Baper Nikah di Hutan Pinus Winong Wajak Malang

Sudah 3 mantan yang sudah meninggalkan saya untuk menikah tahun ini.

Mboh kapan.
Berhubung harus bisa move on, maka saya melakukan sebuah perjalanan batin. Menyendiri untuk merenungi hati ini yang semakin sepi. Saya perlu motivasi diri. Sebuah kata-kata penyemangat atau sekedar pembesar hati. Meski, hati ini masih sulit untuk diobati. Entah sampai kapan. Mungkin, sampai dua juta tahun lagi.

Halah, saya kok jadi melow begitu. Tapi memang saya butuh motivasi setelah berobat ke sangkal putung akibat siku tangan kanan saya yang retak. Sudah lumayan sih sejak saya rutin berolahraga pagi dan mengonsumsi makanan kaya akan kalsium. Tapi, menurut mbah yang mengobati saya, tangan saya masih kurang membentuk sudut sekitar 12,5o agar bisa kembali paripurna. Makanya, saya masih belum diperbolehkan untuk mengendarai sepeda motor. Artinya, tidak bisa jalan-jalan dong.

Namun, namanya karena saya anak yang tak bisa diam di rumah dalam waktu lama, maka harus pintar-pintar untuk mencari waktu jalan-jalan. Selepas berobat ke sangkal putung yang dimulai praktiknya subuh, saya pun meminta saudara yang mengantar ke sana untuk tak segera pulang. Kebetulan, tempat praktik sangkal putung yang saya datangi berada di Tumpang. Sembari menunggu giliran berobat, saya mencari tenpat-tempat hits yang tak jauh dari situ. Dari hasil pencarian di dunia maya, saya akhirnya memutuskan untuk ke salah satu tempat wisata di Wajak. Hutan Pinus Winong namanya.


Kalau dari Tumpang, jalan yang harus diambil adalah menuju Kota Kecamatan Wajak. Setelah sampai di Pasar Wajak, perjalanan dilanjutkan ke arah Turen yang menuju ke Desa Sanankerto. Dari sini ada sebuah pertigaan. Kita hanya perlu menuju ke arah Desa Sumber Putih, bukan ke arah Turen. Tak jauh dari situ, kita sudah menemukan sebuah gapura bertuliskan Hutan Pinus Winong. Sebagai infromasi, selain hutan pinus ini, ada satu lagi hutan pinus lain yakni Hutan Pinus Sumber Putih. Letaknya masih terus mengikuti jalan tersebut. Saya memutuskan tak ke sana lantaran terlalu jauh dan sepertinya cukup ramai karena hari itu adalah hari minggu.


Baru selangkah menjejakkan kaki setelah turun dari motor, saya langsung disambut dengan tulisan : Bojoku, Semangatku, yang bisa diartikan : Suami/istri adalah semangatku. Aduh, belum-belum sudah baper gini. Saya tak ambil pusing dengan kalimat tersebut. Kembali menjejakkan langkah, mata saya lalu mendapati tulisan yang membuat perut saya mulas : Lek Sido Rabi yo Tunangan, Lek Gak Sido yo Undangan (kalau jadi nikah ya tunangan, kalau tak jadi ya undangan). Kondisi diperparah ketika pengelola yang memainkan musik dangdut super keras dengan 8 speaker aktif berisikan lagu-lagu Via Vallen dan Nella Kharisma. Ditinggal rabi.

Durung duwe bojo rek
Undangan ndasmu peyang
Ggrrrrrrr

Lha umak karo wong liyo terus, ambek ayas kapan?
Kenapa saya jadi menemukan kalimat bernada sarkas  dan lagu-lagu itu. Ah sudahlah, mungkin ini cucian. Saya lalu mencoba menikmati saja nuansa segar yang ditawarkan hutan pinus tersebut. Kalau diamati, hutan pinus ini hampir sama dengan hutan pinus lain. Biasanya, berupa tanah datar yang kemudian diikuti dengan topografi yang mulai menanjak. Biasanya, diantara tanjakan itu, terselip sedikit tanah lapang yang bisa digunakan untuk bermalam. Nah, yang saya temukan di sini, tanah lapang tersebut telah diubah untuk area narsis berupa latar belakang bergambar hati.

Opo yooo. Durung rabi  ? Koncomu akeh jeh
Raimu wis elek, megelno pisan.
Wis biyasah, ora kaget
Ciri lain dari hutan pinus adalah tanahnya berdebu ketika musim kermarau. Untung, saat ini sedang musim pancaroba. Hujan yang mengguyur Wajak beberapa hari sebelumnya membuat tanah tak berdebu, namun tak juga becek. Artinya, saya bisa dengan leluasa melompat ke sana kemari demi mendapatkan jepretan berharga.

Lupakan saja cinta segiempat ini
Kita berenang saja
Atau makan bakso super pedasss
Tak perlu risau untuk mencari makan di sini. Di dekat kolam renang anak-anak, ada banyak warung yang menjajakan dagangannya. Ada bakso, pecel, soto, dan lain sebagainya. Ah, perut saya sudah terisi penuh sih, jadi tak akan mungkin terisi lagi. Hanya bagis saya lebih asyik menggelar tikar di tanah lapang sambil makan bekal dengan suasana segar.

Hang sun karepno biso ambi riko
Selawase yo mung ambi riko
Tapi kelandi maning ceritane wes bedo
Saikine riko wes seng ono digowo wong liyo
Wis, sing sabar ae
Walah sing sabar yo mbak, namanya jodoh tak ke mana
Sing penting alon-alon ae bos, anak bojomu ojok ditinggal
Dengan harga tiket hanya untuk parkir 5000 rupiah saja, kita tak perlu mengeluarkan uang lagi. Bagaimana, tertarik mencoba? 

