Enklave dan Eksklave yang Mengerikan Itu

Bagaimana rasanya jika kita terpisah dengan saudara-saudara yang memiliki entitas sama dan dikelilingi oleh orang-orang dari entitas lain? Mungkin itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di sebuah enklave dan eksklave sebuah tempat, terutama sebuah negara.

Poster Film Enklava yang mengisahkan rumitnya kehidupan di daerah enklave entitas Serbia yang dikelilingi Kosovo. Eksodus etnis Serbia saat kejayaan negara Yugoslavia membuat banyak enklave dan eksklave entitas bangsa terbentuk ketika negara ini ambruk pada awal 1990an. Meski memiliki jalan cerita bagus, film ini mengandung kontroversi. (Sumber : http://www.enklavafilm.com)
Enklave dan eksklave

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Enklave adalah
  • negara atau bagian negara yang dikelilingi oleh wilayah suatu negara lain
  • daerah (wilayah) budaya yang terdapat di dalam wilayah budaya lain
Sedangkan eksklave adalah
  • bagian (daerah) suatu negara yang terpisah dan berbentuk suatu enklave
  • daerah (wilayah) budaya yang berada jauh dari daerah asal budaya
Ilustasi : C adalah enklave A dan eksklave B. (Sumber : Wikipedia)
Memahami pengertian dua kata tadi, satu kata kunci utamanya adalah terpisah. Kata terpisah ini bisa dimaknai bahwa adanya partisi (pemisahan) dengan bagian induk yang menyebabkan terhalangnya orang-orang di suatu daerah tersebut untuk berinteraksi dengan penduduk di daerah induknya. Biasanya, interaksi yang dimaksud adalah interaksi dengan ibukota suatu negara atau daerah lainnya. Pemisahan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, seperti perang, pembagian kekuasaan, hingga masalah-masalah lainnya.

Enklave dan eksklave di dunia

Di dunia ini, cukup banyak daerah yang menjadi eksklave ataupun enklave. San Marino, Vatikan, dan Lesotho adalah contoh negara enklave. Mereka dikelilingi oleh negara lain yang membatasinya dan tidak memiliki akses langsung terhadap dunia luar. Meski hampir sama, Gambia dan Monako juga dikelilingi oleh negara lain. Bedanya, mereka memiliki akses terhadap dunia luar berupa wilayah laut.

Negara-negara tersebut boleh jadi seakan terkungkung oleh satu negara saja. Namun, mereka masih memiliki wilayah yang menyatu. Beberapa negara di dunia memiliki wilayah yang terpisah berupa eksklave. Wilayah ini tergabung dengan wilayah negara lain.

Oblast Kaliningrad adalah salah satu eksklave terkenal yang dimiliki negara Rusia. Salah satu provinsi Rusia ini memiliki wilayah yang terpisah dengan daerah induknya. Untuk menuju Rusia dengan jalur darat, penduduk Kaliningrad harus melewati dua negara pecahan Uni Soviet lainnya, yakni Latvia, Lithuania, dan Belarus. Wilayah provinsi ini selain dikurung oleh tiga negara tadi, juga berbatasan dengan Polandia.

Wilayah Oblast Kaliningrad yang dikelilingi negara lain (gwp.org)
Cerita pemisahan Jerman pada medio 1945 hingga 1990 juga menyisakan cerita pilu mengenai enklave Berlin Barat. Kota Berlin yang berada di tengah daerah Jerman Timur tebagi menjadi dua entitas, yakni Berlin Barat yang menjadi daerah pendudukan AS, Prancis, dan Inggris serta Berlin Timur yang menjadi daerah pendudukan Uni Sovyet. Berlin Barat dibangun dengan sistem kapitalis sedangkan Berlin Timur dibangun dengan sistem komunis.

Disparitas ekonomi di kedua Berlin membuat penduduk Berlin Timur ingin menyeberang ke Berlin Barat. Untuk mencegah eksodus yang semakin banyak, pihak Jerman Timur yang didukung oleh Uni Sovyet membangun tembok Berlin yang terkenal itu. Berlin Barat yang terpisah dengan daerah induk di Jerman Barat hanya memiliki akses udara untuk menuju dunia luar. Blokade selama kurun waktu tersebut dilakukan oleh Jerman Timur hingga tembok Berlin runtuh pada 1989.

Tembok Berlin yang melegenda itu (alamy.com)
Cerita mengenai eksklave yang cukup miris lain adalah salah satu cerita yang sering kita dengar dan saksikan. Apalagi kalau bukan Jalur Gaza, daerah milik Palestina. Daerah yang terpisah dari Jalur Barat ini sering menjadi bulan-bulanan pendudukan Israel. Blokade terhadap dunia luar membuat penduduk Jalur Gaza tidak memiliki akses untuk melakukan aktivitas kehidupan mereka. Israel menjadi tumpuan utama ketika blokade dilakukan meski penduduk di sana sangat tak menginginkannya.

Jalur Gaza, eksklave negara Palestina. Beberapa literasi yang saya baca menceritakan bahwa Israel menganggap daerah itu adalah seujung kuku yang menganggu. Blokade darat, laut, dan udara dilakukan Israel beberapa kali dalam kurun waktu terakhir. (Al Jazeera)
Masih banyak enklave dan eksklave yang ada di dunia ini. Masih banyak pula yang menyisakan sengketa perbatasan diantara dua negara yang saling memiliki enklave dan eksklave. India dan Bangladesh adalah salah satu contoh negara yang memiliki enklave dan ekslave dengan perbatasan yang sangat rumit. Mereka baru menyelesaikan sengketa perbatasan pada 2015 kemarin setelah banyak penduduk di sana yang ragu dengan status kewarganegaraannya. Kedua negara melakukan praktik pertukaran wilayah berlangsung secara bertahap dari 31 Juli 2015 hingga 30 Juni 2016.

Enklave dan Ekslave rumit itu (http://slatestarcodex.com)
Enklave dan Ekslave di Indonesia

Meski tidak memiliki eksklave, namun ada daerah negara lain yang dikelilingi wilayah Indonesia. Daerah ini adalah distrik Oecussi-Ambeno yang dimiliki negara Timor Leste. Distrik ini terpisah dari daerah induknya dan dikelilingi wilayah Provinsi NTT.
 
Penduduk Timor Leste di eksklave Oecussi-Ambeno (Geosite.com)
Sebenarnya, di Indonesia sendiri pernah terjadi daerah enklave dan ekslave yang sering dilakukan oleh Belanda untuk memecah belah bangsa. Perpecahan Kerajaan Mataram menjadi 4 kerajaan kecil membuat wilayah ini memiliki daerah enklave dan eksklave satu sama lain. Dua daerah terkenal yang menjadi enklave adalah Kotagede (pusat kerajinan perak) dan Imogiri (tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram). Dua daerah ini merupakan daerah milik Kasunanan Surakarta yang dikelilingi oleh Kasulatanan Yogyakarta. Politik devide et impera membuat persaingan kebudayaan terjadi di dua daerah enklave tersebut.
Imogiri dan Kotagede (warna pink tua) diapit daerah Kasultanan Yogyakarta yang berwarna hijau (wikipedia)
Enklave dan Ekslave di Kampung Saya

Tak jauh-jauh, di kampung saya sendiri juga terdapat enklave dan eksklave dengan posisi yang cukup rumit. Kebetulan, rumah saya berbatasan langsung dengan sebuah perumahan elit. Meski berbatasan, kedua daerah ini berbeda kelurahan.

