(Sebuah Kisah) Hari Terakhir Ujian Sekolah

Ilustrasi (ciptacendekia.com)

Surat tugas itu tergeletak di atas meja. Menunggu untuk saya bawa pulang. Saya mendesah pelan. Kenapa saya jadi yang keluar?

“Ini terakhir buat Bapak. Kan tahun depan Bapak sudah tak di sini. Anggap saja sebagai kenang-kenangan”.

Saya masih mengingat kata-kata Bapak Kepala Sekolah seminggu sebelumnya. Saya hanya tak mengerti, biasanya segala administrasi pelaksanaan ujian di sekolah saya yang banyak mengerjakan. Kalau saya yang tugas keluar, lantas bagaimana?

Hari Pertama

Saya datang beberapa menit sebelum pukul setengah tujuh pagi. Gerbang sekolah masih terbuka separuh. Saya harus membuka gerbang dengan sempurna lantaran kecilnya pintu masuk. Selepas memarkir motor, saya lalu mencari letak ruang pengawas. Tak jauh dari parkiran motor, saya menemukannya.

Suasana masih sepi. Tak ada siapapun. Hanya suara anak-anak kelas 6 yang sayup-sayup saya dengar sedang mengikuti tambahan pelajaran. Dengan rasa heran, saya lalu duduk di sebuah kursi sofa yang saya yakini itu adalah kursi tamu. Di depannya, ada sebuah kertas bertuliskan nama-nama pengawas ujian. Termasuk, nama saya.

Sepuluh menit kemudian, saya memainkan gawai. Lalu, munculah seorang ibu separuh baya tergopoh-gopoh membawa toples berisi makanan ringan. Beliau lalu menyalami saya dan meminta maaf jika tak ada siapapun yang menemui dan menyambut saya. Saya hanya bisa tersenyum ramah. Respon yang (cukup) diplomatis.

Tak lama kemudian, muncul tiga pengawas lain. Ah, mungkin saya yang terlalu pagi. Tapi, pengalaman di sekolah saya tahun lalu, paling tidak pukul 6 pagi, di sekolah sudah banyak yang datang. Selain anak-anak Kelas 6 tentunya.

Beberapa saat kemudian, sang kepala sekolah datang. Seorang ibu, yang saya lihat dari nomor induk pegawainya beberapa tahun lagi akan purna. Beliau lalu menyalami kami. Tanpa banyak kata, beliau membuka pengarahan kepada pengawas ujian.

Pukul setengah delapan saya bersama satu rekan pengawas dari sekolah lain masuk ruangan. Saya mendapat kejutan. Bukan karena apa, sebagian besar rambut anak-anak peserta ujian berwarna kemerah-merahan. Saya yakin, itu bekas cat rambut. Namun, saya masih menyimpan kejutan saya. Tugas besar dimulai.

Selepas membagikan LJK dan soal, saya mulai mengisi daftar absen dan identitas peserta. Lagi-lagi, saya mendapat kejutan. Di sebuah nama, tertera tahun kelahiran sang anak yang bagi saya tak lazim. Tahun ini, siswa yang mengikuti ujian, rata-rata berangka kelahiran tahun 2004 dan 2005. Sang anak memiliki tahun kelahiran 2000. Saya mengernyitkan dahi. Berarti, 17 tahun. Sontak saya melihat foto peserta dan melihat sang anak.

Benar, seorang remaja laki-laki asyik duduk di bangku belakang. Asyik memberi tanda silang pada LJK. Memang, sepintas tak ada yang salah. Namun, melihat ukuran tubuhnya, saya menemukan perbedaan jauh dengan teman-temannya.

Sudah esema kan harusnya? Batin saya. Tapi, saya tak mau memikirkan lagi. Yang penting, ujian bisa berjalan lancar.

Hari kedua, ketiga, dan keempat

Saya masih bosan dengan dua jam tanpa melakukan apapun. Kadang, saya berkeliling kelas. Melihat gerak-gerik mereka yang sepertinya aman-aman saja. Selepas dua jam, pekerjaan mengurutkan LJK pun dimulai. Selepas LJK kembali tersegel, saya segera memberikan kepada Ibu Kepala Sekolah.

Di hari keempat, sang ibu kepala sekolah mulai bercerita kepada kami tentang sang anak yang menjadi misteri. Sang anak yang memiliki inisial A, memang mengalami masalah yang cukup pelik. Sang ayah, pernah tertimpa kasus pencurian yang sebenarnya bukan murni kesalahannya. Kebetulan, sang ayah bekerja sebagai tukang rombeng (tukang pengumpul barang-barang bekas). Suatu ketika, sang ayah mendapat sebuah barang besi rongsokan dengan harga yang lumayan.

Naas, ternyata barang tersebut adalah bekas hasil curanmor. Sang ayah terkena pasal pencurian sebagai penadah dan harus diganjar kurungan penjara selama beberapa bulan. Mulai itulah, si A menjadi tidak lagi terurus karena ibunya juga bingung dengan kasus yang menimpa.

Si A lalu bergabung dengan komunitas punk. Mengamen dan melakukan kegiatan negatif lain. Jarang masuk sekolah karena malu, hingga tak naik kelas. Pihak sekolah masih mempertahankan si A lantaran bisa dibilang memiliki potensi akademik yang cukup baik. Hingga tahun ini, dengan bimbingan yang cukup intensif, si A bisa mengikuti ujian.

