senam ini hanya untuk kegiatan penilaian mata pelajaran PJOK dan kegiatan Lomba Bina Kreativitas Siswa (BKS) yang diadakan tiap tahun. Praktis, tak setiap jumat pagi, senam ini menjadi senam yang harus dilakukan anak-anak. Tak hanya instansi sekolah saya saja, beberapa instansi lain juga tak lagi menggunakan kedua senam tersebut. Sebuah Rumah Sakit swasta yang terletak persis di depan sekolah menggunakan senam dengan iringan senam yoga untuk menggiatkan jumat pagi setiap minggunya. Pun demikian, sebuah bank swasta yang tak jauh dari sekolah, menyetel keras lagu musik disko dangdut untuk mengiringi senamnya.

Penggunaan senam-senam lain dalam kegiatan jumat pagi ini memang menyisakan secuil kisah kejayaan SKJ dan SPI. Kedua senam ini memang menjadi salah satu alat pemerintah orde baru dalam usaha masif yang disebut “mengolahragakan masyarakat” dan “memasyarakatkan olahraga”. Usaha yang sejak 11 Maret 1984 digalakkan melalui Kepperes No. 17 tahun 1984 tentang jam krida bagi masyarakat. Peraturan tersebut memuat jam-jam yang harus dilakukan para pegawai negeri, tentara, karyawan BUMN, karyawan swasta, mahasiswa, dan pelajar. Masyarakat seakan “diwajibkan” untuk melakukan Senam Kebugaran Jasmani (SKJ) dan tidak diperkenankan melakukan senam-senam lainnya.

SKJ boleh pernah diwajibkan oleh pemerintah orde baru. Namun, sejatinya, senam ini berembrio dari senam Taiso yang selalu dilakukan oleh tentara Jepang saat pendudukannya di Indonesia. Pasukan militer seperti Peta, melakukan senam ini sebelum latihan dimulai. Tak hanya pasukan militer, beberapa sekolah Jepang di Indonesia juga memulai senam ini sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Senam ini juga menjadi agenda wajib bagi rakyat sipil. Pihak Jepang menggalakkan senam ini karena salah satu kehebatan bangsa Jepang adalah kesehatan rakyatnya yang gemar berolahraga. Maka, setiap pagi, orang-orang berkumpul memulai gerakan pemanasan dengan menekukkan lutut lalu tegak kembali. Gerakan tersebut diulang sampai satu baris musik dalam hitungan 2 x 8.

Senam Taiso yang digalakkan pada masa penjajahan Jepang (www.kaskus.com)
Gerakan selanjutnya dengan tempo lebih cepat yang disebut dengan gerkaan inti. Secara sistematis, gerakan dilanjutkan dengan gerakan leher hingga memutar punggung. Lalu kembali ke gerakan pertama untuk melenturkan otot-otot. Senam Taiso lalu ditutup dengan gerakan pendinginan yakni mengatur pernafasan. Senam yang singkat tak lebih dari sepuluh menit ini menjadi senam wajib yang harus dilakukan.

Selepas Indonesia merdeka, usaha untuk menyemarakkan senam seperti taiso mulai dilakukan. Diinisiasi dari beberapa peserta kongres Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada tahun 1973. Delegasi tersebut menemui Presiden Soeharto dengan maksud memberi masukan agar dilakukan usaha kembali olahraga massal seperti senam Taiso. Usaha ini didasari belum adanya gerak senam yang seragam pada masyarakat Indonesia.

Presiden Soeharto segera merespon positif ide ini. Melalui Depdikbud, pada tahun 1974 digelarlah Seminar Olaharaga Asli di Cipanas. Seminar tersebut mengkaji perlunya menggarap program olahraga masal untuk kesegaran jasmani. Program ini bertujuan menjaga kebugaran masyarakat sehingga diharapkan bisa terjadi produktivitas kerja dan belajar. Siswa-siswi diharapkan bisa semangat belajar dan para karyawan tak mengantuk saat jam kerja.

Program tersebut akhirnya melahirkan senam yang berifat nasional. Sebelum lahir senam ini, terlebih dikaji duliu gerakan-gerakan yang dapat meningkatkan kebugaran masyarakat. Tak hanya itu, sebuah sayembara untuk mengiringi musik senam dengan beberapa syarat khusus. Syarat-syarat tersebut antara lain mengenai hitungan, irama lagu, hingga tema lagu. Tema lagu harus sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, pancasila, dan UUD 1945.

