Siswanya Outbond, Gurunya Narsis di Dancok Cafe

Hore hore hore




Anak-anak ada acara outbond. Saya senang deh. Apalagi, outbondnya dikoordinasi oleh wali murid. Dan gurunya dapat tiket gratis. Tapi, di balik itu, ada satu hal yang membuat saya senang. Apa coba?

Apalagi kalau bukan ada instruktur khusus yang menangani outbond tersebut. Jadi, saya hanya ikut mendampingi saja. Tanpa perlu banyak cawe-cawe. Mengingat dan memutuskan saya tak terlalu ribet, makanya saya sangat semangat. Saya sampai rela meninggalkan sebuah workshop kedinasan demi anak-anak. Demi refreshing sih tepatnya, haha.

Bertempat di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Pujon, Kabupaten Malang, kami berangkat pagi buta. Alasannya adalah karena banyak kegiatan yang harus dilakukan anak-anak.  Maka dari itu, kita harus on time. Yah meski molor juga, tapi kami sampai pada waktu yang telah ditentukan. Anak-anak pun senang. Kapan lagi gitu bisa hip hip hura dan tidak saya hajar ratusan soal matematika. Makanya, ketika mereka turun dari bus, alamak, seperti bebeka yang dilepas dari kandang. Kemriyek.


Anak-anak lagi semangat

Saya juga semangat..... Narsis .....

Oke, anak-anak sudah ada yang memandu. Kami hanya memantau dan sepertinya aman-aman saja. Nah, karena menunggu lama, salah seorang rekan berinisiatif untuk mampir ke sebuah tempat unik yang baru saja dibangun di sekitar bumi perkemahan tersebut. Tempat itu bernama Dancok kafe.

Astaghfirullah, kok bicara kotor gitu. Eh tapi sebenarnya, Dancok itu singkatan dari daun cokelat. Oh begitu, jadi gak dosa dong dong dong?Insha allah enggak. Malah, tempatnya bagus banget. Walaupun kita harus membayar per orang sebesar 2500 rupiah, tapi alamak. Ciamik tenan.  

Saya menyangka ini hanya kafe pada umumnya. Tempat duduk-duduk sambil menghangatkan badan. Ternyata, tempat ini juga menjadi ritual suci umat narsisme. Yap. Tempat narsisnya kece-kece. Sekece saya yang sampai sekarang banyak fansnya, hihi.

Jadi, selain ada tempat untuk nongki-nongki, di sini juga ada beberapa spot foto menarik. Mulai dari hammock, kursi cinta, gapura cinta, sampai ada yang paling bagus tulisan Dancok dengan berlatar Gunung Panderman. Ah, mana tahan untuk tidak berfoto?

Duduk-duduk dulu....

Duduk manis lagi...

Mau narsis butuh pengorbanan dong. PS : Adegan ini jangan ditiru, tak baik karena menginjak tanaman, hihi

Saya lelah pemirsa....

Gak juga sih, masih kuat narsis kok, haha.

Iya masih semangat "outbond"
Mumpung anak-anak masih outbond, jadi kami tak menyia-nyiakan kesempatan itu. apalagi tempatnya tersembunyi dan jauh dari jangkauan anak-anak. Jadi, kami bisa puas pasang pose apa saja. Mulai pose lompat-lompat, gulung-gulung, sampai pose-pose gak jelas macam ala-ala.

Duo emak

Pose gendut

Partner in crime. Guru Kelas 5 A, B, dan C. Tebak saya kelas 5 apa?
Cuma satu sih kekurangannya, di tempat narsis itu tak ada petugas khusus. Padahal, ada beberapa tempat yang cukup ekstrim dan berbahaya, terutama di musim penghujan seperti ini. Selain itu, banyak tanaman yang diinjak oleh pengunjung karena kurangnya larangan atau peringatan. Meski begitu, secara keseluruhan, tempat ini sangat saya rekomendasikan. Bagi yang ingin berfoto sampai puas dengan 2500 saja, datanglah ke sini. Tempatnya tak jauh dari labirin Coban Rondo. Yuk ah, buruan ke sini!

Lokasi Dancok Cafe


Kafe Sawah Pujon; Niat Nongkrong Atau Narsis ?

Kalau saya sedang melakukan perjalanan mengunjungi (almarhum) Mbah di Kediri, rasanya mata saya ingin terpejam jika melewati daerah Pangkas (Pujon, Ngantang, Kasembon). Tiga Kecamatan yang menjadi eksklave Kabupaten Malang.