Hari Kelima

Baru saja diceritakan hari sebelumnya, Si A tak datang hingga beberapa menit sebelum bel tanda ujian dimulai. Guru Kelas 6 panik. Beliau meminta izin untuk menjemput A di rumahnya. Sang kepala sekolah meminta kami untuk bersiap jikalau kondisi terburuk harus mengawasi si A di rumahnya. Pihak sekolah hanya ingin si A bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya. Tidak tertunda lagi.

Untunglah, si A muncul selepas bel berbunyi. Rupanya, keterlambatan si A lantaran ia tak memiliki bawahan baju pramuka. Entah ke mana, sebagai gantinya, ia memakai bawahan merah. Kombinasi seragam yang aneh karena ia memakai atasan pramuka lengkap dengan hasduk merah putih. Tak apa, yang penting si A bisa mengikuti ujian terakhir.

Bel tanda mengerjakan soal usai. Kami segera mengurutkan LJK lagi dan menyegelnya. Memberikannya kepada sang kepala sekolah. Di akhir pertemuan ini, beliau terus memohon maklum atas kekurangan sekolahnya. Beliau tak bisa berbuat banyak lantaran sekolahnya cukup miris keadaanya. Penjelasan yang saya amini dalam hati ketika menengok plafon yang cukup mengerikan, kamar mandi siswa yang jorok, dan kelas-kelas yang kusam. Tapi, saya maklum. Satu-satunya dana dari sekolah adalah dana BOS. Apesnya, tahun ini, dana BOS tak kunjung cair.

Selepas menerima nasi kotak kenang-kenangan terakhir dari sekolah yang saya awasi, saya bergegas pulang. Memacu motor keluar dari gang sekolah tersebut. Tak berselang lama, saya melihat keceriaan anak-anak sekolah sebelah. Sekolah negeri favorit yang selalu bersaing dengan sekolah saya (yang juga favorit). Memiliki fasilitas lengkap dan aneka prestasi yang layak dibanggakan. Tak lama juga, mata saya memandang sebuah pusat perbelanjaan maha besar. Bersanding dengan aneka tempat hiburan, restauran, hingga aneka spanduk hiburan bertebaran di jalan.

Saya hanya bisa menatap nanar dan memendam dalam hati, kenapa kasus seperti si A bisa terjadi. Di sebuah sekolah kecil yang seperti terabaikan. Padahal, sekolah ini berdiri di sebuah kota yang katanya kota pendidikan.

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan. Salam.

[Give Away] High School Never Ends

Alhamdulillah.

Buku antologi terbaru saya sudah terbit. Saya senang, tahun ini, saya bisa membuat karya bersama lagi. Meski, lagi-lagi bukan buku yang saya karang sendiri, tapi saya tetap mengucap syukur. Di tengah kesibukan maha gokil akibat pengerjaan laporan BOS yang entah kapan selesainya, saya masih bisa berusaha untuk istiqomah menulis. Walaupun saya tahu, itu sulit. Namun, karena menulis adalah salah satu kegiatan yang saya senangi, sesibuk apapun, saya luangkan sedikit waktu untuk menulis.

Bermula dari ajakan seorang teman SMA bernama Anna Rakhmawati, saya mendapat kesempatan berharga untuk menulis cerita pengalaman pribadi masa SMA. Kebetulan, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menimba ilmu di salah satu SMA paling asyik, yakni SMA Negeri 1 Malang. Penulisan buku ini sendiri diinisiasi oleh Mbak Dini Nuzulia yang merupakan alumni SMA Negeri 1 Malang tahun 2007 dan telah menerbitkan puluhan karya buku antologi.  

Bagi yang sudah tahu tentang SMA Negeri 1 Malang yang terkenal dengan semboyan “Mitreka Satata”, maka tak asing lagi dengan sekolah satu ini. Sekolah yang terletak di jantung kota Malang ini sering diidentikan dengan cerita mistis. Cerita yang membuat bulu kuduk merinding bersama dua sekolah lain yang masih dalam satu kompleks, yakni SMA Negeri 3 Malang dan SMA Negeri 4 Malang. Ketiga SMA yang sering disebut SMA Tugu ini memang terkenal horor. Cerita lantai berdarah dan lorong misterius adalah beberapa diantaranya.

Namun, di dalam buku ini, kami para Ikamisa (Ikatan Alumni Mitreka Satata) tak membicarakan cerita horor itu. Tapi kami mencoba mengenang kembali masa-masa SMA kami yang tak datang dua kali. Bagaimana kami berjuang bertahan untuk meniti masa depan. Meski menyandang status elit, tak serta merta kami mudah melalui masa-masa SMA karena sebagian besar dari kami bukanlah berasal dari kalangan berada dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Salah satu kenangan masa SMA : Lari keliling Tugu Balaikota Malang sebanyak 8x. Lihatlah, betapa kurusnya saya.
Maka, mengalirlah cerita-cerita dari 17 alumni lulusan tahun 2007 hingga 2009 yang tergabung dalam Tim Ikamisa Writing Project. Lulusan yang bisa disebut kaum milenial dan sedang menapaki usia dewasa. Menapaki masa-masa sulit, jatuh bangun, senang, kecewa, dan aneka rasa. Dengan semangat juang Mitreka Satata, kami mencoba bercerita apa yang sudah kami lalui. Dari berbagai latar belakang pendidikan kuliah hingga pekerjaan. Dari yang masih jomblo hingga yang sudah berkeluarga. Semua terangkum dalam sebuah buku berjudul Menapak Bumi, Menggapai Langit.