Sayang, tak ada peserta yang memenuhi syarat sayembara berhadiah 200 ribu rupiah tersebut. Maka, panitia sayembara tersebut menunjuk salah satu Dirjen Kesenian Depdikbud yakni RAY Sudjasmin sebagai komponis proyek senam nasional ini. Proyek ini diharapkan selesai sebelum HUT RI Ke-30 pada 17 Agustus 1975. Dan proyek pun berhasil. Dikenalkanlah senam yang disebut Senam Pagi Indonesia (SPI) oleh Presiden Soeharto pada pidato kenegaraan Sidang DPR 16 Agustus 1975. Presiden Soeharto menyerukan untuk memulai senam ini secara teratur di seluruh instansi, sekolah, dan masyarakat.

Selepas seruan Presiden Soharto ini, maka mulailah dilakukan kegiatan masif untuk memasyarakatkan SPI. Semasif kegiatan khas orde baru lain, semisal kelompencapir dan penataran P4. Program penataran, seminar, hingga kursus dilakukan. Peserta yang mengikuti aneka kegiatan tersebut akan diberi sertifikat. Puluhan ribu kaset SPI disebar ke seluruh wilayah nusantara. Dan, senam ini menjadi propaganda pemerintah orde baru yang disebut Presiden Soeharto sebagai Panji Olahraga : “mengolahragakan masyarakat dan memasyaraktkan olaharaga”.

Salah satu buku petunjuk Senam Pagi Indonesia (oxl.com)
Selepas seri pertama, SPI kemudian berkembang ke seri berikutnya (A, B, C, dan D). Semenjak adanya Kemenpora pada 1983, SPI lalu disempurnakan menjadi Senam Kebugaran Jasmani (SKJ). Penyempurnaan ini dilakukan dengan menyingkat waktu senam, mempercepat tempo senam, hingga mengarasemen ulang lagu-lagu yang digunakan. Musik SKJ pertama sendiri dibuat oleh salah satu komponis Indonesia, Nortier Simanungkalit. Musik yang digunakan dibuat meriah karena senam ini bersifat aerobik dan banyak terdapat gerakan dinamis.


(Nortier Simanulangklit, Sumber : tahuberita.com)
 
SKJ lalu menjadi senam wajib menggantikan SPI sejak 11 Maret 1984, bertepatan dengan tanggal lahir awal mula kekuasaan orde baru (peristiwa supersemar). Pemerintah orde semakin menggalakkan senam ini yang juga tertuang dalam Rencana Lima Tahun (Rapelita) IV, yang berlangsung pada kurun 1984-1989. Setiap minggu, TVRI bahkan memutar SKJ untuk lebih menggalakkan senam ini. Penggalakan SKJ diikuti dengan pelarangan senam lain, terutama senam yang berbau Cina, seperti senam waintankung (kelak berubah nama menjadi Senam Sehat Indonesia) dan senam Taichichuan (kelak berubah menjadi Senam Tera Indonesia).

Senam Taichichuan yang kini dikenal sebagai Senam Tera Indonesia (http://senamteraindonesiajakartabarat.blogspot.co.id/)
SKJ berkala setiap 4 tahun dengan beberapa penyempurnaan. Hingga akhirnya, pemerintahan orde baru pun berkahir. SKJ tak lagi menjadi senam wajib. Meski pemberlakuan jam krida olahraga masih berlangsung hingga saat ini, SKJ tak dilakukan oleh semua instansi. SKJ 2012, yang merupakan SKJ teranyar, tak begitu diminati. Dalam sejarah senam saya di sekolah, hampir tiap tahun ketika duduk di bangku SD (periode 1990an akhir hingga 2000an awal), senam di sekolah saya berganti. Mulai SKJ 96, senam poco-poco, senam santri, dan senam jawa timuran. Ketika SMP, sempat saya melakukan senam 2004 sebelum diganti kembali dengan senam ayo bersatu. Saat SMA dan kuliah, tak ada senam jumat pagi yang dilakukan.

Cover SKJ 88 (i1.sndcdn.com)
Ketika mengikuti masa praktik kerja lapangan di sebuah pabrik gula milik PTPN, setiap jumat pagi saya melakukan senam bersama karyawan. Dipandu seorang instruktur wanita dengan iringan musik disko cepat berlagu Sagita Asololey Icik-icik ehem dan gerakan yang susah ditirukan. Saat bekerja di sebuah sekolah, SKJ kembali tak digunakan. Tiap jumat pagi, senam gemu famire seakan berlomba dengan senam musik disko yang memakan iringan halus dari senam yoga.