Kisah Nathaniel, Malaikat Kecil dari Filipina

Masih ingat iklan sebuah bumbu masak dengan bintang anak kecil yang sedih karena kucingnya hilang?

Sumber
Ternyata, anak kecil tersebut adalah salah satu artis cilik yang cukup berbakat di Filipina. Marco Masa namanya. Ia telah memainkan banyak iklan dan juga sinetron. Nah salah satunya adalah serial fantasi bertajuk Nathaniel. Serial yang ditayangkan oleh stasiun TV ABS-CBN sebanyak 115 episode ini membuat saya tak bisa jauh-jauh dari layar kaca dan terus menunggu si kecil Marco Masa. Jangan risau jika tak ada parabola, kita bisa melihatnya di situs www.tfc.tv.

Serial yang digarap oleh sutradara Darnel Joy Villaflor dan Francis Pasion tersebut berkisah tentang seorang malaikat kecil bernama Natahaniel yang diutus oleh Tuhan turun ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan mereka kepada Tuhan. Selain itu, misi yang diemban oleh Nathaniel adalah mengajak orang-orang terus berbuat baik sesuai ajaran yang telah diajarkan oleh Tuhan.

Pada cerita awal dikisahkan Nathaniel adalah anak dari pasangan seorang pengusaha sukses bernama Paulus dan istrinya Rachel Laxamana. Pasutri ini sangat senang dengan kelahiran putranya, terlebih bagi Paulus. Ia bisa kembali dekat dengan sang ibu yang tak menyetujui hubungannya dengan Rachel karena berasal dari keluarga miskin dan memilih memulai karir dari bawah lagi.

Kedua orang tua Nathaniel yang berbahagia atas kelahiran putra mereka (Sumber)
Naas, pada suatu hari saat mengajak bayi Nathaniel berjalan-jalan, mereka mengalami kecelakaan hingga sang bayi tersebut meninggal. Kedua orang tuanya sangat terpukul atas kematian putra satu-satunya. Bahkan, sang ayah Paulus sampai depresi dan akhirnya meninggalkan istrinya untuk memulai usaha baru beserta ibunya, AVL, yang tak lain adalah nenek dari Nathaniel.

Mengingat Nathaniel meninggal masih dalam keadaan bayi, artinya ia masih suci dan belum ada dosa. Ia pun  menjadi malaikat yang kembali ke surga. Pada usia 7 tahun, ia dikirim kembali ke bumi dengan misi mengembalikan iman orang-orang yang mulai tersesat dalam kegelapan dan kejahatan.

Nathaniel dan rekan kecilnya, Abi dalam sebuah adegan (sumber)
Di sebuah desa bernama Bayan ng Laging Saklolo, Nathaniel ditemukan oleh sebuah keluarga bernama Bartolome. Karena merasa kasihan, mereka pun mengadopsinya. Di keluarga ini juga ada Rachel, yang merupakan  ibu kandung dari Nathaniel. Namun, mereka tak menyadari kalau saling berhubungan darah. Saat tinggal bersama mereka, Nathaniel banyak menolong orang-orang  di sekitarnya, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga membantu ketika tetangganya kesusahan. Nathaniel juga sering mengajarkan kebaikan dan mengingatkan orang-orang yang berbuat tidak baik.

Pada suatu hari, ia sering dikejar-kejar oleh sosok hitam yang terus ingin membunuhnya. Ternyata, sosok tersebut merupakan suruhan dari sosok jahat bernama Tagasundo. Sosok ini juga yang terus membuat orang-orang di desanya banyak yang menyimpang dari ajaran agama. Mulai mencuri, membunuh, hingga banyak yang tak lagi menjalankan ajaran agamanya. Untuk melawan sosok tersebut, Nathaniel dibantu oleh tiga sosok malaikat (Archangel) yang bernama Armen, Josiah, dan Eldon. Mereka bertiga sering bertempur melawan Tagasundo dan para suruhannya, terutama ketika akan menyakiti Nathaniel. Lambat laun, sang ibu, Rachel menyadari kalau Nathaniel adalah anaknya. Ia sangat was-was akan kehilangan lagi putra kesayangannya.

Ketiga malaikat yang membantu Nathaniel
Walau mendapat banyak rintangan, Nathaniel terus menjalankan misinya. Hingga ia akhirnya bertemu dengan ayah dan neneknya yang berencana membangun pusat hiburan di desanya. Pusat hiburan ini akan menjadikan warga desa semakin hilang mata batinnya. Meski ada juga warga desa yang menetang, proyek terus dilaksanakan.

Sang ayah, Paul sangat bersikeras membangun proyek tersebut lantaran hatinya sudah dimasuki oleh sosok jahat tadi. Kadang kala, ia sering melakukan tindakan berbahaya sepreti mengonsumsi minuman keras sambil menyetir mobil. Acapkali, ia juga bertemu dengan Nathaniel yang memberinya wejangan namun tak ia indahkan. Malahan, ia semakin ingat dengan kematian anaknya dulu.

