Batu Itu Apanya Malang, ya?

Pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan utama dari rekan-rekan yang akan mengunjungi Kota Wisata Batu


Ketika mereka menemukan hasil pencarian tempat-tempat wisata yang ada di Malang, kata kunci utamanya adalah Batu. Ketika mereka menemukan tempat-tempat instagramabel dengan latar belakang berbagai pegunungan, yang keluar adalah daerah dengan kata kunci Batu. Dan ketika mereka menemukan aneka tempat hiburan keluarga, kata kuncinya pun sama, Batu. Bahkan ketika mereka menemukan oleh-oleh khas Malang, maka yang ada adalah segala hal tentang Batu. Apel, dan segala macam olahan keripiknya. Lantas, apa bedanya Batu dan Malang ?

Malang Raya

Peta Malang Raya (Penas XIV 2014)

Daerah yang sering disebut orang sekarang ini sebagai Malang sebenarnya adalah suatu terminologi dari kawasan yang disebut Malang Raya. Secara administratif, Malang Raya adalah kumpulan 3 kabupaten dan kota di Jawa Timur yang dahulu merupakan bekas wilayah Karasidenan Malang saat penjajahan Belanda. Ketiga kabupaten dan kota ini adalah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Selain tiga kabupaten tadi, ada juga Kabupaten dan Kota Pasuruan, Kabupaten dan Kota Probolinggo, serta Kabupaten Lumajang. Namun, kabupaten dan kota tersebut saat ini tidak dimasukkan dalam Malang Raya.

Malang Raya menempati daerah bagian tengah selatan Jawa Timur yang dilintasi oleh pegunungan dan terdapat beberapa gunung besar. Maka tak heran, daerah ini banyak menyimpan potensi alam yang luar biasa yang cocok untuk pariwisata.
 
Nah, sedikit penjalasan tadi membuka pencerahan sedikit tentang Batu. Jadi, Batu adalah bagian dari Malang Raya. Sehingga, banyak orang yang menyebutnya sebagai Batu, Malang.

Penyebutan ini tak lepas dari sejarah panjang Batu yang merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Dulunya, Batu adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Meskipun hanya berstatus kecamatan pada awalnya, namun perkembangan Batu sangatlah pesat. Perkembangan ini ditunjang oleh banyaknya tempat wisata yang ada di Batu. Batu pun tumbuh menjadi kecamatan yang paling maju dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Malang.

Perkembangan yang pesat ini membuat Batu dinaikkan statusnya menjadi Kota Administratif pada 6 Maret 1993. Yang dulu SD menyimak pelajaran IPS pasti tahu apa itu yang disebut Kota Administratif. Tepat sekali. Kota Administratif adalah suatu wilayah, baik kecamatan maupun  gabungan kecamatan yang akan dipersiapkan sebagai kota otonom. Kota Administratif juga memiliki walikota, namun tak memiliki perwakilan DPRD layaknya kota lainnya.

Selama menjadi Kota Administratif, Kota Batu semakin tumbuh. Banyak wisatawan yang datang sehingga pendapatan daerah ini semakin meningkat. Selepas reformasi, keberadaan kota administratif dihapuskan. Kota Administratif yang belum siap untuk menjadi daerah otonom sendiri dileburkan kembali ke kabupaten induknya. Salah satunya adalah Jember. Nah untuk Batu sendiri, karena sudah mampu menjadi kota otonom, maka oleh pemerintah pusat dinaikkan statusnya menjadi Kota Batu.


Sejak menjadi Kota Administratif, Alun-alun batu sudah terkenal dengan icon Apel di tengahnya

Merdeka dari Kabupaten Malang

Tepat pada tanggal 17 Oktober 2001, Kota Batu resmi berpisah dari Kabupaten Malang. Sejak resmi “merdeka”, kota ini semakin melesat. Memoles daerahnya. Membangun pesat industri wisatanya. Para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara datang. Pada 2016 kemarin, sebanyak 3,9 juta wisatawan datang ke Batu. Jumlah yang cukup besar dan akan terus meningkat, mengingat pembangunan tempat wisata masih terus dilakukan.

Hanya dalam kurun waktu 16 tahun, Kota Batu berhasil terus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya. Sektor pariwisata Kota Batu sendiri menyumbang sekitar 65 % dari PAD totalnya. Jumlah yang cukup signifikan.

