[Iklan] Kemeriahan Ulang Tahun Ke-4 Hotel Atria Malang

Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk pulang kampung sebentar menghadiri acara Ulang Tahun Hotel Atria Malang yang ke-4. 


Acara yang diselenggarakan pada 5 Desember 2017 di Ballroom Atria Hotel & Convention ini sangat meriah.Saya datang bersama rombongan dari Komunitas Blogger Ngalam (Malang Raya). Ada Mas Khalid dengan portal Haba Nagan Rayanya, ada Mas Irfan yang merupakan salah satu duta wisata, dan pastinya ada mbak Zahrah Nida, pemilik blog Bunga Lompat yang sudah kita kenal semua. 

Kudapan yang disajikan di depan pintu masuk Ballroom.
Kami berempat janjian di lobi hotel selepas maghrib. Ternyata acara belum dimulai lantaran kami harus mencicipi kudapan kue yang ditata rapi di depan pintu masuk Ballroom. Aneka kue seperti kroket, puding, hingga es memenuhi beranda Ballroom di depan meja registrasi. Selepas kami puas makan makanan ringan tersebut, maka kami menuju meja registrasi. Sebelum masuk, kami sempat mengabadikan momen di photobooth yang sudah disediakan.

Bersama rekan Blogger Ngalam
Memasuki ruangan, sudah banyak hadirin yang datang. Mereka berasal dari berbagai kalangan, seperti praktisi pariwisata, pemerintah, hingga aneka portal media. Ini membuktikan bahwa Atria Malang memang menjadi salah satu ujung tombak dunia pariwisata Malang Raya. Letaknya yang strategis di jantung ekonomi Kota Malang dan tak jauh dari Bandara Abdurrahman Saleh membuat Hotel Atria menjadi pilihan para wisatawan maupun pelaku bisnis yang mengunjungi Malang.

Acara peringatan HUT Atria Malang kali ini bertemakan 4ever Young yang mengusung spirit semangat muda. Selagi masih muda, Atria Malang akan mencoba terus bersemangat guna melakukan terobosan baru sehingga dapat memuaskan para pelanggan dan mitranya. Acara dimulai dengan doa bersama dan dilanjutkan oleh pemotongan tumpeng yang ditandu dengan miniatur kapal laut.

Chief Operating Officer Parador Hotels&Resort, Johannes Hutauruk berharap ulang tahun ke empat ini merupakan satu langkah sebelum menginjak angka kelima. Hal itu disebabkan, memasuki usia keempat maka akan semakin banyak tantangan. Tantangan ini akan dapat dihadapi berkat hasil kerja keras tim dan juga segala bentuk kerjasama dengan beberapa mitra.

Acara pemotongan tumpeng
Selepas pemotongan Tumpeng, acara dilanjutkan dengan lomba memasak. Para chef dari beberapa Hotel Atria ditantang memasak sajian utama selama 30 menit. Aneka hidangan pun coba disajikan para chef dengan kemampuan terbaiknya. Setelah melakukan battle ini, hasil hidangan dari para cheff akan dinilai. Dari hasil proses penilaian, pemenang kompetisi jatuh kepada chef dari Atria Semarang. Sedangkan, chef dari Atria Malang meraih tempat kedua dengan menu rawon spesialnya.  

Battle Chef
Hadirin bisa mencicipi masakan-masakan hasil olahan para chef tersebut. Mereka bisa memilih makanan apa yang mereka suka. Gala dinner pun berlangsung meriah karena diselingi pembagian aneka doorprize yang menarik. Beberapa paket dinner di Atria Hotel menjadi incaran hadirin. Ada pula beberapa voucher menginap di Atria Serpong. Nah, yang menjadi incaran tentunya hadiah utama berupa sebuah jam tangan merk terkenal.

Makanan pencitraan karena masih proses diet.
Acara yang dipandu oleh salah satu MC kenamaan Kota Malang, Frana ini juga menampilkan berbagai atraksi menarik seprti dance dan band. Yang tak kalah menarik, acara ini juga didukung oleh-oleh Asix, yang merupakan oleh-oleh khas Malang milik Keluarga Anang dan Ashanty. Oleh-oleh yang memiliki 6 varian rasa ini juga menjadi partner Atria dalam memajukan usaha pariwisata di Malang Raya. Di pengujung acara juga dibagikan achievement kepada para pelaku usaha di dunia pariwisata yang sudah bermitra dengan Atria Hotel Malang.

Oleh-oleh Asix dengan 6 varian rasa.
Semoga Atria Hotel Malang bisa terus eksis sehingga turut andil dalam memajukan dunia wisata Malang Raya dan meningkatkan perekonomiannya.

Bagaimana Cara Sekolah Menghitung Gaji Guru Honorer?

Jika berbicara tentang Guru Honorer, salah satu hal yang sering diperbincangkan adalah mengenai besarnya gaji yang mereka terima setiap bulan.



Banyak yang beranggapan, gaji guru honorer di Indonesia sangatlah kecil dan tidak berperikemanusiaan. Namun sesungguhnya di balik itu, sekolah tempat guru honorer bertugas juga tak bisa berbuat banyak. Pada tulisan ini, saya akan mencoba sedikit berbagi dan mengupas perhitungan gaji yang diterima oleh guru honorer di sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN).

Saya membatasi hanya untuk SD Negeri karena selama hampir 3 tahun saya ikut ambil bagian dalam perencanaan dan pelaporan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), baik yang bersumber dari pusat (BOSNAS), maupun yang bersumber dari daerah (BOSDA). Untuk gaji guru honorer/yayasan dari TK, SD/MI Swasta, SMP, SMA, dan SMK tidak saya bahas karena sepengetahuan saya aturan dan sumber dananya berbeda, meski sama-sama juga menerima BOSNAS (mohon koreksi jika saya salah).