Masalah muncul ketika ada seorang yang cukup kaya raya, sebut saja Bapak A, memiliki sebidang tanah lapang di dekat jalan masuk antara kampung dan perumahan. Mulanya, tanah tersebut beralamat di jalan yang sama dengan rumah saya. Setelah Bapak A meninggal, ahli waris lalu menjualnya dan memecah sertifikat tanah tersebut. Entah bagimana awalnya, beberapa bagian tanah mengikuti alamat tempat tinggal saya sedangkan bagian lain mengikuti alamat perumahan. Pola alamat itu tidak mengikuti pola jalan ataupun kedekatan, namun berdasarkan faktor like or dislike.

Bangunan pun didirikan. Pihak yang mengikuti alamat jalan seperti alamat rumah saya beralasan agar bisa guyub dengan warga kampung. Sedangkan pihak yang mengikuti alamat perumahan beralsan untuk memudahkan pencarian alamat karena secara geografis sebenarnya lebih dekat dengan jalan di sekitar perumahan. Meskipun hal itu dilakukan dengan konsekuensi memiliki administrasi RT, RW, dan kelurahan yang berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya.

Maka jadilah pola alamat yang tak karuan antara satu rumah dengan rumah yang lain. Posisi ini cukup menyulitkan jika terjadi kejadian penting. Warga beralamat perumahan yang lebih dekat dengan warga perkampungan harus mengikuti prosedur administrasi perumahan jika terjadi sesuatu, semisal kematian. Sebaliknya, warga beralamat perkampungan akan mendapat pertanyaan alamat mereka jika didatangi oleh pengantar ekspedisi meski secara geografis rumah mereka dekat dengan perumahan.

Peta wilayah kelurahan tempat saya tinggal yang seharusnya dibatasi oleh batas alam berupa sungai dan batas jalan (G map)
Itulah enkalve dan ekslave yang ada di dunia ini. Meski ribet, namun ternyata jika dijalani akan terasa baik-baik saja. Layaknya sebuah hubungan. Halah.

Selamat beraktivitas.

Sumber Tulisan : (1) (2)

Mencari Mas Paundra di Pura Mangkunegaran Solo

Kan, saya punya titipan aneh lagi.

Add caption
Kalau kemarin oleh-oleh yang harus saya cari adalah Akang-akang Sunda (baca di sini), sekarang titipannya adalah salah satu putra mahkota kerajaan. Sebuah kadipaten pecahan Kerajaan Mataram. Apalagi kalau bukan Kadipaten (Praja) Mangkunegaran Solo. Waduh, berat jeng.

Lah saya masih gak PD kalau masuk keraton selain Keraton Jogja. Pengalaman pernah diusir ketika masuk salah satu keraton pecahan Mataram lain, yakni Puro Pakualaman masih membekas di ingatan saya (baca di sini lagi). Maka dari itu, saya mencoba sehati-hati mungkin ketika memasuk tempat terhormat ini kalau tak ingin berakhir tragis.

Siang itu, di teritorial Kota Surakarta pimpinan Bapak F.X. Hadi Rudyatmo, sang driver gojek menurunkan saya di sebuah pintu gerbang kecil. Kok gak meyakinkan gini? Tapi, menurut sang driver, ini adalah pintu samping. Kalau ke pintu utama, dia harus berputar dulu. Berat di bensin cin.

Pintu samping yang saya masuki. Kalau ke sini jangan lewat sini ya.
Ya sudah. Saya lalu masuk saja. Ada dua ibu-ibu beserta seorang bapak yang saya yakini adalah pegawai kraton duduk-duduk manja di sebuah kursi panjang. Saya lalu menyapa mereka dan bertanya apakah boleh masuk. Sang bapak mempersilahkan saya untuk masuk ke gedung yang ada jam besar. Gedung itu adalah kantor utama Pura Mangkunegaran.

Saya lalu menuju gedung itu dan disambut oleh mbak-mbak yang mirip sekali dengan Putri Indonesia. Asyik! Beliau meminta saya membeli tiket seharga 10.000 rupiah. Nanti tiket itu belum termasuk tip kepada guide yang akan memandu kita. Jadi, untuk masuk ke area Pura Mangkunegaran, kita harus dipandu oleh seorang guide. Bagi saya ini penting karena kita akan tahu batasan mana yang boleh kita lakukan. Bagian mana saja yang boleh dipotret dan yang dilarang. Selain itu, kita jadi lebih mengerti makna-makna dalam bangunan tersebut  daripada jalan sendiri eh lalu tiba-tiba diusir.   


Calon Kanjeng Pangeran Haryo. Menunggu Gusti Raden Ajeng yang entah di mana.
Setelah membayar tiket, lalu seorang mbak-mbak mahasiswa mengenalkan diri sebagai pemandu saya. Duh, alhamdulillah ya. Dia menanyakan saya apa akan berfoto dahulu di depan bangunan Puro. Saya ya langsung bersedia. Beberapa potret lalu terekam di ponsel saya.

Kami lalu berjalan menuju bagian bernama Pendopo Ageng. Di sini kami harus melepas alas kaki kami dan memasukannya ke dalam tas kresek. Si mbak menjelaskan bahwa pendopo ini terdiri dari empat tiang utama. Kayu-kayu yang digunakan tiang ini berasal dari Alas Kethu. Sebuah hutan yang dahulu dimiliki Mangkunegaran. Bangunan pendopo ini dan bangunan lainnya didominasi warna hijau dan kuning yang merupakan warna kebanggaan Kadipaten Mangkunegaran. Warna-warna ini juga menjadi warna bendera mereka.

Dominasi warna hijau kuning yang menjadi kebesaran Mangkunegaran
Mbak-mbak tadi lalu menjelaskan filiosofi warna pada bagian atap di bangunan tersebut yang bernama Kumudawati.  Ornamen dan warna tersebut melambangkan astrologi Hindu-Jawa. Saya hanya bisa manthuk-manthuk. Bangunan jawa memang banyak simbolnya. Ada pula aneka benda seperti lampu hias hingga patung yang merupakan pemberian dari luar negeri. Berbicara patung, ada 4 patung singa, yang saya mirip-miripkan dengan singa Arema Singo Edan tapi kok ya tidak mirip juga karena badannya lebih kecil. Patung singa ini memiliki mata yang mengarah ke empat penjuru mata angin. 