Sumber : Majalah Hostoria Nomor 5, 2012

(Sebuah Kisah) Hari Terakhir Ujian Sekolah

Ilustrasi (ciptacendekia.com)

Surat tugas itu tergeletak di atas meja. Menunggu untuk saya bawa pulang. Saya mendesah pelan. Kenapa saya jadi yang keluar?

“Ini terakhir buat Bapak. Kan tahun depan Bapak sudah tak di sini. Anggap saja sebagai kenang-kenangan”.

Saya masih mengingat kata-kata Bapak Kepala Sekolah seminggu sebelumnya. Saya hanya tak mengerti, biasanya segala administrasi pelaksanaan ujian di sekolah saya yang banyak mengerjakan. Kalau saya yang tugas keluar, lantas bagaimana?

Hari Pertama

Saya datang beberapa menit sebelum pukul setengah tujuh pagi. Gerbang sekolah masih terbuka separuh. Saya harus membuka gerbang dengan sempurna lantaran kecilnya pintu masuk. Selepas memarkir motor, saya lalu mencari letak ruang pengawas. Tak jauh dari parkiran motor, saya menemukannya.

Suasana masih sepi. Tak ada siapapun. Hanya suara anak-anak kelas 6 yang sayup-sayup saya dengar sedang mengikuti tambahan pelajaran. Dengan rasa heran, saya lalu duduk di sebuah kursi sofa yang saya yakini itu adalah kursi tamu. Di depannya, ada sebuah kertas bertuliskan nama-nama pengawas ujian. Termasuk, nama saya.

Sepuluh menit kemudian, saya memainkan gawai. Lalu, munculah seorang ibu separuh baya tergopoh-gopoh membawa toples berisi makanan ringan. Beliau lalu menyalami saya dan meminta maaf jika tak ada siapapun yang menemui dan menyambut saya. Saya hanya bisa tersenyum ramah. Respon yang (cukup) diplomatis.

Tak lama kemudian, muncul tiga pengawas lain. Ah, mungkin saya yang terlalu pagi. Tapi, pengalaman di sekolah saya tahun lalu, paling tidak pukul 6 pagi, di sekolah sudah banyak yang datang. Selain anak-anak Kelas 6 tentunya.

Beberapa saat kemudian, sang kepala sekolah datang. Seorang ibu, yang saya lihat dari nomor induk pegawainya beberapa tahun lagi akan purna. Beliau lalu menyalami kami. Tanpa banyak kata, beliau membuka pengarahan kepada pengawas ujian.

Pukul setengah delapan saya bersama satu rekan pengawas dari sekolah lain masuk ruangan. Saya mendapat kejutan. Bukan karena apa, sebagian besar rambut anak-anak peserta ujian berwarna kemerah-merahan. Saya yakin, itu bekas cat rambut. Namun, saya masih menyimpan kejutan saya. Tugas besar dimulai.

Selepas membagikan LJK dan soal, saya mulai mengisi daftar absen dan identitas peserta. Lagi-lagi, saya mendapat kejutan. Di sebuah nama, tertera tahun kelahiran sang anak yang bagi saya tak lazim. Tahun ini, siswa yang mengikuti ujian, rata-rata berangka kelahiran tahun 2004 dan 2005. Sang anak memiliki tahun kelahiran 2000. Saya mengernyitkan dahi. Berarti, 17 tahun. Sontak saya melihat foto peserta dan melihat sang anak.

Benar, seorang remaja laki-laki asyik duduk di bangku belakang. Asyik memberi tanda silang pada LJK. Memang, sepintas tak ada yang salah. Namun, melihat ukuran tubuhnya, saya menemukan perbedaan jauh dengan teman-temannya.

Sudah esema kan harusnya? Batin saya. Tapi, saya tak mau memikirkan lagi. Yang penting, ujian bisa berjalan lancar.

Hari kedua, ketiga, dan keempat

Saya masih bosan dengan dua jam tanpa melakukan apapun. Kadang, saya berkeliling kelas. Melihat gerak-gerik mereka yang sepertinya aman-aman saja. Selepas dua jam, pekerjaan mengurutkan LJK pun dimulai. Selepas LJK kembali tersegel, saya segera memberikan kepada Ibu Kepala Sekolah.