Satu-satunya sumber dana untuk penggajian guru honorer di SD Negeri adalah dana BOS. Berbeda dengan guru di sekolah swasta, guru honorer di SD Negeri tidak diperkenankan menerima tunjangan sertifikasi meski mereka sudah mengabdi selama bertahun-tahun. Dana BOSNAS yang diterima tiap sekolah bervariasi tergantung jumlah siswa di sekolah tersebut. Semakin banyak siswa di sekolah tersebut, maka akan semakin banyak pula dana yang diterima dan begitu pula sebaliknya. Menurut Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah berdasarkan Permendikbud No. 26 Tahun 2017, untuk jenjang Sekolah Dasar, setiap siswa menerima dana sebesar Rp.800.000,00 per tahun.

Besarnya dana BOSNAS ini akan terbagi dalam 4 Triwulan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini pencairan dana BOSNAS mengalami perubahan. Jika biasanya jumlah dana tersebar merata dicairkan pada tiap triwulan sebesar 25%, maka pada tahun ini dana yang dicairkan pada tiap triwulan mengalami perbedaan. Untuk triwulan I dana yang dicairkan sebesar 20%, triwulan II 40%, triwulan III 20% dan triwulan IV 20%. Triwulan II mendapat porsi paling banyak karena digunakan untuk membiayai pembelian buku paket dan kegiatan selama penerimaan peserta didik baru.
Proses cut off Dapodik untuk Dana BOS (sekolahdasar.net)

Untuk dana BOSDA, tiap daerah memiliki kebijakan masing-masing. Di daerah saya, dana BOSDA yang diberikan oleh Pemkot adalah sebesar Rp. 58.950,00 per bulan tiap siswa. Dalam satu tahun, tiap siswa akan mendapatkan dana sebesar Rp. 707.400,00 (sekitar 700 ribu rupiah). Berbeda dengan dana BOSNAS yang turun mengikuti alur triwulan, untuk dana BOSDA, pencairan dananya cukup rumit. Selain turun setiap waktu tertentu, besarnya dana BOSDA yang turun mengikuti persentase jenis belanja yang digunakan oleh sekolah.

Ada 3 jenis belanja yang terdapat pada penggunaan BOSDA, yakni belanja pegawai, belanja barang dan jasa (barjas), dan belanja modal. Ketiga jenis belanja ini telah ditentukan jumlah dan persentasenya oleh pihak Pemkot dan Diknas. Jadi, pihak sekolah tidak boleh sembarangan dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) sekolahnya masing-masing. Sekitar 20% dari dana BOSDA harus digunakan untuk belanja pegawai, sebesar 70% untuk barjas, dan sisanya sebanyak 10% untuk belanja modal.

Ketika saya mengikuti pelatihan penyusunan RKA yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang, setiap sekolah telah mendapat form di dalam MS. Excel mengenai alokasi anggaran untuk ketiga jenis belanja tersebut.Besarnya dana untuk belanja ketiga jenis pengeluaran tersebut telah ditentukan oleh pemerintah. Tiap sekolah harus mengisi sesuai kebutuhan masing-masing dan disesuaikan dengan harga satuan (SSH) yang telah disepakati.

Untuk belanja barjas dan modal hampir semua sekolah telah sepakat. Jikalau ada kesalahan, mungkin penyusun RKA tidak mengikuti aturan harga atau akan belanja di luar kewajaran. Belanja barjas dan modal ini yang nantinya akan masuk dalam aplikasi Sistem Penerimaan Belanja Modal dan Daerah (SIMBADA). Nah, masalah muncul ketika sekolah-sekolah mulai menghitung belanja pegawai yang harus dikeluarkan tiap bulannya.

Belanja pegawai yang didapat dari dana BOSDA digunakan untuk membayar gaji guru dan tenaga kependidikan (TU, satpam, kebersihan, dll) yang tidak bisa di-cover oleh BOSNAS. Di dalam Juknis BOSNAS sendiri, dana yang boleh digunakan sebagai belanja pegawai adalah maksimal sebesar 15% untuk sekolah negeri dan 50% untuk sekolah swasta. Tentunya, dana ini tak akan cukup digunakan untuk belanja pegawai. Maka, tumpuan sekolah akan beralih kepada BOSDA untuk mencukupi kebutuhan belanja pegawainya.

Sebagai gambaran, saya akan mencoba memberi contoh hitungan kasar mengenai berapa gaji guru honorer yang bisa dibayarkan di sebuah sekolah. Misalkan, sebuah sekolah memiliki 300 siswa dalam satu tahun ajaran. Anggap saja di dalam sekolah tersebut ada 10 orang guru beserta tenaga kependidikan yang masih berstatus honorer. Maka, dalam satu tahun, sekolah tersebut akan menerima dana BOSNAS sebesar 300 x Rp. 800.000,00 atau Rp. 240.000.000,00. Dana BOSDA yang diterima (mengikuti aturan di wilayah saya) sebesar 300 x Rp700.000,00 atau Rp. 210.000.000,00. Total dana yang diterima sekolah tersebut selama satu tahun sebesar Rp. 450.000.000,00.

Dari dana BOSNAS yang diterima, sebesar 15% digunakan untuk belanja pegawai yakni Rp. 36.000.000,00. Sedangkan dari dana BOSDA yang diterima, sebesar 20% digunakan untuk belanja pegawai. Dari hasil perhitungan, belanja pegawai yang bersumber dana BOSDA adalah sebesar Rp. 42.000.000,00. Maka, dalam satu tahun, total dana yang digunakan untuk membayar gaji GTT dan PTT sebesar Rp. 78.000.000,00.

