Kompasiana dan Kenangan Keriuhan Itu

Kompasiana dan Kenangan Keriuhan Itu
Sebelumnya, saya mohon maaf jika beberapa waktu ini saya sering tiba-tiba berkomentar di blog anda.

Gambar diambil dari Kompasiana


Bukan apa-apa sih, sebenarnya saya hanya melampiaskan 1 hal yang hilang selama sekitar 1,5 tahun ini. Apalagi kalau tidak saling mengunjungi blog alias blog walking. Kegiatan yang hampir saya lakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Di sebuah tempat asyik bernama : Kompasiana.

Jika anda pernah membaca sejarah aktivitas ngeblog saya (baca disini), yang, kadang pasang kadang surut mungkin anda sudah paham. Tapi, kalau belum, perkenalkan saya. Seorang blogger awe-awe (haha, bahasa apaan) yang berpindah lagi dari satu tempat ke tempat yang lain. Sudah hampir 1,5 tahun saya mengisi blog saya. Jika anda melihat arsip blog saya, baru pada 2015 saya mengisinya. Lantas, mengapa saya baru mulai nggenah mengisi blog pribadi?

Alasan utamanya adalah karena saya dulu adalah penghuni “rumah kontrakan” di Kompasiana. Dulu, hampir tiap detik rasanya saya tak bisa jauh-jauh dari Kompasiana. Apalagi, kalau saya sedang asyik BW ke penulis-penulis yang gokil. Diantaranya ada Bu Ellen Marinka yang sering ngasih wejangan asyik buat saya yang sampai sekarang belum laku-laku juga. Baca fiksi asyiknya Bu Lizz Swasono yang ternyata kita satu kota. Berbalas komentar sama kompasianer lain hingga tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Belum lagi, kalau artikel kita nangkring di jajaran Headline (HL), rasanya gak mau beranjak dari K (nama lain dari Kompasiana). Bukan apa-apa sih, tapi bagi saya gak ngeh gitu nulis yang “ecek-ecek” kok bisa HL. Bagusnya di mana coba? Haha. Tapi ya kadang disyukuri juga karena teman-teman Kompasianer pada datang dan memberi ucapan selamat. Pun juga kalau ada teman yang dapat HL, saya juga ikutan heboh dan bersorak. Seru gitu.

Di Kompasiana sering ada sesuatu hal yang jadi pro dan kontra kadang sering sampai adu otot. Yah meski saya cuma jadi silent reader, tapi saya juga ikutan heboh. Krusak-krusuk sama temen K di WA atau BBM. Contoh paling asyik saat pilpres 2014 dulu. Saat itu K benar-benar rame. Meski banyak teman yang terbelah karena bela-belaan capres, tapi saya masih menikmatinya.

Namun, entah kenapa sejak ada peristiwa salah satu penulis yang sebenarnya favorit saya. Eh ternyata dia si Koruptor Gayus Tambunan. Sayapun jadi males. Kemalesan saya juga diikuti dengan teman-teman K lain yang semakin jarang menulis. Apalagi, akhir-akhir ini K semakin parah sakitnya. Apalagi kalau bukan : Error.

Hampir 8 bulanan saya tak bisa login di Kompasiana. Padahal saat itu banyak sekali ide-ide yang mau saya keluarkan. Makanya, saya mulai nulis di blog pribadi. Udah nulis aja, tak berpikir dulu ada yang baca atau gak. Namun, namanya naruli eh naluri ya gak bisa bohong. Saya kangen dengan keriuhan seperti dulu. Gak tau kenapa, apa mungkin emang “dunia bermain saya” di sini. Maka dari itu, pada tulisan ini (ceile), ijinkan saya untuk ber-BW ke blog panjenengan sedoyo. Mohon maaf kalau komentar saya sering OOT karena saya, ya gitu, hahahaha.

Oke itu saja, selamat menikmati tulisan saya yang, ya gini. Saya bukan penulis atau blogger pro hanya rasanya ada yang aneh kalau tidak saya tulis.

Terimakasih. Maraming salamat po.     

5 Lagu Philpop Yang Masuk Playlist Saya (BAGIAN 4)

Masih suka Philpop? Yah masih lah.

www.wish1075.com

Kegilaan saya pada Philpop semakin menjadi-jadi dengan seringnya melakukan rekaman suara di dapur rekaman aplikasi Smule. Bukan apa-apa sih, cuma mana ada produser yang menawari saya rekaman. Secara, suara saya cuma nyampai 0,5 x 1/4 + 15% oktaf.