Di hari keempat, sang ibu kepala sekolah mulai bercerita kepada kami tentang sang anak yang menjadi misteri. Sang anak yang memiliki inisial A, memang mengalami masalah yang cukup pelik. Sang ayah, pernah tertimpa kasus pencurian yang sebenarnya bukan murni kesalahannya. Kebetulan, sang ayah bekerja sebagai tukang rombeng (tukang pengumpul barang-barang bekas). Suatu ketika, sang ayah mendapat sebuah barang besi rongsokan dengan harga yang lumayan.

Naas, ternyata barang tersebut adalah bekas hasil curanmor. Sang ayah terkena pasal pencurian sebagai penadah dan harus diganjar kurungan penjara selama beberapa bulan. Mulai itulah, si A menjadi tidak lagi terurus karena ibunya juga bingung dengan kasus yang menimpa.

Si A lalu bergabung dengan komunitas punk. Mengamen dan melakukan kegiatan negatif lain. Jarang masuk sekolah karena malu, hingga tak naik kelas. Pihak sekolah masih mempertahankan si A lantaran bisa dibilang memiliki potensi akademik yang cukup baik. Hingga tahun ini, dengan bimbingan yang cukup intensif, si A bisa mengikuti ujian.

Hari Kelima

Baru saja diceritakan hari sebelumnya, Si A tak datang hingga beberapa menit sebelum bel tanda ujian dimulai. Guru Kelas 6 panik. Beliau meminta izin untuk menjemput A di rumahnya. Sang kepala sekolah meminta kami untuk bersiap jikalau kondisi terburuk harus mengawasi si A di rumahnya. Pihak sekolah hanya ingin si A bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya. Tidak tertunda lagi.

Untunglah, si A muncul selepas bel berbunyi. Rupanya, keterlambatan si A lantaran ia tak memiliki bawahan baju pramuka. Entah ke mana, sebagai gantinya, ia memakai bawahan merah. Kombinasi seragam yang aneh karena ia memakai atasan pramuka lengkap dengan hasduk merah putih. Tak apa, yang penting si A bisa mengikuti ujian terakhir.

Bel tanda mengerjakan soal usai. Kami segera mengurutkan LJK lagi dan menyegelnya. Memberikannya kepada sang kepala sekolah. Di akhir pertemuan ini, beliau terus memohon maklum atas kekurangan sekolahnya. Beliau tak bisa berbuat banyak lantaran sekolahnya cukup miris keadaanya. Penjelasan yang saya amini dalam hati ketika menengok plafon yang cukup mengerikan, kamar mandi siswa yang jorok, dan kelas-kelas yang kusam. Tapi, saya maklum. Satu-satunya dana dari sekolah adalah dana BOS. Apesnya, tahun ini, dana BOS tak kunjung cair.

Selepas menerima nasi kotak kenang-kenangan terakhir dari sekolah yang saya awasi, saya bergegas pulang. Memacu motor keluar dari gang sekolah tersebut. Tak berselang lama, saya melihat keceriaan anak-anak sekolah sebelah. Sekolah negeri favorit yang selalu bersaing dengan sekolah saya (yang juga favorit). Memiliki fasilitas lengkap dan aneka prestasi yang layak dibanggakan. Tak lama juga, mata saya memandang sebuah pusat perbelanjaan maha besar. Bersanding dengan aneka tempat hiburan, restauran, hingga aneka spanduk hiburan bertebaran di jalan.

Saya hanya bisa menatap nanar dan memendam dalam hati, kenapa kasus seperti si A bisa terjadi. Di sebuah sekolah kecil yang seperti terabaikan. Padahal, sekolah ini berdiri di sebuah kota yang katanya kota pendidikan.

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan. Salam.

Ngeband Sejak Esde, Kenapa Tidak?


Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja


Lagu itu mengalun merdu dari dua orang anak Kelas 5 SD. Teriringi dengan asyik oleh beberapa alat musik ritmis dan melodis. Lagu yang santai tapi sarat makna itu benar-benar dinikmati oleh para tamu di sekolah tempat saya mengajar.

Saya senang sekaligus bangga. Di usia mereka yang masih kecil, mereka mampu memainkan alat musik dan menyatu dalam harmoni. Meski saya tahu, hal ini tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras dan latihan yang intensif.