Setiap Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) akan mendapatkan dana sebesar Rp. 7.800.000,00 per tahun. Artinya, dalam satu bulan, tiap GTT dan PTT di sekolah tersebut akan mendapatkan gaji sebesar Rp. 650.000,00. Sebagai perbandingan, Upah Minimum Kota (UMK) 2017 yang mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Timur No 121 Tahun 2016 adalah sebesar Rp. 2.272.167,50. Jika dipersentasekan, maka perbandingan gaji guru honorer di sekolah tersebut dengan UMK adalah sekitar 28%, atau kurang dari 1/3-nya.

Kecil? Kurang? Ya memang itulah keadaannya yang terhitung di dalam RKA tiap sekolah. Hitungan di atas juga masih perhitungan kasar dan bergantung dengan kondisi sekolah dan daerah. Sekali lagi, kondisi masing-masing sekolah yang berbeda baik jumlah siswa maupun jumlah guru dan tenaga kependidikan honorer membuat gaji guru honorer di setiap sekolah akan berbeda pula. Jika jumlah murid sekolah sedikit dan jumlah guru dan tenaga kependidikan honorer banyak, maka gaji yang diterima akan semakin sedikit dan begitu pula sebaliknya.

Jumlah 650.000 rupiah bagi saya sudah cukup baik dibandingkan ada guru honorer yang hanya menerima 100 ribu hingga 300 ribu rupiah per bulan. Dalam sebuah forum yang pernah saya ikuti dan dihadiri oleh pengawas, kepala sekolah dan guru di tingkat kecamatan, ada seorang kepala sekolah yang mengkritisi jika sekolah masih membayar gurunya di bawah kisaran 800 ribu rupiah hingga 1 juta. Menurutnya, rentang besaran tersebut merupakan upah minimum di dunia pendidikan yang berbeda dengan dunia industri. Hingga tulisan ini saya tulis, tak ada sumber informasi yang akurat mengenai rentang besaran upah tersebut.

Untunglah, di daerah saya, untuk guru dan tenaga kependidikan honorer yang memiliki masa kerja lebih dari 3 tahun serta telah terverifikasi oleh Dinas Pendidikan akan mendapatkan semacam insentif sebesar 400-500 ribu rupiah per bulan. Jumlah ini meski juga kecil namun bisa menjadi tambahan untuk sekedar menambah kesejahteraan mereka. Selain itu, dari beberapa rekan guru honorer dari sekolah lain yang berbagi tentang gajinya, rata-rata mereka sudah digaji di atas 600 ribu rupiah per bulan. Syukur alhamdulillah.

Sebagai penutup dan tak ingin berpolemik lebih jauh, saya hanya teringat kata-kata Kaisar Hirohito selepas Jepang babak belur di Perang Dunia II yang berbunyi :
“Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”
 
Meski berada di garis terdepan, namun guru honorer sangat memprihatinkan

Lantas, seberapa penting guru, terutama guru honorer dengan gaji ratusan ribu per bulan di negeri ini? Atau sudah menjadi pilihan kita untuk sekedar menjadi penonton negara lain yang sudah saling berkejaran dengan majunya mereka di dunia pendidikan?

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan. Semog para guru tetap semangat mencerdaskan dan mendidik generasi Indonesia. Salam.


*) Catatan :
  • Beberapa sekolah tidak menggaji guru honorer dengan jumlah yang sama dan disesuaikan dengan masa kerja dan beban mengajar tergantung kebijakan sekolah masing-masing. 
  • Besaran persentase dana BOSDA yang digunakan untuk belanja pegawai juga disesuaikan dengan kebijakan daerah masing-masing.

Kampung Keramat

“Met, kamu lihat si Rifai seharian ini?”


“Loh, bukannya dia lagi ngemong istrinya ya, Cak!” kata Slamet. Ia memandang Cak Sur yang tengah asyik menghisap cerutu cokelat zaman Belanda. Dilihatnya cerutu itu semakin mengepulkan asapnya. 

“Istri kok diemong terus. Nanti yang ada malah minta jajan terus”, kata Cak Sur yang semakin asyik mengisap cerutu berisikan kretek kesayangannya. Asap cerutu di depannya makin lama makin pekat. Ia justru menikmatinya. Kehagangatan yang ia dapat dari asap cerutu itu tak akan tergantikan oleh apapun.

“Walah biar toh, Cak. Ya namanya istri. Daripada kita-kita ini. Siapa yang mau ngemong?”

Cak Sur hanya menghela nafas. Hisapan cerutunya semakin kuat. Matanya mulai mencoba mendarat ke beberapa sudut kuburan yang ada di belakang pos kamling tempat mereka jagongan. Pos Kamling tua dengan jam dinding yang menunjukkan waktu pukul sebelas. 

“Met, coba lihat tembok kuburan ini. Orang-orang semprul!”

“Loalah, iya. Sudah jadi rupanya. Lha saya idrek terus dari kemarin. Cari ojir, Cak”.

Cak Sur lalu menebar pandangan ke arah tembok-tembok itu. Menguliti tembok pembatas kuburan dengan jalan yang tak putih lagi. Dilihatnya gambar-gambar pocong, wewe gombel, dan kuntilanak menyeruak diantara heningnya pusara.  


“Keplek. Mana mau orang-orang selfie di kuburan? Gambarnya ngaco lagi. Mbok ya kalau mau buat tempat wisata yang masuk akal!” kata Cak Sur sambil geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir dengan aneka tempat selfie yang tak mengenal ampun.