Kondisi Paul semakin tertekan ketika sang ibu, AVL meninggal. Ia seperti orang yang kesurupan dan sering kacau. Sebenarnya, ia merasa kalau hati dan pikirannya sedang tidak beres. Nah di penghujung episode, diceritakan Paul akhirnya sadar kalau perbuatannya salah. Ia mengetahui dirinya telah dirasuki roh jahat tadi. Ia pun sangat marah. Sang roh jahat juga sudah tak bisa lagi mempengaruhi orang-orang di desa tersebut lantaran telah diusir oleh ketiga malaikat tadi. Maka, Paul menjadi pelampiasannya. Roh jahat tersebut menjadikan Paul bulan-bulanan dengan tujuan akhir membunuhnya.

Serial ini mendapat penghargaan dari salah satu media Filipina (sumber)
Ketika Paul sudah sangat kepayahan, Rachel pun muncul. Mereka saling bertemu kembali. Rachel sangat khawatir dengan kondisi Paul yang sudah banyak mengalami luka. Di saat roh jahat tersebut akan menghabisi Paul, Nathaniel pun datang. ia melawan sang roh jahat tersebut sendirian. Karena ia masih kecil, sang roh jahat pun bisa dengan mudah menghabisinya. Di tengah kondisi tersebut, Rachel mengatakan bahwa sebenarnya Nathaniel adalah anak mereka yang dulu sudah meninggal.

Paul pun menjadi khawatir apalagi melihat Nathaniel juga terluka parah. Untunglah, bala bantuan dari langit datang. Para malaikat bisa mengalahkan roh jahat tadi. Nathaniel yang sudah luka parah akhirnya pingsan. Kedua orang tuanya kemudian membawanya ke sebuah gereja dan mendoakan kesembuhannya. Setelah sadar, ia akhirnya berpamitan untuk kembali ke alamnya karena misinya sudah selesai. Lagi-lagi, adegan haru biru khas serial Filipina tersaji di sini.

Nathaniel beserta ayah dan ibunya
Kisah Nathaniel ini meski mengandung fantasi dan beberapa pengajaran agama yang bukan saya anut, namun menyimpan beberapa pelajaran. Salah satunya adalah pengajaran untuk berbuat baik dan taat kepada ajaran agama, meski hal itu remeh. Semisal ada adegan ketika Nathaniel mengingatkan orang yang sedang makan tidak berdoa dahulu dan menggunakan tangan kiri. Hal ini selain tak baik, juga memungkinkan roh jahat bisa masuk. Kalau di agama saya, perbuatan tersebut juga sangat disenangi setan. Beberapa pengajaran lain seperti tetap teguh pada ajaran Tuhan juga tampak di serial ini. Kita tak boleh terlalu larut dalam kesedihan karena hal itu justru membuat jiwa kita mudah dibisiki oleh hal-hal yang tidak baik.


Itulah sedikit kisah mengenai Nathaniel sang malaikat kecil dari Filipina. Tertarik untuk melihat?

Pemeran :
  • Marco Masa sebagai Nathaniel
  • Gerald Anderson sebagai Paul (ayah Nathaniel)
  • Shaina Magdayao sebagai Rachel (ibu Nathaniel)
  • Coney Reyes sebagai Angela "AVL" Villanueva-Laxamana (nenek Nathaniel)
  • Yesha Camile as Abigail "Abi" Bartolome
  • Sam Milby sebagai Archangel Armen
  • Rayver Cruz sebagai Archangel Josiah
  • Enchong Dee sebagai Archangel Eldon
Sumber : Wikipedia.

Bermalam di Villa Uhuk Kota Batu

Ini cerita dua tahun lalu.


Di penghujung tahun yang mengandung gerimis mengundang, tiba-tiba saya dimasukkan ke dalam grup WA teman kampus yang berencana liburan bersama. Namun, karena sebagian besar dari kami sudah mengidap faktor U mendekati usia kepala 3, kami memutuskan untuk tidak bersama-sama melakukan kegiatan ekstrim: Naik Gunung Bromo atau Menjelajah Pulau Sempu lagi. Dari saran rekan yang sudah menjadi ibu-ibu PKK, lebih baik kami memesan sebuah villa di Kota Wisata Batu. Alasannya, selain faktor U, kami ingin lebih mendapat banyak waktu bersama setelah terpisah beberapa tahun. Ecie.

Berhubung menjadi pasivis kelas, maka saya hanya mengikuti beberapa percakapan sambil lalu. Maklum, saat itu saya juga sedang kejar setoran menyelesaikan koreksi UAS beserta analisisnya. Meski, jadwal pembagian rapor diundur akibat aplikasi yang masih belum sempurna.

Entah kenapa, seorang teman dengan entengnya menunjuk saya menjadi petugas survei villa. Lha, kok saya yang jadi repot? Yang punya ide siapa? Alasannya sih, karena saya yang ada di Malang. Padahal jarak tempuh ke Kota Batu dari rumah sekitar setengah jaman. Saya hanya menyanggupi untuk melakukan acara survei pada akhir pekan saja. Itupun saya gak janji benar-benar bisa dapat sesuai yang mereka harapkan mengingat saat itu musim Liburan Natal dan Tahun Baru.

Di suatu minggu, saya pun berangkat ke daerah sekitar kaki Gunung Panderman untuk mencari villa. Sudah saya duga, banyak villa yang sudah dipesan oleh pengunjung dari luar kota. Pesona Kota Batu memang menggila. Dengan tertatih-tatih, saya mencari villa lagi. Mulai dekat Panderman View, daerah Jatim Park, hingga Kusuma Agrowisata. Ada sih villa yang bagus dengan kolam renang super besar. Tapi apa ya iya, mereka mau menginap dengan kocek 5 juta buat semalam saja? Saya tawar, paling-paling cuma turun seribu dua ribu perak. Yang bikin saya semakin hopeless adalah budget rekan-rekan hanya 1,5 juta. Alamak masih miskin ternyata kita orang.Huhuhu.