Penampakan cover buku Menapak Bumi Menggapai Langit

Namun, buku ini masih belum diterbitkan secara luas karena kami masih menerbitkan secara indie. Meski begitu, jika para pembaca blog saya berminat untuk memiliki buku ini bisa mengontak saya melalui jejaring sosial (FB, Twitter, dan Instagram). Harga satu buah bukunya adalah Rp. 65.000,00 (belum termasuk ongkos kirim). Hasil penjualan akan disumbangkan untuk beasiswa Ikamisa yang diperuntukan bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Malang.



Nah, bagaimana bila masih belum memiliki rezeki? Tenang, masih ada kesempatan untuk memiliki buku ini secara gratis. Caranya adalah mengikuti Give away bertajuk “High School Never Ends”. Kegiatan ini saya adakan dalam rangka rasa syukur saya karena buku baru saya telah terbit. Bagaimana caranya? 
Simak petunjuk berikut :
  1. Peserta adalah WNI yang berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
  2. Peserta memiliki blog pribadi dan salah satu jejaring sosial wajib (Facebook/Twitter)
  3. Peserta membuat sebuah cerita mengenai kenangan masa-masa SMA. Tema cerita bebas, bisa persahabatan, pertemanan, ekstrakulikuler, perjuangan ulangan dan ujian, dsb. Tulisan yang dibuat tidak boleh mengandung unsur SARA.
  4. Cerita ditulis dalam blog pribadi. Panjang tulisan bebas. Tulisan yang menarik, unik, dan inspiratif adalah yang dicari.
  5. Peserta boleh menambahkan gambar dan/atau video. Tambahan gambar dan/atau video yang relevan menambah penilaian.
  6. Artikel yang sudah ditulis wajib dibagikan (dishare) ke jejaring sosial peserta, yakni Facebook atau Twitter. Jangan lupa menambahkan hastag #highschoolneverends #smansamalang dan #mitrekasatata
  7. Periode Give away adalah 9 Mei-4 Juni 2017.
  8. Tiap peserta hanya boleh mengirimkan satu karya. Peserta yang sudah membuat karya dan membagikan ke jejaring sosial diharapkan segera mengirim link (tautan) tulisan beserta screenshot bukti share ke email : ikromzzzt@gmail.com
  9. Dua pemenang terpilih masing-masing akan mendapat satu buah buku Menapak Bumi Menjejak Langit (free ongkir) dan pulsa sebesar Rp. 150.000,00 (lumayan kan buat paket internetan).
  10. Keputusan penilaian pemenang tidak dapat diganggu gugat. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 12 Juni 2017 yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Filipina.
Nah, tunggu apalagi. Ayo tulis cerita asyikmu saat SMA! Jangan sampai ketingalan.

Ngeband Sejak Esde, Kenapa Tidak?


Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja


Lagu itu mengalun merdu dari dua orang anak Kelas 5 SD. Teriringi dengan asyik oleh beberapa alat musik ritmis dan melodis. Lagu yang santai tapi sarat makna itu benar-benar dinikmati oleh para tamu di sekolah tempat saya mengajar.

Saya senang sekaligus bangga. Di usia mereka yang masih kecil, mereka mampu memainkan alat musik dan menyatu dalam harmoni. Meski saya tahu, hal ini tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras dan latihan yang intensif.

Ini tahun ketiga saya menjadi pendamping ekstrakulikuler Band. Ekstrakulikuler yang paling muda di sekolah saya. Lahir bersamaan dengan adanya bantuan alat-alat musik band dari pemerintah berupa gitar, keyboard, bass, dan satu set drum. Agar alat-alat tersebut bisa bermanfaat, maka diadakanlah ekskul band yang bisa diikuti oleh siswa kelas 3 hingga kelas 5. Ekskul ini dibina oleh salah satu musisi band Kota Malang yang memiliki jam terbang tinggi. Tak hanya jam terbang tinggi, sang pembina bisa menjelaskan teknik-teknik bermain alat musik dengan jelas kepada anak-anak.

Selama mendampingi ekskul band, saya banyak mendapat kejutan demi kejutan. Saya sering mendapat talenta yang menurut saya tak mudah untuk ditemukan. Makanya, saat awal tahun pelajaran, pencarian bibit-bibit baru dilakukan. Ternyata, banyak yang sudah bisa memainkan kunci gitar dasar, seperti C, F, dan G. Ketiga kunci ini bisa digunakan untuk menyanyikan banyak lagu anak-anak. Saya juga menemukan pemain piano yang bisa memainkan beberapa lagu berbahasa Inggris.


Alunan suara dari para pemilik bakat olah vokal juga saya temukan. Namun, saya juga mendapat kesulitan untuk mencari bakat pemukul drum. Saya paham, menabuh drum cukup sulit karena berkenaan dengan tempo dalam sebuah lagu. Kadang, penabuh drum harus dilakukan oleh pembina ekskul sendiri. Meski begitu, untuk tahun ini, alhamdulillah saya mendapat dua penabuh drum yang sama-sama bertalenta.