“Oyi, Cak. Semuanya sekarang diwarnai. Digambari. Apa-apa diwarna. Nanti katanya biar dunianya berwana. Berwarna ndasmu peyang”, timpal Slamet. Pemuda itu lantas juga mengikuti jejak Cak Sur, membakar kretek. Dinginnya udara siang itu semakin menusuk tulang. Asap cerutunya berpadu dengan milik lawan bicaranya. Menari-nari mengiringi semilir angin yang berembus dari pohon-pohon akasia di dekat kuburan.


Cak Sur lalu menambahkan,“Kudengar juga di Poncokusumo batu-batu buat acara jeram-jeraman itu diwana juga. Gak sekalian yuyu kangkang dicat polka dot. Atau sekalian tempat buat beser diberi ornamen bunga.”

“Hahaha, Cak, Cak. Sampeyan ini kok sewot terus. Ya sudah suka-suka mereka. Biar toh kalau mereka mau selfie di kuburan ini. Apa ya tega lihat di bawahnya pada disiksa Malaikat Kubur. Biar mereka bisa dengar juga jadi bisa siap-siap. Atau, yang suka bikin video-video di yutub itu bisa ngrekam aksi para Malaikat. Kan mereka dapat untung juga”, kata Slamet panjang lebar. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan selinting kretek di tengah dinginnya Malang.

“Wis edan sekarang. Benar katamu nanti aku ikut edan, kayak Pak Mun yang baru meninggal kemarin”.

“Oh yang pernah masuk Sumber Porong itu ya, Cak? Kasihan ya Pak Mun itu”, celetuk Slamet.
“Iya, Met. Istrinya tiba-tiba nikah lagi. Anaknya juga gak ada yang peduli. Orang-orang baru tau kematiannya eh jenazahnya udah busuk dua hari. Bu Sal, tetangganya yang jualan Rujak Bakso itu yang nemu pas mau ngambil mangkoknya”.

“Iya, Cak. Apes banget. Ojobe rabi maneh, kanae ganok sing ngreken”.


“Mangkane Met. Lek golek ojob iku sing genah. Jangan cari yang cantik saja,”Cak Sur mencoba menasihati.

Mereka berdua terus menghisap cerutunya masing-masing. Cak Sur memandang tulisan Kampung Keramat di pintu masuk kuburan itu. Ia lantas bicara lagi,”Met, kemarin jenazahnya si Wati, anak mahasiswa di dekat Rumah Sakit itu jatuh di depan pintu itu!”

“Loh, bukannya memang ditaruh sebentar dulu di situ. Katanya si Cikrak, Pak RT-nya lagi nunggu bapaknya. Gak ada yang ngadzani.”

“Ah, masak. Kalau cuma adzan saja Pak Modin atau kerabatnya juga bisa. Lha itu kan bukan bapak kandungnya juga. Lagian, anak itu sudah gak diaku anak lagi”.

“Gak diaku anak bagaimana, Cak?”

“Ya si Wati itu kan punya gendaan anak Bebekan. Itu loh, yang rumahnya belakangnya Dieng Plaza. Yang suka bawa motor gede itu.”

“Lha kan enak, Cak. Wong sugih”.

“Masalahnya bukan sugih, Met. Kera nganal itu sukanya main perempuan. Ya masak mau anaknya dimainin gitu”.

“Iya juga, ya Cak. Terus Watinya kok sampek meninggal gitu?”

“Ya depresi, Met. Sudah kadung cinta. Terus dia mau cerita sama siapa wong ibunya juga meninggal pas dia TK. Sebelum meninggal dia suka jerit-jerit gak karuan. Gendaannya juga ninggalin lah, mana mau punya ojob kayak orang gila”.


“Iya, Cak. Ribet kalau masalah cinta”.

“Makanya, jangan dipikir kalau kamu ditolak terus sama Endah”.

“Lah, aku yang minder, Cak”.

“Minder kenapa, Met?”

“Dia rajin ngaji, Cak. Alim, pinter lagi. Yah mana mau sama aku?”

“Hahaha, Met, Met. Ya cari yang lain saja. Yang levelnya di bawah dia”.

“Wis, Cak. Tapi belum nemu. Sementara gak cari kodew dulu. 

“Loh, iki wis mau 2018 lho. Kamu kok tenang aja. Nanti kamu ditanya emesmu bagaimana. Kalau ebesmu sih paling ngerti kamu masih kayak gini,” timpal Cak Sur. Ia sudah tak kuasa menahan untuk menghisap cerutu terus. Di musim hujan seperti sekarang ini, Malang seperti Finlandia. Matahari hanya bersinar 6 jam saja. Kehangatan dari hisapan cerutu bagi Cak Sur tiada duanya.

“Biar, Cak. Nanti ayas ikut depresi, haha. Hujan-hujan gini enaknya kemulan, ya Cak.”


“Kemulan terus nanti bisa mati kayak si Parmin kamu”.

“Lah dia kan mati karena ulahnya sendiri. Wong dukun keplek kok dituruti, ya modar”.

“Hahaha iya, Met. Kok mau disuruh tidur pakai selimut sambil gak boleh nafas. Katanya sih buat ngucapin mantra dalam hari. Ya modar.”

“Padahal jualan rujak gobetnya laris. Gak syukur”.

“Iya, met. Pas ada acara di Balaikota, orang Pemkot mborong dagangannya. Lalu pas ada acara Suroan di Dinoyo, dia juga dapat banyak buat pala pendhem. Mbok ya sudah diterusin saja itu usaha”.