Perpaduan wisata alam dan buatan menjadi daya tarik bagi Kota Batu
Nah yang tak banyak orang tahu, Kota Batu ini masih mengalami sengketa wilayah dengan sang induk, Kabupaten Malang. Salah satunya, adalah sengketa mengenai batas wilayah. Beberapa daerah menjadi rebutan dua daerah otonom ini. Salah satu yang cukup menarik adalah sengketa Gunung Banyak. Gunung ini sendiri menjadi primadona bagi para wisatawan terutama karena keindahan alamnya dan sering digunakan untuk olahraga paralayang. Kedua daerah ini bersikukuh wilayah Gunung Banyak masuk teritorialnya. Entah siapa yang benar, yang jelas wilayah ini adalah wilayah yang memiliki potensi luar biasa.

Wilayah Gunung Banyak yang menjadi sengketa
Tak hanya rebutan wilayah, sempat juga muncul rumor bahwa tiga kecamatan di Kabupaten Malang ingin bergabung dengan Kota Batu. Ketiga kecamatan ini adalah Pujon, Ngantang, dan Kasembon atau sering disebut dengan Pangkas. Pesatnya pembangunan di Kota Batu membuat beberapa pihak di sana ingin bergabung. Selain itu, ketiga daerah ini merupakan eksklave (daerah yang terpisah dengan induk) Kabupaten Malang. Secara geografis dan sosiologis, warga di tiga kecamatan ini sangat bergantung dengan Kota Batu. Entah jadi atau tidak, kita tunggu saja hasilnya.

Pengunjung sedang mengabadikan momen di spot rumah terbalik Eco Green Park, Kota Wisata Batu
Jadi, pada intinya, wilayah Batu itu dahulu adalah bagian dari Malang. Meski sekarang sudah menjadi daerah otonom sendiri, Kota Batu tetaplah bagian dari Malang yang tak terpisahkan. Masih sama-sama Arema dan memiliki salam satu jiwa.


Sumber Bacaan :

Oleh-oleh Akang Sunda

Mau oleh-oleh apa?

Peuyeum ?

Batagor ?

Siomay ?

Atau cireng ?



Tanya saya kepada teman kerja wanita mengenai oleh-oleh yang ia inginkan ketika saya pulang dari Bandung. Lalu ia menjawab : 

“Akang Sunda aja yang ganteng”.

Waduh, berat banget itu oleh-olehnya. Carinya di mana coba ?

Lantas, saya bertanya kembali kenapa yang bersangkutan sampai kepingin banget sama si Akang Sunda. Menurut dia  akang sunda eh lelaki Sunda itu ganteng-ganteng. Referensinya adalah para penjual batagor dan bubur ayam yang ada di kota saya. Hmm, mulai SARA nih. Saya yang orang Jawa jadi gimana gitu. Kalah saing euy, haha.

Untuk memenuhi permintaan oleh-oleh akang sunda dari sang teman tadi, saya jadi sedikit banyak mengamati para lelaki (muda tentunya) saat berkunjung ke Bandung ini. Lho, jadi aneh kan? Gara-gara permintaan satu orang malah jadi melakukan hal yang tak penting. Tapi paling tidak bisa diceritakan kepada orang-orang.

Contoh akang-akang Sunda yang saya ambil bukan akang-akang yang dari kalangan menengah ke atas. Saya tak sempat mampir ke pusat-pusat tongkrongan kelas atas seperti kafe lantaran sedang jalan-jalan bersama keluarga. Tempat yang saya tuju adalah pasar, stasiun, dan beberapa pusat olahraga serta obyek wisata.

Bagi saya sih, secara kasat mata, akang-akang sunda itu ya hampir sama dengan mas-mas jowo. Ya iyalah, sama-sama satu rumpun bangsa melayu. Hanya saja, saya sering menemukan akang sunda yang memiliki bentuk mata yang lebih sipit dibandingkan dengan mas-mas jawa. Ini hanya pandangan saya lho, bisa saja salah.

Akang Sunda di Pasar Andir
Tak hanya itu, menurut saya, akang-akang sunda memiliki kulit yang lebih putih dibandingkan mas-mas jawa yang lebih ke sawo matang level cukupan (halah apaan). Maksudnya, kulit mereka lebih putih. Mungkin ini yang membuat teman saya tadi lebih tertarik melihat akang-akang sunda. Cuma, ya namanya lelaki ya suka di luar ruangan ya maka jadinya kulitnya gelap juga. Jadi, tergantung juga sih.