Ini tahun ketiga saya menjadi pendamping ekstrakulikuler Band. Ekstrakulikuler yang paling muda di sekolah saya. Lahir bersamaan dengan adanya bantuan alat-alat musik band dari pemerintah berupa gitar, keyboard, bass, dan satu set drum. Agar alat-alat tersebut bisa bermanfaat, maka diadakanlah ekskul band yang bisa diikuti oleh siswa kelas 3 hingga kelas 5. Ekskul ini dibina oleh salah satu musisi band Kota Malang yang memiliki jam terbang tinggi. Tak hanya jam terbang tinggi, sang pembina bisa menjelaskan teknik-teknik bermain alat musik dengan jelas kepada anak-anak.

Selama mendampingi ekskul band, saya banyak mendapat kejutan demi kejutan. Saya sering mendapat talenta yang menurut saya tak mudah untuk ditemukan. Makanya, saat awal tahun pelajaran, pencarian bibit-bibit baru dilakukan. Ternyata, banyak yang sudah bisa memainkan kunci gitar dasar, seperti C, F, dan G. Ketiga kunci ini bisa digunakan untuk menyanyikan banyak lagu anak-anak. Saya juga menemukan pemain piano yang bisa memainkan beberapa lagu berbahasa Inggris.


Alunan suara dari para pemilik bakat olah vokal juga saya temukan. Namun, saya juga mendapat kesulitan untuk mencari bakat pemukul drum. Saya paham, menabuh drum cukup sulit karena berkenaan dengan tempo dalam sebuah lagu. Kadang, penabuh drum harus dilakukan oleh pembina ekskul sendiri. Meski begitu, untuk tahun ini, alhamdulillah saya mendapat dua penabuh drum yang sama-sama bertalenta.

Latihan rutin diadakan selepas shalat Jumat. Mereka belajar beberapa lagu anak-anak dan beberapa lagu dewasa namun memiliki arti yang universal. Yah namanya anak-anak, kadang sulit diatur untuk serius dalam berlatih. Yang paling sering terjadi adalah mereka memainkan drum tanpa aturan. Tapi, dengan pengkondisian yang baik, sepanjang masa latihan, mereka bisa memainkan minimal dua lagu tiap kali latihan.

Latihan rutin setiap hari jumat
Sayangnya, seperti kita ketahui, ekskul band di sekolah dasar adalah sesuatu yang langka. Tidak seperti tari, pramuka, olahraga, atau drum band. Tak pernah ada even lomba yang bisa diikuti. Tak ada festival band yang bisa menampilkan anak-anak. Saya paham sekali dengan hal ini. Agar latihan dan usaha mereka tak sia-sia, maka mereka sering ditampilkan dalam acara penerimaan kunjungan studi banding, perpisahan siswa Kelas 6, gebyar seni, dan acara lain.

Penampilan anak-anak ketika acara Halal bi halal Kecamatan Klojen
Melihat dari kurangnya even yang diadakan, lantas apakah kegiatan ngeband sejak esde ini tak terlalu dibutuhkan?

Meski saya menyadari, tak semua sekolah bisa seperti sekolah saya, kegiatan ngeband ini cukup penting. Beberapa materi pembelajaran di kelas 4 dan 5, memuat kompetensi dasar mengenai musik ansambel. Membaca patritur, mengatur tempo, hingga memainkan beberapa lagu dengan kunci dasar (C, F, dan G). Nah, jika sebuah sekolah sudah memiliki alat band, sayang jika tidak dimaksimalkan. Namun, jika belum punya, sang guru bisa mengajari secara sederhana beberapa teknik ansambel sederhana dengan alat musik seadanya. Semisal gitar dan ketipung. Pemikiran saya ini didasarkan karena banyak guru yang melompati bagian materi ini. Selain karena tak cukup waktu, keahlian sang guru kelas juga terbatas untuk mengajarkan materi musik. 

video

Kembali lagi kepada kegiatan ngeband. Saya menyadari sekali bakat musik itu adalah salah satu investasi yang cukup berharga. Sejak SD, saya sudah memulai belajar piano dasar. Meski saya akhirnya tak menjadi musisi handal, namun dengan bermain musik, energi saya bisa tersalukan ke arah yang positif. Ketika sudah besar, saya bisa mengungkapkan beberapa pemikiran melalui iringan lagu. Saya semakin menyadari betapa pentingnya pengasahan otak kanan berupa musik ini. Pengenalan lagu sejak dini memang penting, tapi mengenalkan alat musik kepada anak tak ada salahnya kan?