“Bener, Cak. Kata istrinya dia pengen beli mobil baru. Jadi, si Parmin cari dukun di deketnya Kali Metro. Katanya sih lebih murah. Tapi lek cari dukun ya sing bener. Minimal ke Gunung Kawi lah kalau gak mau lelaku di Gunung Arjuno”.

“Ndukun di manapun ya sama, Met. Kalau mati susah. Kamu masih ingat sama Pak Samiran pas kita jalan-jalan ke Gunung Kawi dulu? Kamu tahu dia matinya gimana?”


“Yang mana, Cak? Aku lupa”.

“Duh kamu ini. Itu loh, yang punya pabrik di Pandaan. Yang istrinya tiga”.

“Oh, yang pernah nyaleg di DPRD Kota tapi gak jadi itu ya?”

“Iya bener. Dia kan mencak-mencak terus seminggu sebelum matinya. Ublem utem rumah sakit juga. Tapi, kata dokter tak ada yang serius, cuma sering kecapekan. Katanya dia mengeluh panas terus di kepalanya. Lha wong anak istrinya aja pada kedinginan.”


Slamet hanya mengangguk. Siang itu benar-benar dingin. Jalan di depan kuburan juga sepi. Orang-orang lebih senang meringkuk di dalam rumah. Melihat acara TV bela-belaan Gubernur Jakarta lebih asyik atau mengetik sumpah serapah di medsos juga lebih nikmat. Daripada kedinginan di depan kuburan.

“Met, si Rifai kok belum kelihatan juga batang hidungnya?”

“Iya, ya. Apa dia ngojob ke pantai. Selfie-selfie.”

“Ngapain mereka ke pantai. Yang ada kebawa ombak Ratu Kidul”.

“Ya kali saja, Cak. Namanya jalan-jalan”, sergah Slamet.

“Kita berdua saja yang di kuburan ini. Kalau ada Rifai pasti ramai. Anak itu kan suka dapat cerita baru”.

“Iyalah, Cak. Hobinya ngider di rumahnya orang juga. Tempo hari dia malah mau masuk ke kamarnya si Puah, anaknya Mak Sayem yang bisu itu”.

“Loh ngapain? Cari selingkuhan kok yang bisu. Mbok kayak si Kenes, janda sintal di depan warungnya Yu Sri itu. Arek sempel”.

“Hahaha iya, Cak. Kurang apa itu istrinya. Eh, ngomong-ngomong tentang Yu Sri, kudengar pelet warung nasinya tokcer juga ya”.

“Masa sih, Met. Kamu kok tahu?”

“Iya, coba amati saja, Cak. Sudah ada berapa warung yang tutup di dekatnya. Masih ingat Warung Padang yang murah dan enak itu? Sebulan saja sudah bagus itu warung buka. Ayam Pedas yang katanya cabangnya menggurita seantero Malang juga tak berkutik”.

“Iya, Met. Kayaknya kalau pakai Mustika Jaya Ningrat tak akan sehebat itu. Lah warung-warung sebelahnya dibabat habis”.

“Iya, Cak. Si Rifai pernah dengar perkataan Yu Sri pas warung ayam pedas itu baru buka dan bagi-bagi ayam goreng gratis. Yu Sri bilang bakal bisa tahan berapa lama warung itu. Benar kan, cuma sepuluh hari langsung tutup.”

“Iya. Sakti bener ajiannya Yu Sri. Nanti kalau bekas warung-warung itu benar-benar dijadikan Foodcourt, apa masih bisa ajiannya Yu Sri menandingi aji-ajinya para konglomerat itu.”

“Hahaha, iya Cak. Kalau tak bisa nandingi aji-aji mereka dan warungnya mulai sepi, yang ada malah depresi. Akhirnya, jadi penghuni kuburan ini”.

“Ya itulah menungso, Met. Eh, lihat. Itu si Rifai kok mendadadak berlari ke sini. Ada apa?”
“Iya ya. Apa dia ketahuan selingkuh sama istrinya?”

Sosok bernama Rifai tiba-tiba saja datang dan mendekati mereka bedua. Nafasnya nampak tersengal-sengal saat sampai di dekat pintu pos kamling itu.

“Gawat, Cak, Met, gawat!”

“Arek ini kok tiba-tiba datang bilang gawat, ada apa toh?” tanya Cak Sur.

“Iya. Ojok kesusu. Cerita ada apa. Ojobmu ngambek tah?” Slamet juga ikut bertanya. 

“Aku baru saja dihajar sama Ustad dari Kidul Pasar. Pas jalan-jalan di dekat Bioskop Garuda aku nemu anak yang lagi depresi. Langsung aku ajak istriku masuk. Eh ndilalah ibunya anak itu manggil ustad. Dia tanya di mana aku suka nongkrong. Aku jawab di sini. Itu ustad mau ke sini. Cepetan kalian kabur sebelum kalian habis terbakar!”

“Waduh Cak, ini gimana?” Slamet mulai ketakutan. Ia buang cerutunya yang masih tersisa kretek separuhnya.

“Met, ayo kabur, Met!” ajak Cak Sur. Ia juga merasa takut. Ustad-ustad dari Kidul Pasar terkenal galak. Ia pernah kena hajar.

“Kabur ke mana, Cak? Aku sudah kadung nyaman di sini.” Slamet bertanya balik.

“Apa kamu mau ikut modar?” 

“Oke Cak. Kamu ada ide, Ri?”

“Kita ke sekolah di belakang rumah sakit. Di sana banyak anak-anak. Nanti cari saja anak perawan di kelas 5 atau 6 yang lagi M. Sementara ke sana dulu saja. Aman.” Rifai tiba-tiba punya ide. Ia teringat istrinya yang tempo hari bisa masuk ke tubuh anak perempuan.