Dari seratusan lagu yang saya rekam di Smule, 99 diantaranya adalah lagu berbahasa Tagalog alias Philpop. Gak nasionalis? Biarin deh. Aneh? Biarin juga. Dibilang lagi baca mantra? Biarin juga. Yang penting, heppy. Bukan begitu?

Oh ya, pada postingan sebelumnya saya sudah menghadirkan 15 lagu Philpop yang masuk playlist saya. Meski beberapa diantaranya tergolong lagu-lagu OPM (Original Philppines Music), tapi biar gak bingung saya masukan saja dalam satu rangkaian Philpop. Nah, ternyata saya menemukan lagi lagu-lagu asyik setelah melihat acara musik di TV Filipina, ABS-CBN dan GMA Network. Beberapa lagu diantaranya masih baru dan yang lain lagu lama yang didaur ulang. Oke inilah dia lagu-lagu Philpop yang masuk Playlist saya bagiaan keempat.

1. Lagi Mong Tatandaan (Parokya Ni Edgar)

Imipian saya terbesar saat ke Filipina nanti adalah melihat konser grup band ini. Entah konser Live Jam atau berdiri manja di super mall maha luas, saya gak peduli. Album baru bertajuk Pogi Years Old yang baru dirilis akhir tahun kemarin membuat saya semakin klepek-klepek. Ini band asyik banget.

Lagu berjudul Lagi Mong Tatandaan (Selalu Teringat) ini berkisah seorang pria yang mencintai seorang wanita. Alkisah sang wanita masih memiliki pasangan. Duh, saya gak bisa membayangkan gimana rasanya seperti itu. Hanya bisa menatap nanar ketika melihat wanita yang dikasihinya berjalan bersama pria lain.

Namun, karena kesabarannya, ia mendapatkan hasil. Sang wanita dicampakkan kekasihnya dengan adegan maen PS. Aduh gak banget deh. Cowok apaan tuh. Haha. Dan happy endingnya, sang pria berhasil menaklukkan hati wanita tadi. Co cewwt.

Bagi saya, lagu ini Indonesia banget. Mulai dari nadanya hingga pemeran video klipnya. Plus jalan ceritanya. Mau dengerin? Silahkan.




2. Harana (Parokya Ni Edgar)

Lagu kedua dari PNE yang saya suka lagi adalah Harana. Jika dibahasainggriskan berarti Serenade. Lagu ini sebenarnya sudah lama. Hanya  saja sering didaur ulang. Berkisah tentang seseorang yang sedang falling in love. Menggambarkan suasana hatinya yang sedang dimabuk cinta. Seperti di film-film gitu. Ow.

Tapi saya senang dengan bagian reffnya. mendayu-dayu gimana gitu. Apalagi saya juga menemukan cover lagu ini dari tim akapela "The Akafellas". Mereka menyanyikan lagu ini dengan asyik. Ngebeat dan membuat semangat bertambah. Jadinya, saya putar terus berulang-ulang.

Versi aslinya





Versi cover yang asyik banget




3. Sirena (Gloc 9 ft. Ebe Dancel)

Selain Abra, Gloc 9 adalah salah satu rapper papan atas Filipina yang hingga sekarang masih ngehits. Banyak karyanya yang berisi kritik sosial bagi masyarakat Filipina. Salah satunya adalah lagu berjudul Sirena ini yang berarti mermaid atau putri duyung.

Dikisahkan seorang anak laki-laki yang "kemayu". Suka berdandan. Bermain dengan para wanita. ayahnya sangat sering menghukumnya. Meski begitu, dia tetap senang dengan kewanitaannya. Hingga akhirnya, ketika ia dihukum ayahnya ia dimasukkan air, ia menyadari kesalahannya dan mulai berubah. Aduh sinetron banget ya ceritanya.
.



4.  Hari ng Tundo (Gloc 9 ft. Denice Barbacena)

Ini lagu juga mantap jiwa. Kalau tak salah, lagu ini merupakan lagu soundtrack dari film Manila Kingpin, The Asiong Salonga Story yang berlatar bangunan di sekitar Intramuros. Lihat cuplikan film ini saya jadi begidik. Gimana horornya tingkat kejahatan para gangster di Manila City, Metro Manila serta kota-kota di sekitarnya seperti Taguig dan Pasig. Makanya, petugas imigrasi memberi saya warning hati-hati agar tidak hilang saat ditanya tujuan saya. Aduh, tapi ya gimana lagi udah nawaitu, Bismillah saja.