Suburlah Tanah Airku, Alunan Lagu Indah yang Tenggelam Bersama Lekra

Video itu terus saya putar



Alunan suara dari anak-anak Paduan Suara SD Patra Dharma 1 Balikpapan terus menggema di dalam kelas. Anak-anak masih ternganga dengan lagu itu. Sebagian dari mereka mencoba menirukan lagu yang belum pernah mereka dengar ini.

Seperti biasa, saya mencoba mencari alternatif lagu-lagu yang sesuai dengan tema pembelajaran. Dan, lagu inilah yang menjadi pilihan saya mengakhiri kegiatan pembelajaran tahun pelajaran kali ini. Kebetulan, tema terakhir yang harus dipelajari anak-anak adalah Lingkungan Sahabat Kita. 

Suburlah subur tanah airku
Tanah pusaka kelahiranku
Sawah ladangmu hijau selalu
Sungai lautmu luas membiru

Saya meminta anak-anak menyimak dengan seksama lirik lagu ini. Lalu, saya meminta mereka menuangkan apa yang mereka terima. Di luar dugaan, beberapa dari mereka sangat menyukai lagu ini. Bahkan, menurut mereka, lagu ini sangat enak didengarkan. Memiliki lirik yang sangat bagus. Ada yang mengatakan lagu ini mirip dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Menggambarkan Indonesia yang kaya, indah, subur, dan bahagia. Terlepas dari apa yang terjadi sekarang, lagu ini menjadi spirit bagi mereka untuk meniti masa depan Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Nah, jika lagu ini memiliki syair yang bagus dan bisa menjadi penyemangat kita, lantas mengapa tak banyak orang yang tak mengetahui lagu sebagus ini ?

Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah karena sejarah dan politik.

Subronto K. Atmojo, sang penulis lagu ini adalah salah satu seniman besar Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) yang diidentikan sebagai salah satu organisasi binaan PKI. Lahir pada 12 Oktober 1929, Subronto sejak kecil sudah mengenal kesenian lewat karawitan. Meskipun sang ayah ingin menjadikannya petani yang handal, jiwa seniman Subronto terus bergelora. Beberapa kali ia aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, semisal pertunjukan ketoprak dan paduan suara.

Bakat seninya semakin terasah ketika duduk di bangku kuliah. Ia masuk dalam Paduan Suara "Gembira" Jakarta yang banyak mengkuti berbagai ajang festival kepemudaan. Bersua dengan Amir Pasaibu, salah satu maestro musik Indonesia, Subroto banyak menimba ilmu. Dan, beberapa karya besar mampu diciptakannya. Salah satunya, lagu Suburlah Tanah Airku ini.

Lagu yang sering diputar di RRI saat masa orde lama ini banyak dipuji lantaran memiliki lirik yang indah dan tak akan lekang oleh zaman. Sayang, ketenaran lagu ini sirna selepas peristiwa 30 September 1965.

Subronto yang merupakan pendukung Bung Karno yang cukup loyal dan tergabung dalam Lekra ditangkap pada 5 Agustus 1968. Hidupnya berubah drastis. Lulusan Hochschule fur Musik di Jerman Timur ini lalu dibuang ke Pulau Buru pada tahun 1977 setelah sempat berpindah-pindah tahanan. Meski ditahan, jiwa senimannya tak pernah padam. Beberapa tulisan tentang musik ia telurkan, diantaranya ”Lagu Rakyat” dan salah satu lagu Maluku ”Bila Ale Kembale”. Praktis, sejak 1965, lagu Suburlah Tanah Airku tak lagi mengisi ruang di negeri ini. Selepas reformasi, tak banyak juga tempat bagi lagu ini.



Bumi persada luas meraya
Tempat bersujud patuh setia
Pertiwi curahan bela
Indonesia subur bahagia

Meski pahit, Subronto tetap bermusik untuk Indonesia. Ia masih aktif di beberapa kegiatan yayasan gereja dan menekuni pembuatan beberapa lagu. Konser bertajuk “Svarna Gita”, pada 1982 menjadi konsernya yang terakhir sebelum menghembuskan nafas terkahirnya pada tahun yang sama. Meski sudah tiada, lagu Suburlah Tanah Airku ini tetap abadi. Terkenang sampai kapanpun juga, walau tak banyak orang mengetahuinya. Pengajaran di sekolah adalah salah satu cara menghargai jasa penciptanya.


Sumber bacaan : (1)  (2)

It’s All About “Candi”

Lho ya, ke candi lagi


Teman saya menggumam ketika saya mengunggah foto liburan. Di saat orang lain mengunggah foto liburan ke pantai, gunung, tempat makan, dsb, saya malah mengunggah foto sebuah candi yang entah berada di mana.