“Oke. Kita ke sana. Aku tak ke Mbah Sarinem dulu. Siapa tahu ada yang bisa aku konsultasikan sama beliau”, kata Cak Sur.

Mereka pun pergi menghilang diiringi tiupan angin kencang yang membuat kuburan itu semakin dingin. Semenjak ditinggalkan ketiga penghuninya, pos kamling dekat kuburan itu menjadi sepi. Warga lebih memilih terus berdiam diri di rumah. Siang yang dingin menjadi tak bernada lagi. Tapi, di suatu siang ketika beberapa anak laki-laki yang berseragam SMP sedang duduk di sana untuk sekedar membolos pada jam terakhir, sebuah alunan nada mengalir dengan indahnya.

Sigra milir sang gethek si nangga bajul
Kawan dasa kang njageni
Ing ngarsamiwah ing pungkur
Tana pi ing kanan kering
Sang gethek lampahnya alon
Aywa kliru kang jeneng urip iku
Ya kang gumelar neng bumi
Sing bisa branahan iku
Run tumurun ing salami
Tetuwuhan kewan janma*)
  

Anak-anak itu tak mengerti apa maksud lagu yang mengalun dengan syahdunya. Meski sempat takut, mereka berpikir tak ada yang mengganggu di siang bolong. Lama-lama akan hilang dengan sendirinya atau lagu itu sedang diputar oleh sesorang. Mereka pun berselfie tanpa ampun hingga matahari menyingsing.

Banguntapan, 01122017

*) Petikan serat Megatruh, salah satu tembang Macapat. Megatruh yang berasal dari kata Megat-Roh menceritakan proses sakaratul maut pada manusia.

Kamus kecil
  • Idrek : bekerja
  • Ojir : uang
  • Ojob : suami/istri.
  • Kana : anak
  • Ayas : saya
  • Nganal : laki-laki
  • Kodew : perempuan
  • Ebes : Ayah
  • Emes : Ibu
  • Ublem utem : Keluar masuk
  • Sempel : Gila
  • Ngojob : berduaan, berkencan
Lokasi Foto :
TPU Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang

Upin & Ipin Episode Terbaru Musim 11 : Magik Pin Pin Pom

Saya tak mau berpolemik soal film anak Indonesia yang mau nonton saja atau tak ramainya minta ampun.



Kali ini, saya sedikit mengulas episode terbaru Upin dan Ipin yang baru saja tayang di TV 9. Saat ini, kartun dua anak kembar ini telah memasuki musim ke-11. Sebenarnya beberapa episode dalam musim ini sudah tayang di Indonesia, salah satunya adalah cerita di Dunia Dinosaurus.

Episode baru ini bertajuk Magik Pin Pin Pom. Kalau dilihat dari judulnya, pasti cerita dalam episode ini mengandung khayalan. Sama halnya dengan cerita Ultraman Ribut, Sersan Harun, atau cerita tentang Dunia Dinosaurus tadi. Sebenarnya, saya lebih suka cerita Upin Ipin yang natural tentang kehidupan mereka, terutama yang menyangkut keberagaman etnis, seperti cerita tentang Kami 1 Malaysia,  Seranai Ramadhan dan Idul Fitri, Perayaan Imlek, serta favorit saya, Hari Deepavali. Namun, melihat teaser dari penyedia kartun ini di Youtube, rasanya sayang kalau melewatkan cerita ini.

Cerita bermula dari kawan-kawan Upin dan Ipin yang bermain menunggangi layang-layang yang sudah disihir sehingga bisa dinaiki. Mungkin cerita ini terinspirasi dari permainan sapu milik Harry Potter. Keceriaaan mereka kurang lengkap karena tak ada Upin dan Ipin. Rupanya, Upin dan Ipin sedang mencari tongkat sihir mereka yang berada di atas lemari. Ketika proses pencarian itu munculah Kak Ros yang berjubah seperti penyihir jahat. Cerita berlanjut dengan adegan marah-marah Kak Ros seperti bisanya. Meski ada kehebohan di dapur akibat mereka belum bisa mengendalikan tongkat sihir, akhirnya mereka pun bisa menguasainya dan bergabung dengan kawan-kawan untuk bermain bersama.

Saat bermain bersama, masalah muncul. Susanti, gadis cantik asal Indonesia tak bisa menggunakan tongkatnya lagi karena bermasalah. Ia lalu bersama Mei Mei menaiki layang-layang bersama. Ketika mereka akan berlomba layang-layang, tiba-tiba terjadi petaka. Tongkat sakti Susanti benar-benar tak bisa digunakan dan mereka berdua tak melanjutkan permainan.


Mereka pun meneruskan bermain tanpa kehadiran Mei Mei dan Susanti. Tiba-tiba, Upin menemukan sebuah rumah kosong di tengah hutan. Mereka pun menghampiri rumah tersebut. Saat mencoba mencari pemilik rumah, mereka tak menemukannya. Namun, tiba-tiba beberapa dari mereka hilang satu per satu. Dimulai dari Mail dan Jarjit yang raib, disusul oleh Fizi dan Ehsan, lalu Upin dan Ipin menyertai mereka.


Rupanya, rumah itu dihuni oleh penyihir jahat. Sosok penyihir jahat ini sama dengan karakter Nenek Dzul, yang pada seri sebelumnya disangka sebagai Nenek Kabayan. Penyihir ini terperangkap dalam sebuah buku kuno. Setelah Upin dan Ipin membuka buku kuno itu dan menemukan sosok nenek tersebut pada sebuah potret di dalamnya, tiba-tiba saja tawa jahat nenek itu muncul. Ia bisa keluar dan menyekap anak-anak itu.