Patung Singa yang unik
Di dalam Pendopo Agung juga ada tiga perangkat gamelan yang bernama Kyai Seton, gamelan Kyai Kanyut Mesem, dan gamelan Lipur Sari. Gamelan ini ada yang dimainkan bersama para penari dan ada juga yang hanya dimainkan gamelannya saja pada hari-hari tertentu. Biasanya, permainan gamelan dilangsungkan pada hari rabu. Tak sembarang orang boleh memainkan gamelan dan menarikan tarian. Hanya orang dalam alias keturunan bangsawan dan abdi dalem yang terpercaya. Itupun mereka harus menjalani puasa dulu.


Lalu kami menuju bagian utama yang disebut Dalem Agung. Di sini kita tak boleh mengambil gambar dan harus memelankan suara karena merupakan tempat yang dianggap khusus. Di dalamnya terdapat singgasana raja dan aneka barang pusaka peninggalan masa lalu mulai zaman kerajaan Majapahit hingga Kadipaten Mangkunegaran. Ada mahkota, aneka perhiasan, tempat makam, dan beberapa lukisan raja-raja Mataram, Jogja, dan Kasunanan Surakarta. Kadipaten ini masih memiliki keterkaitan sejarah dengan kerajaan-kerajaan tersebut.

Di sini pula sering dilakukan berbagai kegiatan penting, semisal penobatan raja hingga pernikahan putra-putri raja. Oh ya, mas Paundra kok belum kelihatan ya? Mungkin nanti bertemu di ruangan lain. Masih kepikiran oleh-oleh nih saya, haha.

Potret KGPAA Mangkunegara IX (paling kanan), ayahanda Mas Paundra dari ibu Sukmawati Soekarnoputri
Dalem Agung juga menyimpan aneka keris dan pedang yang digunakan oleh Praja Mangkunegaran. Sebuah satuan militer milik kadipaten ini. Satmil imi dibentuk dari sisa-sisa perang perebutan tahta kerjaan Mataram yang bagi saya mbuletnya naudzubilah. Lha gak mbulet, satu kerajaan besar jadi empat kerajaan kecil dengan aneka permasalahan yang mengikutinya. Ah tapi itu kan masa lalu. Harus move on dong. Nikmati saja dulu bangunan asyik ini.

Keluar dari Dalem Agung, ada sebuah bangunan serambi yang saya lupa namanya. Maklum, saya fokus sama mbak pemandu yang kalemnya masya allah, orang solo banget, hehe. Bangunan ini tempat para putri yang sedang santai. Aneka furnitur unik menghiasi bangunan ini seperti seprangkat meja dan kursi untuk bersantai. Jika kita duduk di sana, kita akan menghadap ke sebuah taman yang sangat indah. Waduh, mau dong saya jadi putri juga.

Tempat santai para putri

Taman yang asyik
Nah, di dekat bagunan ini ada sebuah ruangan dengan foto idola rekan saya. Siapa lagi kalau bukan Mas Paundra. Pemilik nama lengkap G.R.M Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara ini benar-benar menjadi idola beberapa rekan kerja. Setelah saya baca biografinya, ternyata memang beliau multitalenta. Penyanyi, bintang film, bintang iklan, koreografer, mantan anggota DPRD, hingga model. Putra raja juga. Cucu mantan Presiden Soekarno pula. Pantes rekan saya termehek-mehek. Katanya kalau nanti berjodoh, bakal ganti nama menjadi Gusti Raden Ayu. Eh atau Kanjeng Raden Ayu ya. Apasih. Mimpi kali ye.

Akhirnya ketemu
Tapi, kalau bagi saya, beliau itu istiqomah lho melestarikan budaya jawa di pura Mangkunegaran ini. Menurut mbak guide, beliau masih aktif di berbagai even kesenian Pura Mangunegaran bahkan sering menjadi pemimpin beberapa even besar. Beliau tak segan turun langsung dalam nguri-uri kebudayaan luhur ini agar tetap lestari. Beberapa kali saya melihat video yang beliau unggah di youtube saat sedang memimpin latihan menari di dalam Pura Mangkunegaran ini. Salut.

Private area
Oh ya, selain tiga bagian bangunan tadi, ada juga bangunan khusus keluarga kerajaan yang tidak boleh dimasuki pengunjung. Ada juga toko sovenir dan beberapa bangunan untuk praja Mangkunegaran dan abdi dalem. Keseluruhan bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 3.500 meter persegi.

 
Bangunan Akademi Seni Mangkunegara, salah satu usaha penyelamatan budaya jawa

Setelah tur berakhir dan tip saya berikan ke mbak guide, mata saya memandang ke bangunan besar yang anggun ini. Menyadari, di balik bangunan indah ini, ada bara perselisihan yang dulu terjadi. Perjanjian Salatiga yang ditandatangani oleh VOC, Pakubuwono III, HB I, dan RM Said (Mangkunegara I) menjadi saksinya.    

Sumber Tulisan : Wikipedia

Akhirnya! Gedung Songo

“Semua Mimpimu Akan Terwujud Asalkan Kamu Punya Keberanian Untuk Mengejarnya.” (Walt Disney)


Saya masih ingat kalimat yang ditulis oleh pencipta tokoh Donal Bebek dan Tikus Mickey ini. Kalimat itu benar-benar mengena. Sejak beberapa tahun terakhir ini saya memiliki salah satu mimpi besar. Mengunjungi sebuah candi yang memiliki pesona luar biasa. Candi Gedong Songo namanya. Secara administratif, candi ini berada di teritorial Kabupaten Semarang. Meski pesona itu sering saya saksikan, namun satu pertanyaan besar timbul di benak saya, bagaimana cara untuk mencapai ke sana ?

Berbekal modal nekat, saya akhirnya memutuskan berkelana ke wilayah Semarang. Sambil mencari informasi, saya akhirnya memutuskan untuk memakai jasa pengantaran dengan sepeda motor dimulai dari Terminal Bawen, Kabupaten Semarang. Sebenarnya, ada dua jalan untuk menuju ke sini jika dari Kota Semarang. Jalan pertama adalah melalui daerah yang disebut Lemahbang. Jalan ini dimulai dari Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Nanti di pinggir jalan akan tampak gapura dengan latar gambar candi ini. Namun, saya memilih jalan kedua. Dimulai dari Terminal Bawen, lalu menuju kota kecamatan Ambarawa, kawasan wisata Bandungan, hingga sampai ke Gedung Songo.

Oh ya, saya baru tahu kalau ada moda transportasi bernama Trans Jateng yang menghubungkan Kota Semarang dengan Terminal Bawen ini. Dengan harga tiket 3.500 saja, kita bisa menempuh jarak sekitar 40 km ini. Namun, karena merupakan transportasi murah meriah ya harap bersabar hingga bus sampai. Belum lagi kemacetan parah yang sering terjadi di jalan penghubung Semarang atas dan Semarang bawah. Kalau ingin lebih cepat, maka pilihan menggunakan bus jurusan Semarang-Solo dari terminal Banyumanik bisa jadi alternatif.     