Latihan rutin diadakan selepas shalat Jumat. Mereka belajar beberapa lagu anak-anak dan beberapa lagu dewasa namun memiliki arti yang universal. Yah namanya anak-anak, kadang sulit diatur untuk serius dalam berlatih. Yang paling sering terjadi adalah mereka memainkan drum tanpa aturan. Tapi, dengan pengkondisian yang baik, sepanjang masa latihan, mereka bisa memainkan minimal dua lagu tiap kali latihan.

Latihan rutin setiap hari jumat
Sayangnya, seperti kita ketahui, ekskul band di sekolah dasar adalah sesuatu yang langka. Tidak seperti tari, pramuka, olahraga, atau drum band. Tak pernah ada even lomba yang bisa diikuti. Tak ada festival band yang bisa menampilkan anak-anak. Saya paham sekali dengan hal ini. Agar latihan dan usaha mereka tak sia-sia, maka mereka sering ditampilkan dalam acara penerimaan kunjungan studi banding, perpisahan siswa Kelas 6, gebyar seni, dan acara lain.

Penampilan anak-anak ketika acara Halal bi halal Kecamatan Klojen
Melihat dari kurangnya even yang diadakan, lantas apakah kegiatan ngeband sejak esde ini tak terlalu dibutuhkan?

Meski saya menyadari, tak semua sekolah bisa seperti sekolah saya, kegiatan ngeband ini cukup penting. Beberapa materi pembelajaran di kelas 4 dan 5, memuat kompetensi dasar mengenai musik ansambel. Membaca patritur, mengatur tempo, hingga memainkan beberapa lagu dengan kunci dasar (C, F, dan G). Nah, jika sebuah sekolah sudah memiliki alat band, sayang jika tidak dimaksimalkan. Namun, jika belum punya, sang guru bisa mengajari secara sederhana beberapa teknik ansambel sederhana dengan alat musik seadanya. Semisal gitar dan ketipung. Pemikiran saya ini didasarkan karena banyak guru yang melompati bagian materi ini. Selain karena tak cukup waktu, keahlian sang guru kelas juga terbatas untuk mengajarkan materi musik. 

video

Kembali lagi kepada kegiatan ngeband. Saya menyadari sekali bakat musik itu adalah salah satu investasi yang cukup berharga. Sejak SD, saya sudah memulai belajar piano dasar. Meski saya akhirnya tak menjadi musisi handal, namun dengan bermain musik, energi saya bisa tersalukan ke arah yang positif. Ketika sudah besar, saya bisa mengungkapkan beberapa pemikiran melalui iringan lagu. Saya semakin menyadari betapa pentingnya pengasahan otak kanan berupa musik ini. Pengenalan lagu sejak dini memang penting, tapi mengenalkan alat musik kepada anak tak ada salahnya kan?

Suburlah Tanah Airku, Alunan Lagu Indah yang Tenggelam Bersama Lekra

Video itu terus saya putar



Alunan suara dari anak-anak Paduan Suara SD Patra Dharma 1 Balikpapan terus menggema di dalam kelas. Anak-anak masih ternganga dengan lagu itu. Sebagian dari mereka mencoba menirukan lagu yang belum pernah mereka dengar ini.

Seperti biasa, saya mencoba mencari alternatif lagu-lagu yang sesuai dengan tema pembelajaran. Dan, lagu inilah yang menjadi pilihan saya mengakhiri kegiatan pembelajaran tahun pelajaran kali ini. Kebetulan, tema terakhir yang harus dipelajari anak-anak adalah Lingkungan Sahabat Kita. 

Suburlah subur tanah airku
Tanah pusaka kelahiranku
Sawah ladangmu hijau selalu
Sungai lautmu luas membiru

Saya meminta anak-anak menyimak dengan seksama lirik lagu ini. Lalu, saya meminta mereka menuangkan apa yang mereka terima. Di luar dugaan, beberapa dari mereka sangat menyukai lagu ini. Bahkan, menurut mereka, lagu ini sangat enak didengarkan. Memiliki lirik yang sangat bagus. Ada yang mengatakan lagu ini mirip dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Menggambarkan Indonesia yang kaya, indah, subur, dan bahagia. Terlepas dari apa yang terjadi sekarang, lagu ini menjadi spirit bagi mereka untuk meniti masa depan Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Nah, jika lagu ini memiliki syair yang bagus dan bisa menjadi penyemangat kita, lantas mengapa tak banyak orang yang tak mengetahui lagu sebagus ini ?

Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah karena sejarah dan politik.

Subronto K. Atmojo, sang penulis lagu ini adalah salah satu seniman besar Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) yang diidentikan sebagai salah satu organisasi binaan PKI. Lahir pada 12 Oktober 1929, Subronto sejak kecil sudah mengenal kesenian lewat karawitan. Meskipun sang ayah ingin menjadikannya petani yang handal, jiwa seniman Subronto terus bergelora. Beberapa kali ia aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, semisal pertunjukan ketoprak dan paduan suara.