Hingga di suatu gang, tepatnya di Jalan Abdul Ghani atas, yang hanya beberapa meter dari Museum Angkut saya dipanggil oleh seorang bapak. Rupanya beliau punya radar kalau saya sedang mencari villa. Beliau menawarkan tiga buah villa. Ada yang 6 juta, 3 juta, dan 1,5 juta.  Wah, ada yang sesuai budget. Saya melihat ketiga villa tersebut yang ternyata berdekatan. Lalu saya memberi informasi kepada teman-teman. Mereka pun setuju melakukan reservasi terhadap villa yang paling murah. Hore.

Namanya saja yang paling murah, kalau menurut saya sih ini bukan villa. Lebih tepatnya homestay. Pemandangan terasnya ya seperti rumah penduduk di Batu berupa jalan kampung. Tak ada view yang menarik seperti gunung, sawah, dsb. Tapi yang penting adalah kami bisa berkumpul di tempat yang nyaman. Walaupun berada di dalam kampung, bagi saya fasilitas di dalamnya lumayan. Ada 3 kamar tidur, ruang tengah yang nyaman beserta TV dan DVD untuk karaoke, ruang makan, dan tentunya dapur. Kami juga mendapat air mineral beserta gas elpiji gratis, plus teh, gula, dan kopi. Itu yang penting. Toh, kami hanya 15 orang saja dengan satu kepala patungan 100.000 rupiah.

Penampakan kamar tidur dan mbak-mbak penghuninya
Sambil liat DVD
Nah yang bikin saya gemes adalah teman-teman yang tak ikut survei cukup parno dengan fasilitas yang disediakan pemilik villa alias homestay tadi. Ada yang bertanya apakah ada panci, piring, sendok, hingga wajan. Ya Tuhan, ini kan menginap di villa bukan camping di gunung. Saya sampai sungkan karena terus-menerus menanyakan berbagai hal tersebut kepada Bapak pengelola villa hingga beliau menjawab:
“Tenang saja mas. Semua ada. Sampeyan gak tinggal di hutan kok”.
Ewwww.

Hari H pun tiba. Gegara macet yang tanpa ampun, acara untuk berkumpul pun jadi molor.
Ditambah, ada teman yang baru datang selepas isya. Yah, jadi sedikit dong waktu untuk berkumpul. Tapi tak apa. Kami sudah bertekad menghabiskan malam langka tersebut. Mulai masak dan makan bersama, hingga tukar kado dan menggosip aib dosen-dosen terdahulu pun jadi run down acara.


Masak bersama


Ini chefnya
Astaghfirullah.

Mengingat malam itu Kota Batu dilanda hujan deras dan membahana dengan suhu di bawah 15 derajat celcius, kami terus bercerita hingga menjelang subuh. Padahal, keesokan harinya ada rekan yang bekerja shift malam. Di luar kota pula. Pintar ya Nak. Maklum sih, jarang-jarang kami bisa berkumpul. Di villa pula.

Hasil masakan disponsori sambal botolan yang hampir kadaluarsa
Mari makan.

Habis makan terus karaoke

Terus ngerasani dosen haha


Punckanya acara tukar kado

Berhubung sudah malam maka tidur.... sendiri ya, bukan muhrim hehe
Alhamdulillah paginya cuaca cerah. Mumpung lagi di Batu, sayang dong kalau hanya terus meringkuk kedinginan di villa. Makanya, kami berjalan-jalan di sekitar villa. Mulai melihat Museum Angkut yang belum buka hingga memandang Gunung Panderman dari dekat. Ini adalah jalan-jalan pagi saya pertama kali di Kota Batu. Dengan ketinggian sekitar 1500 m dpl, rasanya beda dengan di sekitar rumah. Segar.

Pekerja keras yang harus ke Mojokerto dan Gresik dengan segera


Kalau lihat ini pengen semua dijelajahi

Sementara narsis dulu di depam museum angkut.

Yang penting bahagia
Ah sayang kami cuma menginap semalam. Selepas makan pagi dan mandi, kami pun beberes villa. Semoga bisa ke sini lagi kapan-kapan. Buat pembelajaran saja, lain kali lebih baik memesan villa lebih dahulu jauh-jauh hari. Lewat apa? Lewat apa sajalah boleh. Yang penting jangan lewat depan kiri kanan dan......... (teruskan sendiri)

Sekian dan terima kiriman voucher menginap di villa. Hehe.  

Menelisik Kisah Polowijen, Desa Subur Tanah Kelahiran Ken Dedes

Bukan gambar walikota. Bukan pula gambar Tengku Wisnu dan Strudelnya. Apalagi, bukan pula gambar saya.
Patung Ken Dedes, beberapa meter dari pemandian maha spektakuler HAWAI WATERPARK
Namun, sesosok pahatan wanita cantik akan menyambut kita tatkala memasuki salah satu kota yang kini sedang meroket dunia pariwisatanya. Kota bernama Malang ini akan menyambut orang-orang yang mengunjunginya dengan sesosok wanita cantik. Lebih cantik dari Raisya ataupun Isyana. Dia adalah sosok yang bisa disebut sebagai “ibu” bagi masyarakat Malang. Sosok yang begitu dikagumi karena telah melahirkan generasi penguasa sejarah. Tak hanya di Malang, namun juga di nusantara. Ia adalah Ken Dedes, sang Ratu Singosari yang melegenda itu.