Gimana gak pengen tidur, wong jalannya berkelok gitu. Emang sih, perjalanan tersebut melintasi pegunungan Kawi-Butak. Cuma, karena yang dilihat ya itu-itu saja, saya sering boring. Mau mampir juga ke mana? Jadinya, saya pingin buru-buru nyampek ke teritorial Kota Kediri. Gak ada keinginan untuk ngapa-ngapain.

Tapi, itu dulu. Kini, ketiga tempat itu berbenah. Mereka tak mau ketinggalan juga dengan saudara mudanya, Kota Wisata Batu. Meski secara administratif terpisah, ketiga daerah itu punya potensi alam yang sama, atau bahkan lebih menjanjikan untuk digali. Salah satunya, di penghujung 2016 kemarin, ada sebuah tempat bernama Cafe Sawah.

Nah, namanya saja sudah Cafe Sawah. Berarti kafenya ada di sawah. Pinter. 100 ya. Haha.
Tapi, apa sih yang unik dari cafe sawah ini?

Jawabannya adalah, kita gak bakal ngira kalau ada tempat sebagus itu di sebuah desa di kaki gunung. Dan saya gak ngira juga, kalau kafe ini berada dekat dengan Pasar Pujon yang menjadi titik awal saya untuk tidur lelap berjam-jam di dalam Bus Puspa Indah. Biasanya, kalau saya lewat pasar ini ya seperti pasar-pasar di Kota Kecamatan lainnya. Ada orang jualan, bawa belanjaan. Udah.  Cuma, dari pasar ini, saya sering melihat pemandangan gunung yang kok kayaknya indah banget. Saat itu, saya gak kepikiran untuk menikmati gunung tersebut. Lha di pasar! Lagi jalan di dalam bus pula.

Meski begitu, saya dulu mikir, apa gak ada ya tempat buat lihat gunung itu yang asyik. Sayang loh. Pemandangan gunung tadi akan hilang ketika kita menuju ke Pemandian Dewi Sri, beberapa kilo meter dari Pasar Pujon. Dan rupanya, keheranan saya terjawab sudah.

Jalan menuju TKP

Bisa lihat ini.....

Dan ini.....
Berada di Desa Pujon Kidul, kafe ini eksis. Di tepi hamparan sawah yang luas, kita akan disuguhkan oleh pemandangan alam sekitar. Dan, penyakit saya kumat. Saya langsung bernyanyi lagu-lagu AT Mahmud.



Sawah hijau terbentang
Bagai permadani di  kaki langit
Gunung menjulang berpayung awan
Oh indah pemandangan

Ang galing naman (bagus sekali).

Apalagi kalau ditemani segelas teh atau kopi hangat. Dengan pasangan atau rekan. Sayang, saya lagi sendirian lagi. Haha, tak apa. Yang penting asyik. Tapi sayang, tempatnya rame banget. Jadi, kita tak terlalu bisa menikmati suasana tersebut karena banyaknya orang berfoto. Belum lagi, tempat duduk yang sudah banyak terisi untuk foto-foto. Yah, dinikmati saja. Udara segar yang saya hirup juga bisa sedikit meredakan ketegangan. Meski kalau buat saya, sayang tempat sebegitu bagus digunakan untuk foto dan foto.


Artis papan atas diantara fotografer


Di sini juga asyik

Oh ya, untuk masuk ke sini, kita dipatok tarif 5000. Harga itu merupakan voucher kalau kita makan di pendopo yang ada di dekat pintu masuk. Dan makananannya prasmaan. Enak-enak lagi. Ada nasi goreng, nasi jagung, ikan bakar, jangan menjes puedes (sayur saudaranya oncom, saya bingung bahasa Indonesianya apa....), dan tempe penyet. Jadi, kalau kita makan di situ, kita akan mendapat diskon 5000 dengan menunjukkan karcis masuk tadi. Enak kan?


Duh enaknya....

Nasi jagug, menjes, mie, dan koloke. Piye jal rasane?

Sayang sih, belum ada trasnportasi untuk menuju ke sana. Maka, kita harus membawa kendaraan sendiri. Kalau kepepet ya naik ojek dari Pasar Pujon. Gimana? Tertarik mencoba?