Bakat seninya semakin terasah ketika duduk di bangku kuliah. Ia masuk dalam Paduan Suara "Gembira" Jakarta yang banyak mengkuti berbagai ajang festival kepemudaan. Bersua dengan Amir Pasaibu, salah satu maestro musik Indonesia, Subroto banyak menimba ilmu. Dan, beberapa karya besar mampu diciptakannya. Salah satunya, lagu Suburlah Tanah Airku ini.

Lagu yang sering diputar di RRI saat masa orde lama ini banyak dipuji lantaran memiliki lirik yang indah dan tak akan lekang oleh zaman. Sayang, ketenaran lagu ini sirna selepas peristiwa 30 September 1965.

Subronto yang merupakan pendukung Bung Karno yang cukup loyal dan tergabung dalam Lekra ditangkap pada 5 Agustus 1968. Hidupnya berubah drastis. Lulusan Hochschule fur Musik di Jerman Timur ini lalu dibuang ke Pulau Buru pada tahun 1977 setelah sempat berpindah-pindah tahanan. Meski ditahan, jiwa senimannya tak pernah padam. Beberapa tulisan tentang musik ia telurkan, diantaranya ”Lagu Rakyat” dan salah satu lagu Maluku ”Bila Ale Kembale”. Praktis, sejak 1965, lagu Suburlah Tanah Airku tak lagi mengisi ruang di negeri ini. Selepas reformasi, tak banyak juga tempat bagi lagu ini.



Bumi persada luas meraya
Tempat bersujud patuh setia
Pertiwi curahan bela
Indonesia subur bahagia

Meski pahit, Subronto tetap bermusik untuk Indonesia. Ia masih aktif di beberapa kegiatan yayasan gereja dan menekuni pembuatan beberapa lagu. Konser bertajuk “Svarna Gita”, pada 1982 menjadi konsernya yang terakhir sebelum menghembuskan nafas terkahirnya pada tahun yang sama. Meski sudah tiada, lagu Suburlah Tanah Airku ini tetap abadi. Terkenang sampai kapanpun juga, walau tak banyak orang mengetahuinya. Pengajaran di sekolah adalah salah satu cara menghargai jasa penciptanya.


Sumber bacaan : (1)  (2)

It’s All About “Candi”

Lho ya, ke candi lagi


Teman saya menggumam ketika saya mengunggah foto liburan. Di saat orang lain mengunggah foto liburan ke pantai, gunung, tempat makan, dsb, saya malah mengunggah foto sebuah candi yang entah berada di mana.

Mau bagaimana lagi. Candi sudah menjadi obyek utama saya ketika liburan. Maka dari itu, pada tulisan kali ini, saya akan sedikit berbagi mengenai masalah-masalah percandian yang sudah saya jelajahi sepanjang hidup saya.

Mengapa suka sekali candi ?

Pertanyaan klasik yang harus terus saya jawab meski saya tak tahu pasti jawabannya apa. Bagi saya, candi itu unik. Bangunan ini sering membuat saya terpana. Meski saya seorang muslim dan juga sangat mengagumi masjid, tapi saya selalu punya pertanyaan yang tidak bisa saya jawab ketika membicarakan candi. Kok bisa ya, orang zaman dahulu membangun candi yang punya keunikan masing-masing. Apalagi, rata-rata candi yang ada di Indonesia dibangun sebelum abad ke-15 Masehi. Zaman segitu mana ada teknologi canggih. Inilah alasan utama saya suka ke ke candi.

Alasan lain, saya tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Biasanya, saya hanya membayar dengan menulis di buku tamu dan sedikit senyuman kepada penjaga candi. Kalau tak, saya hanya membayar parkir sebesar 2000 rupiah. Hanya beberapa candi saja yang terdapat tiket masuk maksimal 25 ribu.
 
Candi apa yang paling jauh yang pernah dikunjungi ?

Jika ditarik garis lurus dari rumah saya, Candi Borobudur dan Candi Mendutlah yang paling jauh. Saya belum pernah mengunjungi candi lain lebih jauh dari dua candi itu.
Candi Mendut, sementara ini candi terjauh yang saya kunjungi
Candi apa yang paling dekat yang pernah dikunjungi ?

Candi Badut adalah candi yang paling dekat dengan rumah saya. Jaraknya hanya sekitar 2,5 km dari rumah. Untuk mencapainya, saya hanya perlu melewati dua buah lampu merah. Candi ini adalah satu-satunya candi yang berada di teritorial Kota Malang. Tepatnya, di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Tak jauh dari Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (UB).

Kata ibu saya, dulu beliau sering sekali berjalan kaki dari rumah ke candi ini. Kalau saya? Naik motor aja deh.

Candi Badut dengan latar belakang Gunung Arjuno. Candi ini yang paling dekat dengan rumah
Candi apa yang paling sering dikunjungi?

Meski Candi Badut paling dekat, namun Candi Singosarilah yang sering saya kunjungi. Candi ini sering saya kunjungi karena saya memiliki saudara yang rumahnya tak jauh dari candi. Jadi, sekalian mampir. Candi ini juga memiliki akses paling mudah karena hanya beberapa meter dari Pasar Singosari. Hampir tiap bulan, saya menyempatkan diri ke sini.

Candi Singosari, candi yang paling sering saya kunjungi
Candi apa yang tidak ingin dikunjungi lagi?