Pemilihan Ken Dedes sebagai sosok pembuka pintu gerbang Kota Malang dari arah utara bukanlah kebetulan semata. Jejaknya sudah diketahui banyak orang bahwa ia adalah istri dari Tunggul Ametung, akuwu kerajaan kecil bernama Tumapel dan kemudian direbut dan dipersunting oleh Ken Arok, sosok “penjahat” yang ternyata dipuja banyak warga Malang sebagai “pahlawan”. Namun, banyak yang belum tahu, tak jauh dari patung Ken Dedes yang seakan memberi ucapan selamat datang di Kota Malang ini, ia benar-benar tererkam jejak sejarahnya.

Sang Ratu Singosari itu lahir dan besar di sebuah tempat bernama Polowijen. Saat ini, Polowijen merupakan salah satu kelurahan di ujung utara Kota Malang. Persisnya, di sebelah barat fly over Arjosari yang kini sudah tampak indah dengan cat warna-warninya.

Keindahan Fly Over Arjosari didampingi Sekolah Adiwiyata, SDN Polowijen I di bawahnya
Alkisah, pada zaman dahulu kala, tersebutlah sebuah daerah yang sangat subur bernama Panawijyan. Sekitar abad ke-10 Masehi, desa ini tercatat sebagai sebuah desa yang sangat subur dengan potensi sumber daya alamnya. Sesuai dengan isi Prasasti Kanyuruhan B (bertarikh saka 865/ 945 M) yang dikeluarkan oleh Mpu Sendok, Panawijyan adalah daerah subur dengan banyak bangunan suci. Bangunan suci tersebut menurut ahli sejarah dan arkeologi diperutukkan untuk sang Hyang Kagotran atau sang Hyang Kaswangga. Sayang, hingga kini belum jelas mengenai keberadaan dan detail lengkap bangunan suci tersebut.

Perkampungan di Kelurahan Polowijen dengan latar Gunung Arjuna
Tak hanya bangunan suci, di dalam Prasasti Kanyuruhan B juga disebutkan pembagian sima sawah yang ada di Panawijyan. Namun, yang cukup menarik perhatian adalah tempat ini pernah dijadikan semacam pusat pembelajaran yang disebut sebagai “mandalakadewagurwan”. Artinya, sebenarnya Polowijen sudah menjadi sebuah peradaban yang cukup besar pada saat perpindahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Lagi-lagi, belum jelas agama apa yang dipelajari di dalam tempat pembelajaran tersebut : Hindu ataukah Buddha?

Batu Kenong yang ditemukan di Polowijen. Batu semacam ini juga ditemukan di Ketawanggede dan Tlogomas. Ada semacam pantangan bagi warga kedua desa tersebut untuk melakukan ikatan pernikahan. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas cukup paralel dengan penemuan batu tersebut.
Ada sebuah informasi dari warga sekitar bahwa pernah terdapat peninggalan yang cukup banyak berupa arca-arca batu berlatar agama Hindu. Sayang, untuk kesekian kali, jejak arca-arca tersebut tidak ada sehingga tak diketahui masa dari arca-arca tersebut. Namun, bila berkenaan dengan parahyangan atau guru bhakti yang disebut dalam sima sawah tadi, maka arca tersebut merupakan bagian dari bangunan suci berlatar agama Hindu.

Sejak dulu Polowijen sudah menjadi daerah penting. Hingga kini, daerah ini menjadi pintu gerbang Kota Malang dari arah utara. Tampak Jalan A. Yani Utara, penghubung Malang-Surabaya yang tak pernah sepi.
Dugaan ini memberi dasar bahwa di Panawijen/Panawijyan sempat terjadi perpindahan pada keyakinan warga dari Hindu menjadi Buddha. Hal ini sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Kitab Pararaton. Konon, dikisahkan bahwa di sana telah tinggal sebuah komunitas Mahayana Buddhisme yang dipimpin oleh Mpu Purwa.

Nah, Mpu Purwa inilah yang merupakan ayah dari Ken Dedes. Ia disebut sebagai seorang boddhastapaka yang berarti pendiri patung, pemimpin upacara agama, dan pemimpin penjaga candi yang kini belum diketahui keberadaanya. Maka, peran Mpu Purwa di masyarakat sangatlah besar dan dihormati.

Kisah Mpu Purwa dengan anaknya bernama Ken Dedes ini terkutip petikan paro pertama Pararaton yang berbunyi :
“Kemudian adalah seorang bhujangga pemeluk agama Buddha (bhujangga boddhastapaka), menganut aliran Mahayana, bertugas di ksatrenya orang Panawijen, bernama Pu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu itu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik molek bernama Ken Dedes. Dikabarkan bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya. Termasyhur di sebelah timur Gunung Kawi sampai Tumapel.”

Dari petikan Pararaton tersebut, tanpa diviralkan di Instagram, Ken Dedes sudah terkenal akan kecantikannya. Tanpa dihebohkan dengan vlog di Youtube, Ken Dedes sudah eksis dan menjadi primadona seantero bagian timur Pulau Jawa. Laki-laki mana yang tak kepincut dengan Ken Dedes. Cantik, baik tingkah lakunya, anak pembesar pula. Laki-laki mana juga yang tak kuasa melihat seorang bidadari yang begitu anggun.

Dan akhirnya, memori yang lebih mengerikan dari patah hati nasional sejatinya sudah terjadi di abad ke-13. Suatu hari, seorang akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung singgah di rumah Ken Dedes untuk menemui sang ayah dan bermaksud meminangnya. Saat itu, Mpu Purwa sedang pergi ke hutan. Oleh Ken Dedes, sang akuwu disuruh menunggu hingga ayahnya tiba. Sayang, Tunggul Ametung tak tahan melihat kecantikan Ken Dedes. Ia lantas membawa pulang paksa Ken Dedes untuk dinikahi.