Akang-akang Sunda di Pasar Baru Bandung
Nah, yang saya heran kok saya jarang menemukan akang-akang Sunda yang tubuhnya tambun seperti saya. Iya lho beneran. Kalau di jawa (Timur) aduh kalau sudah pada lulus kuliah dan dapat kerja ya jadinya berubah menjadi gemuk. Saya adalah contoh utamanya. Sebelum lulus kuliah, berat badan saya 50 kg eh sekarang jadi 70 kgan. Begitu pula teman-teman pria saya yang juga pada melar. Kalau reuni kita sering berkelakar sesama teman pria, ”Sudah hamil berapa bulan?” Tapi, yang saya lihat, akang-akang sunda ini tubuhnya masih ramping-ramping gitu. Jarang sekali mereka yang bertubuh gemuk.  Kalaupun ada, itu paling beberapa dan kebanyakan para bapak-bapak usia paruh baya.

Akang-akang Sunda penjaja foto di Kawah Putih Ciwidey
Padahal, saya melihat akang-akang sunda ini suka njajan. Makanya, banyak sekali jajanan dari sunda terutama Bandung yang menjajah ke daerah lain. Kalau mas-mas jawa seperti saya, lebih mending makan nasi yang buanyaaaaak daripada njajan. Apa memang mereka suka njajan tapi porsi makannya sedikit ya.

Nah, tak hanya njajan makanan, mereka sering juga jajan motor. Waduh mahal juga. Maksudnya, saya sering menemukan para akang sunda yang heboh banget masalah motor dan segala tetek bengeknya. Sebenarnya sih, masalah ini juga ada di daerah saya, cuma mereka kok lebih greget gituketika berbicara masalah motor. Ketika saya mencoba mengorek info dan bergabung dengan akang-akang sunda yang sedang jagongan alias duduk-duduk, yang mereka bicarakan adalah masalah motor. Pindah tempat nongkrong juga motor yang dibicarakan.

Akang-akang Sunda yang lagi nongkrong
Kesukaaan akang-akang Sunda terhadap dunia otomotif ini rupanya membawa berkah tersendiri bagi mas-mas Jawa. Betapa tidak, mas-mas Jawa akan merantau ke daerah urban Tatar Parahyangan seperti Bandung dan Bogor untuk membuka usaha di dunia otomotif. Contohnya adalah beberapa kerabat dari Kediri yang cukup sukses membuka usaha jok motor di daerah Bandung. Setelah satu dua berhasil, maka mereka mengajak serta kerabat yang lain untuk turut serta membuka usaha. Dan ternyata usaha mereka lumayan sukses juga. Ketika saya tanya kepada kerabat tersebut mengenai kegemaran akang-akang sunda, memang benar adanya. Akang-akang sunda ini suka sekali gonta-ganti jok motor. Entah sebulan sekali atau dalam jangka waktu tertentu. Mau coba juga ?

Oh ya, satu steorotip yang sering terjadi di masyarakat adalah akang-akang sunda itu pemalas. Tapi, bagi saya sih tidak begitu. Mereka rajin-rajin kok mau usaha apa aja, terutama berjualan makanan dan pakaian. Bahkan beberapa tempat saya menemukan akang-akang Sunda dengan gigih menjual tisu seharga 5000 rupiah. Kalau masalah malas dan rajin itu tergantung kepribadian masing-masing yah.

Akang Sunda di sebuah rumah makan. Saya malah salfok sama itu ayamnya besar-besar bangeeet.

Akang-akang sunda juga cukup ramah. Ketika berjalan melewati saya mereka selalu bilang “Punten” atau “permisi”. Saya kagum lho sama kebiasaan satu ini. Oh, ya satu hal lagi yang menjadi kekaguman saya ketika berinteraksi dengan akang-akang sunda adalah ketika shalat berjamaah. Sebelum bilal mengumandangkan iqamah, mereka kompak berdiri. Saya awalnya menduga itu kebetulan terjadi di satu masjid itu saja. Namun, di masjid yang lain juga demikian. Semoga penilaian saya ini benar adanya.