Meski saya suka candi, ada beberapa candi yang ternyata saya tak ingin mengunjungi lagi. Candi yang pertama adalah Candi Kidal. Candi ini berada di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Masih satu rangkaian peninggalan Kerajaan Singosari. Alasan saya tak mau lagi ke sini adalah ada peternakan ayam di sekitar candi ini. Bau ayam dan kotorannya sangat menyengat. Malangnya, saya tak suka bau ayam dan segala rupanya. Padahal, candi ini memiliki taman terbaik karena cukup luas dan simetris. 

Alasan lain, untuk mengunjungi candi ini, jalan yang harus saya lalui cukup nanggung. Ada jalan pintas namun kondisinya rusak, sepi, dan merupakan daerah rawan begal. Jalan lainnya, saya harus memutar berpuluh kilometer sebelum mencapai ke candi ini.
Candi Kidal
Candi lainnya yang tidak ingin saya kunjungi lagi adalah Candi Borobudur. Alasannya, candi ini terlalu ramai bagi saya yang yang tak suka keramaian. Ketika saya mengunjunginya, saya tak bisa mengeksplorasi lebih banyak. Mau lihat relief ada orang narsis. Mau bergerak susah karena banyaknya pengunjung. Mungkin waktu kunjungan saya tidak pas karena selalu berbarengan dengan libur sekolah. Kalau ada waktu, bolehlah menjejaki candi ini lagi. Tapi, sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. Makanya, ketika saya ke Magelang/Jogja, saya tidak memasukan Candi Borobudur ke dalam daftar kunjungan.
Candi Borobudur yang super ramai
Daerah mana saja yang banyak Candinya?
Sleman adalah daerah yang paling banyak candinya. Makanya, saya pernah menulis artikel berjudul “Sleman Sembada, Nikmat Candimu Meruah di Mana-mana”. Kalau ke Jogja, rugi kalau tak menapaki candi-candi di Sleman. Bukan hanya Candi Prambanan saja, tapi Sleman punya aneka rupa candi dan situs purbakala. Yang saya suka, jarak antara satu candi ke candi lain sangat dekat. Bahkan, beberapa diantaranya tinggal meyeberang jalan. 

Favorit saya
Ini juga favorit
Candi apa yang paling bagus untuk berfoto?
 
Semua candi memiliki kekhasan masing-masing. Punya spot foto yang unik. Tapi, saya paling suka Candi Ijo di Sleman. Candi di atas bukit ini paling asyik. Kita bisa lihat sunset di sana, plus pemandangan Kota Jogja dari atas. 


Suka juga foto di sini
Candi apa yang paling “wingit”?
 
Kata orang, kita harus menjaga sikap ketika berada di candi. Iya, saya setuju karena ini adalah tempat suci agama Hindu dan Buddha. Tapi, kalau berbicara masalah mistik, bisa dibilang percaya dan tidak. Namun, bagi saya, Candi Banyunibo di Sleman adalah yang paling sepi. Candi ini berada di ujung sebuah jalan sebelum berakhir dengan hutan belantara. Ketika saya di sanapun, tak ada petugas jaga. Tak ada pengunjung. Apalagi orang jualan. Gak tau ya kalau sekarang. 

Candi Banyunibo
Candi apa yang paling berkesan?
 
Perjalanan ke Candi Bangkal adalah perjalanan paling epik, paling melelahkan, dan paling berkesan. (Bisa dibaca di sini). Candi ini baru bisa saya temukan setelah lelah berjalan mencari hampir sejam. Berada di tengah sawah, tak banyak penduduk sekitar tahu, dan tak ada petunjuk jalan. 

Perjalanan ke Candi Barong juga berkesan. Abang ojek yang mengantar saya sampai terengah-engah karena sulitnya medan. Padahal, medan yang harus kami lalui ada yang lebih mudah. Tapi, dari perjalanan ini, saya menemukan potret kemiskinan di DIY secara langsung.

Candi Barong
Pelajaran apa yang bisa diambil dari kunjungan ke candi-candi?
 
Banyak sekali. Selain belajar sejarah masa lalu, kadang saya juga bangga karena bangsa kita bisa lho membangun banyak candi seperti ini. Tak hanya itu, saya bisa belajar keunikan candi-candi, terutama perbedaan mendasar candi Jawa Timuran yang memiliki tubuh ramping dan candi Jawa Tengahan yang memiliki tubuh gemuk.

Saya juga sering mendapat hubungan asyik antara kehidupan masa lampau dengan kehidupan sekarang di daerah sekitar candi. Dari sini, saya merasa keterikatan ruang dan waktu itu kadang bisa secara jelas terjadi. Hanya saja, kita sering tidak menyadarinya.

Candi Jawa Tengahan (kiri) dan Jawa Timuran (kanan)
Jika ada kesempatan, candi apa yang ingin dikunjungi ?
 
Banyak. Namun, target saya yang utama adalah Candi Gedung Songo di Ungaran. Saya ingin sekali merasakan sensasinya. Kompleks Candi Dieng juga belum saya tapaki. Ratusan ceceran candi dan arca di jalur pendakian Gunung Penanggungan juga ingin saya sapa. Kalau tak, peninggalan candi Kerajaan Sriwijaya juga ingin saya lalui. Semoga saja ada kesempatan.

Candi utama target jalan-jalan saya. (http://infojalanjalan.com)
Apa harapan untuk candi-candi ke depannya?
 