Mau bagaimana lagi. Candi sudah menjadi obyek utama saya ketika liburan. Maka dari itu, pada tulisan kali ini, saya akan sedikit berbagi mengenai masalah-masalah percandian yang sudah saya jelajahi sepanjang hidup saya.

Mengapa suka sekali candi ?

Pertanyaan klasik yang harus terus saya jawab meski saya tak tahu pasti jawabannya apa. Bagi saya, candi itu unik. Bangunan ini sering membuat saya terpana. Meski saya seorang muslim dan juga sangat mengagumi masjid, tapi saya selalu punya pertanyaan yang tidak bisa saya jawab ketika membicarakan candi. Kok bisa ya, orang zaman dahulu membangun candi yang punya keunikan masing-masing. Apalagi, rata-rata candi yang ada di Indonesia dibangun sebelum abad ke-15 Masehi. Zaman segitu mana ada teknologi canggih. Inilah alasan utama saya suka ke ke candi.

Alasan lain, saya tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Biasanya, saya hanya membayar dengan menulis di buku tamu dan sedikit senyuman kepada penjaga candi. Kalau tak, saya hanya membayar parkir sebesar 2000 rupiah. Hanya beberapa candi saja yang terdapat tiket masuk maksimal 25 ribu.
 
Candi apa yang paling jauh yang pernah dikunjungi ?

Jika ditarik garis lurus dari rumah saya, Candi Borobudur dan Candi Mendutlah yang paling jauh. Saya belum pernah mengunjungi candi lain lebih jauh dari dua candi itu.
Candi Mendut, sementara ini candi terjauh yang saya kunjungi
Candi apa yang paling dekat yang pernah dikunjungi ?

Candi Badut adalah candi yang paling dekat dengan rumah saya. Jaraknya hanya sekitar 2,5 km dari rumah. Untuk mencapainya, saya hanya perlu melewati dua buah lampu merah. Candi ini adalah satu-satunya candi yang berada di teritorial Kota Malang. Tepatnya, di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Tak jauh dari Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (UB).

Kata ibu saya, dulu beliau sering sekali berjalan kaki dari rumah ke candi ini. Kalau saya? Naik motor aja deh.

Candi Badut dengan latar belakang Gunung Arjuno. Candi ini yang paling dekat dengan rumah
Candi apa yang paling sering dikunjungi?

Meski Candi Badut paling dekat, namun Candi Singosarilah yang sering saya kunjungi. Candi ini sering saya kunjungi karena saya memiliki saudara yang rumahnya tak jauh dari candi. Jadi, sekalian mampir. Candi ini juga memiliki akses paling mudah karena hanya beberapa meter dari Pasar Singosari. Hampir tiap bulan, saya menyempatkan diri ke sini.

Candi Singosari, candi yang paling sering saya kunjungi
Candi apa yang tidak ingin dikunjungi lagi?

Meski saya suka candi, ada beberapa candi yang ternyata saya tak ingin mengunjungi lagi. Candi yang pertama adalah Candi Kidal. Candi ini berada di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Masih satu rangkaian peninggalan Kerajaan Singosari. Alasan saya tak mau lagi ke sini adalah ada peternakan ayam di sekitar candi ini. Bau ayam dan kotorannya sangat menyengat. Malangnya, saya tak suka bau ayam dan segala rupanya. Padahal, candi ini memiliki taman terbaik karena cukup luas dan simetris. 

Alasan lain, untuk mengunjungi candi ini, jalan yang harus saya lalui cukup nanggung. Ada jalan pintas namun kondisinya rusak, sepi, dan merupakan daerah rawan begal. Jalan lainnya, saya harus memutar berpuluh kilometer sebelum mencapai ke candi ini.
Candi Kidal
Candi lainnya yang tidak ingin saya kunjungi lagi adalah Candi Borobudur. Alasannya, candi ini terlalu ramai bagi saya yang yang tak suka keramaian. Ketika saya mengunjunginya, saya tak bisa mengeksplorasi lebih banyak. Mau lihat relief ada orang narsis. Mau bergerak susah karena banyaknya pengunjung. Mungkin waktu kunjungan saya tidak pas karena selalu berbarengan dengan libur sekolah. Kalau ada waktu, bolehlah menjejaki candi ini lagi. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. Makanya, ketika saya ke Magelang/Jogja, saya tidak memasukan Candi Borobudur ke dalam daftar kunjungan.
Candi Borobudur yang super ramai
Daerah mana saja yang banyak Candinya?
Sleman adalah daerah yang paling banyak candinya. Makanya, saya pernah menulis artikel berjudul “Sleman Sembada, Nikmat Candimu Meruah di Mana-mana”. Kalau ke Jogja, rugi kalau tak menapaki candi-candi di Sleman. Bukan hanya Candi Prambanan saja, tapi Sleman punya aneka rupa candi dan situs purbakala. Yang saya suka, jarak antara satu candi ke candi lain sangat dekat. Bahkan, beberapa diantaranya tinggal meyeberang jalan. 