Si penyihir berharap tongkat saktinya bisa kembali setelah ia dikalahkan oleh penyihir lain dan dikurung di rumah itu. Ia mencoba untuk menggunakan tongkat sakti milik anak-anak namun gagal. Hingga akhirnya, dengan kepolosannya, Jarjit bisa melepaskan diri dari ikatan tali. Ia lalu melepaskan teman-temanya dan mereka berhasil keluar dari rumah itu.

Saat berada di depan rumah, penyihir itu mengejar mereka dan akan menangkap mereka kembali. Di tengah ketakutan yang melanda mereka, tiba-tiba muncul sesosok penyihir lain yang bertarung dengan nenek tersebut. Ia berhasil mengalahkan penyihir jahat itu dan kembali menguncinya di rumah tua itu. Upin dan Ipin beserta kawan-kawan pun selamat.

Saya tak tahu apakah cerita ini akan berlanjut lagi. Yang pasti, meski unik seperti kisah-kisah selanjutnya, cerita pada episode kali ini masih menyisakan tanya. Mengapa sosok penyihir jahat digambarkan mirip sekali atau bahkan memang Nenek Dzul yang pada episode sebelumnya merupakan sosok penyayang anak-anak. Agaknya, persepsi tentang sang nenek ini cukup membingungkan juga. Namun di balik itu, di akhir cerita sang penyihir yang menyelamatkan mereka berpesan agar bisa menggunakan sihir dengan sebaik-baiknya. Jadi, meski cukup ambigu pada karakter nenek, bisa dikatakan masih ada pelajaran yang bisa diambil anak-anak.

Selain karakter nenek penyihir, pada epsode ini mata saya tertuju pada karakter Jarjit Singh yang begitu kocak dengan turbannya. Ia sering menari-nari ala India saat terbang dengan layang-layang. Persis penyihir India yang menaiki permadani dengan ular kobranya. Satu cerita yang belum tersingkap sebenarnya mengenai Jarjit ini. Mungkin di lain waktu ada cerita yang khusus mengupas tentang Jarjit dan kehidupannya.

Di balik itu semua, siapakah sosok penyihir yang menyelamatkan mereka?
Jika penasaran, segera tonton videonya dan tunggu aksi mereka di televisi.

  

 Sumber Gambar : Youtube

Nyasar Manja di Taman Labirin Coban Rondho Malang

Siapa bilang Coban Rondho hanya terkenal dengan air terjunnya saja?

Coban Rondho tidak hanya air terjun saja.
Selain air terjun, wana wisata yang terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang ini juga menyediakan tempat hiburan yang cukup bisa diandalkan jika kita datang ke sana. Ada banyak pilihan tempat menarik di sekitar air terjun ini yang bisa dijadikan  melepas penat, bercengkrama dengan keluarga, hingga mencari udara segar. 

Sejak dua tahun lalu, pengelola wisata Air Terjun Coban Rondho telah menyediakan aneka faslitiltas tambahan di luar area air terjun. Letak aneka fasilitas ini tak jauh dari pintu masuk. Beberapa diantara fasilitas tersebut adalah Cafe Dacok (Daun Cokelat), aneka permainan anak, wahana tembak dan panah, mobil KTV, dan yang paling diminati adalah Taman Labirin.

Taman Labirin ini terbuat dari tanaman pagar yang dirangkai sedemikian rupa. Di tengah rangkaian tersebut, pengelola telah membuat berbagai jalan tembus dengan kerumitan cukup sulit. Nah inilah yang menjadi tantangan kita untuk bisa melewati jalan demi jalan di dalam labirin tersebut hingga mereka sampai ke sebuah taman di bagian tengah area itu.

Berfoto sebelum mencapai Taman Tengah

Saat mencapai taman ini, maka kepuasan akan tercapai setelah melewati jalan beriku. Di sana, air mancur kecil telah menanti. Tak hanya itu, kita juga bisa bermain ayunan yang disediakan tak jauh dari air mancur. Berfoto di bagian tengah labirin ini juga menjadi kegiatan favorit kita yang sudah siap dengan aneka perlatan perangnya, semisal tongsis, kamera depan 1000 MP,  hingga balutan properti aneka rupa.

Taman tengah dengan air mancur
Bersantai sejenak di bagian tengah labirin ini juga bisa menentramkan hati. Pemandangan hijau di sekitar taman membuat hati kita menjadi damai. Seperti yang dilansir dalam laman Colour-Affects.co.uk, hijau merupakan salah satu warna yang memiliki hubungan dengan dengan tubuh, pikiran, emosi, dan keseimbangan penting di antara ketiganya. Hijau berarti keseimbangan. Warna hijau membawa harmoni dalam kehidupan sehari-hari, keseimbangan emosi, penyegaran mata dan pikiran, menenangkan, membuat kita peduli akan lingkungan, keseimbangan pikiran, dan membawa kedamaian.

Warna hijau penuh kedamaian
Mata kita tak perlu melakukan penyesuaian ketika melihat sesuatu atau hal-hal yang berwarna hijau. Implikasinya, kita akan nyaman dan tenang ketika melihatnya. Pikiran kita akan tertuju kepada ha;-hal yang tenang semisal air, sawah, hutan, dan lain sebagainya. Pikiran tentang bahaya dan ketidaknyamanan bisa berkurang.
 