Satu hal utama, harapan saya adalah peninggalan candi dan sejarah lainnya tidak terlupakan. Semakin banyak orang yang peduli terhadap pelestariannya. Saya sering  miris ketika ada teman bertanya letak suatu candi yang sebenarnya dekat dengan mereka. Saya tidak berharap candi menjadi tujuan utama wisata. Namun, jika banyak yang tidak peduli, maka sangat disayangkan candi akan semakin termakan usia dan terabaikan.

Menjejaki Candi Gunung Gangsir, Menapak Spirit Agronomi di Tengah Gempuran Industrialisasi

Alhamdulilah, ada tanggal merah di hari Senin


Artinya, saya bisa sedikit bernafas lega. Dan artinya lagi, bisa jalan-jalan. Penting lho jalan-jalan itu. Apalagi kalau mood saya mulai jelek. Nah, karena masih dalam masa berkabung hari-hari penghabisan bulan (baca: tanggal tua), saya tak bisa bebas jalan-jalan yang berat di ongkos. Pilihan pun jatuh kepada..... Candi.

Haha, saya banget ya. Memang saya tak pernah bosan menjelajahi candi demi candi. Terutama, candi-candi di sekitar Jawa Timur. Rupanya, ada satu buah candi di Kabupaten Pasuruan yang belum saya jelajahi. Candi ini bernama Candi Gunung Gangsir.

Perjalanan saya menuju candi ini dari Kota Malang dimulai sekitar pukul 8 pagi. Waktu yang cukup siang karena matahari sudah menampakkan diri dengan bahagianya. Singkat cerita, motor yang saya kendarai dengan mudah membelah batas Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan. Saya masih berdoa bisa selamat ketika melewati daerah Purwodadi, Pasuruan. Bukan isapan jempol saya melakukannya. Bangkai truk yang menghantam puluhan motor dan mobil akibat kecelakaan karambol awal tahun ini, masih terpampang dengan indahnya.

Alhamdulilah lagi, saya bisa melewati daerah tengkorak tersebut dengan lancar. Saya pun melanjutkan perjalanan ke kota kecamatan Pandaan yang cukup ramai. Aktivitas daerah yang bisa disebut batas “kawasan arek” dan “tapal kuda” (dua kluster kebudayaan di Jawa Timur) itu sangat riuh. Apalagi, bulan ini adalah musim nikah. Lagu-lagu wajib Sagita Asololoey icik-icik ehem menggema di beberapa gang yang dijadikan TKP pesta perkawinan. Ah sayang, saya sedang tidak dalam acara kondangan, jadi saya terus melaju.

Sampai di perempatan Pasar Pandaan, saya terus melaju ke arah utara menuju daerah industi Pandaan/Beji. Daerah ini sebenarnya pernah saya lalui ketika saya “hampir” bekerja sebagai staf QC di suatu perusahaan pakan ternak. Tapi, karena takdir saya akhirnya jadi Guru SD, saya tak lagi menjejaki daerah ini.

Prediksi saya tepat. Akses jalan menuju kawasan-kawasan industri ini masih parah. Yah maklum saja banyak kendaraan berlalu lalang. Sesekali, saya disalip oleh para pengendara yang memacu kendaraannya dengan kencang. Tak banyak yang bisa dinikmati di sini selain pabrik dan pabrik. Beberapa kilometer kemudian, terpampanglah bau-bau jalan tol. Terlihat dari sisa material dan tanda peringatan untuk berhati-hati bagi pengguna jalan karena banyak truk yang keluar masuk.
Jalan menuju TKP
Meski saya pernah melewati jalan ini, namun saya tak sampai jauh mengeksplorasi jalan-jalan di sekitarnya, terutama akses jalan menuju candi. Dulu, saya hanya sampai di pabrik tempat saya akan bekerja. Lokasi pabrik ini masih cukup jauh dari candi. Makanya, saya masih meraba-raba lokasi candi ini.
Jalan Tol Pandaan-Gempol yang tak jauh dari candi
Beberapa menit kemudian, saya melihat “mantan calon” (aduh ribet sekali) pabrik saya. Oke, saya hanya mengucapkan halo. Motor pun saya geber kembali. Menembus area pabrik dan persawahan yang saling bergantian. Jalanan naik turun dan masih rusak.

Beberapa menit kemudian, saya sampai di sebuah perempatan. Dari perempatan ini, menurut GPS, harusnya saya berbelok ke arah timur, menuju arah Bangil. Namun, saya tak menemukan tanda petunjuk arah menuju candi. Baik, saya ikuti. Beberapa meter kemudian, saya menemukan sebuah SD Negeri Gununggangsir. Naga-naganya, saya hampir sampai. Saya memelankan motor saya. Sesekali, saya , menatap layar ponsel untuk memastikan apakah jalan yang saya lalui benar.

Di sebuah gang, ponsel saya menunjukan letak candi yang sudah sangat dekat. Sayapun lalu masuk ke dalam gang tersebut. Dan alamak, ada lintasan kereta api tanpa palang. Hanya ada perintah untuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Oke, saya mencoba hati-hati. Rupanya, lintasan kereta api ini adalah petak Bangil-Porong yang saya lalui ketika menaiki Kerata Api Penataran. Setelah berhasil melalui area berbahaya, mata saya langsung berbinar. Candinya sudah terlihat.