Favorit saya
Ini juga favorit
Candi apa yang paling bagus untuk berfoto?
 
Semua candi memiliki kekhasan masing-masing. Punya spot foto yang unik. Tapi, saya paling suka Candi Ijo di Sleman. Candi di atas bukit ini paling asyik. Kita bisa lihat sunset di sana, plus pemandangan Kota Jogja dari atas. 


Suka juga foto di sini
Candi apa yang paling “wingit”?
 
Kata orang, kita harus menjaga sikap ketika berada di candi. Iya, saya setuju karena ini adalah tempat suci agama Hindu dan Buddha. Tapi, kalau berbicara masalah mistik, bisa dibilang percaya dan tidak. Namun, bagi saya, Candi Banyunibo di Sleman adalah yang paling sepi. Candi ini berada di ujung sebuah jalan sebelum berakhir dengan hutan belantara. Ketika saya di sanapun, tak ada petugas jaga. Tak ada pengunjung. Apalagi orang jualan. Gak tau ya kalau sekarang. 

Candi Banyunibo
Candi apa yang paling berkesan?
 
Perjalanan ke Candi Bangkal adalah perjalanan paling epik, paling melelahkan, dan paling berkesan. (Bisa dibaca di sini). Candi ini baru bisa saya temukan setelah lelah berjalan mencari hampir sejam. Berada di tengah sawah, tak banyak penduduk sekitar tahu, dan tak ada petunjuk jalan. 

Perjalanan ke Candi Barong juga berkesan. Abang ojek yang mengantar saya sampai terengah-engah karena sulitnya medan. Padahal, medan yang harus kami lalui ada yang lebih mudah. Tapi, dari perjalanan ini, saya menemukan potret kemiskinan di DIY secara langsung.

Candi Barong
Pelajaran apa yang bisa diambil dari kunjungan ke candi-candi?
 
Banyak sekali. Selain belajar sejarah masa lalu, kadang saya juga bangga karena bangsa kita bisa lho membangun banyak candi seperti ini. Tak hanya itu, saya bisa belajar keunikan candi-candi, terutama perbedaan mendasar candi Jawa Timuran yang memiliki tubuh ramping dan candi Jawa Tengahan yang memiliki tubuh gemuk.

Saya juga sering mendapat hubungan asyik antara kehidupan masa lampau dengan kehidupan sekarang di daerah sekitar candi. Dari sini, saya merasa keterikatan ruang dan waktu itu kadang bisa secara jelas terjadi. Hanya saja, kita sering tidak menyadarinya.

Candi Jawa Tengahan (kiri) dan Jawa Timuran (kanan)
Jika ada kesempatan, candi apa yang ingin dikunjungi ?
 
Banyak. Namun, target saya yang utama adalah Candi Gedung Songo di Ungaran. Saya ingin sekali merasakan sensasinya. Kompleks Candi Dieng juga belum saya tapaki. Ratusan ceceran candi dan arca di jalur pendakian Gunung Penanggungan juga ingin saya sapa. Kalau tak, peninggalan candi Kerajaan Sriwijaya juga ingin saya lalui. Semoga saja ada kesempatan.

Candi utama target jalan-jalan saya. (http://infojalanjalan.com)
Apa harapan untuk candi-candi ke depannya?
 
Satu hal utama, harapan saya adalah peninggalan candi dan sejarah lainnya tidak terlupakan. Semakin banyak orang yang peduli terhadap pelestariannya. Saya sering  miris ketika ada teman bertanya letak suatu candi yang sebenarnya dekat dengan mereka. Saya tidak berharap candi menjadi tujuan utama wisata. Namun, jika banyak yang tidak peduli, maka sangat disayangkan candi akan semakin termakan usia dan terabaikan.