Diorama pelarian Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di salah satu bagian Museum Mpu Purwa
Mengetahui putri tunggalnya dibawa lari, Mpu Purwa sangat marah. Ayah mana yang tak kuasa putri tercintanya begitu saja dibawa orang. Ia juga tak habis pikir, mengapa orang-orang di desanya tak bisa mencegah tindakan Tunggul Ametung. Akhirnya ia mengutuk sang pria yang lancang membawa putrinya beserta penduduk Desa Panawijen yang mendiamkannya. Kutukan itu berbunyi :
“Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk dan diambil istrinya. Demikian pula orang-orang di Panawijen ini. Moga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini (beji). Dosanya : mereka tak mau memberi tahu bahwa anakku dilarikan dengan paksaan.”
Diorama yang mengisahkan Mpu Purwa mengutuk masayarakat Polowijen yang tak akan lagi memiliki sumber air berlimpah akibat ulah mereka yang membiarkan kezaliman terjadi.
Kutukan-kutukan tersebut akhirnya terbukti. Kutukan pertama dibuktikan dengan terbunuhnya Tunggul Ametung oleh Ken Arok yang menggunakan keris Mpu Gandring (walau kisah ini masih mengandung kontroversi). Kisah acara bunuh-bunuhan ini berlangsung hingga beberapa keturunan. Kutukan kedua, meski belum ada sumber yang mengatakan sumber air di desa tersebut kering, namun ada sebuah mitos menegnai larangan mengambil barang apa saja di Kali Mewek. Kali yang berarti tangisan Ken Dedes saat dibawa lari Tunggul Ametung ini berada di bagian barat Polowijen dan hingga kini masih dipercaya akan kekeramatannya secara turun-temurun. Kali tersebut masih dianggap angker oleh penduduk sekitar.

Tak hanya dilintasi jalan raya, Polowijen juga dibelah jalur rel KA yang menghubungkan Malang dengan Surabaya. Rel KA ini melewati Kali Mewek yang berdekatan dengan perumahan elit, Riverside.
Meski mendapat kutukan, Panawijen masih menyimpan peninggalan lain berupa sendang (sumber air) bernama Sendang Dedes. Tak hanya itu, beberapa kali warga juga menemukan saluran bawah tanah dari Sendang Dedes menuju persawahan di lembah Kali Mewek. Konon, saluran ini digunakan untuk pengairan sawah yang disebut dengan suwak.

Tak hanya berupa cerita asal Ken Dedes, Polowijen juga menjadi tanah kelahiran Tari Topeng Malangan yang melegenda. Di Polowijen terdapat makam Mbah Reni, seorang maestro Tari Topeng Malang dan anaknya yang bernama Mbok Bundari. Maka dari itu, Polowijen telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Malang sebagai Kampung Budaya sejak 2 April 2017 kemarin. Fly over Arjosari yang memagari Polowijen di sisi timur kini telah berbalut aneka gambar topeng yang memiliki karakter khas masing-masing.

Karakter topeng pada tiang Flyover Arjosari
Jangan tanya sawah, kini Polowijen sudah penuh dengan rumah

Tal hanya rumah, ruko dan aneka tempat usaha memenuhi Polowijen di 2017 ini
Polowijen pun berkembang menjadi gerbang kemajuan Kota Malang. Sayang, konflik perebutan kecantikan Polowijen masih berlangsung hingga kini. Bukan perebutan kecentikan Ken Dedes ataupun kesuburan daerahnya karena daerah ini sudah menjadi pemukiman dan kawasan ekonomi yang strategis. Konflik antara transportasi konvensional dan transportasi online-lah yang menjadi akar konflik di sekitar Polowijen ini meski warganya baik-baik saja. Konflik itu terus berlangsung memperebutkan ribuan penumpang yang masuk ke Kota Malang.

Fly over Arjosari dan daerah sekitarnya yang sering menjadi arena rebutan penumpang.
Itulah sedikit kisah Polowijen, desa subur tempat lahirnya Ken Dedes. Pembuka gerbang Kota Malang.

Sumber : 
Luar jaringan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. 2013. Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Malang : Disbupar Kota Malang.
Dalam jaringan
(1) (2) (3) (4) 

Memori Mesin Sigaret

Baru pukul sepuluh. 



Saya turun dari kereta dan masih terpaku di pelataran Stasiun Surabaya Kota. Sebuah kesalahan baru saya buat. Kalau sudah tahu janjian jam 12an, harusnya saya naik bus saja. Kalau begini jadinya, saya hanya memiliki dua pilihan : menunggu di stasiun ini sampai bosan atau pergi ke suatu tempat dengan perjuangan maha berat. Menerjang panasnya Surabaya Utara.

Di tengah kegamangan, taman di depan Stasiun menjadi alternatif bagi saya untuk sekedar mencari jawaban. Tempat duduk beton yang masih kosong menjadi incaran mata ini. Saya duduk dan memainkan gadget sebentar untuk memastikan rekan saya memenuhi janjinya. Tak lama, seorang tukang becak menawarkan jasanya dengan bahasa jawa beraksen Madura kental yang segera saya tolak halus. Semenit dua menit saya masih bisa bertahan. Hingga menit kelima, saya akhirnya menyerah. Panas Cak!