Ah, senangnya. Saya segera mencari lokasi parkir motor. Namun, tak ada parkiran motor di sana. Saya lalu mencoba menuju pintu masuk dan ternyata pintunya terkuci rapat. Saya hanya melihat anak-anak bermain di dekat pos jaga candi yang juga terkunci rapat. Nah, anak-anak itu masuk lewat mana?
Bagian belakang candi dan tamannya yang asyik
Rupanya, ada pintu samping yang terbuka. Begitu saja. Tak ada yang menjaga. Saya sempat ragu akan masuk. Tapi ya sudah jauh-jauh dari Malang gitu. Saya lalu memarkir motor di dekat pintu tersebut. Agak was-was juga sih.

Saya lalu masuk ke dalam dan mulai memahami setiap bagian dari candi ini. Meski namanya ada kata gunungnya, namun candi ini tidak terletak di gunung atau di kaki gunung. Candi ini malah terletak di dataran rendah yang cukup dekat dengan laut.

Menurut Wikipedia, walaupun tidak terletak di gunung atau kaki gunung, candi ini masih tak jauh dari gunung yang dianggap suci, apalagi kalau gunung favorit saya, Gunung Penanggungan. Sedangkan, kata gangsir sendiri berasal dari kata “nggangsir” yang artinya menggali lubang di dalam tanah. Mengapa harus menggali lubang? Dari literatur yang saya baca, kegiatan “nggangsir” ini dilakukan untuk mencuri benda-benda berharga yang terdapat dalam bangunan candi. Waduh. Iya juga sih, lha dibiarkan terbuka begini.

Selain cerita di atas, candi ini juga menyimpan cerita sebuah tokoh yang bernama Mbok Rondo Darmo. Tak ada seorangpun yang mengetahui asal usulnya. Mbok Rondo Darmo ini punya ide mengajak masyarakat agar meminta petunjuk kepada Hyang Widi untuk mengatasi masalah kekurangan bahan pangan. Konon, saat itu daerah ini merupakan lahan yang sangat subur. Namun sayang, masyarakat tidak mengerti cara mengelola lahan pertanian dan sumber pangan yang hanya berasal dari berburu binatang saja. Ketika ketersediaan hewan mulai amat berkurang, masyarakat mulai beranjak kelaparan.
Relief candi yang samar-samar menggambarkan cerita Mbok Rondo Darmo
Coba tebak, ini gambarnya apa?

Pada suatu hari, ada seekor hewan sejenis burung gelatik yang menjatuhkan biji padi di daerah tempat Mbok Rondo, dan langsung berbuah. Ketika dibuka kulit buahnya, ternyata berisi emas. Jadilah Mbok Rondo Darmo menjadi kaya raya. Melihat contoh burung yang menjatuhkan biji-bijian ke tanah, masyarakat pun mengikutinya. Mereka mulai bercocok tanam dan berhenti memburu hewan. Cerita ini terdapat ornamen candi yang pada setiap sisi-sisinya banyak ditemui relief bergambar tanaman seperti padi, kapas, dan palawija lainnya. Ornamen hewan seperti bulus, gajah, buaya, babi, anjing, dan kuda terbang yang kesemuanya melambangkan kemakmuran juga dapat ditemukan. Sayang, kondisi candi ini cukup memprihatinkan. Hampir semua sudut pada lantai-lantai dalam keadaan rusak. Atap candi juga hilang. Saya juga tak berani menaiki candi karena terlihat ada anak tangga dan masih dilakukan perawatan.
Bagian depan candi
Membaca kembali sejarah candi ini, bisa direnungkan lagi cerita tersebut memang benar adanya. Daerah ini cukup subur dan cocok untuk pertanian. Di Kecamatan Beji sendiri, terdapat Badan Penyuluh Pertanian yang membawahi puluhan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). BPP Beji sendiri memiliki suatu program unggulan bernama “kaji terap”. Para penyuluh pertanian akan membuat percontohan terlebih dahulu kepada Gapoktan sasaran sampai berhasil. Jika kaji terap tersebut sudah berhasil, maka bisa disebarkan kepada kelompok-kelompok petani yang lain. Program kaji terap ini dilaksanakan secara berkala setiap tahun. Nah, dari beberapa desa di Kecamatan Beji, Gapoktan di Desa Gunungsari dan Gununggangsir adalah yang cukup berhasil.
Persawahan di Gununggangsir berlatar Gunung Penanggungan yang tertutup awan
Saya cukup salut dengan spirit Mbok Rondo Darmo ini yang masih dilakukan warga sekitar. Meski, gempuran industrialisasi yang cukup besar, mereka tetap istiqomah mengembangkan pertanian. Walaupun, daerah mereka sangat dekat dengan kawasan industri Pandaan.

Sayang, saya tak bisa berlama-lama. Saya harus menyudahi kunjungan singkat ke bangunan candi yang terbentuk terbuat dari batu bata dan memiliki 4 lantai ini. Berpisah dengan candi yang menyimpan spirit untuk memajukan pertanian. Semoga spirit ini tidak mengalami stagnasi atau bahkan degradasi di tengah industrialisasi dan proyek pembangunan jalan tol.

Sumber bacaan (1) (2) (3)