Lagu yang berarti Raja Tundo ini bagi saya asyik sih. Mendayu-dayu khas lagu-lagu Melayu. Tapi, di tengah lagu yang dangdut-able tiba-tiba ada rapnya. Asyik kan? 


Ketika saya mendengar cover yang dinyanyikan beberapa orang kok malah seperti orkes Melayu. Lha. Apalagi saya menemukan juga ada dua anak SD yang menyanyikan lagu ini cukup enak. Meski memakai baju main (celana pendek) dan berada di perkampungan padat penduduk yang kumuh, tapi jangan ditanya suaranya. Mantaaap jiwa. Inilah salah satu alasan kenapa saya ngebet banget ke Filipina. Ah semoga saya juga bisa menemukan hal-hal seperti ini.

Ini versi aslinya


Ini versi covernya

  
5. Tulad Mo (TJ Monterde)

Masih ingat Budi Doremi? Kalau lihat penyanyi yang ngehits ini saya jadi ingat Budi Doremi. Meski gak pakai topi, tapi lagu-lagunya (bagi saya) mirip. Entah nada-nadanya atau lirik-liriknya yang banyak memuja seorang wanita. Apalagi, ia juga bernanyi dengan membawa gitar.

Penyanyi asal Davao City yang juga pernah mengikuti ajang pencarian VJ ini juga baru saja merilis album bertajuk Ikaw at Ako (Aku dan Kamu) pada 2016 kemarin. Lagu berjudul Tulad Mo ini merupakan lagu hitsnya yang berarti sepertimu berkisah seorang lelaki yang penasaran dengan seorang wanita yang dicintainya. Makanya ia sangat kepo dengan identitas wanita tersebut. Duh baper lagi kan.




Oke, itulah 5 lagu Philpop yang masuk playlist saya. Meski banyak hinaan (sarkas banget ya), lagu Philpop tetap asyik untuk didengarkan dan dinyanyikan.

Kebun Binatang Surabaya; Setelah 17 Tahun Itu

Bagi anak-anak Malang Generasi 90an, berlibur ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) adalah sesuatu hal yang wah dan membanggakan.



Liburan caturwulan akan sangat berharga bila orang tua atau sekolah mengajak anak-anak ke sana. Tentunya, destinasi lain seperti Pantai Kenjeran dan Tugu Pahlawan juga menjadi tujuan utama. Berlibur ke Surabaya menjadi hal yang sangat diidam-idamkan.

Terakhir kali saya mengunjungi tempat wisata ini sekitar tahun 1999, saat duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, saya sedang menghadiri resepsi pernikahan sanak saudara di daerah Jagir, Wonokoromo. Selepas menghadiri resepsi, keluarga besar mengajak anak-anak mengunjungi KBS. Hampir seharian kami berada di sana. Melihat aneka satwa yang sangat memesona. Ditambah lagi, banyak fasilitas yang ditawarkan membuat kami betah. Fasilitas asyik yang paling saya ingat adalah permainan mandi bola. Sesuatu yang cukup mewah pada saat itu.

Kini, sudah hampir 17 tahun berlalu sejak saya terakhir mengunjungi tempat ini. Saat saya mulai jarang pergi ke Surabaya dan fokus menata kehidupan di kota kelahiran. Di saat kehidupan saya hanya berkisar di kota kelahiran, saya hanya mendengar desas-desus  yang tidak mengenakkan mengenai KBS. Entah masalah konflik kepentingan, aneka satwa yang mati dan kekurangan gizi, hingga adanya masalah lain. Saya hanya mendengar dan membaca berita KBS. Menurut berita yang saya baca, kondisi KBS lama-lama semakin memprihatinkan.

Liburan panjang akhir tahun 2016 memberi kesempatan saya untuk mengunjungi Surabaya lagi. Tiba-tiba, saya berniat untuk mengunjungi KBS. Saya hanya ingin tahu bagaimana sih kondisi KBS sekarang. Pagi itu, saya datang sendirian. Ternyata, di sana sudah ramai pengunjung.  Panasnya udara yang menyengat tak menyurutkan langkah saya. Toh ini di Surabaya kan. Jadi, harap maklum.