Akang-akang Sunda juga gemar memelihara dan mengawinkan burung dara. Tampak akang sunda junior sedang membawa sepasang burung dara di daerah Katapang, Soreang.
Jadi, kesimpulannya, memang akang-akang sunda itu bolehlah dijadikan teman atau pendamping bagi kaum wanita nonsunda, terutama jawa. Kembali lagi pada pribadi masing-masing.

Sing apik yo apik, sing elek yo elek.

Bonus gambar. Mas-mas jawa tetap dong imut-imut dan menggemaskan, haha.

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan.

Disclaimer : Artikel ini tidak untuk tujuan apapun, hanya pengamatan asal-asalan dari penulis. Bisa saja salah besar. 

Ngejepret Keindahan Alam Tatar Pasundan dari KA Malabar

Penumpang yang kami hormati, perjalanan anda telah sampai pada Stasiun Cipeundeuy



Bagi anda yang akan mengakhiri perjalanan di Stasiun Cipeundeuy, harap teliti barang bawaan anda kembali sebelum meninggalkan kereta

Tetaplah duduk di tempat anda hingga kereta telah berhenti sempurna.

Terimakasih telah menggunakan jasa layanan PT Kereta Api Indonesia dan sampai jumpa pada perjalanan anda berikutnya.


Penumpang perokok aktif melampiaskan hasratnya sebentar di Stasiun Cipeundeuy
Penjaja makanan di St. Cipeundeuy

Mendengar pengumuman itu, mata saya masih belum bisa terbuka sempurna. Meski hari sudah pagi, tapi rasanya hati ini belum ikhlas untuk membuka mata. Maklum, saya memulai perjalanan dari Yogyakarta menuju Bandung tepat dini hari. Memanggul ransel dengan mata yang sudah sepat.

Meski berat, namun selepas Kereta Api Malabar kembali melanjutkan langkahnya, mata saya tiba-tiba segar kembali. Kereta yang berjalan sangat pelan ini tiba-tiba menyuguhkan atraksi luar biasa. Pemandangan maha indah yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jajaran pegunungan ditemani dengan permadani sawah dan sebaran pemukiman. Kabut tipis juga menyelimuti pemandangan itu.

Kemiringan jalur menuju Stasiun Nagreg ini membuat kereta tak bisa melaju kencang. Di sebelah barat mencapai 15 per mil, atau setiap 1 km jalur kereta api akan naik atau turun setinggi 15 meter. Sedangkan di sebelah timur gradiennya mencapai berkisar 5-15 per mil. Maka dari itu, kereta terasa berat jika melewati daerah ini.

Beratnya tanjakan memberi berkah tersendiri. Kita bisa menikmati keindahan alam di sini dengan duduk manis di dalam kereta api. Tanpa perlu naik turun gunung atau bersusah payah melewati bukit-bukit terjal. Hanya saja, jika ingin melakukan jepretan kita harus benar-benar siap ketika kereta melewati daerah pemandangan indah sebelum tertutup kembali oleh semak belukar.

Pertanyaan lalu muncul, mengapa daerah Nagreg bisa menyimpan keindahan alam seperti itu?

Setelah saya membaca beberapa artikel, ternyata terdapat pegunungan purba yang berderet memanjang dari timur hingga ke wilayah Nagreg. Sesungguhnya Nagreg sendiri adalah sebuah kaldera (bekas kawah gunung api) yang besar. Makanya, ketika saya melihat daerah ini dari ketinggian di atas kereta, tampak cekungan-cekungan. Cekungan tersebut beberapa tampak cukup besar. Cekungan ini juga banyak ditemui ketika kereta apai yang saya naiki melintasi daerah Cicalengka, selepas kereta mengambil penumpang di Stasiun Kiara Condong.