Trans Jateng, penghubung Kota Semarang dan Terminal Bawen, dekat Ambarawa. Tampak bus Trans Jateng berwarna merah, koridor I antara Stasiun Semarang Tawang dan Terminal Bawen. Dari Terminal Bawen bisa menggunakan bus kecil atau angkot menuju pintu masuk candi
Perjalanan dari Ambarawa menempuh waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Kondisi jalan semakin meliuk dan menanjak menandakan kita sedang menapaki Gunung Ungaran. Sangat disarankan menggunakan persneling gigi 1 jika melewati tanjakan dan tak menggunakan motor matic. Tapi, pemandangan di kanan kiri jalan sangat aduhai. Gugusan pegunungan di sekitar Merbabu sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.


 
Hingga tibalah saya di pintu masuk. Saya mengira, untuk masuk ke candi ini dikenakan biaya mengingat saya melihat ada loket masuk dan kondisi sekitar candi yang sudah dibangun cukup rapi. Namun, dugaan saya salah. Untuk masuk ke komplek candi ini hanya perlu membubuhkan nama dan tanda tangan di buku tamu. Menurut mas yang mengantar saya, sebelumnya memang dikenakan tarif masuk candi sebesar 8000 rupiah untuk wisatawan domestik dan 75.000 untuk wisatawan asing. Entah kenapa, beberapa waktu terakhir ini tiket tak lagi diberlakukan. Asyik!

Pengunjung mengisi buku tamu. Tampak Candi I dari kejauhan
Saya langsung semangat untuk menapaki tangga menuju candi. Tak jauh dari tempat membubuhkan tanda tangan tadi, sudah tampak sebuah candi belanggam khas Jawa Tengah yang gemuk, imut-imut, dan menggemaskan. Oh ini yang disebut Candi Gedong I itu. Sayang, kondisi candi ini tak begitu sempurna di bagian atapnya.

Nah setelah Candi Gedong I, saya harus berjuang untuk mendapatkan dua candi yang berada dalam jarak berdekatan. Candi Gedong II dan Candi Gedong III. Untuk mencapainya, pada awalnya saya melewati jalan amat terjal.  Seterjal perjalanan cinta mengarungi bahtera rumah tangga. Halah. Tapi, saya harus tetap semangat. Di depan saya tampak anak-anak SD berlarian untuk mencapai ke sana. Masak saya mau kalah ?

Candi Gedong I. Pengunjung mayoritas komplek candi ini adalah anak-anak SD di Kecamatan Ambawara, Bergas, Bawen, dan Tuntang, Kabupaten Semarang
Di sekeliling jalan ini tampak pedagang makanan dan minuman yang menjajakan dagangannya. Saya sampai heran dan salut dengan kemampuan mereka berdagang di lereng yang cukup terjal itu. Saya saja ngos-ngosan.  

Jalan menuju Candi Gedong II dan III. Ada jalan yang lebih dekat dan mudah namun untuk kuda
Setelah hampir 20 menit berjalan sejauh 1 km, akhirnya saya tiba di candi kedua. Ah ini keren sekali. Dipadu dengan latar belakang Gunung Merbabu dan arakan awan tipis membuat Candi II bagai peri cantik yang sedang berjemur. Duh lebai lagi. Sebenarnya, di Candi II ini ada dua buah candi. Hanya saja, yang tersisa hanya 1 candi utuh. Candi yang lainnya adalah berupa runtuhan yang menyisakan beberapa batuan saja.

Candi Gedong II, bagus kan?
Ternyata, Candi II bukan merupakan puncak keindahan kompleks candi ini. Ada candi III yang potretnya menjadi kebanggan candi ini. Menaiki tangga lagi beberapa meter, kita akan disuguhkan pemandangan super seru. Ah akhirnya, saya bisa merasakan itu. ada dua buah candi besar dan sebuah candi kecil di depannya. Inilah puncak kenikmatan itu, bagi seorang candinolog ala-ala seperti saya.

Akhirnya mimpi saya terwujud. Alhamdulillah
Ingin rasanya saya berlama-lama di Candi III ini. Namun, bau belerang dari kolam pemandian air panas menyesakkan dada saya. Karena tak ingin terjadi sesuatu hal, saya pun turun kembali. Meski sebenarnya masih ada 2 candi lagi yang tersisa, yakni candi IV dan V, saya melambaikan tangan ke kamera. Untuk menuju kedua candi itu harus melewati jalur di sekitar pemandian air panas dan merasakan sesaknya gas belerang. Lain kali, jika ada kesempatan, saya harus membawa masker.

Gas belerang tipis yang keluar dari sumber air panas pemandian. Meski tipis, jangan tanya efeknya
Nah, yang saya heran, ke manakah candi-candi yang lain? Mengingat namanya Gedung Songo, harusnya ada sembilan, tapi kenapa hanya ada 5? Namun, pertanyaan ini belum terjawab. Menurut penuturan mas pengantar saya, candi yang lain dimakan Hanoman. Sebagian cerita di masyarakat sekitar seperti itu. Saya hanya bisa mengernyitkan dahi dan berkata dalam hati, “Wallahu a’lam bishowab” (Hanya Tuhan yang mampu menjawabnya). Walau begitu, penelitian yang dilakukan oleh arkeolog Van Braam pada 1925 dan beberapa penelitan sesudahnya meyakini seharusnya ada 9 komplek candi. Candi yang lain hanya berupa sisanya saja yang berada cukup jauh dari candi I-III. Pemugaran oleh Dinas Purbakala Belanda sendiri baru dimulai tahun 1928-1929 yang dimulai dari Candi I.

Tampak Candi Gedong IV dan V dari kejauhan. Berhubung sedang tak jalan dengan kamu ya lambaikan tangan ke kamera saja. Iya, kamu!

Bangunan candi yang dibangun di lereng Gunung Ungaran yang betingkat dari bawah hingga puncak menunjukan perpaduan unsur lokal dan global dalam tradisi masyarakat setempat. Sebelum agama Hindu masuk, kepercayaan lokal meyakini bahwa roh nenek moyang harus disembah di Gunung. Kepercayaan Hindu menunjukkan gunung merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Maka tak heran, candi-candi banyak yang dibangun di lereng gunung.

Jasa kuda pengantar hingga candi Gedung III-V. Sayang, banyak pengunjung yang memilih berjalan kaki hingga ke Candi Gedong III saja
Saya sangat takjub dengan salah satu kearifan budaya bangsa Indonesia ini. Padahal, menurut dugaan, candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi bertepatan dengan keemasan Wangsa Syailendra Kerajaan Mataram Kuno. Zaman segitu sudah bisa membangun bangunan komplek candi dengan cukup megah, di lereng gunung terjal pula. Lha apa kabar saya yang di 2017 ini naik ke sana saja sudah wassalamualaikum.

Satu hal yang selalu mengganjal di hati saya kenapa candi ini begitu sepi. Atau memang bukan musim liburan. Meski begitu, menurut penuturan penjaga buku tamu, kunjungan wisatawan ke candi ini tak terlalu banyak. Entah karena memang promosi yang kurang atau akses jalan yang banyak orang yang belum tahu. Padahal, di sekitar candi sudah banyak tempat wisata menarik lain semisal Bandungan, Rawa Pening, dan beberapa situs sejarah di Ambarawa. Saya rasa, Pemkab Semarang harus lebih gencar mempromosikan lagi kawasan ini. Upaya itu sudah ada dengan penyediaan paket wisata Kabupaten Semarang yang saya temukan di sebuah akun IG milik Dispar Pemkab Semarang. Tapi, ketika saya bertanya untuk tata cara mengikutinya, pengunjung harus minimal 15 orang untuk dilayani. Ya sudah, karena saya sendirian ya mustahil bisa menikmatinya.