Meski ramai, antrian di loket tak terlalu panjang. Atau memang jumlah loket yang banyak membuat tak membuat antrian mengular. Dengan 15.000 rupiah, saya mendapatkan sebuah tiket masuk berupa gelang yang mirip dengan gelang di wisata aduhay, Jatim Park. Seorang Bapak menyapa saya. Beliau membantu saya untuk memakaikan gelang. Dengan bahasa Surabaya yang khas, Bapak ini mencoba membuat saya tertarik untuk segera masuk. Sebuah sambutan yang membuat pengunjung merasa, tidak ada yang aneh di KBS. Tidak ada masalah di KBS. Semuanya, baik-baik saja.

Baik, saja mencoba untuk berprasangka baik. Bukankah prasangka baik adalah anjuran dalam agama? Saya mencoba menjadi wisatawan yang belum pernah mengunjungi KBS. Mencoba menikmati setiap sisi dan mengeksplorasi aneka satwa di dalamnya.

Memasuki bagian pertama, saya menemukan kembali memori saya dengan para unggas dari aneka jenis. Ciutan unggas tersebut kembali mengulang kenangan saya pernah terpeleset di depan sangkar burung hantu. Saat itu, saya sangat antusias untuk melihat burung hantu dari dekat. Sesuatu yang sangat mahal bagi saya. Meski tak menangis, memori itu tiba-tiba berputar lagi. Sekarang, saya menemukan seorang anak yang hampir terpeleset lagi saat menaiki anak tangga tempat pengunjung bisa selfie. Ah zaman memang telah berubah. Anak sekarang lebih tak sabar memotret diri.

Spot berfoto


Ada Jalak Bali !

Pihak pengelola KBS rupanya juga mengikuti zaman dengan menyediakan spot untuk berfoto. Meski sedikit dan bagi saya tak terlalu istimewa, namun usaha ini saya acungi jempol. Berfoto adalah komoditas pokok saat ini. Bukan begitu?

Saya lalu mengunjugi tempat lain. Ada aneka kura-kura, burung merak, dan tiba-tiba saya memutuskan untuk melihat beruang madu yang lucu itu. Memori saya berulang lagi. Saya pernah berontak dari ajakan ibu untuk segera meninggalkan tempat itu. Saat itu, saya sangat terkesan dengan badan beruang yang berwarna hitam. Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya lihat pada karakter tokoh Winnie The Pooh. Saya jadi tersenyum geli mengingat memori itu. Tapi, saat saya mengunjungi ini lagi, tak banyak anak-anak yang antusias dengan sang beruang. Malah, karena kandang beruang yang lembab dan berbau, banyak pengunjung yang tak berlama-lama berada di sana. Entah karena memang bekas hujan deras malam sebelumnya, tapi saya juga merasakan ada yang salah dengan kandang beruang ini.

Si Ber-uang

Perjalanan saya lanjutkan ke tempat istana para kera. Di sini, para pengunjung sangat antusias melihat kera yang begitu banyak. Meski lagi-lagi, kondisi becek dan bau yang cukup menyengat saya rasakan, tapi saya cukup terhibur. Bagi saya, para kera adalah hewan paling semangat diantara hewan lain di KBS ini. Mereka melompat, saling berguling, hingga mencoba berenang di sekitar genangan air. Inilah salah satu daya tarik tempat ini.

Kerajaan Kera

Puas dengan sang kera, saya melanjutkan perjalanan ke sang gajah. Binatang bertumbuh tambun ini masih menjadi favorit saya. Saya selalu kagum dengan porsi makannya yang luar biasa. Di sini saya kembali bernostalgia. Takut berfoto dengan sang gajah karena jarak saya dengan gajah cukup dekat. Tapi, kini berbeda. Mungkin, karena untuk keamanan, kaki sang gajah dirantai. Jadi, ia tak bergerak dengan leluasa sehingga saya bisa memotretnya.

Sang Gajah dan rantai di kakinya

Saya pun kembali melanjutkan ke tempat hewan lainnya. Ada rusa, unta, kuda nil, dan yang paling saya suka adalah kangguru. Kangguru khas Indonesia yang tinggal di Papua. Saat sekolah dulu, saya masih sering tidak percaya kalau ada kangguru yang hidup di Indonesia. Meski guru saya sering membahas hewan tipe Australia dengan kangguru salah satu diantaranya, saya masih belum seratus persen percaya. Saya belum melihatnya langsung. Dan di KBS ini, saya bisa menemuinya. Saat di Jatim Park II Batu dulu, sang kangguru sedang tak tampak.