Letak Cafe Sawah

[Review] Trinity, The Nekad Traveler : Saat Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

Gak biasanya lho saya nonton film pas Premiere-nya

Poster Film (madeandi.files.wordpress.com)
Jangankan pas premierenya. Nonton ke bioskop aja males. Karena saya orangnya cukup perhitungan. Jadi, kalau masih bisa melihat di laptop, mending lihat aja. Sambil bobok cantik dan ngemil. Duh, bahagianya dunia.

Tapi, tidak untuk film satu ini. Sebenarnya sih, alasan saya niat untuk lihat film ini karena 1 hal : Mbak T. Idola saya dalam dunia kepenulisan dan jalan-jalan. Iya lho, saya ngefans banget. Selain tulisannya yang aduhai dan bikin saya senyum-senyum sendiri, mbak T itu orangnya rendah hati sekali. Untungnya saya pernah ketemu beliau dan dengan asyiknya dia bertanya : Kamu mau ke mana?

Ya jelas dong, saya langsung menjawab : Filipina! Mbak T langsung heboh dan kita langsung ber-Tagalog-ria. Duh, kalau inget acara itu jadi pingin ketemu mbak T lagi. Namun, sudah dua tahun berlalu saya belum mendapat kesempatan itu. Makanya, ketika saya tahu kalau bulan ini ada film tentang Mbak T, saya wajib lihat.

Kenangan dengan mbak T

Tanpa siapa-siapa, saya datang ke bioskop sendirian. Singkat kata,  pertunjukan dimulai. Film ini sebenarnya mengisahkan perjalanan mbak T keliling dunia. Namun, kalau tak salah, hanya buku pertama yang menjadi inti film ini. Mbak T (Trinity) yang diperankan oleh Maudy Ayunda adalah seorang wanita kantoran yang terus menghitung jatah cuti kantornya buat jalan-jalan. Dia memiliki banyak sekali bucket list yang harus ia penuhi sebelum tua.

Si bos yang diperankan Ayu Dewi menjadi tokoh antagonis yang sering menjadi momok karena menghambat rencana jalan-jalannya. Meski banyak halangan, ia terus saja mendapat dewi fortuna untuk bisa jalan-jalan sesuai impiannya. Bagian yang paling saya suka adalah ketika ia jalan-jalan bersama rekannya, Nina dan Yasmin serta sepupunya Ezra ke Filipina. Dan yang asyik, mereka benar-benar syuting di Filipina. Ada adegan makan balut, naik jeepney, lihat taman indah di Makati, sampai ilang di Manila City. Duh, ini berasa saya udah pingin ngremes paspor aja. Bentar lagi-bentar lagi. Tahan buuk.

Di tengah jalan-jalannya, ada seorang misterius yang mau memberi tiket ke mbak T ke manapun ia mau. Dan meski galau, akhirnya mbak T memutuskan untuk pergi ke Maldives. Surga di Samudra Hindia. Di sana, ia bertemu cowok cakep bernama Paul, yang diperankan Hamish Daud. Mereka pun akhirnya dekat. Hingga tibalah, si Paul menembak mbak T. Di Maldives yang banyak atol-atolnya itu. Keren kan? Tapi, bagaimana jawaban mbak T? Hmm, lihat sendiri aja kayaknya asyik ya.


Selain kisah percintaan mbak T, saya senang dengan angle pengambilan gambar film ini. Berasa baca blognya mbak T plus foto instagramabel yang aduhai. Tapi, karena sekitar 30 persen setting film ini di Filipina, makanya saya jadi excited. Tak hanya itu sih, film ini juga asyik banget buat kalian yang suka galau akan masa depan. Adegan yang paling saya suka bukan adegan percintaan mbak T dan Paul, namun saat mbak T dengan mantap untuk resign dari pekerjaannya. Hmm, bau-baunya..... ah sudahlah. Daripada penasaran, lihat saja yuk. Gak bakal nyesel! 


Dari Sinilah Aliran Sungai Brantas Berasal

Anak-anak, ayo sebutkan siklus air!



“Lupa, Pak!”
“Lho, kok lupa. Biar tidak lupa, kita lihat video ini yuk!