Sayang sekali kalau mahakarya ini semakin lapuk dimakan usia. Tak banyak orang tahu dan tak banyak orang mau untuk sekedar menapaki masa lalu kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat Hari Kemerdekaan.

Sumber Bacaan : (1)

Ceritane Wong Judes



Luuk kok moro-moro ngomong judes.


Ilustrasi (selipan.com)
Lha iyo. Iki ambu-ambune suwe gak nemu sing nandes komet. Lha kok iso?
Jebuse suwe gak ketemu nawak-nawak sing modele kate rabi tapi luuk gak sido-sido. Hus, gak oleh ngrasani wong. Duso.

Tapi koyoke jenenge lambe iki lek ngrasani wong iku gak marem. Jarene engkok keimpen. Duh kakean cangkem kah. Wong sing model opo se sing kate dirasani. Gak liyo yo saiki akeh arek judes. Waduh, uabot iki. Jaman wis sak mene sek judes ae. Sing gak judes ae durung payu-payu, iki judes.

Eh gak oleh se. Jodoh iku onok sing ngatur. Tapi aku dadi kepikiran koncoku sing mari ngamuk-ngamuk gara-gara mari ketemu mbak-mbak judes sing masak alah. Jarene nggarai moto sepet. Sampek disumpahi judese nurun pitung turunan. Naudzubilah.

Tapi lek aku se jenenge wong yo seje-seje. Onok sing seneng ngguyu, ramah tapi onok sing yo gak pati iso ngguyu. Seje-seje rek. Iso ae wong sing judes iku atine apik, seneng nulung mek wegah cengingisan karo wong akeh. Hati orang siapa yang tahu. Jarene se ngunu.

Mek yo jenenge urip iku gak mek dhewean. Kumpul ambek wong akeh. Kudu ngomong karo wong akeh. Paling enggak wong sekitar. Lek awakmu judes ambek lambene mencap-mencep yo sido digunemi wong sak kecamatan. Durung lek sing judes iku arek wedhok. Yo lek ayu lha iki elek. Sido digunem pindho, “Wis elek judes, yek nggilani”.

Duh kok maleh main fisik. Tapi aku gelek se nemu wong sing kemenyek dan judes. Lek ngomong suepet. Aku se gak pati nganggep paling iku yo ncen ket bien koyok ngunu. Tapi mbalik maneh, tibakno wonge lomane masak alah. Lek onok arek liwat dikeki jajan utawa panganan. Asale ati iki sing pegel dadi gak sido. Sak liyane iku iso se pawakane rupa iku koyok-koyoke judes. Tapi sajakno ora. Lek mesem dadi ilang judese. Dadi disenengi wong.

Gak mek wedok. Arek lanang yo ojok judes-judes. Aku tau ketemu ambek arek lanang petentang petenteng. Ngerti se sogeh, sepeade apik, jame merk swiss, kocomotoe ireng njepempeng. Tapi raine plerak-plerok. Ndelok wong-wong ndek sekitare suengit. Duh, mentolo ngeplak. Eh jebuse pas kate ngalup kangelan mbenakno sepedae solae ganok tukang parkir. Moro-moro ngglimpang. Luuk isin rek. Cobak lek ngene sing nulungi sopo.

Wis, makane ojok judes-judes yo. Sugih, ayu, pinter, ngganteng iku yo jek butuh karo wong liyo.  

Antara Je dan Jeh

Hampir satu bulan saya tinggal di Yogyakarta


Selama hampir sebulan itu, saya terus mengamati perilaku sosial orang-orang Jogja. Meski saya sedang akan menempuh pendidikan lanjutan berlatar belakang "eksak", namun tak ada salahnya, pengamatan orang sekitar dan kehidupan sosial juga menjadi bahan pembelajaran saya. Bahan pembelajaran kehidupan bagi saya ataupun orang-orang terdekat saya.

Salah satu hal yang menjadi titik pengamatan saya adalah satu ungkapan, atau bisa dibilang "sesuatu" dalam sebuah percakapan. Sesuatu itu adalah kata "je". Kata ini sering diucapkan oleh orang Yogyakarta. Sebenarnya, saya sudah mendapat gambaran jelas mengenai kata unik ini. Dari seorang rekan Kompasianer bernama Mbak Mou Soul. Beliau secara gamblang menerangkan hal tak penting ini tapi sebenarnya perlu. Sudah lama saya tak berinteraksi dengan beliau. Saya tak mengetahui wajahnya, akun media sosialnya. Hanya melalui tulisan kami bersahabat baik. Inilah asyiknya ngeblog itu. Seperti kebiasaan Mbak Mou yang sering menyalin  tulisan saya, maka dengan ini saya juga mohon izin untuk mengunggah tulisan Mbak Mou Soul lagi. Semoga Mbak Soul berkenan karena saya yakin, tulisan ini bermanfaat bagi banyak orang.

----------------------------------------------------------------------
Membaca tulisan Mas Ikrom Zain tentang “Je” yang menarik (klik di sini), membuat saya benar – benar tergelitik sampai melakukan 2 aksi berbahaya yaitu PERTAMA : mengcopy paste tulisan Mas Ikrom Zain berikut link nya dan mengirimnya kepada 10 orang terdekat saya, di antaranya suami, bapak mertua, kakak ipar, adik ipar dan teman – teman saya yang orang Jogja yang kesemuanya memberikan respon terbelalak dan menggumamkan, "walah iyo yo," mereka dan yang KEDUA, menulis tulisan sepele ini untuk ikut menceritakan tentang “je” termasuk menuliskan bagaimana “Je” dan “Jeh” bisa berjodoh.

Sebelum sampai kepada bagaimana sejoli “Je” dan “Jeh” berjodoh, saya akan cerita dulu tentang “Je” yang menduduki peran yang sangat penting dalam percakapan sehari – hari orang Jogja dan sekitarnya yang berbahasa Jawa Jogja.

Seperti dalam dialog ini :
”Kowe kuwi sarjana pendidikan, guru SMP, duwe sertifikasi, ning kok omahmu isih gedhek tho, Ngger ?” bertanya sang ayah kepada anak lelakinya dengan penuh prihatin.
Yang artinya, “Kamu ini sarjana, guru SMP, punya sertifikasi, tapi kok rumahmu masih gedhek sih, Nak ?”

“Lho Pak, aku kan sertifikasine lagi nembe wae minggu wingi je. Njuk aku kudu mbayar cicilan sepeda montorku, mbayar cicilan bank sing dinggo tuku lemah kae, terus mbayar silihan koprasi sing tak nggo ngragati sarjanaku wingi kae. Dadi omahku isih ngene je Pak,” jawab sang anak.