Saya berencana mencari kedudukan yang lebih elok bagi tubuh saya. Namun, sesosok wanita tiba-tiba menghampiri saya. Membawa ransel besar dengan rambut cepaknya yang sepanjang Polwan, ia berjalan cepat dari arah stasiun. Saya kira ia akan duduk di tempat saya tadi dan bergegas pergi. Namun, ia malah menyapa saya,“Lho, mau ke mana, Mas?”

Saya kaget. “Eh. Mau cari ademan, Mbak. Saya gak kuat.”

Iya menggeleng. “Lah, hanya sepanas ini tak kuat?”

Saya hanya tersenyum. “Habis, saya dari daerah kutub sih.”

“Hahaha. Lebai kamu Mas. Dari Malang aja kayak cacing kepanasan.”

Eh kok dia tahu?

“Kaget ya?” Dia meneruskan kata-katanya sebelum saya sempat menanyakan keheranan saya. Saya hanya mengangguk.

“Kamu satu gerbong dengan aku. Kamu naik dari Kotalama kan?”

Eh iya. Kok saya mendapat pukulan telak lagi. Dan kembali, saya hanya bisa diam sambil tetap berdiri mematung.

“Saya dari Blitar. Ini mau menyeberang ke Makassar. Tapi masih nanti malam. Kamu sendiri?”
Saya lalu menceritakan terdamparnya saya ke Stasiun ini dan kegemaran saya bluskan ke Surabaya. Kesukaan saya akan candi, hingga kegilaan saya pada museum.

“Mainmu kurang jauh!”

Jleb.

Saya merasa inferior ketika ia merencanakan travelingnya yang sudah di depan mata. Sang jelita Celebes kini jadi targetnya. Mendaki  Gunung Lokon, berpetualang di Ramang-Ramang dan menyelam di Wakatobi. “Lantas, sekarang kau mau ke mana?” tanyanya.

Saya hanya menggeleng sambil mengingat kawasan Surabaya Bawah yang belum saya jelajahi. Tapi, melihat panasnya Ujung Galuh, saya lebih baik memilih opsi lain.

“Kalau kamu gak keberatan, aku mau ikut sama kamu barang sejam dua jam.”

Glek. Saya tecekat. Wanita ini cukup agresif. Atau saya memang yang terlalu pasif. Tapi, sejak ditinggal mantan nikah, saya memang masih belum berminat.

“Oke. Kita ke House of Sampoerna!”

Saya mantap. Lagi-lagi, entah pikiran apa yang merasuki saya sehingga dengan gampangnya memilih tempat itu. Gambling.

“Kukira tempatnya tak jauh. Jalan kaki saja yuk!” ajaknya.

Gila. Saya salah perhitungan ternyata. Ah sudahlah. Biar kurus ini badan.
Panasnya Surabaya ternyata bisa juga dilawan kalau ada niatan dan teman jalan.  Kami mengobrol tentang berbagai hal. Tak disangka, saya yang sulit akrab dengan orang baru mendadak bisa cair mengimbangi celotehannya mengenai gunung-gunung yang sudah ia taklukkan. Saya tak mau kalah. Dengan gayeng menceritakan aneka candi yang berhasil saya kuasai.

Setelah berpeluh sekitar 20 menitan, kami sampai di sebuah bagunan tua namun masih sangat kokoh. Bak kuil Yunani, bangunan ini ditopang oleh empat pilar berbentuk rokok dengan angka 234. Khas angka merk rokok ini.


“Sampai kan?”

Saya tak menjawab. Sudah penat rasanya kaki ini. Peluh tak tertahankan lagi membasahi baju saya. Surabaya, terutama bagian utara benar-benar tak main-main. Tanpa cas cis cus, saya kini mendahuluinya untuk segera masuk. Seorang petugas keamanan mempersilahkan kami memasuki ruangan tanpa biaya.

“Sudah benar-benar gak kuat panas ini orang!”

Ia mengeluh dan menyusul ketika saya melihat beberapa foto keluarga yang saya duga adalah pendiri pabrik rokok ini.


“Oh jadi dia dari Tiongkok. Lalu ke Penang ikut ayahnya. Di sana kondisinya gak baik dan akhirnya dengan sisa uangnya berlayar ke Surabaya. Di sini menetap dan dengan susah payah mendirikan pabrik ini setelah menjual rokok dan ganti-ganti kerja dulu.”

Saya tak memperdulikan keluhannya tadi.

“Eh lihat. Ada sepeda!” ia lalu menujuk kedua sepeda yang berjajar di sebelah foto pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee beserta sang istri.


“Iya. Kok pas dua gitu ya. Naik ini keliling-keliling asyik deh.”

“Asyik. Tapi gak keliling Surabaya pas panas-panas gini,” ia malah meledek saya.

Saya tertawa. Kembali menatap tulisan mengenai sepeda tadi, saya cukup salut dengan pendiri Sampoerna ini. Dengan kondisi keterbatasan saat bekerja di sebuah rerstoran, ia dibayar dengan gaji rendah dan tidur di atas meja di restoran itu. Karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik, ia akhirnya resign dari pekerjaan tersebut. Sang pemilik restoran bermurah hati memberikan pesangon yang ia gunakan untuk membeli salah satu dari dua sepeda tersebut. Sepeda itu akan digunakan untuk berjualan batu bara di Surabaya.


“Wah, ada tembakau juga!”

“Iya. Baunya menyengat banget!”

Saya mendekati karung berisi aneka macam tembakau. Ternyata, setelah memiliki cukup uang,  Liem Seeng Tee  membeli perusahaan rokok yang mau bangkrut. Tak disangka, campuran tembakau  yang ia gunakan disukai banyak orang. Bisnisnya pun berkembang. Pabrik rokoknya semakin besar hingga sekarang.