Oh ya, ada juga mitos mengenai stasiun-stasiun di daerah Nagreg ini. Mitos-mitos tersebut berkaitan dengan seringnya kecelakaan kereta yang terjadi di sana. Bahkan warga dan pengelola sempat mengganti nama beberapa stasiun agar kejadian yang tak diinginkan terjadi. Salah satunya adalah Stasiun Malangbong yang diganti menjadi Stasiun Bumiwaluya. Demikian pula, semua kereta yang melewati Stasiun Cipeundeuy tadi harus berhenti dulu. Padahal, stasiun ini bukan stasiun besar. Kalau saya sih hanya berpikir mungkin kereta sedang mengalami persilangan atau akan mengambil ancang-ancang guna melakukan perjalanan tanjakan tajam. Saat menunggu persilangan dengan kereta api lain di Stasiun Cipeundeuy, saya melihat petugas membawa senter sambil melihat bagian bawah rangkaian kereta. Sang petugas sedang mengecek kesiapan kereta agar bisa tampil prima ketika menuju Stasiun Nagreg yang merupakan stasiun dengan ketinggian tertinggi di Indonesia.
Stasiun Bumiwaliya di suatu senja
Apapun itu, daerah yang menjadi bagian dari Jalur kereta api Padalarang-Kasugihan ini adalah spot terbaik bagi para penggila foto kereta api. Tak hanya ketika melewati daerah Nagreg, saat kereta melintasi Cekungan Bandung, jepretan demi jepretan seperti enggan untuk berhenti. Sayang, saya tak membawa kamera saku atau tak bersama teman yang membawa kamera DSLR. Bermodal kamera ponsel Xiaomi Mi4i, inilah beberapa jepretan yang bisa saya ambil. Meski masih belum sempurna, tapi saya bersyukur bisa menikmati dan mengabadikan momen perjalanan menuju Bandung ini.

Jalur yang juga menjadi andalan Daerah Operasi 2 Bandung ini dilewati banyak rangkaian kereta api. Selain Malabar, terdapat juga kereta api Mutiara Timur, Kahuripan, Lodaya, Pasundan, Kutoarjo Selatan, Turangga dan masih banyak lagi. Namun, bagi saya, waktu yang tepat untuk ngejepret Tatar Parahyangan adalah dengan menaiki KA Malabar ini. Rangkaian kereta api yang berangkat dari Malang akan melewati daerah ini sekitar pukul 5 hingga 6 pagi. Pada waktu ini kita bisa berburu pemandangan matahari terbit. Sedangkan, rangkaian dari arah Bandung menuju Malang melewati daerah ini pukul setengah 5 sore hingga pukul setengah 6 sore. Waktu yang sangat tepat untuk melakukan jepretan saat matahari terbenam.
Di kepala saya langsung teringat akan Si Kabayan


Menikmati sawah yang membentang di pagi hari
Sawah-sawah dengan GBLA (Gelora Bandung Lautan Api) di tengahnya
Jalan berliku

Bagian di daerah Nagreg yang membentuk cekungan
Subhanallah
Sawahnya itu lho
Sayang, kamera dan tangannya kurang oke
Jadi pengen punya rumah di sana
Mencoba peruntungan sunset

Kereta memang tak ada duanya

Bagaimana, tertarik mencoba?

Sumber bacaan : (1) (2)

Malang ! Jepretan Terakhir

“Jadi, kapan berangkat?”
"Kapan?"


Ah, pertanyaan itu yang paling susah saya jawab beberapa hari terakhir ini. Jika saya bisa menjawab “entah”, maka satu kata itu yang akan saya jawab. Berat.

Tapi harus bagaimana lagi. saya harus pergi. Meski, jujur, saya belum bisa melupakan bayang-bayang kota ini. Meski, tempat yang saya tuju nanti adalah tempat yang (katanya) paling nyaman. Itu tak akan membuat hati kecil saya berkata bahwa hanya Malang adalah tempat yang akan terus ada di hati saya. Entah, sampai kapan.

Dan untuk mengakhiri perjalanan saya (sementara waktu) di kota ini, inilah beberapa jepretan saya akan kenangan di kota ini.Selamat menikmati.


Pemandangan kalau saya bangun tidur. Gunung Kawi !


Jepretan di Kampung warna-Warni

Kampung di Malang sekarang berubah. bangga!

Tamannya juga

Jadi betah duduk lama-lama

Atau mau berkeliling kota ?


Bernostalgia dengan teman mungkin ?

Di sini damai-damai aja!

Makanya bisa santai sejenak

Melepas senja

Sambil duduk manja
Atau sekedar berolahraga


Inilah kebanggan kami sebagai singa bola


Dengan jutaan Aremania

Yang tak ke mana-mana tapi ada di mana-mana

Yang terus berusaha
Untuk terus berkarya

Dan sekarang sudah tiba saatnya

Meninggalkan Malang tercinta


See you..............