Yang artinya, “Lho Pak, aku kan sertifikasi ( profesi gurunya ) baru minggu kemarin “je”. Kemudian aku harus membayar cicilan sepeda motorku, bayar cicilan bank untuk membeli tanah itu, terus bayar pinjaman ke koperasi untuk biaya ( menempuh ) pendidikan sarjanaku kemarin itu. Jadi rumahku masih begini “je” Pak,”

Nah, untuk menjelaskan apa arti dari “je” ini, PERTAMA, mari lihat makna leksikalnya. Di mana leksikal artinya satuan bentuk bahasa yang bermaknasebagai bentuk adjektif dari leksikon ( sama dengan perbendaharaan kata atau kosakata ) yang satuannya disebut leksem ( kata ). Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata yang bisa juga disebut makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita sebagaimana yang disebutkan oleh Chaer.

Contoh sederhana, saya ambil kata tomat dalam kalimat “Salah satu buah yang kaya vitamin C adalah tomat”. Di mana makna leksikal dari tomat adalah sejenis buah yang termasuk keluarga terong – terongan ( Solanaceae ) yang kalau muda berwarna hijau, setelah tua menjadi kuning kemerahan yang memiliki rasa asam manis segar, kaya air dan di dalam buahnya banyak terkandung biji berbentuk cakram ukuran mini yang berselimut lendir.

Nah, dari “je” apanya yang bisa kita tafsirkan sebagai makna leksikal ? Atau kalimat pertanyaannya dibalik. “Apa makna leksikal yang terkandung dalam “je” ? Bingung kan ? Hehehe ! Sama !

Yang KEDUA,suatu kata dapat ditafsirkan berdasarkan makna referensial dan non referensial yang dimilikinya. Di mana suatu kata dapat disebut memiliki makna referensial jika dia memiliki referen dari kata – kata tersebut, yakni sesuatu di luar penjelasan yang diacu oleh kata tersebut, maka kata itu dapat disebut sebagai suatu kata yang memiliki makna referensial. Demikian pula sebaliknya, jika suatu kata tidak memiliki referen, maka ia disebut kata nonreferensial.

Sebagai contoh, kata lemari. Kata lemari memiliki referen berupa peralatan rumah tangga untuk menyimpan sesuatu seperti pakaian, buku, perlengkapan makan, dll. Jadi kata lemari disebut kata yang memiliki makna referensial. Sekarang, mari kita fikirkan kata karena. Kemanakah referen kata karena mengacu dan menuju ? Tidak ada ! Jadi, kata karena tidak memiliki makna referen. Oleh karenanya, kata karena disebut sebagai kata yang bermakna nonreferensial.

Nah, “je” kesayangan kita tadi, menempati posisi mana ? Kata bermakna referensial kah atau nonreferensial ? Mungkin lebih tepatnya kata bermakna nonreferensial. Tapi, kembali lagi kepada struktur “je” itu sendiri. Apakah dia sebagai suatu kata ? Hehehe !

Yang KETIGA adalah makna denotatif dan konotatif. Suatu kata dapat disebut memiliki makna denotatif apabila suatu kata yang dapat diberi penjelasan yang sesuai dengan hasil observasi menurut aktifitas panca indera kita yakni penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan dan juga pengalaman yang meliputi rasa lainnya yang menghadirkan informasi faktual yang objektif.Maka, Chaer menyebutkan bahwa makna denotasi sering disebut sebagai “makna yang sebenarnya”. Contohnya kata wanita, pria, perempuan, laki – laki. Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial. Kebalikan dari makna denotatif tadi adalah makna konotatif. Sebuah kata disebut memiliki makna konotatif jika kata itu memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif. Sifat dari suatu makna konotatif adalah tidak tetap, yakni bisa berubah dari waktu – waktu. Contohnya, kata khotbah. Kata khotbah memiliki konotasi negatif yang diartikan cerewet dan bisa berubah menjadi berkonotasi positif yang artinya nasihat/ceramah agama.

Nah, apa makna denotasi dan konotasinya “je” ? Sedangkan diobservasi melalui pancaindra pun, “je” itu tidak terobservasi sama sekali. Demikian juga ketika ditanya, memiliki konotasi apakah “je” itu ? Negatifkah atau positif ? Saya tidak bisa menjawab, karena tidak menemukan jawabannya. Karena “je” tidak teraba, tercium, terlihat, terdengar dan terasa “keberadaannya” yang menunjukkan hasil yang menginformasikan kepada saya, apakah “je” itu. Halah biyuuung ! Mumet kan ? Sama !

Makin mumet ketika memikirkan konotasi dari “je”. Mau digolongkan ke negatif atau positif, tetap tidak bisa. Karena “je” semisteri keberadaannya itu sendiri. Hihihi.

Yang KEEMPAT, jika ditafsirkan berdasarkan makna konseptual dan makna asosiatifnya, “je” tetap tidak tertafsirkan sebagai apakah dia itu. Karena, makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Misalnya kata ikan yang secara konseptual adalah sejenis binatang yang hidup di air, memiliki ekor, sirip, bernafas dengan insang atau paru, ada yang bersisik dan ada yang tidak dan seterusnya. Kemudian kata putih sering diasosiasikan dengan kesucian, kebeningan dan kemurnian, walau secara konseptual putih memiliki makna sendiri. Demikian juga dengan kata kanan dan kiri. Secara konseptual berarti arah/posisi dan kanan sering diasosiasikan dengan bagus, benar, lurus, bersih dan elok, sementara kiri diasosiasikan sebaliknya.

Lantas “je” masuk kemana ? Konsepnya sebagai apa dan berasosiasi kemana ? Bisa jawab atau malah puyeng ? Hehehe.

KELIMA, “je” pun tidak bisa ditafsirkan seperti apa makna idiomatikal dan makna peribahasanya. Kok bisa begitu ? Ya, karena, sebagaimana kita ketahui bahwa idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal, maka “je” tidak dapat ditafsirkan atau dipakai menjadi bentuk idiom manapun juga sebagaimana kata mengencangkan ikat pinggang dengan berhemat, hotel prodeo dengan penjara, dll.

Bagaimana dengan makna peribahasanya ?

Oh, boleh. Mari kita coba. Karena sependek pengetahuan saya, makna peribahasa masih lebih “longgar” dari pada makna idiomatikal dimana makna peribahasa masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur – unsur yang terkandung di dalam ujaran tersebut dikarenakan adanya ‘asosiasi’ antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Sebagaimana yang terdapat dalam kalimat seperti anjing dengan kucing yang bermakna sebagai “dua orang yang tidak pernah akur”. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa hewan yang namanya anjing dan kucing jika bertemu selalu berkelahi dan tidak pernah damai.