Melihat warna hijau juga menyegarkan pikiran
Nah selain di taman tengah, kita juga bisa berfoto dari ketinggian. Gardu pandang dengan kapasitas maksimal 20 orang akan membuat potret saat tersesat dengan kondisi nafas tersengal menjadi kenangan tak terlupakan. Gardu pandang ini terdiri atas 2 tingkat. Tingkat paling atas adalah favorit para pengunjung. Selain memotret kawan dari kejauhan, di atas gardu pandang ini kita juga bisa mengarahkan langkah mereka yang kehilangan jalan. Otomatis, teriakan kencang harus bersatu dengat terpaan angin yang menerjang.

 
Berpose di gardu pandang
Tak perlu khawatir jika tak bisa menemukan jalan pulang. Pengunjung lain yang kita temukan akan berbaik hati memberikan saran jalan yang kita inginkan. Mereka juga dalam kondisi sama dengan kita yakni kebingungan mencari jalan. Berjalan bersama dengan orang baru kenal juga merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Jangan takut mencari jalan pulang
Dengan harga tiket sebesar 10.000 rupiah, kita bisa memasuki taman labirin ini. Tak ada jeda waktu membuat kita bisa mengambil gambar sepuasnya. Jika ingin lebih puas, datanglah lebih pagi agar tak terlalu berebut dengan kita untuk bisa naik ke gardu pandang. Selain itu, dengan datang lebih pagi kita masih bisa menjelajah tempat lain di sekitar taman labirin, termasuk pergi ke air terjunnya.

Karena banyak jalan untuk meraihnya
Sudah siap untuk tersesat di tengah labirin?
Selamat berlibur dan menikmati.


The Top 10 Things To Do in Eco Green Park, Batu, East Java

Hi, how about your holiday plans guys?


Is there any idea? Actually, I don’t know where I want to go. There is no Chrismas holiday suggestion on my bucket list. Therefore, I opened my holiday album again and found some of my pictures while I was getting around in Batu. As you know that Batu is well-known for its tourism area. This small city has many beautiful objects. One of my favorite tourism objects is Eco Green Park.

It is located on Oro-Oro Ombo, just a few minutes from Jatim Park and within the complex of Batu Secret Zoo. The ticken is only IDR 40 K for weekday and IDR 60 K for weekend and holiday. But, while you decide to get more sensation in Secret Zoo and Jatim Park, you must pay 300 K or 400 K. Why I have chosen this park for my last holiday? Because there are tops 10 things to do if you spend your holiday at Eco Green Park.

The ecological model of disaster
1. Getting some fresh air

The cool, fresh hill town of Batu is wealthy. The entire area of Batu, including Eco Green Park, is surrounded by mountains and hills. If you start to enter this area, you can look Panderman mountain behind it. Feel the freshness here you will get many things for your health. Boots your immune system, calms you down, cleans your lungs, give you energy so you can improve your heart health. Moreover, you are able to enjoy the air with less pollution.

2. Feeding animals

Eco Green Park has many species of animals. Most of all are birds and fishes. The management provides the foodstuffs to feed these animals. Usually, there are certain hours to feed them. If you go there with your children, you can teach them to love animals by feeding it properly.


3. Taking some pictures of the uniqueness recycling waste

This place has a very interesting concept in an effort to preserve the environment. One of which is the waste management, recycle.  Here, you will find a lot of handicrafts that was produced from the waste. In fact, there is also a giant statue made from a collection of waste used television an a replica of a dragonfly which was made from various electronic garbage.

Hey, I'm dragonfly
4. Learning About Different Types of Bird

Eco Green Parks is also used to breed various species of birds, especially the rare species. Some tropical birds are cultivated here, including cockatoos, grafts, Bali starlings, flamingos, and so forth. There are Javan hawks-eagle whose existence is increasingly threatened. Several species of poultry such as grouse and duck are also found in some parts of the pond. The visitors can also learn about the life cycle of the various birds and poultry.

5. Learning About Different Types of Insect

Eco Green Park is also displaying a variety of durable insects on the house of insects. The visitors can see thousands of different types of insects with various characters. The most favorite insects are a variety of butterflies that have a shaped and wing motif. These insects are found not only in Indonesia but also in other parts of the world such as Africa and South America. Learning about metamorphosis is one of the interesting activities besides taking pictures of these beautiful insects.


6.  Understanding Science

Science is, in one sense, our knowledge of all that — all the stuff that is in the universe. We can learn about science in the eco-science center and music plaza. The area of music plaza is a circle with a large swimming pool of water and provides the music based on the movement of water in the pond. Not only can create a music but also we can play some games here.


7. Gardening

If your hobby is gardening, you can learn all about step and process of gardening. Learning about hydroponics is the best ones. We can learn hydroponics in some of the materials such as cotton, jelly, and so forth. We can also learn various cultivation of the horticulture crop that became the icon of Batu.


8. Learning about Biogas Recovery

Biogas is created when animal waste, or manure, decomposes. Capturing biogas from cattle, hog and poultry farms can reduce greenhouse gas emissions and recovering the methane from the biogas can provide a cost-effective source of renewable energy. Recovered biogas can be an energy source for electricity, heating or transportation fuel.

In Eco Green Park we can also learn about it. A natural process called anaerobic digestion creates biogas. Anaerobic digesters are closed systems that harness this natural process to produce biogas and other useful coproducts. These systems also reduce odors, pathogens, and waste.  The resulting gas will be used as a small power plant at the farm site.


9. Taking some pictures in upside down house


Many of the visitors want to capture the best moment in this place. Besides the best houses, there are also cars mounted against the force of gravity. here we can also feel earthquake shocks when the earthquake happens in reverse condition.



Hey, can you find Baa-Baa White Sheep there?
10. Sharing your holiday experience

The last is your best moment here.

Okay, happy holiday guys. Enjoy na lang!