Berttemu kangguru. Ini Kangguru Indonesia
Lalu, sejenak saya melepas lelah di sebuah kursi panjang. Melihat canda tawa anak-anak riang gembira menaiki sebuah rupa hewan. Ah, saya juga masih ingat dulu senang sekali naik benda itu. Berfoto dengan kamera klise, saya sering tak sabar saat mencetaknya. Kini anak-anak itu bisa dengan mudah diabadikan oleh orang tuanya.

Saya senang sekali melihat pemandangan ini
Sayang, saya tak bisa lama-lama duduk di sana. Lagi-lagi, bau yang cukup menyengat membuat saya ingin segera pergi. Mungkin lagi, akibat derasnya hujan semalam membuat kondisi becek dan tak enak. Sayapun bergegas menaiki wahana perahu yang belum pernah saya coba. Wahana dengan tarif 10 ribu rupiah ini akan membuat pengunjung merasakan sensasi berbeda. Dulu, saya belum sempat menaikinya lantaran waktu yang terbatas.

Rupanya, penumpang harus memakai life jacket. Wah, saya agak parno, mungkin ada buaya di dalam danau. Tapi tak apa, toh ini juga untuk keselamatan juga kan? Perahu yang saya naiki akan memutari danau di dalam KBS. Di tengah danau terdapat tempat tinggal semacam beruk (saya lupa namanya) yang bergelantungan. Asyik sih, sambil melihat pemandangan unik itu, kita bisa naik perahu. Perahu yang saya naiki juga menyediakan pemandangan berbeda. Ada semacam pepohonan rindang seperti hutan di kiri kanan, namun nun jauh di sana, ada pemandangan gedung bertingkat. Dan ini, ada di tengah Kota Surabaya. Membaca masalah KBS saya jadi sedih dan berharap jangan sampai tempat ini ditutup dan berganti aneka tempat hedonis yang merajalela.

Menaiki perahu dan merasakan sensasi berbeda



Pepohonan rindang dilatarbelakangi Gedung Pencakar langit. Inilah Surabaya.

Setelah menaiki perahu, saya pun harus mengakhiri perjalanan nostalgia masa kecil saya. Sebelum pulang, saya melihat sebuah papan bertuliskan wisata ini telah berusia satu abad. Usia yang spesial. Meski banyak hal yang menurut saya KBS benar-benar dimakan usia, tapi KBS masih ingin menunjukkan eksistensinya. Meski ada banyak saingan seperti Jatim Park II yang jauh mentereng, mengunjugi KBS menyuguhkan suasana berbeda. Saya tak harus melihat satwa dari balik kaca seperti di Jatim Park II. Saya tak harus berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Saya tak perlu merogoh kocek lebih dalam. Saya bisa puas membawa makanan dari luar. Selain itu, saya kembali bernostalgia masa kecil saya. Saya juga menemukan kesederhanaan para pengunjungnya. Dan, yang paling saya suka adalah, tempat ini tak hanya mengejar keuntungan semata, tapi juga turut menyelaraskan alam yang berguna bagi anak cucu kita.


Pepohonan rindang dilatarbelakangi Gedung Pencakar langit. Inilah Surabaya


Meski terlambat, selamat ulang Tahun KBS. Semoga tetap berjaya.

Udah Mau Kepala 3

Gak kerasa, awal tahun 2017 ini usia saya hampir kepala 3


Wajah-wajah hampir kepala 3


Meski masih lama sih, 4 tahun lagi. Tapi, rasanya saya udah berasa tua. Iya, bener lho. Kalau bertemu teman, kita sering merenung oh iya yah kita sudah (tua). Meski jujur, saya belum sepenuhnya belum dewasa. Masih proses menuju itu. Tapi, saya tidak menampik bahwa tanda-tanda penuaan sudah diambang mata.

Si Anu yang Gak Mau Pergi

Si Anu yang Gak Mau Pergi
“Pak, si I kesurupan lagi!” seru seorang murid kelas saya yang baru saja pamit dari kamar mandi.


Perjalanan Melelahkan Melakukan Ritual Ibadah Selfie di Coban Rais

Perjalanan Melelahkan Melakukan Ritual Ibadah Selfie di Coban Rais
Hari demi hari, tempat hits di Malang Raya semakin banyak




Semakin banyaknya tempat hits membuat para penggemar selfie semakin sering melakukan ritual ibadah selfie alias berfoto ria di tempat-tempat hits tersebut. Salah satu tempat yang mulai banyak diziarahi adalah Coban Rais.