Nah, kemanakah “je” diposisikan ? Baik itu secara idiomatikal maupun peribahasa ? Rasa – rasanya, saya tidak pernah ketemu kalimat peribahasa yang mengandung “je” di dalamnya yang berperan sebagai komponen utama peribahasa itu. Mohon beritahu saya, bilamana anda menemukannya ya. Agar saya bisa menelaahnya dan bilamana masuk ke dalam fikiran saya, saya akan merevisi pemikiran saya tentang idiomatikal dan peribahasa yang menggunakan “je” sebagai “komponen utama” idiom dan peribahasa tersebut.

KEENAM, ada yang disebut makna kata dan makna istilah. Yang menegaskan bahwa walaupun setiap leksem atau kata memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah berada dalam konteks kalimat atau konteks situasi tertentu. Sebaliknya, suatu istilah mempunyai makna yang jelas, pasti, tidak meragukan, walaupun tanpa konteks kalimat. Oleh karenanya istilah sering disebut sebagai bebas konteks dan yang perlu diingat adalah, istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu seperti kedokteran, musik, biologi, dan lain – lain.

Untuk lebih jelasnya, pada dua kalimat ini, yakni tangannya tertusuk jarum suntik dan lengannya tertusuk jarum suntik.

Antara tangan dan lengan pada dua kalimat itu memiliki sinonim. Namun dalam bidang kedokteran, keduanya memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan atau dalam bahasa Inggris disebut hand, sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu atau biasa disebut arm dalam Bahasa Inggris. Kalimat contohnya adalah May I shake your hand ? Bukan May I shake your arm ketika situasinya dalam perkenalan antara orang yang satu dengan orang yang lain di mana orang yang satu mengajak berjabat tangan kepada yang lain.
Nah, “je” di”makna” kan dan di”istilah” kan ke mana, coba ? Dia tidak memiliki makna kata, juga bukan suatu istilah. Tambah mumet kan ? Sama ! Hihihihi !

Terakhir, yang KETUJUH. Yakni makna kias. Sim salabim, fuhhh.....fuuuhhh...fuuuhhh, tiup telapak tangan dan gosok – gosok agar “je” bisa diketemukan makna kiasannya. Hehehe. Mudah – mudahan juga, dengan kategori yang ketujuh ini, sang “je” bisa teridentifikasi.

Kita mengenal istilah “kias” atau “kiasan” adalah sesuatu yang digunakan sebagai oposisi dari arti yang sebenarnya yang cakupannya adalah semua bentuk bahasa yang meliputi kata, frase, atau kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya baik arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif disebut mempunyai arti kiasan. Contohnya puteri malam adalah arti kiasan dari bulan, raja rimbaadalah untuk menyebut harimau, dst.

Lalu, dikiaskan kepada apakah “je” itu ? Sedangkan posisi dari “je” saja tidak diketahui dengan pasti, bagaimana kita bisa mengetahui syarat – syarat agar “je” bisa dimasukkan sebagai bentuk kiasan ? Nah lho, lagi – lagi tidak diketemukan dimaknakan kepada kiasan yang mana “je” ini. Lagi – lagi mumet kan ? Sama !

Jadi, dinisbatkan kepada apakah “je” itu ? Untuk sementara, saya hanya bisa menjawab “sebagai gong pada gamelan, dimana “je” adalah bunyi “gong” yang memungkasi larik alunan gamelan setelah alat – alat musik lainnya beradu bunyi secara serempak mengikuti irama tertentu”.
Kok bisa ?

Mudah – mudahan bisa.

Namun untuk ini, saya mohon dibantu agar Bapak Ibu yang sedang membaca tulisan sepele saya ini berkenan mendengarkan alunan gamelan baik melalui youtube atau sarana apapun yang membuat irama gamelan terpetakan di indera pendengaran anda. Atau secara sederhana saya onomatope kan sebagai “blangpak pang pak pang pak dung deng.......gooong !”Nah, “je” yang saya maksudkan, memiliki kedudukan yang dengan kata “gooong” yang memungkasi onomatope gamelan yang saya tuliskan tadi. Yakni sebagai penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna suatu ekspresi tutur yang ada dalam Bahasa Jawa Jogja dan sekitarnya !

Kok bisa disebut begitu ?

Mudah – mudahan bisa.
Mari sama – sama kita fikirkan kalimat ini,
“Aku arep menyang nang Solo je, Mas Budi. Kowe melu ora ?
Yang artinya, “saya mau berangkat ke Solo je, Mas Budi. Kamu mau ikut tidak ?”

Sekarang, bandingkan dengan kalimat ini,
“Aku arep menyang nang Solo, Mas Budi. Kowe melu opo ora ?”
Saya menghilangkan “je” nya. Artinya tetap sama, tidak berubah. Yakni, “saya mau berangkat ke Solo, Mas Budi. Kamu mau ikut atau tidak ?”
Sama kan ?
Tapi bedanya, kalimat pertama menggunakan “je” sebagai penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna suatu dialog sedangkan kalimat kedua tidak menggunakan “je”, walau tanpa “je” pun, kalimat kedua tetap sempurna dan punya arti yang jelas.
Tambah bingung ? Sama ! Hihihi !

Ok, dari pada makin bingung, mari kita panggil “Jeh”, karena di awal tulisan ini, saya menulis bahwa “Je” punya jodoh bernama “Jeh”.
Yang bener ?
Iya, bener

“Jeh” adalah juga suatu ujaran bahasa yang memiliki kedudukan seperti “je” namundigunakan oleh saudara – saudara kita yang ada di di Cirebon dan sekitarnya.

Seperti dalam beberapa kalimat di bawah ini,
“Sirae kapan arep balik ning Bandunge jeh ?”
Yang artinya “Kamu kapan mau pulang ke Bandungnya jeh ?”

“Kien kih, sing paling gede semangkae kih sing arep tek tuku jeh,”
Yang artinya “Ini nih, yang paling besar semangka ini nih yang akan saya beli jeh,”

Atau kalimat ini,
“Kuene jeh weduse Wa Kardi sing umahe ning pojok mbang lor kah bli di cangcang, dadi mbedal,”
Yang artinya,
“Itu jeh kambingnya Wa Kardi yang rumahnya di pojok utara itu, tidak diikat, jadi kabur,”

Masih kurang ?
Baik. Saya tambahkan kalimat ini,
“Lelungan adoh – adoh tekan ning Bali jeh sira kuh bli nggawa oleh – oleh ya,”
Yang artinya,
“Bepergian jauh – jauh sampai ke Bali jeh kamu itu tidak membawa oleh – oleh ya,”

Nah, sama seperti ketika saya menulis kalimat percakapan dalam Bahasa Jogja tadi, mari hapus “jeh” nya. Hasilnya tetap tidak ada perubahan makna dari kalimat – kalimat berbahasa Cirebon yang saya tulis itu.

Akan tetapi, saya merasa ada sesuatu yang janggal dan tidak maknyus, jika “jeh” nya dihilangkan, sebagaimana perasaan saya ketika berupaya menghapus “je” dari percakapan berbahasa Jawa Jogja di atas tadi.