“Bagaimana? Sudah ingat?”
“Sudah, Pak. Proses siklus air dimulai dari evaporasi.”
“Iya, benar sekali. Nah, sekarang,ada yang tahu evaporasi itu apa?”
“Saya tahu, Pak. Penguapan air laut”.
“Ya, benar sekali. Tapi, apa hanya air laut saja yang menguap?”
“Tidak, Pak. Air danau, sungai, dan air dari tumbuhan juga,”
“Wah, kamu tepat sekali. Lalu, setelah proses evaporasi, dilanjutkan apa?”
“Kondensasi, Pak. Nanti, uap air akan menjadi awan. Dan setelah di dalam awan terkumpul banyak uap air, lalu akan timbul titik-titik air.”
“Iya, benar sekali. Proses kondensasi bisa juga disebut mengembun. Nah, lalu, setelah banyak titik-titik air, lalu terjadi apa?”
“Hujan, Pak!”
“Ah iya, benar sekali. Akan turun hujan. Biar kita tambah semangat, ayo kita menyanyi bersama lagu Hujan. Bisa?”
“Bisa, Pakkkk!”

Hujan, hujan di mana-mana
Di jalan di halaman semua basah
Hujan, hujan belum berhenti
Hujan, turun sepanjang hari

“Oke, cukup ya. Nah, setelah turun hujan, lalu apa yang terjadi dengan air hujan?”
“Sebagian akan diserap akar tanaman menjadi air tanah, Pak. Sebagain lagi akan mengalir menuju laut melalui sungai”
“Iya, tepat sekali. Nah, berbicara mengenai sungai, ada yang tahu. Sungai apa yang mengalir di Jawa Timur?”
“Sungai Brantas, Pak.”
“Iya, benar. Sungai Brantas. Tapi, apa ada yang tahu. Sungai Brantas itu pertama kali mengalir dari mana ya?”
“Tidak tahu, Pak?”
“Nah, dengarkankan penjelasan Bapak ya.”

Di sebuah desa bernama Sumber Brantas, Kota Wisata Batu, terdapat titik permulaan aliran Sungai Brantas. Sungai terpanjang di Jawa Timur ini mengaliri daerah di sekitar kota-kota di Jawa Timur. Membentang dari pegunungan, menuju permukiman padat penduduk, membuat sawah di dataran rendah terlairi alir, hingga terpecah menjadi dua aliran sebelum menuju laut.




Kalau kalian sedang berjalan-jalan ke Wisata Air Panas Cangar, kalian akan menemukan tempat ini. Tak jauh dari jalan raya, kalian akan disambut oleh pepohonan rindang dan area perkebunan sawi penduduk. Tempat ini dikelola oleh PT Jasa Tirta. Jangan membayangkan tempat ini sebagai tempat wisata ya karena sebenarnya tempat ini adalah tempat konservasi. Menjaga aliran air agar tetap lestari.












Makanya, tempat ini masih sepi. Meskipun sangat bagus, namun kita tak boleh bertindak sesuka hati. Contohnya, membuang sampah, menginjak tanaman, atau bahkan mengotori sungai yang mengalir. Kalian boleh menikmati suasana pegunungan yang sangat sejuk. Apalagi, jika kalian mau berjalan-jalan di sana, kalian akan menemukan banyak tanaman dan hewan yang bisa dipelajari. Seru, kan?







Oh, ya, kalian juga bisa menikmati segarnya aliran air dari titik awal Sungai Brantas ini. Tempatnya berupa cekungan berisi air yang menetes dari pegunungan. Segar sekali. Bisa kalian coba. Yang penting, jangan mengotorinya ya. Kalau sudah puas, kalian bisa duduk-duduk di taman. Banyak meja dan kursi yang disediakan.














“Nah, anak-anak, bagaimana. Siapa yang mau berkunjung ke sana?”
“Saya, Pak, saya, Pak,”

“Oke, nanti kita rencanakan ya. Sekarang kita akhiri pelajaran hari ini, ya. Assalamualaikum”
"Waalaikum salam".


Foto yang bisa dilihat setelah anak-anak pulang

Dari sinilah air Sungai Brantas berasal, dari sinilah cinta kita berasal

Dan menuju pelaminan.

5 Lagu Philpop yang Masuk Playlist Saya (Bagian 5)

Lagu Philpop tetap menjadi andalan ketika badmood. 


Ada yang mau ikutan ? (http://www.philpop.com.ph)


Kayaknya saya sudah kebal dengan penilaian negatif lingkungan sekitar: tidak nasionalis dan aneh. Lha, apa situ bisa menghibur saya? Gak kan?

Lho kok jadi sewot. Daripada sewot, saya punya 5 lagu Philpop yang asyik banget untuk didengerin. Lagu-lagu ini saya rekomendasikan bagi pembaca setia saya karena sangat Indonesia banget. Iya lho, bagi saya sih gitu. Daripada lama-lama, inilah dia 5 lagu Philpop yang masuk playlist saya bagian kelima. Check this out!