 "Ternyata membuat racikan rokok itu sulit ya.”

Dengan enteng ia berkata sambil terkikik, ”Maka, hargailah orang yang merokok.”

Glek. “Ya gak gitu juga kali, Neng”, sergah saya spontan.

Puas memandangi tembakau dan tempat pengolahan tembakau, kami bergegas ke ruang tengah untuk melihat koleksi baju drum band, mesin pengepakan rokok, hingga tempat korek api bekas dan sisa bungkus rokok.

“Ah, ini yang tak buat mainan dulu pas SD dulu!” saya menunjuk bungkus rokok di balik kaca. Memori saya kembali ke masa-masa tahun 90an. Berbekal sandal jepit, saya menggasak lipatan bungkus rokok yang dijejer di tengah lapangan.


“Mainanmu eksotik ya,” ia meledek.

Saya hanya tersenyum. Rupanya, ia lebih memilih mengekor saya karena saya memotret jengkal demi jengkal bagian museum. Sesuatu yang tak ia lalukan.

“Aku lebih suka memotret alam. Apalagi gunung!” ia bersemangat.

“Gunung aku juga suka. Apalagi kalau ada candinya,” saya tak kalah semangat.

“Kenapa sih harus ada candinya?”

Saya hanya menaikan bahu. Bergegas ke ruangan selanjutnya. Rupanya, ada tempat narsis berupa warung kecil yang lengkap dengan aneka camilan dan rokok Dji Sam Soe.

“Gak mau ikut narsis?” tanya saya ketika ia menatap nanar dua wanita yang tanpa ampun dengan gaya heboh berfoto di warung tersebut.


“Kau sajalah. Aku tak minat. Eh masih ada yang belum kita masuki. Di atas sana!”

Ia menujuk sebuah tangga. Kali ini tingkahnya yang seperti anak kecil. Dengan lincah, ia naik ke lantai dua sambil menggendong ransel besarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menaiki tangga tersebut. Kira-kira, ada apa saja di lantai 2 ini.

Namun, tatapan dua pramuniaga yang tajam membuyarkan rasa penasaran saya. Ternyata, di lantai 2 ini hanya berisikan toko suvenir khas angka 234 dan 9. Yang menarik perhatian saya justru bekas mesin linting rokok yang begitu banyak. Yah semua ada masanya.

“Turun, yuk!” ia tiba-tiba menggandeng tangan saya sebelum saya mengekplorasi ruangan itu lebih jauh.

"Kenapa?"

Ia tak menjawab dan terus menarik saya agar segera turun. Lagi-lagi, sang pramuniaga kembali menatap tajam dua orang di depannya yang nampak kontras. Sang wanita berbaju kasual dan akan naik gunung. Sementara sang pria malah memakai kemeja batik dengan sepatu pantofel. Ini di mana coba nyambungnya?

Saya mengikutinya turun. Lalu kami memutuskan keluar dari bangunan museum tersebut. Duduk sebentar di depan sebuah kafe yang tampak menyuguhkan sisi artistik bangunan gaya ekletisismenya.


“Mau masuk?”

 Ia hanya menggeleng. Tiba-tiba, sejak turun dari lantai 2 dan keluar dari museum, entah kenapa wajahnya berubah murung.

“Kenapa Neng? Belum puas mainnya?”

Ia masih menggeleng. Tanpa saya minta, ia berbicara dulu. Bercerita tentang seseorang yang sangat terobsesi padanya. Gayung bersambut, ia juga menaruh hati pada pria berseragam yang berdinas di sebuah instansi cukup berkelas.

“Sudah cetak undangan”, katanya lirih.

“Lalu?” 

Ia menggeleng. Saya menghela nafas. Menebak apa yang terjadi.

“Iya, hargai orang yang merokok. Mereka butuh eksistensi juga”. Ia melanjutkan.

Saya mengangguk.

”Hargai yang makan coklat juga”.

Bagai silap mata, ia tiba-tiba saja terkekeh mendengar perkataan saya tadi. Perubahan yang sangat drastis. Tangannya meraih sesuatu dalam tasnya. Sebuah batang coklat mendarat di kepala eh tangan saya.

Saya menggenggam tangannya dan mengucapkan terima kasih.

“Aku harusnya yang makasih. Kamu unik ya.”

Tak bisa berkata apa-apa, saya hanya mengangguk.

“Masih ada mimpi kan ke Filipin kan?” tanyanya tiba-tiba.

“Pasti lah. Tak ada negara lain yang ingin saya kunjungi.”

“Oke, sampai ketemu di Gunung Apo, Mindanao,” tukasnya singkat.

Ia meninggalkan saya yang masih terbengong dan belum yakin peristiwa singkat yang baru saya alami. Berjalan cepat menuju rimbunnya tembok Penjara Kalisosok, sinar mentari sang Ujung Galuh memayunginya hingga sosoknya tak lagi nampak di mata saya.

Kini hanya tampak pemandangan orang-orang yang beraduh-aduh kapan bus wisata yang mengelilingi Surabaya Bawah akan berangkat.


Saya lagi-lagi tersenyum mengingat kejadian yang baru saya alami. Tapi, sebuah pesan WA membuyarkan bayangan indah saya.

“Aku wis ndek ITC kepet. Cepetan, C*k!”


*) Ujung Galuh adalah pelabuhan Kerajaan Majapahit yang menjadi cikal bakal Kota Surabaya. Konon, Raden Wijaya mengusir tentara Mongol di daerah ini.