Demikian pula ketika saya berusaha menelusuri apa makna “jeh” dalam percakapan berbahasa Cirebon - yang sudah termasuk sebagai salah satu bahasa daerah yang sudah diakui dunia melalui UNESCO - sama gagalnya seperti ketika saya menelusuri apa makna “je” yang digunakan dalam percakapan saudara – saudara kita yang ada di Jogja, karena saya tidak mampu mendefenisikan apakah “jeh” itu,selain dari pada sebagai “penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna” suatu percakapan yang posisinya sama dengan onomatope bunyi “gooong” yang memungkasi suatu gamelan, walauposisi “je” dan “jeh” tidak mutlak harus berada diakhir kalimat.

Dengan kata lain, saya hanya bisa mengatakan bahwa “je” dan “jeh” adalah sesuatu yang unik yang ada dalam percakapan kedua bahasa tersebut yakni Bahasa Jawa Jogja dan sekitarnya dan Bahasa Cirebon juga dan sekitarnya.

Lalu, di mana berjodohnya “Je” dan “Jeh” itu ?
Upppss.....iya, hampir saya lupa, soalnya barusan 4 orang “anak – anak” saya yang sudah meraih gelar sarjana pertengahan April lalu, pamit kepada saya untuk masuk ke dalam pesawat Lion Air jurusan Bandung – BIL dengan transit di Bali, yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman mereka di Lombok. Jadi sempat lupa di mana berjodohnya “Je” dan “Jeh” itu. Hihihi.

Baiklah, saya akan tuliskan di sini, tentang perjodohan “Je” dan “Jeh” itu.
Ya, anggaplah “Je” adalah seorang pemuda Jawa asli dari Jogja dan “Jeh” adalah seorang gadis muda berdarah Tionghoa - Jawa. Mereka ditakdirkan bertemu pertama kali di sebuah kota yang bergelar Kota Kembang. Pemuda Jogja yang putih bersih dan kurus itu menatap lama kepada gadis muda keturunan Tionghoa dalam balutan jilbab dan pakaian putih – putih tapi bukan seperti pocong, di sebuah rumah sakit.

“Je” termangu melihat “Jeh” yang segesit swallow bird memburu serangga di hari senja,ketika mendorong seorang lelaki tua menuju ruang resusitasi di Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit tempat “Jeh” bekerja. Tangan dan kaki “Jeh” bergerak lincah seiring dengan mulutnya yang meminta tolong dengan cermat kepada rekan – rekannya tentang kondisi lelaki tua yang didorongnya masuk ruang resusitasi.

Singkat cerita, lelaki tua tertolong. Nafas yang terhenti akibat penyakit paru obstruksi kronis yang dideritanya, kembali pulih. Nyawa yang sempat ditarik ulur oleh Sang Pemilik Nyawa, dikembalikan penuh ke raga lelaki tua itu. Kini, di usia rentanya, dia menjalani hidup sehat atas kecerewetan “Jeh” yang memotivasinya agar berhenti merokok dan menjalani hidup sehat. Sebaliknya pemuda “Je” menilai selamat dan tertolongnya lelaki tua yang dibawanya ke unit gawat darurat dan diterima oleh “Jeh”, adalah suatu keajaiban. Bagaimanapun juga, lelaki tua itu adalah komandan, mentor, guru, pembina, bapak angkat, sekaligus partnernya bermain golf yang tiba – tiba terkapar tak berdaya ketika dia baru saja menyelesaikan hole in one nya di salah satu lapangan golf dan buru – buru dibawa ke rumah sakit di mana “Jeh” bekerja.

Mungkin ada chemistry dalam diri “Je” ketika melihat “Jeh” sehingga dia nekat bertanya di mana orang tua “Jeh” berada dan nekat meneteng satu bis merek Santoso berisi orang tua dan karib kerabatnya untuk melamar “Jeh” ke rumahnya yang nuuun jauh di sana.

Sampai kemudian “Je” berhasil menikahi “Jeh” dan menghadiahi “Jeh” seorang anak gadis yang kini sudah remaja berumur 16 tahun, “Je” tetap membuktikan bahwa dia lelaki sejati yang dipilihkan Tuhan untuk mendampingi “Jeh” dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta dalam kondisi apapun.

Ya, kemarin, 1 Mei, adalah hari di mana “Je” resmi mengikat suatu perjanjian yang berreferen kepada pertanggungjawaban di Hadapan Tuhan atas diri “Jeh” sebagai suami istri. Dan “Jeh” pun seakan baru kemarin bertemu dan mengenal “Je” karena kemisterian dan kekemistrian yang ada pada diri mereka berdua.

“Yongan isune jeh seneng,” demikian jawab “Jeh” ketika ditanya alasan dia mau dinikahi “Je” sang pemuda Jogja.
Padahal, jika saja “Jeh” mau memilih salah satu dari dokter, insinyur, polisi, tentara, birokrat dan pengusaha yang antri berharap cintanya di kampung halamannya sana, bukan sesuatu yang sulit.

“Wedok kae tak dadekke bojo mergo nek disawang marai tentrem ati je, Mas,” jawab “Je” lembut ketika kakak – kakaknya bertanya, mengapa dia mau menikahi wanita yang beda suku dan rumahnya jauuuuuuuh sekali di pedalaman Sumatera, padahal gadis – gadis cantik di sekitar rumahnya tidak sedikit yang menaruh hati padanya.

Kemarin pagi, “Je” dan “Jeh” memasak dan tertawa cekikikan bersama di dapur mereka yang luasnya hanya 40 meter persegi, ketika menyadari uban makin banyak di rambut mereka masing – masing. Pun ketika mereka menyadari gagalnya banyak upaya untuk menganggu kerukunan mereka berdua sebagai suami istri, karena mereka berdua memiliki komunikasi yang baik dan keterbukaan di antara mereka ketika aneka fitnah termasuk ketika ada tuduhan dan isu perselingkuhan yang diarahkan kepada “Je” maupun “Jeh” mampir.

Dengan itu keduanya makin menyadari, bahwa apa yang sudah dibangun belasan tahun lalu, tidak pantas disungkurkan hanya oleh karena isu perselingkuhan murahan dan fitnah orang – orang berhati kejam. Selain itu juga, “Je” dan “Jeh” senantiasa berpegang teguh penuh syukur kepada Tuhan Yang Maha Menyatukan dan Melindungi Dalam Genggaman.

Ya, “Je” dan “Jeh” yang sama – sama unik dan tidak terdeskripsikan, mampu saling melengkapi keunikan di antara mereka tanpa menghilangkan ciri keunikan masing – masing.

Iyo je, Nduk.
Iya jeh, Mas.


Link Tulisan Asli bisa diklik di sini

Referensi Tulisan Sepele Ini:
Hawkes, Terrance. 1977. Structuralism and Semiotics. London : Methuen & Co.
Leech, Geoffrey. 1976. A Linguistic Guide to English Poetry. London :Longman.
Perrine, L. 1974. Literature : Structure, Sound and Sense. New York : Hercort, Bruceand Worid Inc.
Smith, Frank. 1982. Understanding Reading : A Psycholinguistic Analysis of Reading and Learning to Read. New York : Holt Rinehart and Winston.