1. Manhid Ka (Vice Ganda)

Ah ini lagu bikin saya semangat. Gimana enggak, musiknya yang ngebeat bikin saya gak berhenti untuk menyanyikannya. Liriknya sih hampir sama seperti lagu falling in love lain. Kalau lagi jatuh cinta, pasti rasanya berdebar-debar kan. Nah, saya dapet banget pesen lagu ini.

Lagu yang dipopulerkan oleh artis transeksual serba bisa bernama Vice Ganda ini sering dinyanyikan oleh penyanyi papan atas. Banyak acara musik seperti ASAP yang masih terus menampilkan lagu ini. Gimana sih enaknya? Dengerin aja deh...




2. Chinito (Yeng Constantino)

Mbak Yeng itu emang enak-enak lagunya. Lagu dengan suasana apa aja tetep enak. Dari galau, serius, sampe semangat, semuanya enak. Termasuk, lagu Chinito ini. Dalam bahasa Tagalog, Chinito bisa diartikan “Little Chinese boy". Jadi inti lagu ini sih ada seorang Pinay yang sedang naksir sama Chinito. Di dalam video klipnya, Yeng menjadi modelnya sendiri bersama aktor Filipina keturunan Tionghoa, Enchong Dee.

Nah, kalau saya kan gak mungkin nyanyi Chinito, makanya kalau anda pria, gantilah kata Chinito menjadi Chinita. Selain enak, lagu ini juga bisa buat dansa atao ngedance. Ayo, sapa yang mau dansa dengan saya?



3. Nasa Iyo Na Ang Lahat (Daniel Padilla)

Yang suka sinetron Pangkal Sayo pasti tahu sosok penyanyi lagu ini. Siapa lagi kalau bukan Daniel padilla. Yuk, yang mau teriak heboh teriak dulu gih.

Selain berbakat di dunia akting, si Daniel ini suaranya juga enak. Satu hal yang saya suka dari artis Filipina adalah totalitas menekuni bidang yang mereka sukai. Gak sekedar ikut-ikutan gitu.

Nasa Iyo Na Ang Lahat (Kamu punya segalanya) memiliki isi lirik yang bisa membuat wanita klepek-klepek. Gimana enggak klepek-klepek, isinya pujian kepada wanita. Udah langsung dilihat aja ya.




4. Dyosa (Yumi)

Ini lagu bikin saya ajep-ajep. Asyik sih, menghentak gitu. Lagu soundtrack film fenomenal berjudul Diary Ng Panget ini bisa bikin mood saya balik dari jelek menjadi baik.

Yah meski bagian awal video klipnya bikin semriwing, tapi lama-lama unik juga. Inti lagu ini sih ada seorang wanita yang cupu dan jelek lalu berubah menjadi cantik. Mirip di dongeng-dongeng gitu.



5. Gitara (Parokya Ni Edgar)

Ini lagu udah jadul sih dan lebih tepat dimasukan ke dalam jenis musik OPM, bukan Philpop. Tapi gak apa-apa, karena lagu ini juga enak dan berbahasa Tagalog (lho)

Nah yang lagi baper, apalagi sama mantan, dengerin deh lagu ini. Dijamin tambah baper. Gimana gak baper, isinya menceritakan masa lalu sambil diiringi alunan gitar. Duh, bapernya.

Versi aslinya



Versi covernya


Oke, itu dulu 5 lagu Philpop yang beberapa ini masuk playlist saya. Hmm, setelah mendalami lagu-lagu Philpop ini saya semakin yakin, Filipina adalah saudara serumpun terdekat dengan kita. Meski ya kadang gak paham bahasanya, tapi makna dan alunan musik  Phipop bisa mewakilinya.

Finding Abang di Suatu Petang

Udah 3 kali lho gue coba order.

Ilustrasi : Traveloka


Mana sudah mau jam setengah 6. Padahal jam habis mahgrib anak-anak les sudah datang. Ah ngapain sih gue ke Mall gak jelas ini. Apa emang kebiasaan ya kalau lagi galau gini gue kelayapan gak jelas ke Mall buat naik turun ekskalator.

Ini Mall mana jauh lagi dari rumah. Emang sih, cuma beberapa ratus meter dari terminal. Tapi kan baru kemarin sopir angkot-angkot itu mogok. Gak deh kalau mau naik angkot untuk beberapa hari ke depan. Masih gimana gitu. Apalagi ini mau maghrib. Jalan ke terminal kayaknya gak asyik. Sendirian lagi.

Oke. Ini percobaan yang keempat ya. Kalau masih gak ada driver yang mau pick up, berarti fix harus jalan ke terminal. Gue masih belum bisa yakin ini bakal berhasil. Orang-orang di Mall udah banyak yang pulang. Kayaknya ini Mall gak bakal sepi deh. Mau ke dalam lagi juga ngapain? Gak ada apa-apanya gitu.

Finding driver................
Finding driver.....................
Finding driver................

Ah udah ah, ngangkot aja.
Tapi tiba-tiba
Bretttttttt..... 
Eh, ada yang pick up. Tapi kok di GPS masih jauh banget. Yah salam bakal garing nih. Gak apa-apa deh. Daripada ya aku jalan ke terminal. Mana rintik hujan mulai turun.
Gak lama kemudian ada pesan SMS masuk.
“Mas ikrom ya. Tunggu di jalan dekat Resto XXX ya. Gak boleh pick up di depan Mall mas soalnya”.
“Oh iya mas. Tapi saya gak tau itu di mana”. Duh mulai deh adegan jalan-jalan sendirian  lagi.
“Nanti kan ada bunderan. Sampeyan ke arah timur aja. Restonya gede kok, nanti keliatan”
“Oke mas, saya tak ke sana”.

Gue lalu menuju resto itu. Setapak demi setapak kaki gue melangkah dengan masygul menapaki kompleks perumahan eilit yang tak jauh dari Mall. Duh tapi kok kayak gimana gitu. Ah biar gak kepikiran aneh-aneh, dengerin lagu Philpop aja. Sambil bercuap-cuap dengan bahasa Tagalog, saya EGP aja. Eh tapi lagi ini kan mau maghrib. Apa nunggu magrib sekalian ya. Cuma kan drivernya lagi OTW. Ya udah gak apa-apa.

Lama-lama jalan semakin sepi. Ternyata restonya agak jauh juga kalau buat jalan. Duh, emang kondisi keamanan lagi gak stabil ya. Jadi harus kucing-kucingan gini. Beberapa saat kemudian, gue sampai di restonya. Restonya masih tutup. Tumben ya, apa memang khusus hari jumat tutup. Gue lalu duduk di dekat bangku di bawah pohon akasia. Ah enaknya, tapi ini langit mulai gelap. Tetesan air juga turun meski gak lebat.

Baru aja gue menikmati alunan lagu Philpop, eh muncul orang naik motor bawa helm. Ah mungkin ini abang ojeknya. Jadi gak lama-lama deh.
“Mas, pesan ojek ya?”
“Enggak mas, aku lagi nunggu kakakku mau jemput. Dia masih di blok sana”.
“Lho, kan masnya yang pesan lewat Gojek?”
“Saya gak pesen mas, saya beneran nunggu kakak saya kok, paling bentar lagi sampe”.
“Lho, terus yang pesan tadi siapa dong?” Dia lalu membuka Hpnya.
“Lah, gak tau mas, saya emang gak pesen kok. Paling di blok sana, mas. Tadi ada orang yang telpon-telpon gitu. “
“Ah, masa sih? Di map saya, kok adanya di sini ya?”
“Ah iyakah mas? Apa mungkin yang pesen pindah posisi. Takut sama ojek pangkalan. Kan ada pangkalan di dekat sini”.
“Oh iya ya. Ya udah, aku tak ke sana. Tapi mas beneran gak pesen kan?”
“Enggak, mas. Aku nunggu kakaku ini”.
“Oke. Aku tak ke sana”.
Hahahaha, aku berhasil ngerjain. Hore. Duh senangnya.
Tapi kok, lama-lama tambah gelap ya. Apa gue sholat dulu aja. Ya udah. Di dekat resto kayaknya ada Musholla. Tak ke sana dulu ah.

Belum lama jalan, eh ada suara klakson motor lagi. Mampus deh gue, ketauan.
Gue balik badan.
“Mas Ikrom ya?”
“Oh iya mas. Mas XXX ya.”
“Iya mas. Ini helmnya mas. Pakai masker?”
“Gak usah mas. Udah mau magrib nih. Yuk buruan”.
“Oh oke mas. Siap!”




Dan gue pun naik ke atas motor. Tak lama kemudian, suara maghrib berkumandang. Duh berdosanya gue. Jangan ditiru ya teman-teman.